Bhre Kertabhumi
Bab 001 — Semeru Menuntun Jalan Sang Pangeran
Kaki Gunung Semeru — Masa muda Sang Pangeran sebelum takdir memanggilnya kembali ke pusaran Majapahit.
BAGIAN 1 — Perburuan di hutan Semeru
Kabut tipis masih menggantung di batang-batang pinus tua ketika matahari belum sepenuhnya menyingkapkan wajahnya di ufuk timur. Embun yang menetes dari dedaunan yang saling bersentuhan menimbulkan suara lirih, seakan bumi Semeru sedang berdesah bangun dari tidur malamnya. Hutan di kaki gunung itu bagaikan dunia yang memiliki kesadarannya sendiri: pohon-pohon bergeming dalam keheningan, rerumputan merunduk dengan wajah basah, dan desir angin membawa wangi tanah yang lembap, menandai pergantian malam menuju pagi dengan kelembutan yang hanya dipahami oleh mereka yang akrab dengan belantara. Di antara kabut yang perlahan tersingkap itu, tampak bayangan beberapa sosok yang bergerak hati-hati, menjaga jarak satu sama lain, namun selalu mengarahkan pandangannya kepada lelaki muda yang berjalan paling depan. Lelaki itu tidak lain adalah Bhre Kertabhumi, pangeran muda Majapahit yang lebih sering memilih menyusup ke dalam dunia rimba daripada berdiam di balik dinding-dinding keraton yang penuh aturan.
Langkah Kertabhumi begitu ringan, seolah tubuhnya dilahirkan dari udara dingin Semeru dan bukan dari darah para raja. Jejak kakinya nyaris tidak menimbulkan suara ketika menyentuh tanah, padahal rerumputan pagi yang basah biasanya akan melengking kecil bila diinjak dengan terburu-buru. Gerakannya seperti bayangan yang meluncur di antara pepohonan, tidak meninggalkan suara, tidak menebar gelisah pada binatang-binatang liar yang masih sibuk mencari kehangatan. Para pengawal yang mengikutinya sejak berangkat dari lereng bawah harus menahan napas agar tidak kehilangan jejak pangeran mereka, sebab Kertabhumi tidak pernah berjalan seperti bangsawan istana yang terbiasa dijaga. Ia bergerak seperti pemburu sejati, seperti anak gunung yang telah menyatu dengan simpul-simpul akar, dengan udara pagi, dengan bisikan burung-burung liar yang menyelinap di dahan-dahan tinggi.
Sejak tiga hari sebelumnya, rombongan kecil ini meninggalkan Majapahit. Konon, menurut para tumenggung yang pernah mengawalnya, Kertabhumi selalu mengenal jalan hutan seperti seorang petani lereng yang puluhan tahun tinggal di sana. Ia hafal suara air, arah angin, dan bau tanah yang berubah ketika seekor rusa melintasi semak tidak sampai seperempat jam sebelumnya. Pada usia mudanya yang belum menginjak dua puluh tahun penuh, ia telah memiliki ketajaman naluri yang melebihi sebagian besar prajurit berpengalaman. “Pangeran kita itu tidak seperti manusia kebanyakan,” sering bisik para pengawal dalam rombongan kecil itu. “Ia lebih mirip bayu yang turun dari puncak Semeru, tak dapat dipagari tiang istana mana pun.” Dan kali ini, seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, Kertabhumi berjalan tanpa banyak bicara. Ia memerhatikan jejak-jejak di tanah: patahan ranting, jejak roda keranjang tua yang sudah tertutup separuh lumpur, serta tapak-tapak hewan liar yang saling tumpang tindih. Semua itu dibacanya seperti huruf-huruf kehidupan yang disusun alam bagi mereka yang mau mengerti.
Di kejauhan, samar-samar terdengar lengking kawanan kera yang berlarian di antara dahan, dan Kertabhumi mengangkat tangannya perlahan sebagai isyarat agar para pengawal berhenti. Tanpa menoleh, ia merendahkan tubuhnya, mendekat pada tanah, dan menempelkan telinganya pada rerumputan yang dingin. “Ada sesuatu yang bergerak mendaki dari arah sungai,” gumamnya lirih. Para pengawal saling pandang, sebab hanya sang pangeran muda yang mampu mendengar getar halus itu. Dan ketika Kertabhumi berdiri kembali, matanya bersinar tajam seperti mata seekor elang muda yang baru belajar mengawasi lembah. Di tengah kabut, di pagi yang masih setengah gelap, sosok pangeran muda itu tampak bukan sekadar ahli waris Majapahit—ia tampak seperti anak dari bumi Semeru sendiri, yang bangkit setiap fajar untuk menyapa sunyi hutan dan menandai hari dengan langkah-langkah yang tidak bisa dibendung siapa pun.
Di balik tebalnya kabut pagi yang merayap turun perlahan dari punggungan Semeru, wajah Bhre Kertabhumi tampak tenang bagaikan permukaan telaga pegunungan yang tak terusik angin. Ketika rombongan kecil itu kembali bergerak, para pengawal mengikuti langkahnya dengan penuh kesungguhan, namun tak satu pun mampu menandingi kepekaan sang pangeran muda. Setiap kali kakinya melangkah, seolah alam memberi ruang baginya; rerumputan merunduk lebih lembut, dahan-dahan kecil tidak mematahkan diri ketika ia lewat, dan arah angin—yang biasanya berubah-ubah di kaki gunung—justru tampak menyingkap kabut di jalur yang ia pilih. Pada usia yang masih semuda itu, Kertabhumi telah menunjukkan sesuatu yang sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata: semacam keselarasan batin dengan alam, yang tak dimiliki anak-anak istana yang tumbuh dalam tabuh gamelan dan bau dupa balairung. Ia tidak pernah diajari berjalan di hutan oleh siapa pun, namun tubuhnya bergerak seolah ia dilahirkan di tengah rimba yang basah oleh embun.
Para pengawal berpengalaman sering bertanya-tanya dalam hati, dari manakah asal ketangkasan itu. Mungkin, pikir mereka, dari garis darah nenek moyangnya yang masih menyimpan sisa-sisa kejayaan para ksatria Singhasari; atau mungkin dari latihan-latihan sederhana yang diajarkan brahmana keraton ketika ia masih ingusan. Namun jawaban itu tidak pernah benar-benar memuaskan. Sebab ketangkasan Kertabhumi bukan sekadar hasil latihan lahir, melainkan sesuatu yang tumbuh dari dalam dirinya, sesuatu yang tidak diajarkan oleh tangan manusia. Mereka yang pernah mendampinginya berburu selama bertahun-tahun menyadari bahwa pangeran muda itu seperti memiliki telinga yang dapat mendengar lebih jauh dari orang biasa, mata yang dapat membedakan bayangan rusa dari bayangan pepohonan, dan langkah yang mampu menghindari dahan kering bahkan dalam gelap pekat. Tidak sekali dua kali para pengawal kehilangan jejaknya ketika matahari mulai tenggelam; namun selalu, tanpa pernah gagal, Kertabhumi muncul kembali dari balik pepohonan, membawa hasil buruannya dengan wajah tenang seolah ia baru saja berjalan santai di taman istana.
Pada hari itu, langkahnya berhenti di tepi sebuah alur tanah lembap di mana jejak kaki tiga ekor rusa betina tampak samar, sebagian terhapus oleh hujan malam sebelumnya. Ia berjongkok perlahan, memeriksa jejak itu dengan ujung jarinya, lalu mengangguk pelan. “Mereka tidak jauh,” bisiknya, dan para pengawal hanya bisa menatap dengan takjub. Rusa-rusa betina itu mungkin telah lewat hampir dua jam sebelumnya, namun sang pangeran membaca arah langkah mereka seolah ia baru saja melihatnya melintas. Ia bangkit, memutar tubuh ke arah barat laut, dan berjalan dengan langkah yang lebih cepat. Para pengawal berusaha mengimbangi, namun segera mereka tertinggal beberapa tombak di belakang. Tak ada seorang pun yang berani meminta sang pangeran memperlambat langkah, sebab mereka telah mengetahui wataknya: Kertabhumi tidak berburu untuk membuktikan kehebatan diri, melainkan untuk meredakan kegelisahan batinnya—kegelisahan yang muncul setiap kali ia kembali ke istana.
Di situlah letak perbedaan terbesar antara dirinya dan para pangeran lain. Bagi mereka, hutan adalah tempat asing yang penuh bahaya; bagi Kertabhumi, hutan adalah ruang hidup yang memberinya kebebasan. Di dalam rimba, ia dapat bernapas tanpa memikirkan tatacara keraton, tanpa mendengar bisik para pejabat yang mengenakan kain sutra namun berhati keruh. Di dalam rimba, ia dapat merasakan dirinya sendiri. Ia dapat menjadi manusia biasa, berjalan di bawah naungan pohon tua yang seakan telah mengenalnya sejak kecil. Karena itu, setiap kali ia melangkah lebih dalam ke jantung Semeru, ia merasa seperti pulang. Ia merasa seperti kembali ke pangkuan ibu alam—yang jauh berbeda dengan ibu yang menunggunya gelisah di istana. Dan di pagi yang masih dibalut kabut itu, langkah Kertabhumi yang semakin cepat seperti mengisyaratkan bahwa semakin jauh ia dari istana, semakin dekat ia dengan dirinya yang sesungguhnya.
Kabut pagi mulai menipis ketika rombongan kecil itu mencapai lereng yang sedikit terbuka, tempat sinar matahari pertama menembus sela-sela dedaunan dan membentuk garis-garis cahaya di udara yang masih lembap. Di titik itu, langkah para pengawal terpaksa terhenti sesaat, bukan karena lelah, tetapi karena tubuh mereka mulai tak sanggup menandingi kecepatan sang pangeran muda. Bhre Kertabhumi telah jauh di depan, melesat melampaui bebatuan basah, melompati akar-akar pohon raksasa dengan gerakan yang seolah sudah dihitung dengan tepat oleh nalurinya sendiri. Bahkan tanah licin yang baru saja dilewati hujan malam pun tidak mampu membuat langkahnya goyah. Ia meluncur melintasi lereng curam dengan keseimbangan yang tak masuk akal bagi seseorang yang dibesarkan di dalam lingkungan keraton yang sarat aturan. Dari kejauhan, tubuhnya tampak seperti bayangan burung elang yang menyapu lereng pegunungan, sesekali menghilang di balik rimbunan daun, lalu muncul kembali seakan-akan hutan itu sendiri melindungi pangeran tersebut dari pandangan dunia.
Para pengawal yang tertinggal saling berpandangan dengan nafas terengah. Mereka sudah terbiasa dengan ritme berburu sang pangeran, tetapi hari itu Kertabhumi bergerak lebih cepat dari biasanya, seolah ada daya yang memanggilnya dari dalam rimba. “Pangeran kita seperti mengejar sesuatu yang tidak kita lihat,” gumam salah satu prajurit senior sambil mengusap keringat di dahinya. Dua pengawal lain hanya mengangguk, karena mereka pun merasakan keganjilan itu. Bukan hal baru bila Kertabhumi bergerak mendahului rombongan, namun cara tubuhnya menembus hutan pagi itu seperti mengikuti aliran yang hanya ia pahami seorang diri. Ia bukan sekadar memburu jejak rusa; ia seolah sedang mengikuti bisikan gaib yang merayap dari balik pepohonan tua—bisikan yang hanya dapat ditangkap oleh mereka yang memiliki hubungan batin dengan bumi Semeru.
Kertabhumi sendiri tidak sepenuhnya mengerti apa yang mendorong langkahnya hari itu. Ada semacam ketegangan halus yang merambat di dalam dadanya, semacam getaran yang tidak datang dari suara hutan, melainkan dari sesuatu yang lebih dalam. Setiap kali ia menghirup udara dingin Semeru, ia merasakan kehadiran yang tak kasat mata, seperti ada mata yang memperhatikannya dari kejauhan. Bukan mata musuh atau hewan buas, tetapi mata alam yang mengenalinya, yang memanggilnya untuk melangkah lebih jauh. Nalurinya mengatakan bahwa rimba Semeru tidak sekadar menjadi tempat pelarian dari hiruk pikuk istana; rimba itu seperti rumah rahasia yang menyimpan bagian takdirnya. Karena itu, meskipun para pengawal tertinggal jauh, Kertabhumi tidak memperlambat langkah. Ia mengikuti jalur samar yang membawanya ke arah suara sungai di bawah lereng, lalu menuruni jalanan tanah yang basah, membiarkan tubuhnya bergerak seperti air yang mengalir tanpa hambatan.
Sesampainya ia di tepi sebuah aliran sungai sempit, Kertabhumi berhenti. Bukan karena lelah, melainkan karena ia merasakan ketenangan yang tidak biasa. Suara gemericik air mengalir di antara batu-batu hitam yang licin, dan kepulan kabut tipis bergantung di atas permukaan sungai seperti tirai yang menjaga rahasia alam. Di situlah, untuk sesaat, ia berdiri diam dan memejamkan mata. Nafasnya turun perlahan, mengikuti alun suara air, dan tubuhnya terasa menyatu dengan dingin batu serta harum tanah basah. Ia menyadari bahwa di tempat-tempat seperti inilah jiwanya menemukan kedamaian, kedamaian yang tidak pernah ia temukan di dalam balairung istana. Ketika ia membuka mata kembali, tatapannya lebih tajam, lebih jernih; seakan sungai kecil itu telah membisikkan sesuatu kepada dirinya. Sesuatu yang belum bisa ia pahami, namun ia tahu bahwa hari itu bukan hari biasa. Ada sesuatu yang menunggu di balik perjalanan ini—entah itu hewan buruan, kejadian tak terduga, atau sepotong takdir yang perlahan mendekat tanpa terlihat.
Ketika para pengawal akhirnya menyusul tiba di tepi sungai kecil itu, mereka mendapati Bhre Kertabhumi berdiri tegak memandang aliran air yang melintas di antara batu-batu hitam. Mereka tidak segera menghampiri, sebab sejak lama mereka memahami bahwa ada kalanya sang pangeran muda ingin menyatu dengan kesunyian hutan tanpa suara manusia lain yang mengganggu. Mereka hanya berdiri beberapa tombak di belakangnya, menjaga jarak sambil menahan nafas, seakan takut mengusik percakapan halus antara Kertabhumi dan alam Semeru. Dalam diam itu, terlihat jelas betapa berbeda dirinya dari para bangsawan Majapahit lain. Kebanyakan pangeran akan membawa kemewahan kecil ke dalam rimba—makanan yang dipersiapkan khusus, tempat istirahat, atau keluhan kecil saat jalur menjadi terlalu terjal. Namun Kertabhumi tidak pernah meminta apa-apa. Tidak pula ia memerintahkan rombongannya membawa benda-benda yang tidak perlu. Ia menapak tanah dan meminum air sungai seperti rakyat biasa; ia tidak menuntut apa pun dari dunia, kecuali ruang untuk bernapas bebas.
Sesaat kemudian ia bergerak. Dengan satu lompatan ringan, ia meluncur ke seberang sungai, kakinya mendarat di atas sebuah batu besar tanpa membuat percikan air sedikit pun. Gerakannya begitu halus hingga para pengawal yang baru saja tiba hanya bisa saling berpandangan, kagum sekaligus khawatir. “Pangeran kita itu benar-benar titisan angin,” gumam salah satu prajurit sambil mencoba menyeberang dengan hati-hati agar tidak terpeleset. Namun ketika mereka baru setengah melintas, Kertabhumi sudah lebih dahulu menghilang di balik rimbunan semak di sisi barat sungai. Tidak ada suara langkah, tidak ada ranting patah—seolah tubuhnya telah menyatu dengan desir angin yang menyusup di antara dedaunan. Untuk beberapa saat, para pengawal hanya mampu mendengarkan suara hutan yang kembali mendominasi udara: kicau burung kecil, desah angin, dan gelegar jauh dari puncak Semeru yang seperti suara guruh tertahan di perut gunung.
Di tengah pergerakan sunyi itu, Kertabhumi melangkah semakin dalam ke jalur yang lebih sempit. Ia membiarkan jemari tangannya menyentuh batang pohon yang berlumut, merasakan dinginnya menembus kulit. Dari balik dahan yang saling bertaut, cahaya matahari tidak lagi jatuh bulat, melainkan terpecah menjadi garis-garis tipis yang menari mengikuti goyangan dedaunan. Kertabhumi berjalan tanpa keraguan, sebab ia telah mengenal lekuk tanah Semeru sejak usia yang belum pantas memegang tombak. Ia hafal di mana akar besar menjalar, di mana batu licin menunggu untuk menjebak langkah ceroboh, dan di mana jejak hewan liar kerap melintas saat pagi masih muda. Tetapi bukan kehebatan hafalannya yang membuatnya tampil seperti anak rimba, melainkan kepekaan nalurinya. Ia dapat merasakan perubahan kecil pada arah angin, dapat mendengar getaran tanah ketika seekor kijang meloncat jauh di depan, bahkan dapat membedakan suara daun gugur yang tersapu angin dari suara ranting kecil yang patah oleh langkah kaki makhluk lain.
Namun ada sesuatu yang berbeda hari itu. Di saat ia melangkah semakin dalam ke jantung hutan, tubuhnya menangkap getaran samar yang tidak berasal dari hewan buruan. Getaran itu datang seperti tarikan halus yang menggugah dorongan dirinya untuk bergerak ke sebuah arah tertentu. Tidak mengancam, tetapi juga tidak dapat diabaikan. Suasana di sekeliling berubah perlahan; suara hutan seperti meredup, digantikan oleh keheningan yang lebih padat, seolah pohon-pohon raksasa itu sedang menahan napas. Di tengah keanehan itu, Kertabhumi berhenti—bukan karena ragu, tetapi karena ia tahu bahwa apa pun yang menantinya di balik perjalanan ini bukan sekadar binatang yang memerlukan keterampilan memburu. Ada sesuatu yang memanggilnya, sesuatu yang berkaitan dengan jalan hidupnya, sesuatu yang mungkin baru akan ia pahami jauh di kemudian hari. Dengan dada yang tetap tenang dan mata yang semakin tajam, ia mengangkat wajahnya dan menatap jalur hutan yang gelap di depannya, lalu melangkah lagi—tanpa menoleh, tanpa ragu, tanpa mengetahui bahwa langkah itu akan menjadi salah satu titik awal dari perubahan besar dalam perjalanan hidupnya kelak.
Langkah Bhre Kertabhumi memasuki jalur sempit yang diapit pepohonan tinggi seperti menyeberangi batas yang tak terlihat. Begitu ia melangkah lebih dalam, hawa dingin hutan berubah menjadi lebih pekat, dan aroma tanah basah bercampur dengan wangi dedaunan tua yang gugur membentuk hamparan lembut di bawah kakinya. Cahaya matahari yang sebelumnya menembus sela-sela daun mulai menghilang, digantikan oleh bayang-bayang panjang yang melingkupi jalur di depannya. Namun Kertabhumi tidak memperlambat langkahnya. Ia justru merasakan ketenangan yang tidak biasa, seakan hutan itu mengenalinya bukan sebagai seorang pangeran Majapahit, melainkan sebagai bagian dari dirinya sendiri. Semeru seperti tengah membuka pintu menuju kedalaman rahasia yang jarang diberikan kepada manusia manapun. Pangeran muda itu menghirup napas panjang, membiarkan udara dingin memenuhi dadanya, dan di dalam ketenangan itu, ia mendengar sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh telinga manusia biasa: suara halus yang menyerupai desah tanah, atau mungkin desir semangat leluhur yang bersemayam di bumi gunung.
Ia berhenti sejenak. Pandangannya menyapu sekeliling, mencari sumber dari suara yang hanya muncul sekelebat dalam batinnya. Hutan tetap diam, namun diamnya bukan diam kosong—lebih seperti diam yang sedang memperhatikan. Pepohonan besar yang mengantarai jalur itu berdiri tegak seperti penjaga tua yang mengenang masa lampau, ketika Majapahit masih mewarnai seluruh Jawa dengan cahaya kejayaannya. Dan Kertabhumi, tanpa menyadarinya sepenuhnya, berdiri di antara bayang-bayang tersebut seperti titisan masa depan yang belum lahir. Meskipun ia tidak tahu apa yang menantinya di ujung perjalanan, ia merasakan bahwa langkah-langkahnya hari itu akan menyentuh benang takdirnya yang paling awal. Angin tiba-tiba berputar pelan, membawa aroma bunga liar yang tumbuh di lantai hutan, dan sehelai daun jatuh tepat di hadapannya, melayang seakan menyampaikan isyarat. Kertabhumi menatap daun itu, lalu menunduk sedikit sebagai bentuk penghormatan kepada alam yang tidak pernah ia abaikan.
Perlahan, suara para pengawal mulai terdengar dari kejauhan, mengantarinya kembali pada kenyataan bahwa ia tidak sendirian. Namun sebelum mereka sempat mendekat, Kertabhumi mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka tetap menjaga jarak. Ia ingin menikmati keheningan itu sejenak lagi, keheningan yang lebih jujur daripada segala perbincangan yang pernah terdengar di balairung keraton. Dalam keheningan itu, ia teringat pada kehidupannya di istana—tempat di mana setiap kata harus dijaga, setiap langkah diperhitungkan, dan setiap gerak selalu diawasi. Ia bukan membenci istana, namun tidak pula mencintainya sepenuh hati. Ada tembok-tembok yang menghalangi nafasnya, ada tatapan-tatapan yang tak tulus, dan ada beban yang terlalu besar untuk seseorang seusianya. Di rimba Semeru inilah ia merasa menjadi dirinya sendiri. Di sini, ia bukan seorang pangeran yang dibebani kewajiban, melainkan seorang manusia muda yang menapak tanah ibu pertiwi dengan jujur.
Bagian 2 — Gema dari Dalem Keputren
Dalem Keputren Majapahit menyambut pagi dengan keheningan yang berbeda dari hiruk semeru. Di sana, tidak ada desir angin gunung yang membawa bau tanah basah atau nyanyian kawanan burung liar yang beterbangan di sela dedaunan tinggi. Keputren hanya memiliki suara lirih langkah para dayang yang menyusuri lorong-lorong panjang, aroma bunga kenanga yang dipersembahkan sebelum matahari terbit, dan bayangan lampu minyak yang gemetar di balik tirai sutra. Di salah satu ruang dalam, Dyah Kusumadewi—ibunda Bhre Kertabhumi—duduk di tepi dipan berlapis kain damar, tubuhnya tegak namun jemarinya meremas ujung selendang seolah hendak menahan gelombang cemas yang sejak fajar tadi memenuhi dadanya. Matanya yang jernih memandang jendela yang masih berembun, berharap ada kabar tentang putranya yang telah tiga hari meninggalkan istana untuk memasuki rimba Semeru bersama beberapa pengawal pilihan.
Dua dayang, Sri Sambi dan Ninis Wulan, berdiri tidak jauh darinya. Keduanya sesekali saling pandang, memahami bahwa pagi ini bukan waktu yang tepat untuk menghibur dengan kata-kata. Mereka pun menunggu, seperti halnya permaisuri-permaisuri lain sebelum mereka menunggu kabar dari putra-putra kerajaan yang gemar menembus batas-batas dunia istana. Namun keadaan Dyah Kusumadewi berbeda. Bhre Kertabhumi bukan pangeran yang mudah ditebak. Ia mempunyai kebiasaan yang tidak lazim bagi darah bangsawan: ia lebih nyaman berjalan di antara pepohonan tua daripada melangkah dalam balairung. Karena itu, ketidakhadiran kabarnya bukan hal baru, tetapi tetap menjadi duri tajam dalam hati seorang ibu. Ketika Sri Sambi akhirnya melangkah maju membawa minuman rempah, Dyah Kusumadewi hanya menggeleng pelan. “Biarkan,” ucapnya lirih. “Hatiku masih belum tenteram.” Suaranya lembut, tetapi ada nada getar yang tidak mampu disembunyikannya.
“Tidak ada kiriman kabar dari Tumenggung Lembu Kadhita?” tanyanya kemudian. Tumenggung Lembu Kadhita adalah kepala rombongan yang ditugasi mengikuti sang pangeran. Dayang Ninis Wulan menunduk dalam. “Belum, gusti. Mereka berkata perjalanan kali ini memasuki jalur barat Semeru, lebih jauh daripada biasanya.” Jawaban itu membuat alis halus Kusumadewi mengerut sedikit. Ia tahu benar jalur barat Semeru adalah wilayah yang liar dan sunyi, tempat banyak brahmana bertapa dan tempat para pemburu tua berkata bahwa alam memiliki mata yang berbeda. Putranya mungkin mengenal hutan itu lebih dari siapa pun di istana, tetapi seorang ibu tidak pernah bisa menyingkirkan kegelisahan. “Dia selalu memilih jalur yang semakin jauh… semakin sunyi,” bisiknya. “Seolah ia ingin menjauh dari istana.” Ketika kata-kata itu baru saja selesai, suara langkah berat namun mantap terdengar dari lorong luar. Para dayang segera memundurkan badan, dan sesaat kemudian muncul sosok Raja Rajasawardhana, ayahanda Bhre Kertabhumi. Jubahnya sederhana untuk ukuran seorang raja, tetapi wibawa yang terpancar dari sorot matanya membuat para dayang menunduk dalam. Dyah Kusumadewi berdiri menyambutnya, namun sebelum ia sempat berbicara, sang raja mengangkat tangan, meminta agar ia tetap duduk. “Kau cemas lagi,” ucap Rajasawardhana pelan, namun tegas. “Putra kita tidak dalam bahaya.” Ia melangkah mendekat, menatap istrinya dengan pandangan yang sarat keyakinan. “Kertabhumi lahir dengan darah yang tidak suka berada di balik tembok. Alam Semeru mengenalnya lebih baik daripada kita semua.” Dyah Kusumadewi menunduk, membiarkan suaranya turun menjadi bisikan. “Tapi ia masih anak kita.” “Benar,” jawab sang raja, “dan karena itulah kita harus percaya pada kekuatannya.”
Dyah Kusumadewi terdiam cukup lama setelah mendengar kata-kata Rajasawardhana. Meskipun napasnya mulai lebih teratur, matanya tetap menyimpan bayang kekhawatiran. Bagi seorang ibu, terutama ibu dari seorang pangeran Majapahit, kecemasan bukanlah sesuatu yang bisa dihapus dengan sekadar ucapan. Kertabhumi bukan satu-satunya putra bangsawan yang dibesarkan di dalam istana besar itu, namun dialah satu-satunya yang tidak pernah berharap untuk tinggal di bawah lindungan tembok tinggi dan penjagaan prajurit. Sejak kecil, ia lebih sering ditemukan berlari melintasi halaman belakang istana, memanjat pohon jambu milik abdi dalem tua, atau menyelinap keluar bersama prajurit muda yang diam-diam mengajarinya cara membaca jejak. Kusumadewi masih ingat saat Kertabhumi baru berusia sebelas tahun dan tiba-tiba menghilang selama sehari penuh; seluruh keputren gempar, para tumenggung mencari ke segala penjuru, dan ketika malam turun, anak itu kembali dengan tubuh penuh lumpur sambil tersenyum memamerkan ikan sungai yang ia tangkap sendiri. Itu adalah malam pertama Kusumadewi menyadari bahwa putranya tidak akan pernah hidup seperti pangeran lain. Rajasawardhana melangkah perlahan ke sisi jendela, membuka sedikit tirai sutra sehingga cahaya pagi menembus ke dalam ruangan. “Lihatlah,” ucapnya lembut namun mantap, “hari ini cerah. Ini adalah pertanda baik bagi perjalanan siapa pun yang sedang berada di hutan.” Ia kemudian menoleh kepada Kusumadewi dan menambahkan, “Termasuk perjalanan Kertabhumi.” Namun raut wajah sang ibu tidak berubah banyak. “Kau selalu berkata begitu,” gumamnya pelan. “Setiap kali ia pergi, kau berkata ia akan baik-baik saja. Tapi kau tidak melihat seperti apa wajahku setiap malam, menunggu kabar dari para prajurit.”
Rajasawardhana mendekat, dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia duduk di sisi permaisurinya. Tangannya yang kokoh namun hangat menyentuh punggung tangan Kusumadewi. “Aku tidak berkata begitu untuk menenangkanmu,” ujarnya. “Aku berkata begitu karena aku telah melihat dengan mataku sendiri.” Matanya menatap jauh ke dinding ruangan seolah mengenang sesuatu. “Ketika Kertabhumi berusia lima belas tahun, aku mengajaknya berburu bersama Tumenggung Badhra Wisesa. Aku ingin melihat apakah tubuhnya sekuat semangatnya. Ternyata… aku yang kewalahan mengikutinya. Ia tidak hanya cepat; ia seolah tahu arah setiap hembusan angin. Bahkan saat kami tersesat di jalur remang, ia yang menemukan jalan pulang. Anak itu memiliki sesuatu yang melampaui ajaran guru-guru istana.” Kusumadewi menarik napas perlahan. Mendengar kisah lama itu hanya membuat hatinya semakin campur aduk. Ia bangga, sekaligus takut. “Aku tahu ia berbakat,” ucapnya akhirnya. “Tetapi apakah bakatnya harus selalu membawanya menjauh dariku?” Suaranya lirih, hampir seperti keluhan hati yang telah ia simpan terlalu lama. “Ia adalah putra sulung kita, orang yang akan mewarisi kedudukan kakanda. Tidak seharusnya ia terus bermain dengan bahaya di hutan.”
Rajasawardhana menggeleng pelan. “Ia tidak sedang bermain, Kusumadewi. Ia sedang mengasah dirinya. Anak seperti Kertabhumi tidak bisa dibesarkan hanya dengan kitab-kitab ilmu negara dan tata keraton. Ia membutuhkan bumi yang luas untuk menguatkan langkahnya. Dan Semeru… Semeru menjadikannya tegar.” Wajah sang raja melembut. “Jika kita menahannya terus di istana, ia justru akan kehilangan dirinya.” Kusumadewi menutup matanya sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap pelan ke dalam dada. Ia tahu suaminya tidak pernah berbicara tanpa pertimbangan. Ia tahu Rajasawardhana mengenal putranya dari sisi yang tidak pernah ia lihat. Namun naluri seorang ibu—apalagi ibu seorang pangeran—tidak mudah dikalahkan oleh logika atau keyakinan raja sekalipun. Saat ia membuka mata kembali, sinar pagi sudah menari di lantai batu bata, menghaluskan cahaya di wajahnya yang penuh gelisah. “Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya lebih damai meski isinya masih mengandung resah. “Aku akan percaya… untuk kali ini.”
Rajasawardhana terdiam sejenak, membiarkan sinar pagi menyentuh wajah permaisurinya sebelum ia kembali melanjutkan kisah yang hanya sedikit orang di istana mengetahuinya. “Ada hal lain yang belum pernah kuceritakan kepadamu,” ujarnya dengan suara rendah namun penuh keyakinan. “Peristiwa itu terjadi ketika Kertabhumi baru menginjak lima belas tahun. Ia belum diperbolehkan membawa tombak panjang, namun kekuatannya sudah setara dengan para prajurit muda yang dilatih di halaman kaputren bagian luar.” Dyah Kusumadewi menoleh perlahan, memperhatikan suaminya dengan penuh tanda tanya. Rajasawardhana melanjutkan dengan tatapan yang mengarah jauh ke masa lalu, seakan menembus kabut waktu yang telah lama berlalu. “Saat itu, ia memaksa ingin ikut aku dan Tumenggung Badhra Wisesa berlatih di jalur barat sungai Bang. Kami sedang mengejar jejak rusa jantan ketika tiba-tiba terdengar geraman dari balik semak. Seekor macan kumbang yang cukup besar melompat keluar, matanya merah seperti bara, tubuhnya melengkung siap menerkam.” Kusumadewi membungkam napasnya, tidak berani memotong cerita. “Aku bersiap menarik Kertabhumi ke belakang, namun anak itu justru melangkah maju.”
Ia menghela napas panjang, mengingat kembali detik-detik yang membuat jantungnya berhenti berdegup. “Kertabhumi tidak berlari. Ia berdiri tepat di hadapan macan itu. Tubuhnya diam seperti batang pohon, tetapi sorot matanya… tajam. Sangat tajam. Aku tidak tahu dari siapa ia mewarisi tatapan seperti itu. Tumenggung Badhra sampai menahan tanganku ketika aku hendak menarik pangeran muda itu menjauh. ‘Baginda,’ katanya, ‘biarkan kita melihat apa yang dimiliki darah muda ini. Kadang naluri anak-anak muda dapat menandingi kecakapan latihan kita.’ Aku tak pernah menyangka Badhra akan berkata begitu, tetapi ada ketegasan dalam suaranya yang membuatku menahan diri.” Dyah Kusumadewi menggenggam kain selendangnya semakin erat. “Kertabhumi berdiri tanpa gentar,” lanjut sang raja. “Jaraknya dengan macan itu hanya beberapa langkah. Angin tidak berhembus, bahkan suara dedaunan seolah berhenti. Macan itu menggeram, memamerkan taringnya yang besar. Aku pikir ia akan menerkam tanpa ragu. Namun sesuatu yang tidak terduga terjadi.” Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya mengecil seakan ia sedang menceritakan rahasia yang hanya boleh didengar tembok-tembok istana. “Ketika macan itu melompat, Kertabhumi tidak mundur. Ia justru bergerak ke samping dengan kecepatan yang tidak biasa, menghindari terjangan pertama. Tangannya menebas udara membawa sebilah keris pendek yang selalu ia selipkan di pinggang—keris hadiah dari Badhra. Gerakannya tidak sempurna, tidak seperti gerakan para pendekar tua, tapi naluri anak itu begitu tajam.”
Ia memejamkan mata mengingat saat itu. “Dengan satu putaran tubuh, ia menghindari cengkeraman macan itu dan mengarahkan serangan kecil, tepat mengenai bagian leher hewan itu. Tidak dalam, tidak mematikan, tetapi cukup untuk membuat macan itu berhenti. Hewan itu terhuyung, berdiri di antara dua dunia—antara menyerang lagi atau melarikan diri. Lalu ia berbalik dan pergi tanpa menoleh.” Dyah Kusumadewi menatap suaminya dengan mata melebar, antara terkejut dan tidak percaya. “Benarkah begitu?” bisiknya. Rajasawardhana mengangguk pelan. “Itulah sebabnya aku tidak mencemaskannya seperti engkau. Ia tidak hanya memiliki keberanian, tetapi juga naluri yang tidak dimiliki banyak pangeran. Dan Semeru… hutan itu seolah mengenali keberadaannya.” Kusumadewi menggigit bibir bawahnya, antara bangga dan takut. Kini ia mulai memahami bahwa kecemasannya sebagai seorang ibu harus berjalan berdampingan dengan keyakinan bahwa putranya memang ditakdirkan memikul peranan besar.
Keheningan di dalam ruang keputren semakin dalam setelah kisah itu diucapkan, seolah setiap bata yang menyusun dinding-dinding tua Majapahit ikut menjadi saksi betapa berbeda jalan hidup yang sedang dipahatkan kepada putra sulung mereka. Dyah Kusumadewi menundukkan kepala, membiarkan bayang-bayang tipis cahaya pagi menimpa wajahnya. Ia membayangkan putranya—Bhre Kertabhumi—anak yang ia kandung dalam keteduhan dan dibesarkan dalam gemerlap istana, kini berdiri menghadang seekor macan kumbang hanya dengan keris pendek dan keberanian yang tidak wajar bagi anak seusianya. Ada rasa bangga di dadanya, namun kebanggaan itu dicampur pula oleh takut yang merayap halus, seperti kabut tipis yang menyelimuti Semeru di pagi hari. “Jika benar ia memiliki kemampuan seperti itu,” ucapnya akhirnya dengan suara rendah, “mengapa ia tidak menggunakannya untuk tetap dekat dengan kita? Mengapa ia selalu memilih rimba sebagai tempatnya pulang?” Rajasawardhana tidak langsung menjawab. Ia memandang ke luar jendela, melihat sinar matahari yang mulai merambat naik dan memantul pada kolam kecil di halaman dalam. “Karena anak itu… tidak lahir untuk disimpan dalam ruang sempit,” katanya pelan. “Ada darah di dalam dirinya yang tidak mengenal batas dinding. Kau lihat bagaimana ia tumbuh? Ia tidak pernah takut pada ketinggian tembok istana. Ia memanjat pohon lebih cepat dari abdi dalem yang telah puluhan tahun bekerja di sini. Ia mempelajari jejak binatang sebelum ia mampu membaca aksara. Ia lebih dahulu memahami arah angin sebelum ia mengenal makna kata ‘tahta’.” Sang raja menghela napas. “Anak seperti itu tidak bisa dikurung.”
Kusumadewi mengangkat wajah, matanya memantulkan kecemasan yang belum surut. “Tapi tahta menunggu dirinya,” gumamnya. “Majapahit tidak membutuhkan seorang anak rimba. Majapahit membutuhkan pangeran yang kuat, namun berhati-hati. Yang mengerti tata negara. Yang dapat hadir setiap kali rakyat membutuhkan.” Ia menatap suaminya dengan sorot mata yang memohon penjelasan, seolah ia sendiri sedang mencari kepastian mengenai masa depan yang tak bisa ia baca. “Bagaimana jika kebiasaan itu membuat para pembesar memandangnya sebelah mata? Bagaimana jika kelak ia lebih dipandang sebagai anak liar daripada pewaris yang sah?” Sang raja menoleh, sorot matanya mengeras namun tetap lembut. “Kertabhumi bukan liar, Kusumadewi. Ia merdeka.” Suaranya tegas, mengandung keyakinan yang dibangun dari pengalaman panjang sebagai raja sekaligus ayah. “Kelak, jika ia duduk di singgasana, ia akan memimpin bukan hanya dengan kitab undang-undang, tetapi dengan naluri seorang penjaga bumi. Ia akan mengerti kedukaan rakyat kecil, karena ia pernah menghirup udara yang sama dengan mereka. Ia akan tahu bagaimana alam bekerja, bagaimana hujan turun, bagaimana sungai membelah desa, bagaimana tanah memberi makan. Tidak semua raja mengerti itu.”
Ia berdiri perlahan, tangannya menyentuh bahu Kusumadewi dengan kehangatan yang membuat kegelisahan di dada sang permaisuri sedikit mereda. “Anak itu diciptakan dengan dua sayap: satu sayap adalah darah raja, dan sayap lainnya adalah jiwa bumi. Jika kita memotong salah satunya, ia tidak akan pernah terbang tinggi.” Kusumadewi menutup mata, mengulang kata-kata suaminya di dalam hati. Ia tahu Rajasawardhana benar. Ia tahu Kertabhumi bukan pangeran biasa, meski hatinya selalu menolak menerima kenyataan itu sepenuhnya. Namun pada pagi itu, di balik tirai tipis keputren, ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda—bukan hanya kecemasan seorang ibu, melainkan firasat bahwa kehidupan putranya akan membawa Majapahit ke jalan yang belum pernah dilalui oleh raja-raja terdahulu.
Dyah Kusumadewi perlahan mengendurkan genggaman pada selendang yang sejak tadi menjadi tempat pelampiasan kegelisahannya. Kata-kata Rajasawardhana menggema lembut dalam dadanya, seperti bunyi gamelan yang dipukul perlahan di kejauhan—tidak memaksa, namun meresap perlahan hingga ke ruang paling dalam dari batinnya. Ia membuka mata, memandang suaminya dengan sorot yang lebih jernih meskipun masih dibayangi rasa takut yang wajar bagi seorang ibu. “Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya lembut namun sarat ketabahan. “Jika kakanda telah melihat sendiri bagaimana ia menghadapi bahaya, maka aku pun harus belajar meyakininya.” Kata-kata itu bukan sekadar penyerahan, melainkan langkah pertama dari sebuah penerimaan yang sulit. Karena Kusumadewi sadar, seorang ibu pada akhirnya harus mengizinkan anaknya berjalan ke dunia yang tidak bisa ia lindungi selamanya. Rajasawardhana tersenyum kecil—senyum yang jarang muncul, tetapi bila muncul selalu mengandung kehangatan seorang ayah sekaligus kewibawaan seorang raja. “Kau tidak kehilangan dirinya,” ujarnya pelan sambil merapikan selendang istrinya. “Kertabhumi hanya sedang menempuh jalannya sendiri. Jalan yang tidak kita pilihkan, tetapi jalan yang ditetapkan oleh bumi dan langit.” Ia menarik napas panjang, mengalihkan pandangannya sejenak ke jendela di mana cahaya matahari pagi memantul di atas genteng-genteng merah keputren. “Kelak, ketika ia kembali, ia akan kembali sebagai seseorang yang lebih matang. Ia bukan sekadar pangeran yang kuat, tetapi pemuda yang memahami denyut bumi Majapahit.”
Di luar ruangan, suara langkah para abdi dalem mulai terdengar; tanda bahwa kegiatan pagi di istana perlahan dimulai. Namun di dalam ruangan, suasana tetap hening, seolah waktu menahan napas bersama mereka. Kusumadewi bangkit perlahan, melangkah ke jendela dan membuka tirainya sedikit lebih lebar. Cahaya yang masuk kini menyinari seluruh wajahnya, memperlihatkan ketegasan yang perlahan menggantikan keresahan. “Aku hanya berharap ia tidak melupakan jalan pulang,” bisiknya. “Walaupun semesta memanggilnya, walaupun Semeru menjadi guru baginya… aku berharap ia masih mengingat bahwa seorang ibu menunggu di sini.” Rajasawardhana mendekat, berdiri di sampingnya sambil menatap ke halaman. “Ia mengingatnya,” kata sang raja dengan penuh keyakinan. “Kertabhumi bukan anak yang pergi tanpa menoleh. Ia selalu tahu siapa yang mencintainya.” Lalu, setelah beberapa saat hening, ia menambahkan dengan suara yang lebih rendah, “Namun kau juga harus siap: suatu hari nanti, perjalanan yang ia pilih akan menjadi lebih jauh dari yang bisa kau bayangkan.”
Kusumadewi menunduk, membiarkan kata-kata itu mengalir masuk, meski tidak sepenuhnya ia pahami. Di matanya, jauh di balik rasa cemas, perlahan tumbuh sesuatu yang baru: firasat bahwa takdir putranya akan menuntut pengorbanan besar—tidak hanya dari dirinya, tetapi dari seluruh keluarga kerajaan. Ketika angin pagi menyelinap masuk melalui celah jendela, menggoyang lembut tirai sutra, Kusumadewi merapatkan kain penutup bahunya dan menarik napas panjang. “Semoga dewa-dewa melindunginya,” ucapnya lirih. “Di mana pun ia melangkah.” Rajasawardhana menatap cahaya yang jatuh di lantai batu bata, kemudian mengangguk perlahan. “Dan semoga bumi Semeru tetap menjaganya.” Di luar sana, sementara istana mulai bergerak menyambut hari, jauh di rimba barat Semeru, Bhre Kertabhumi melangkah semakin dalam mengikuti panggilan yang belum ia mengerti—menandai awal perjalanan panjang menuju takdir besar yang kelak mengubah wajah Majapahit.
Bagian 3 — Tapa Brata Sang Pangeran
Kabut tipis yang masih menggantung di lereng barat Semeru bergerak lambat seperti tirai halus yang ditarik tangan-tangan tak terlihat. Di baliknya, Bhre Kertabhumi berdiri di atas sebuah batu besar yang menjorok sedikit ke arah lembah, membiarkan angin gunung yang dingin menampar wajahnya dengan kelembutan yang hanya dipahami oleh mereka yang mengenal napas hutan sejak kecil. Cahaya matahari belum sepenuhnya turun ke dasar lembah, sehingga seluruh dunia di sekitar pangeran muda itu tampak seakan berada di ambang antara mimpi dan nyata. Daun-daun bergoyang pelan, seolah menyapa tubuh yang telah menjadi bagian dari Semeru selama bertahun-tahun. Di sinilah Kertabhumi selalu kembali setelah kejenuhan dalam istana memerangkap dadanya; di sinilah ia merasa bahwa dunia tidak menuntutnya apa pun selain menjadi dirinya sendiri. Tidak ada tatapan pejabat, tidak ada bisikan para abdi dalem tentang tata adat dan politik yang rumit, tidak ada kewajiban untuk menjadi sesuatu yang belum ia pahami. Hanya ada dirinya, hutan, dan bumi yang bernafas di bawah kakinya.
Ia menutup mata perlahan. Suara gemerisik daun, kicau burung kecil yang baru bangun, dan gemuruh jauh dari perut Semeru menjadi rangkaian nada yang menembus telinga hingga ke dasar hatinya. Semua itu adalah suara-suara yang tidak pernah ia dengar di istana. Di dalam balairung, suara yang mengisi ruang hanyalah gema percakapan para pembesar, langkah berat prajurit penjaga, dan dengung kesibukan yang tidak pernah benar-benar sunyi. Di keputren, ia mendengar suara sutra yang bersentuhan, suara kasur tipis yang diletakkan di alang-alang, dan bisik para dayang yang selalu bersiaga. Tetapi di sini—di inti kehidupan alam—suara yang ia dengar adalah suara dirinya sendiri. Hatinya yang selama ini tertekan oleh aturan istana perlahan membuka diri, seperti pintu yang dilepaskan dari selaknya.
Udara dingin menerpa kulitnya, menyelusup ke dalam pori-pori dan meresap hingga tulang. Namun bukan dingin itu yang membuatnya menarik napas panjang. Ada sesuatu dalam udara Semeru hari itu yang membawa pesan samar. Pesan yang tidak datang dari manusia, tidak pula dari hewan, tetapi dari bumi yang telah memelihara leluhur jauh sebelum Majapahit berdiri. Kertabhumi merasakan getaran halus menjalar dari telapak kakinya ke seluruh tubuh, getaran yang bukan berasal dari gempa kecil atau gerakan tanah, melainkan dari batin pegunungan itu sendiri. Ia tidak mengerti sepenuhnya, tetapi ia mengetahui satu hal: Semeru sedang berbicara. Tidak dengan kata-kata, tetapi dengan rasa. Dengan tubuh tetap tegak dan mata terpejam, ia menurunkan napas lebih dalam, mengikuti irama yang diajarkan oleh seorang brahmana gunung ketika ia masih kecil. “Tariklah udara, biarkan semangat bumi menyatu dengan darahmu,” kata sang brahmana waktu itu. “Jangan melawan. Dengarkan. Bumi tidak berbicara kepada sembarang orang.” Sejak hari itu, Kertabhumi menghafal setiap langkah pernapasan, setiap jeda, setiap getaran. Dan kini, di usia mudanya yang semakin matang, ia mulai memahami mengapa brahmana itu begitu bersungguh-sungguh memberinya pelajaran. Semeru bukan sekadar gunung. Semeru adalah makhluk tua—penjaga rahasia.
Kertabhumi membuka mata. Di hadapannya, lembah terbentang luas, dihiasi aliran sungai kecil yang memantulkan cahaya samar matahari pagi. Ia merasa damai, namun kedamaian itu dibarengi oleh kegelisahan batin yang tidak ia mengerti. Seolah ada sesuatu yang menunggu di kejauhan: sebuah perjalanan, sebuah ujian, atau mungkin sebuah panggilan yang baru akan ia pahami setelah ia melangkah lebih jauh dari tempat ia berdiri saat ini. “Jika benar semesta punya rencana untukku,” gumamnya pelan, “setidaknya aku ingin tahu dari mana aku harus memulai.” Namun Semeru hanya menjawab dengan angin. Angin Semeru bertiup pelan, membawa aroma lembap dari lumut yang menempel di bebatuan serta wangi tanah yang baru tersentuh cahaya pagi. Bhre Kertabhumi membuka matanya perlahan, membiarkan dunia kembali masuk melalui penglihatannya. Namun benaknya tetap berada di dalam keheningan yang baru saja menyelimuti batinnya. Ia merasakan kekosongan yang dalam, bukan kekosongan yang menyakitkan, melainkan kekosongan yang justru membuka ruang bagi kepekaan yang lebih halus. Pada saat-saat seperti itu, ia merasa dirinya bukan hanya melihat hutan—ia merasakan seluruh denyut hidup di dalamnya. Setiap daun yang bergerak, setiap aliran air kecil yang mengalir di antara batu-batu hitam, setiap burung kecil yang melintas di cabang pohon tinggi, semuanya seperti bergabung dalam satu kesatuan yang bernafas bersamanya.
Namun bersamaan dengan itu muncul pula sebuah rasa yang telah lama bersemayam dalam dirinya—rasa terasing dari istana yang membesarkannya. Di balik segala kemegahan Majapahit, Kertabhumi selalu merasa ada dinding tak terlihat yang memisahkannya dari dunia yang lain. Dunia yang dipenuhi aturan, tata krama, dan pembicaraan politik yang terus-menerus mendengungkan kata “kekuasaan”. Baginya, semua itu terasa seperti pakaian yang terlalu sempit. Setiap kali ia berada di balairung, ia merasa napasnya terganggu oleh keharusan untuk menjadi pangeran yang sempurna. Setiap langkah harus diperhitungkan, setiap kata harus dipilih dengan bijak, dan setiap sorot mata selalu dimaknai sebagai tanda kekuatan atau kelemahan. Ia bagaikan burung elang muda yang dimasukkan ke dalam sangkar emas—indah dipandang, tetapi tidak bisa terbang. Kertabhumi mengusap wajahnya, mencoba menyingkirkan sisa embun yang menempel. Ingatan tentang para pangeran lain yang tumbuh bersamanya melintas dalam benaknya. Mereka belajar kitab undang-undang, ilmu pemerintahan, dan kesusastraan di bawah pengawasan guru-guru yang keras. Mereka duduk berjam-jam dengan posisi tegak, mempelajari silsilah kerajaan dan hukum adat yang panjang. Mereka tumbuh dengan pandangan yang diarahkan pada tahta, pada warisan leluhur, pada hirarki yang harus ditegakkan. Sementara itu, ia—Bhre Kertabhumi—lebih sering duduk di tepi sungai, merendam kakinya sambil mendengarkan cerita para prajurit tua; atau memanjat bukit kecil untuk melihat garis hutan yang membentang tanpa batas. Ia tidak pernah membenci ilmu-istana yang diajarkan kepadanya, namun tidak pula merasa jiwanya tinggal di sana.
"Aku berbeda dari mereka," gumamnya dalam hati. "Tetapi apakah perbedaan ini suatu kekuatan… atau kutukan?" Pertanyaan itu sering ia ulang ketika malam turun dan lampu-lampu minyak dipasang di lorong istana. Ada yang membuatnya gelisah: ia merasa dilahirkan dari tubuh seorang raja, tetapi panggilan hidupnya datang dari tanah pegunungan. Dua dunia itu tidak pernah bertemu. Di satu sisi, ia adalah pewaris yang ditakdirkan memimpin sebuah kerajaan besar; di sisi lain, ia adalah pemuda yang merasa lebih hidup ketika mendengar gemerisik daun daripada suara gamelan upacara. Namun pagi itu, di lereng Semeru yang dibalut kabut, kegelisahan itu tidak hanya hadir sebagai perasaan yang samar. Ada sesuatu yang lebih kuat, sesuatu yang seperti dorongan tak terlihat, menarik dirinya lebih jauh ke dalam keheningan. Ia tidak tahu apakah sesuatu itu berasal dari dalam dirinya atau dari alam Semeru sendiri. Yang ia tahu hanyalah: setiap kali ia datang ke tempat ini, hatinya merasa semakin yakin bahwa takdirnya tidak akan sama dengan takdir pangeran-pangeran lain di Majapahit.
Dan untuk pertama kalinya, ia membiarkan diri bertanya: “Jika bukan istana… ke manakah Semeru hendak menuntunku?” Bhre Kertabhumi menurunkan tubuhnya perlahan, duduk bersila di atas batu besar yang hangat oleh sentuhan lembut matahari pagi. Ia merapatkan kedua telapak tangan di atas lutut, lalu menarik napas panjang seperti yang diajarkan seorang brahmana gunung bernama Resi Wangsadipa—salah satu pertapa tua yang tinggal jauh di lereng barat Semeru. Resi itu bukan guru istana, bukan pula brahmana yang dikirim kerajaan; ia adalah pertapa yang hidup di antara kabut dan pepohonan tua, yang tubuhnya seperti terbuat dari semangat gunung, dan yang matanya memantulkan kedalaman yang mustahil dimiliki manusia biasa. Kertabhumi bertemu dengannya ketika berusia dua belas tahun—suatu perjumpaan yang tidak direncanakan, tetapi justru menjadi salah satu titik awal pembentukan jiwanya. Resi Wangsadipa mengajarinya hal-hal yang tidak ia peroleh di istana: cara mendengar detak halus bumi, cara merasakan aliran angin, dan cara membaca tanda-tanda alam yang tidak tertulis. Ilmu yang diajarkannya bukan ilmu perang, bukan pula ilmu siasat. “Kenalilah napas,” kata sang resi saat pertama kali mengajarkan pernapasan gunung kepadanya. “Karena napas adalah jembatan antara tubuhmu dan alam. Jika kau mampu mendengar napas bumi, kau akan mengenali gerak semesta sebelum semesta itu mengguncangmu.” Kata-kata itu, meski sederhana, tertanam dalam diri Kertabhumi. Dan kini, beberapa tahun setelah pertemuan itu, ia semakin memahami makna di baliknya.
Ia menarik napas pelan namun dalam, membiarkan udara dingin Semeru memasuki dadanya. Udara itu terasa berbeda dari udara istana yang hangat dan selalu tercampur wangi dupa. Udara Semeru membawa sesuatu yang lebih murni—sebuah kesunyian kuno yang meresap hingga ke dasar tulang. Ketika ia menghembuskan napas perlahan, paru-parunya serasa berbicara dengan udara di sekelilingnya, dan ia merasakan tubuhnya semakin ringan, seolah batas antara dirinya dan hutan mulai menipis. Dalam kondisi seperti itu, dunia seakan melambat. Suara burung kecil di kejauhan terdengar lebih jelas; detakan sayap serangga yang melintas di dekat telinganya terasa seperti denyut kecil di udara; bahkan getaran halus dari batang pohon besar yang berdiri tidak jauh darinya seolah dapat ia rasakan di permukaan kulit. Ia bertahan dalam posisi itu cukup lama, hingga embun pagi yang menempel di alisnya perlahan mengering. Dan dalam keheningan yang dalam itulah ia merasakan sesuatu yang tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata. Semeru seperti berbicara—bukan dengan suara, tetapi dengan getaran yang mengalir dari inti bumi menuju udara. Getaran itu sangat lembut, tapi cukup kuat untuk membangkitkan naluri dasar dalam dirinya. Seolah gunung itu sedang berkata: *Aku memperhatikanmu, anak muda. Jalanmu panjang, dan waktunya hampir tiba.*
Kertabhumi membuka mata perlahan. Dalam pandangannya, dunia tampak sedikit berbeda: lebih terang, lebih tajam. Ia merasakan energi yang mengalir di antara jemari tangannya, bukan kekuatan yang mencolok, tetapi kekuatan yang dalam dan kokoh seperti akar pohon besar. Ia tahu latihan ini bukan untuk membuatnya menjadi prajurit atau pendekar. Latihan ini membentuk pusat ketenangan di dalam dirinya—sesuatu yang kelak akan ia perlukan ketika dunia di luar hutan menuntutnya untuk bertindak sebagai pewaris Majapahit. “Jika semesta benar-benar memanggilku,” ucapnya pelan, “maka aku harus siap mendengarnya.” Dan pada saat itulah, angin berhembus dari arah lembah, membawa suara samar yang membuat bulu kuduknya berdiri—sebuah pertanda bahwa latihan batin ini bukan sekadar persiapan, melainkan undangan dari alam untuk memasuki perjalanan yang lebih besar. Saat Bhre Kertabhumi membuka mata sepenuhnya, dunia di sekitarnya tidak lagi sama seperti ketika ia memejamkannya. Ada perubahan kecil namun tajam—seolah kabut pagi yang biasanya lembut kini menyimpan sesuatu yang bergerak pelan di balik tirai putihnya. Daun-daun besar yang menggantung di cabang-cabang tinggi tidak lagi bergoyang mengikuti irama angin biasa; gerakannya terlalu pelan, terlalu teratur, seperti sedang menunggu sesuatu. Bahkan burung-burung kecil yang biasanya riuh pada jam itu tampak enggan berkicau. Sunyi menyelimuti lereng Semeru, bukan sunyi yang menenangkan, tetapi sunyi yang memunculkan kewaspadaan.
Kertabhumi merasakan bulu kuduknya meremang. Nalurinya segera kembali bekerja—naluri yang bertahun-tahun ditempa oleh rimba, oleh pendakian, oleh Resi Wangsadipa yang mengajarkan arti kepekaan batin. Ia mengangkat wajah, menghirup udara perlahan. Ada sesuatu yang berubah. Aroma tanah lembap bercampur dengan wangi pohon pinus, tetapi di antara kedua aroma itu, ia mengenali sesuatu yang asing: bau logam. Tipis, tetapi jelas. Bau yang tidak seharusnya muncul di bagian hutan sedalam ini kecuali ada manusia lain yang baru lewat… atau sedang mengintai. *Ada seseorang di sini.* Tanpa perlu bergerak banyak, ia merendahkan tubuhnya, menempatkan berat pada ujung kaki, mendengarkan lebih dalam. Ia menempelkan telapak tangannya pada batu besar yang sejak tadi ia duduki. Batu itu menyimpan kehangatan matahari pagi, tetapi di bawahnya—di dalam bumi—ia merasakan denyut kecil yang tidak seharusnya ada. Denyut seperti langkah kaki jauh yang ditahan, seperti tekanan halus yang muncul ketika seseorang berusaha menyembunyikan kehadirannya. “Siapa pun itu…” gumamnya dalam hati, “…mereka bukan datang untuk menikmati keheningan.”
Ingatan tentang pesan gurunya, Resi Wangsadipa, muncul kembali dengan jelas. *‘Jika alam berubah tanpa alasan… jika suara hilang tanpa angin… jika bayangan bergerak tanpa cahaya… maka ketahuilah, bumi sedang memperingatkanmu.’* Kertabhumi berdiri perlahan, gerakannya begitu halus sehingga bahkan dedaunan di belakangnya tidak mendesis. Tangannya meraih sebilah keris yang ia selipkan di pinggang—keris kecil berwarna gelap, sederhana, namun sangat tajam. Keris pemberian Tumenggung Badhra Wisesa—senjata yang selalu menemaninya sejak pertama kali ia menghadapi macan kumbang di usia lima belas. Ia menajamkan pendengarannya. Dari balik rimbunan semak belukar yang terletak kira-kira beberapa puluh langkah di bawah lereng, terdengar suara samar: bunyi ranting kecil patah. Begitu tipis, hampir tidak terdengar… namun cukup bagi seorang Kertabhumi. “Bukan hewan,” ujarnya dalam hati. Hewan hutan tidak akan bergerak seteratur itu. Ini gerakan manusia—manusia yang berusaha berjalan senyap, namun belum terbiasa dengan medan pegunungan Semeru.
Kertabhumi menoleh ke arah lembah. Matahari kini mulai mengangkat tubuhnya lebih tinggi dari cakrawala, memberikan cahaya yang sedikit menembus kabut. Di balik garis pepohonan, ia melihat bayangan yang bergerak perlahan. Dua—tidak, tiga orang. Mengenakan pakaian berwarna gelap. Bergerak dengan pola teratur. Dan meskipun kabut menutup sebagian besar tubuh mereka, ia mengenali sesuatu yang mencolok: kilatan logam di pinggang. Para pengejar. “Akhirnya mereka menemukan jejakku…” bisiknya, wajahnya tetap tenang namun batinnya bersiap. Ia tidak tahu siapa yang mengirim mereka—apakah dari pihak paman Suraprabhawa, apakah dari kelompok pembesar istana yang diam-diam ingin melemahkan ayahnya, atau apakah dari tangan yang lebih gelap lagi. Tetapi satu hal ia tahu dengan pasti: alam Semeru memberinya pertanda lebih cepat daripada manusia. Dan pertanda itu jelas. Hari ini bukan lagi hari perenungan. Hari ini adalah hari ketika Kertabhumi muda pertama kali harus memilih antara melawan… atau menghilang ke dalam rimba seperti bayangan.
Bagian 4 — Pertemuan pertama dengan bahaya nyata
Kabut mulai menipis seiring matahari merambat naik, dan dalam cahaya pucat itu, Bhre Kertabhumi dapat melihat bayangan tiga orang itu dengan lebih jelas. Mereka bergerak perlahan namun teratur, seperti pemburu yang telah mempelajari medan ini selama bertahun-tahun. Namun Kertabhumi tahu satu hal: tak seorang pun dari mereka benar-benar memahami cara Semeru bernafas. Itulah keunggulannya. Gunung ini bukan sekadar tempat baginya—gunung ini adalah guru. Di atas tanah inilah ia belajar mengikuti jejak angin, membaca suara tanah, dan mengetahui kapan bahaya merayap tanpa kata. Ia melangkah mundur setengah tapak, membiarkan tubuhnya menyatu dengan bayangan pohon besar di sampingnya. Napasnya ia perlambat, sesuai ajaran Resi Wangsadipa, hingga seluruh tubuhnya terasa ringan, namun peka. Ia menundukkan kepala sedikit, membiarkan telinganya menangkap suara-suara kecil yang mungkin terlewat oleh manusia biasa. Detik berikutnya, ia mendengar langkah-langkah halus—pertanda bahwa para pengejar itu tidak sendirian. Ada dua lagi yang bergerak dari sisi kanan lereng. Mereka menyebar. Pola pengepungan. Pengejar biasa tidak akan mampu melakukan pola seperti itu.
“Aku tidak sedang menghadapi sembarang pemburu,” gumamnya dalam hati. “Mereka dilatih. Dipersiapkan.” Dan hanya satu orang yang mungkin mengirim prajurit terlatih ke wilayah Semeru untuk memburu dirinya: **Suraprabhawa**, adik dari ayahandanya—paman yang sejak lama menunjukkan gelagat haus kuasa. Kertabhumi menghunus kerisnya pelan. Bilah keris itu tidak berkilau, justru buram seperti batu yang telah lama ditimpa angin. Namun itulah yang membuatnya berbahaya—senjata yang tidak memantulkan cahaya tidak mengkhianati keberadaannya. Tangannya menggenggam gagangnya dengan mantap, jari-jarinya bergerak otomatis, mengingat latihan-latihan kecil yang ia pelajari dari para prajurit tua di istana dan dari pertempuran-pertempuran kecil di dalam hutan. Suara ranting patah terdengar lagi, kali ini lebih dekat. Ia menajamkan tatapannya. Dari balik semak, muncul seseorang dengan tubuh kekar dan wajah gelap dihiasi garis tato kecil di bawah mata—tanda khas prajurit bayangan dari pesisir utara Branglor, pasukan yang terkenal tidak mengenal belas kasihan. Orang itu bergerak mengendap, matanya menyisir medan. Tidak lama kemudian, dua orang lain menyusul, masing-masing membawa pisau panjang yang dibungkus kain hitam. “Semuanya prajurit pemburu,” pikir Kertabhumi. “Dan mereka tidak datang untuk menangkap hidup-hidup.”
Ia tahu ia tidak bisa bertempur melawan lima orang sekaligus di tanah yang terbuka. Ia membutuhkan medan yang bisa ia kendalikan. Ia membutuhkan rimba yang mengenalnya seperti seorang anak. Dan tepat ketika ia memusatkan perhatian, Semeru kembali memberikan tanda: hembusan angin kecil dari arah utara membawa bau tanah basah dan suara aliran air kecil—sungai sempit yang dikelilingi akar pohon besar. Tempat yang tepat untuk menghilang. Tempat yang hanya bisa dicapai jika seseorang mengetahui langkah-langkah khusus melewati akar-akar liar yang saling menjalar. “Aku mengerti,” bisik Kertabhumi. “Kau ingin aku bergerak sekarang.” Dalam sekejap, tanpa suara, ia menggeser tubuhnya ke balik pohon besar, lalu meluncur ke bawah lereng kecil, menyelinap di antara semak-semak lebat. Pergerakannya begitu halus sehingga bahkan burung hutan tidak terbang kaget. Tubuhnya bergerak seperti bayangan—cepat, ringan, tidak meninggalkan bunyi.
Namun baru tiga langkah ia meluncur, suara berat terdengar dari belakangnya: “Pangeran… akhirnya kutemukan.” Suara itu bukan suara sembarangan. Dalam suara itu ada sinis, ada kepastian, dan ada niat membunuh. Kertabhumi berhenti. Tangannya menegang di gagang keris. Matanya menyipit. “Jadi mereka sudah benar-benar siap memburuku.” Lalu ia menarik napas perlahan—napas yang dalam, penuh tekad, dan penuh kesadaran bahwa hari ini bukan sekadar hari latihan. Hari ini adalah hari ketika darah keturunan Majapahit pertama kali akan diuji oleh niat gelap keluarganya sendiri.
Bhre Kertabhumi tidak langsung berbalik ketika suara itu terdengar. Ia membiarkan kabut tipis tetap menutupi sebagian tubuhnya, membiarkan pikirannya bekerja lebih cepat daripada detak jantungnya. Suara itu—sengau, berat, penuh kesombongan—milik seseorang yang sangat yakin akan keunggulannya. Itu bukan suara pemburu biasa. Itu suara pemimpin kelompok, seseorang yang terbiasa memerintah prajurit dan menghabisi lawan tanpa ragu. “Keluar, Pangeran,” ujar suara itu lagi. “Tak perlu bersembunyi. Tanah ini mungkin tempat bermainmu, tapi kami sudah memetakannya selama berhari-hari.” Kertabhumi mengerti bahwa itu bohong. Tidak ada orang luar yang bisa memetakan Semeru dalam hitungan hari. Namun kebohongan itu memberi informasi penting: mereka mencoba menggoyahkan mentalnya. Itu berarti mereka tahu ia muda, tetapi mereka tidak tahu apa yang telah diajarkan gunung kepadanya. Dengan gerakan perlahan dan terukur, ia berbalik.
Dari balik kabut, seorang pria bertubuh tegap muncul. Tubuhnya dibalut rompi kulit yang diperkuat logam tipis, wajahnya penuh bekas luka, dan di tangannya ia memegang pedang pendek dengan bilah bergelombang—senjata khas para *pembelah bayangan*, kelompok pembunuh yang bekerja di bawah perintah tokoh-tokoh politik gelap. Dua orang lain muncul di belakangnya, membentuk setengah lingkaran untuk mengurung. Kertabhumi memandang mereka tanpa gentar. “Tak kusangka Suraprabhawa mengirim prajurit sekelas kalian,” ujarnya dingin. Pemimpin pemburu mengangkat alisnya sedikit, terkejut karena sang pangeran dapat menebak dalang di balik pengejaran itu. “Ternyata kau tidak sebodoh yang kami dengar,” kata prajurit itu sambil menurunkan bahunya ke posisi siaga. “Sayang, kecerdasanmu tidak akan banyak berguna hari ini.” Kertabhumi merendahkan tubuh, memegang kerisnya dengan posisi siap. “Jika kalian ingin pulang dengan tubuh utuh, ini kesempatan terakhir.” Sekejap, ketiga prajurit itu saling bertukar pandang. Dan dalam waktu kurang dari kedipan mata, pemimpin kelompok itu menghunus pedangnya dan menerjang ke depan, diikuti dua anak buahnya dari sisi kiri dan kanan. Serangan yang simultan—bukti bahwa mereka memang pembunuh terlatih. Tetapi Kertabhumi tidak mundur. Ia justru melangkah maju.
Dalam dunia pertempuran, langkah kecil yang maju di saat semua orang berharap ia mundur adalah langkah yang membalikkan keseimbangan. Dengan gerakan cepat, ia menunduk melewati ayunan pedang pertama. Bilah itu menyayat udara tepat di atas rambutnya. Kertabhumi memutar tubuh, memanfaatkan turunan kecil lereng untuk melesat seperti anak panah ke samping. Prajurit kedua yang menyerang dari kiri kehilangan momentum. Dan dalam sekejap, Kertabhumi menusukkan keris ke lengan prajurit itu—bukan untuk membunuh, melainkan untuk melemahkan. Jeritan tertahan terdengar. Pemimpin pemburu memaki, “CERDIK ANAK INI!” Ia kembali menyerang, kali ini dengan kekuatan penuh. Pedang pendeknya meluncur dari arah samping, mengincar leher. Kertabhumi melompat ke belakang, tumitnya menjejak batu besar—dan pada detik yang sama ia memutar tubuh di udara, menendang bahu lawannya dengan kekuatan yang membuat prajurit itu terhuyung beberapa langkah.
“Kau pikir aku hanya tahu membaca angin?” seru Kertabhumi, napasnya teratur. “Aku juga tahu bagaimana bertarung.” Prajurit itu mendesis marah, matanya merah karena harga diri diserang seorang remaja. Namun sebelum ia dapat kembali menyerang, kabut bergerak—seolah Semeru sendiri bernafas lebih berat. Angin turun dari arah atas, menyapu daun-daun dan menggeser bayangan. Dalam situasi itu, dua hal terjadi bersamaan: —Kertabhumi melihat celah untuk kabur. —Para prajurit kehilangan fokus karena perubahan angin yang tajam. Ia tidak membuang waktu. Dengan satu lompatan besar ke arah kanan, ia meluncur ke jalur sempit di antara dua batu besar yang hanya ia ketahui. Tubuhnya menyelinap masuk, lalu turun cepat ke arah sungai kecil yang tertutup akar-akar raksasa. Di belakang, suara pemimpin pemburu terdengar marah, mengaum: “KEJAR DIA! JANGAN BIARKAN ANAK ITU HIDUP!”
Tapi Semeru sudah memilih. Hutan menelan tubuh Kertabhumi seperti menelan kabut pagi—sunyi, cepat, dan mustahil diikuti oleh mereka yang tidak menyatu dengan gunung. Langkah Bhre Kertabhumi melesat menuruni lereng sempit yang tertutup akar-akar raksasa, seperti bayangan yang tahu setiap celah di antara gelap dan cahaya. Sementara di belakangnya, suara para pemburu bergema terputus-putus—teriakan, makian, dan denting pedang yang membentur batang pohon—semuanya terdengar jauh, seperti terhalang oleh lapisan-lapisan kabut dan rimba. Ini adalah salah satu jalur yang hanya ia dan Resi Wangsadipa ketahui, jalur yang bahkan para pemburu binatang pun jarang menapakinya. Jalur itu curam, licin, dan penuh akar yang menjulur seperti tangan-tangan tua. Namun bagi Kertabhumi, setiap lekukannya seperti hafalan masa kecil. Kakinya mendarat di batu lembap berlumut, kemudian meluncur turun menggunakan batang pohon miring sebagai pijakan. Ia menekuk lutut, menahan tubuh agar tidak terbawa laju lereng terlalu cepat. Napasnya teratur—sedikit cepat karena benturan adrenalin, namun tetap terfokus. Itulah hasil dari bertahun-tahun latihan pernapasan gunung yang diajarkan Resi Wangsadipa. Tanpa teknik itu, pelarian ini hanya akan menjadi kejatuhan buta yang fatal. Dengan teknik itu, tubuhnya tetap ringan, matanya tetap jernih, dan pikirannya tetap awas. Tiba di titik lebih datar, ia berhenti sekejap. Telinganya menangkap suara—suara langkah cepat dari arah kiri atas. Mereka sudah membelah pasukan, menyebar sesuai medan. Itu berarti pemimpin pemburu itu bukan hanya kuat, tetapi pintar. Mereka tidak akan berhenti sebelum mendapatkan kepala sang pangeran muda.
Kertabhumi mengamati medan di depannya. Sungai kecil yang ia cari tidak jauh—hanya sekitar puluhan langkah ke bawah—tetapi jalurnya bukan jalur lurus. Di antara ia dan sungai terdapat belukar berduri, batu-batu besar yang tersusun acak, dan lubang-lubang kecil tempat hewan hutan biasa berlindung. Namun semua itu justru menjadi keuntungan baginya. Medan semacam ini adalah labirin alami yang hanya dapat ditembus oleh seseorang yang mengerti ritme hutan. Ia melompat ke batu besar di depannya, menjejaknya sekali, kemudian berguling ke sisi kanan untuk menghindari ranting berduri yang menjulur. Gerakannya hampir seperti binatang hutan—cepat, rendah, dan luwes. Di belakangnya, suara prajurit terdengar lebih jelas: “DI SANA! AKU LIHAT BAYANGANNYA!” Kertabhumi tidak menoleh. Ia tahu menoleh hanya akan menghambat ritme tubuhnya. Ia terus bergerak, mengikuti aliran tanah yang lebih lembut—pertanda bahwa sungai kecil itu sudah dekat. Begitu ia mendengar gemercik air, hatinya sedikit lega. Sungai itu bukan hanya sumber air; ia adalah jalur penghilang jejak. Aliran air dapat menutupi langkah kaki, dan akar-akar besar di sepanjang tepinya menyediakan tempat persembunyian alami.
Sesampainya di tepi sungai, ia langsung melompat ke atas akar besar pohon gayam yang menjulur melintang. Akar itu membentuk rongga di bawahnya—cukup luas untuk tubuh seseorang bersembunyi tanpa terlihat dari luar. Kertabhumi segera masuk ke dalamnya, berbaring rata, menahan napas. Sungai beriak pelan hanya beberapa jengkal dari wajahnya, sementara akar tua menutup dirinya dari pandangan atas. Detik demi detik berlalu. Langkah-langkah berat terdengar mendekat. “KEMANA DIA MENGHILANG?” “JEJAKNYA PUTUS DI SINI!” “ADA ALIRAN AIR, JANGAN-JANGAN—” Kertabhumi menutup mata, menyatukan dirinya dengan kelembapan tanah di sekelilingnya. Ia memusatkan seluruh energi ke dalam napasnya. *Senyapkan napas. Senyapkan detak jantung. Senyapkan wujudmu,* begitu ajaran gurunya. Ia melakukannya. Ia menjadi bagian dari akar, bagian dari tanah, bagian dari gelap.
Prajurit-prajurit bayangan itu berlarian ke tepi sungai, beberapa bahkan menunduk rendah untuk mencari tanda-tanda kehidupan. Salah satu dari mereka berdiri tepat di atas akar tempat Kertabhumi bersembunyi. Tanah bergetar sedikit. Sepatu prajurit itu menapak tepat di atas batang akar. Kertabhumi tidak bergerak. Tidak berkedip. Tidak bernapas. Beberapa helaan napas panjang kemudian, pemimpin kelompok itu mendesis: “ANAK ITU MENGHILANG. Pisah! Cari sampai dapat!” Suara langkah menjauh. Kabut kembali turun. Sungai kembali tenang. Dan Kertabhumi membuka mata perlahan… menyadari bahwa ini baru permulaan dari perburuan panjang yang akan menuntut seluruh ketajaman dan keberaniannya. Bhre Kertabhumi menunggu lebih lama daripada yang diperlukan. Ia menunggu hingga suara langkah benar-benar hilang, hingga tanah berhenti bergetar, hingga suara burung-burung kecil kembali terdengar di kejauhan—tanda bahwa kehadiran manusia asing telah menjauh. Baru setelah itu ia menggerakkan jarinya perlahan. Bukan karena ragu, tetapi karena ia tahu bahwa satu gerakan yang terlalu cepat dapat membuat akar tempat ia bersembunyi retak dan mengundang perhatian jika masih ada musuh yang berkeliaran.
Ia keluar perlahan dari balik akar besar itu, merangkak seperti binatang kecil yang baru keluar dari liang. Udara dingin sungai menyentuh pipinya, sementara cahaya matahari yang tersaring oleh dedaunan jatuh lembut di punggungnya. Begitu tubuhnya sepenuhnya keluar, ia berdiri dengan hati-hati di atas akar raksasa yang membentuk jembatan alami di atas air. Ia kembali mengamati sekeliling. Tidak ada suara manusia. Tidak ada bau logam. Tidak ada tekanan halus di tanah. Semua tanda itu memberi satu kesimpulan: para pengejar sudah menjauh. Namun itu tidak berarti mereka menyerah. Kertabhumi menurunkan tangan, membiarkan ujung jarinya menyentuh air sungai bening yang mengalir pelan. Air itu dingin, membawa serpihan-serpihan aliran dari mata air yang lebih tinggi. Ia memejamkan mata sejenak. Merasakan. Mendengarkan. Tidak ada yang berbicara sejelas alam ketika takdir seseorang mulai berubah. Dan bagi Kertabhumi, Semeru hari itu berkata sesuatu yang lebih tegas daripada sebelumnya: *Hati-hatilah.*
Ia menarik tangannya kembali dan berjalan menyusuri tepian sungai, memilih langkah-langkah yang tidak meninggalkan bekas. Selama beberapa waktu ia bergerak tanpa mengeluarkan suara, mengikuti aliran sungai ke arah utara, menuju lembah yang lebih gelap dan lebih dalam. Di tempat itu, batu-batu besar diselimuti lumut tua, dan pepohonan memiliki akar sebesar pelukan dua orang dewasa. Tempat yang baik untuk berlindung dari mata para pemburu. Namun sambil berjalan, ia merenung. Pengejaran ini terlalu terencana. Terlalu rapi. Terlalu cepat. Tidak mungkin mereka kebetulan muncul di area tempat ia berlatih pagi ini. Tidak mungkin mereka tahu jalur-jalur Semeru yang tidak pernah diinjak kaki prajurit istana. Dan yang paling mencurigakan: **Mereka bergerak dengan pola pengepungan. Pola yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang tahu gaya geraknya.** “Paman Suraprabhawa…” gumamnya rendah, rahangnya mengeras. “Berarti ini bukan lagi sekadar ancaman kecil. Ini sudah menjadi perburuan hidup-mati.”
Ia berhenti sejenak di bawah batang pohon besar yang menggantung seperti payung langit. Dari sana ia melihat jejak samar—bukan jejak kaki manusia, tetapi jejak perubahan arus udara. Batang-batang kecil yang tertekuk, daun-daun yang tertindih, dan debu halus yang masih melayang pelan di tempat-tempat tertentu. Tanda-tanda bahwa pengejar itu *tidak akan berhenti.* Untuk pertama kalinya semenjak pelarian dimulai, Kertabhumi merasakan sesuatu yang berbeda dari sekadar kewaspadaan: sebuah kesadaran bahwa hari ini ia telah melangkah masuk ke sebuah babak yang tidak dapat ia tinggalkan begitu saja. Ia berdiri diam cukup lama, membiarkan alam menyampaikan pesan-pesan halusnya. Lalu ia menghela napas dalam dan berkata: “Kalau benar Suraprabhawa ingin nyawaku… maka aku harus siap. Tak ada lagi tempat bagi keraguan.” Ia mencengkeram gagang kerisnya lebih erat. Langkahnya menjadi lebih tegas. Matanya lebih tajam. Hari ini, bagi seorang pemuda yang kelak menjadi Prabu Brawijaya, bukan sekadar hari mempertahankan diri—melainkan hari ketika ia mulai melangkah ke dalam konflik besar yang akan menguji seluruh jiwa dan tubuhnya. Dan Semeru, saksi abadi, mengiringi setiap langkah itu dengan angin dingin yang menyapu wajahnya.
Bagian 5 — Pertemuan dengan jejak lama
Semakin jauh Bhre Kertabhumi melangkah ke utara menyusuri aliran sungai, semakin pekat pula kesunyian yang mengikutinya. Namun kesunyian itu bukan kesunyian yang membuat ciut hati—justru kesunyian yang membawa kejelasan. Ia bisa mendengar setiap detail kecil: bunyi air yang memantul di batu, gesekan dedaunan yang disentuh angin, suara lebah yang melintas jauh di atas kepalanya. Semeru, dalam diamnya, memberi ruang bagi pikirannya untuk bekerja lebih tajam. Beberapa puluh langkah kemudian, medan berganti. Sungai mulai melengkung ke arah barat dan membentuk cekungan kecil yang tertutup rimbunan bambu liar. Tempat itu asing bagi kebanyakan orang, tetapi tidak bagi Kertabhumi. Ia pernah melewati daerah ini bertahun-tahun lalu—saat ia mengembara dengan Resi Wangsadipa di usia dua belas tahun. Namun ada sesuatu yang tidak sama hari itu. Ada tanda baru yang membuat ia menghentikan langkahnya. Di batang pohon waru tua yang tumbuh dekat tepi air, terdapat **garis tipis berbentuk spiral**, hampir tak terlihat jika tidak tahu apa yang harus dicari. Garis itu dibuat dengan ujung kuku atau belati tumpul. Sederhana, tetapi sangat khas. Kertabhumi mendekat, menelusuri tanda itu dengan ujung jarinya. Hatinya bergetar pelan. “Ini… tanda guru.”
Garis spiral itu adalah sandi perjalanan yang pernah diajarkan Resi Wangsadipa—tanda yang hanya digunakan para brahmana gunung dan para pertapa tua ketika mereka meninggalkan pesan bagi murid-murid tertentu. Tanda itu berarti: *‘Arahkan langkahmu ke utara-timur. Ada sesuatu yang harus kau lihat.’* Ia memandang sekeliling. Tidak ada tanda lain. Tidak ada jejak kaki. Tidak ada bekas perapian. Tidak ada apa pun yang menandakan keberadaan manusia. Tetapi ia tahu, tanda itu dibuat belum lama. Kulit batang waru masih segar, serpihan tipis bekas goresan masih menggantung di pinggir. Resi Wangsadipa tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Jika sang resi meninggalkan tanda di tengah masa perburuan yang berbahaya ini… Berarti ini bukan kebetulan. Ini petunjuk.
Kertabhumi menghela napas dalam, mengamati arah spiral itu mengarah. Utara-timur. Jalur yang lebih mendaki, lebih sulit, lebih sunyi. Jalur yang jarang sekali ia lewati. Jalur yang hanya digunakan para pertapa yang ingin menghilang dari dunia manusia. Namun di saat yang sama, ia menyadari sesuatu: Jika Resi Wangsadipa tahu ia sedang diburu, berarti para brahmana gunung telah mencium aroma politik gelap ini jauh sebelum ia sendiri menyadarinya. “Guru,” ucapnya lirih, “apakah kau sudah melihat apa yang akan terjadi padaku?” Tidak ada jawaban. Hanya suara bambu yang bergesekan, mengeluarkan bunyi *tak… tak… tak* seperti jawaban samar dari roh gunung. Kertabhumi mengangkat kepalanya, menatap jalur utara-timur. Keputusan harus dibuat. Jika ia mengikuti jalur aman ke barat, ia bisa lolos sementara, tetapi para pemburu itu akan tetap memburu hingga ke akar-akarnya. Jika ia mengikuti tanda gurunya, ia mungkin akan menemukan sesuatu yang jauh lebih penting—pemahaman, perlindungan, atau bahkan ilmu yang menjadi kunci perjalanan panjangnya kelak. Tidak butuh waktu lama. Ia memutar tubuhnya ke arah utara-timur. “Jika guruku memanggil,” katanya tegas, “maka aku akan datang.”
Dengan langkah mantap, ia meninggalkan sungai kecil itu, memasuki jalur yang lebih curam dan gelap—jalur yang memicu getaran halus di dadanya. Bukan ketakutan, bukan kegelisahan… tetapi firasat bahwa ia sedang mendekati sesuatu yang akan mengubah hidupnya selamanya. Dan Semeru… kembali menyambut keputusan itu dengan hembusan angin yang turun dari puncak, seperti sapaan dari dunia yang lebih tua daripada Majapahit itu sendiri. Bhre Kertabhumi melangkah ke arah utara–timur, mengikuti naluri dan tanda spiral yang ditinggalkan gurunya. Jalur itu segera menunjukkan sifat aslinya: medan yang jauh lebih liar daripada bagian-bagian Semeru yang biasa ia jelajahi. Tanahnya lembap dan tidak rata, dipenuhi akar-akar pohon beringin raksasa yang menjulur seperti ular purba. Kabut menurun perlahan, menggantung rendah hingga jarak pandang hanya beberapa tombak. Namun bagi Kertabhumi, kabut bukan penghalang—justru pertanda bahwa ia sedang memasuki wilayah yang dijaga.
Tanah di bawahnya mulai curam. Setiap langkah harus terukur, setiap pijakan harus diuji dengan ujung kaki. Ia menyibakkan dedaunan yang basah oleh embun, merasakan ranting-ranting kecil menyangkut pada lengan dan pakaiannya. Meski tubuhnya sudah terlatih, peluh mulai muncul di pelipisnya, menandakan bahwa jalur ini bukan jalur sembarangan. Semakin ia naik, semakin sunyi dunia di sekitarnya. Bahkan suara burung pun menghilang. Di titik tertentu, ia berhenti. Ada sesuatu… sesuatu yang janggal. Ia menunduk, menyentuh tanah dengan ujung jarinya. Tanah itu padat, tetapi bukan padat yang alami; ada tekanan, ada ritme, seolah langkah seseorang pernah melewati tempat itu. Namun bukan langkah prajurit Suraprabhawa. Terlalu ringan. Terlalu dalam. Terlalu… beraturan. “Ini jejak tapabrata,” gumamnya perlahan.
Jejak orang yang sedang bertapa sambil berjalan—jejak yang meninggalkan getaran halus seperti nyala dupa yang tidak terlihat mata. Ia merasakan aliran lembut naik dari tanah ke telapak tangannya, mengalir ke lengan, lalu berhenti di dada. Sensasi itu ringan, seperti menyentuh air dingin di pagi hari. Tanda yang kuat bahwa seseorang dengan ilmu batin tinggi melewati jalur itu belum lama ini. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena takut, tetapi karena harapan. Jika benar ini jejak seorang pertapa agung, mungkin ia—tanpa sadar—sedang menuju langsung ke tempat gurunya. Atau mungkin… ke seseorang yang lebih tua, lebih dalam, lebih kuat daripada Resi Wangsadipa. Ia melanjutkan langkah.
Setelah melalui jalur batu yang membentuk undakan alami, ia memasuki hutan pinus yang batang-batangnya menjulang seperti pilar istana kuno. Angin mulai berubah. Tidak lagi dingin menusuk seperti di lembah, tetapi hangat, seperti napas seseorang yang mengawasi dari kejauhan. Daun-daun pinus jatuh perlahan, melayang tanpa arah, seolah menyambut kedatangan tamu yang ditunggu. Lalu, sesuatu muncul. Bukan wujud manusia. Bukan suara. Melainkan **aroma**—wangi kayu gaharu yang sangat halus namun jelas. Wangi itu mustahil muncul sendiri di hutan Semeru, kecuali dari dupa khusus yang digunakan para resi tinggi dalam ritual pernapasan dan konsentrasi. Dupa yang hanya dinyalakan saat seorang guru hendak membuka ruang batin bagi muridnya… atau saat hendak memperingatkan bahaya yang mendekat. “Aku semakin dekat…”
Ia mempercepat langkah, namun tetap hati-hati. Ia melewati celah dua batu besar yang membentuk gerbang alami. Begitu ia melangkah masuk, wangi gaharu itu semakin kuat, bercampur dengan aroma tanah basah dan lumut tua. Kabut bergerak pelan, membuka sedikit ruang pandang. Di kejauhan, samar-samar, terpantul cahaya keemasan dari balik pepohonan. Kertabhumi menajamkan mata. Napasnya terhenti sejenak. **Ada seseorang di sana.** Atau… *sesuatu*. Ia tidak tahu apakah itu gurunya, Resi Wangsadipa… atau sosok lain yang selama ini hanya ia dengar dalam cerita-cerita para brahmana gunung. Tetapi satu hal ia tahu: Langkah berikutnya akan membawanya ke titik penting dalam hidupnya—titik yang menentukan apakah ia akan bertahan sebagai pelarian… atau mulai ditempa sebagai calon pemimpin besar Majapahit. Dengan tekad yang mengeras di dalam dada, Kertabhumi melangkah maju. Semeru menahan napas.
Bagian 6 — Pertemuan dengan sosok berjubah emas
Bhre Kertabhumi melangkah semakin dekat menuju kilau keemasan yang berpendar dari balik pepohonan. Kabut perlahan menyingkir, seperti dihentakkan pelan oleh kehendak yang tak terlihat. Suara hutan menghilang—bukan karena lenyap, tetapi karena tunduk. Semeru seakan menahan napasnya. Bahkan angin berhenti menyentuh daun. Semesta kecil di sekelilingnya membeku dalam kekhusyukan. Ia mendekat dengan langkah yang tidak ia sadari menjadi semakin lambat. Bukan karena takut—melainkan karena merasa bahwa tempat itu adalah ruang suci. Ruang yang tidak boleh ia jejaki dengan gegabah. Tubuhnya merasakan getaran lembut yang naik dari tanah, mengalir ke telapak kakinya, merambat ke tulang betis, naik ke dada, dan berhenti tepat di pusat pernapasannya. Sensasi yang sama pernah ia rasakan ketika pertama belajar dengan Resi Wangsadipa… tetapi jauh lebih kuat, lebih kuno, lebih dalam. Ketika ia menembus bayangan pepohonan, cahaya keemasan itu memperlihatkan sumbernya.
Di tengah sebuah lapangan kecil yang dipagari batu-batu menjulang seperti lingkaran purbakala, **berdiri seorang lelaki tua berjubah kain kuning keemasan**, kepalanya ditutupi tudung sederhana, namun tubuhnya memancarkan kewibawaan yang tak dapat dibantah. Ia tidak bergerak, namun seluruh alam sekitarnya seakan berputar lembut mengitari dirinya. Kertabhumi merasakan sesuatu yang membuat lututnya ingin menekuk: aura yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang telah menembus lapisan-lapisan batin yang tak dicapai manusia biasa. Sosok itu memalingkan wajahnya perlahan. Dan pada detik itu, Kertabhumi merasakan dunia seperti kehilangan suara. Mata sang pria tua itu… bagaikan dua telaga yang dalam, memantulkan sinar matahari meski tertutup bayangan tudung. Mata yang melihat tanpa menatap. Mata yang mengetahui tanpa diberi tahu.
“Kau datang,” ujar sosok itu, suaranya ringan, namun memiliki gema yang seolah berasal dari dalam bumi Semeru sendiri. “Seperti yang telah dituliskan angin.” Kertabhumi menelan ludah. “Sapaan apakah ini…? Apakah Anda mengenal saya, Sang Resi?” suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha menahannya. Pria tua itu tersenyum tipis, senyuman yang tidak menghangatkan, tetapi menenangkan. “Bhre Kertabhumi,” ujarnya. “Putra Rajasawardhana. Pewaris darah raja. Pemilik jejak yang telah dijaga Semeru sejak engkau dilahirkan. Tentu aku mengenalmu.” Nama itu—**namanya sendiri**—meluncur dari bibir sang pria tua tanpa keraguan. Kertabhumi membungkuk hormat. “Apakah Anda Resi Wangsadipa?” tanyanya. Sosok itu menggeleng perlahan. “Wangsadipa adalah guru pertamamu di jalur gunung. Ia mengajarimu mendengar napas bumi. Tetapi aku… hanya seorang penjaga wilayah sunyi. Di antara para brahmana gunung, aku dipanggil *Dewamatra*.”
Nama itu membuat udara di sekitar Kertabhumi seperti menegang. Ia pernah mendengar nama ini—dari cerita-cerita yang paling samar. Resi para resi. Guru dari para pertapa utama. Sosok yang konon tidak tinggal di satu tempat, melainkan berpindah mengikuti garis-garis energi Semeru. Tokoh yang dianggap setengah legenda karena jarang ada manusia yang dapat menemukannya. Kertabhumi menatapnya dalam-dalam. “Jika Anda menunggu aku… maka aku ingin tahu mengapa.” Dewamatra mendekat satu langkah—langkah yang begitu ringan sehingga tidak menimbulkan suara. “Karena Semeru telah berbicara,” ujarnya pelan. “Karena bahaya yang mengejarmu bukan bahaya biasa. Karena darahmu akan menyalakan api besar di Jawa. Dan sebelum api itu menyala… kau harus dipersiapkan.” Kertabhumi merasakan dadanya membara. “Dipersiapkan… untuk apa?” Senyuman Dewamatra menghilang. Yang tersisa hanyalah keseriusan yang membuat udara bergetar. “Untuk menghadapi bayangan keluargamu sendiri. Untuk mengalahkan Suraprabhawa. Dan untuk menapaki jalan menuju singgasana Majapahit.” Kabut mengalir pelan di antara mereka. Semeru kembali bernapas. Kertabhumi menunduk—bukan karena takut, melainkan karena sadar: **perjalanan sejatinya baru dimulai.**
Udara di sekeliling lingkaran batu itu menjadi lebih berat, seolah setiap molekul oksigen menunggu kata berikutnya dari sang resi agung. Bhre Kertabhumi berdiri tegak, namun dalam hatinya ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—campuran antara ketakutan, keheranan, dan rasa siap menghadapi apa pun yang akan datang. Dewamatra mengangkat tangan kanannya perlahan, dan pada saat itu angin berhenti sama sekali. Sunyi. Sunyi yang begitu dalam hingga Kertabhumi bisa mendengar degup jantungnya sendiri. “Majapahit,” ujar Dewamatra, suaranya seperti gema di lembah yang jauh, “sedang memasuki masa ketika bayangan lebih besar daripada cahaya.” Kertabhumi mengerutkan kening. “Yang Anda maksud… adalah kekacauan politik di keraton?” “Bukan hanya itu,” jawab Dewamatra. “Kekacauan yang tampak di balairung hanyalah permukaan. Yang terjadi di bawahnya jauh lebih gelap. Suraprabhawa bukan sekadar pangeran yang haus tahta. Ia membawa serta sesuatu yang lebih berbahaya.” Tatapan Kertabhumi menajam. “Apa maksudmu, Sang Resi?”
Dewamatra berjalan perlahan ke tengah lingkaran batu, dan dengan gerakan halus ia menyentuh permukaan tanah. Aneh—cahaya keemasan yang tadi memancar di sekitarnya kini meredup, tergantikan oleh bayangan yang bergerak lembut seperti riak air. Tanah itu memunculkan ilusi samar: siluet seseorang dengan sorot mata tajam dan postur tubuh yang memancarkan ambisi. “Ini—” ujar Dewamatra, “—adalah bayangan Suraprabhawa.” Siluet itu bergerak, berubah, dan tampak semakin besar. “Sejak mudanya ia haus kuasa. Namun sesuatu telah berubah… sejak ia kembali dari perjalanan ke utara jauh, ke wilayah yang tidak dijamah manusia biasa.” Kertabhumi menyipitkan mata. “Wilayah utara… wilayah pertapaan? Atau wilayah para pendeta asing?” “Lebih buruk,” kata Dewamatra, suaranya menurun. “Ia bertemu mereka yang mempelajari ilmu gelap tentang pengaruh, memutar pikiran orang-orang, dan menyulap ambisi menjadi racun. Orang-orang yang ingin menjadikan Suraprabhawa alat untuk memecah Majapahit dari dalam. Dan Suraprabhawa menerima itu semua… dengan tangan terbuka.”
Kertabhumi merasakan darahnya mendingin. “Jadi benar… ia mengincarku sejak lama.” “Karena kau pewaris sah,” Dewamatra menanggapi cepat. “Karena Rajasawardhana memberi tempat pada cahaya, sementara Suraprabhawa memberi tempat pada bayangan. Dan bagi bayangan… kau adalah penghalang.” Dewamatra memandang Kertabhumi, sorot matanya kali ini lebih tajam, lebih menusuk. “Kau tidak boleh lagi melihat pengejaran hari ini sebagai insiden kecil. Ini adalah deklarasi. Suraprabhawa telah memutuskan bahwa kau harus hilang dari dunia agar jalannya menuju kekuasaan tidak terganggu. Maka mulai sekarang, setiap langkahmu bukan lagi langkah seorang petualang muda… tetapi langkah seseorang yang sudah ditetapkan semesta untuk menjadi penentu arah Jawa.” Kertabhumi menelan napas berat, namun matanya tidak goyah. “Jika demikian, maka aku harus menghadapi semuanya. Apa pun bentuknya.” Dewamatra tersenyum tipis, kali ini dengan kehangatan yang tidak ia tunjukkan sebelumnya. “Itulah sebabnya Semeru membawamu kepadaku. Kau memiliki keberanian, tetapi keberanian saja tidak cukup. Kau harus memiliki ketajaman batin, kekuatan tubuh, dan kebijaksanaan untuk melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Dan semua itu… akan kutempa.” Angin kembali bergerak pelan, seolah menyetujui keputusan itu.
“Kertabhumi,” ujar Dewamatra, “mulai hari ini, engkau bukan lagi hanya pewaris Majapahit. Engkau adalah calon penjaga terang—yang suatu hari harus berhadapan dengan bayangan keluargamu sendiri.” Kertabhumi menunduk, bukan karena takut, tetapi sebagai tanda kesediaan menerima jalan panjang yang telah terbentang di hadapannya. Dan pada saat itu, kabut turun perlahan seperti tirai yang menutup babak lama… dan membuka babak baru dalam hidup seorang pangeran muda yang kelak dikenal sebagai Prabu Brawijaya. Dewamatra berdiri tegak di tengah lingkaran batu, tubuhnya tetap, namun aura di sekelilingnya bergerak seperti gelombang halus yang tak terlihat. Bhre Kertabhumi menatapnya penuh perhatian. Ia pikir sang resi akan mulai dengan ajaran jurus, gerakan tangan, atau petuah keras. Namun Dewamatra justru memejamkan mata… dan tanpa peringatan, **udara di sekitar lingkaran berubah drastis.** Suhu menurun. Kabut menebal. Padahal matahari masih bersinar di balik pucuk-pucuk pohon.
Kertabhumi merasakan udara menekan dadanya, bukan dengan kekuatan fisik, melainkan dengan kekuatan batin. Seolah Semeru sendiri sedang menaruh telapak tangannya pada jantungnya. Detak jantungnya terdengar lebih kencang—bukan karena takut, tetapi karena **alam mulai membaca dirinya.** Dewamatra membuka mata. “Pelajaran pertama,” ujarnya dengan suara yang lebih dalam daripada sebelumnya, “bukan tentang bagaimana melawan musuh. Bukan tentang bagaimana menghilang dari pemburu. Bukan tentang bagaimana menggunakan keris atau tangan kosong.” Ia melangkah mendekat, dan langit seolah mengikuti langkahnya. “Pelajaran pertama adalah…” Ia mengangkat satu jari. “…mengenali siapa dirimu.” Kertabhumi menahan napas. “Aku adalah putra Rajasawardhana. Pewaris Majapahit,” jawabnya mantap. Dewamatra menggeleng. “Itu hanya gelar duniawi. Itu bukan dirimu.” Kertabhumi mengerutkan kening. “Aku… murid dari Resi Wangsadipa?” “Bukan itu.” “Seorang pemuda yang dikejar paman sendiri?” “Bukan itu pula.”
Dewamatra mendekat hingga hanya satu langkah di depannya. Mata resi agung itu seperti bisa melihat hingga ke tulang terdalamnya. “Katakan padaku… tanpa gelar, tanpa kekuasaan, tanpa perlindungan ayahmu, tanpa darah kerajaan… siapa dirimu? Apa inti jiwamu?” Pertanyaan itu menghantam Kertabhumi lebih kuat dari pukulan mana pun. Ia membuka mulut untuk menjawab—namun tidak ada kata yang keluar. Ia menunduk, frustrasi. “Bagaimana aku bisa tahu hal itu?” Dewamatra menjawab lembut, “Karena sebelum seorang pemimpin besar mengubah dunia… ia harus dulu menguasai dirinya sendiri. Tanpa memahami inti jiwamu, semua ilmu yang akan kau pelajari dariku hanya akan menjadi beban, bukan kekuatan.” Resi agung itu kemudian mengangkat kedua tangannya perlahan, dan tanah bergetar. Lembah kecil itu dipenuhi suara-suara samar: rintih angin, gemerisik daun, bahkan gema dari dalam tanah yang terasa seperti bisikan masa lalu. “Semeru menyimpan jawaban. Bukan aku,” ujar Dewamatra. “Tugasmu adalah mendengar.”
Kabut di sekitar Kertabhumi menebal, membentuk ruang putih yang menutup lingkaran batu. Ia tidak lagi melihat Dewamatra. Ia tidak lagi melihat pepohonan. Tidak ada arah. Tidak ada suara. Tidak ada cahaya. Hanya dirinya sendiri. Ini bukan sihir. Ini **ujian batin.** “Apa… yang terjadi…?” bisik Kertabhumi. Suara Dewamatra menggema di kejauhan, meski tubuhnya tak terlihat. “Di hadapanmu hanya ada dirimu sendiri. Jika kau ingin menjadi pemimpin—bukan boneka kekuasaan, bukan pewaris keturunan, bukan bayangan keluargamu—kau harus menemukan pusat jiwamu.” Kertabhumi berdiri tegak di tengah kabut putih itu. Jantungnya berdetak keras. Tangannya gemetar pelan. Ia sadar, untuk pertama kalinya dalam hidupnya: **Ia benar-benar sendirian.** Tidak ada ayah. Tidak ada ibu. Tidak ada istana. Tidak ada rimba yang melindungi. Tidak ada guru yang menuntun. Hanya dirinya. Dan kebenaran yang harus ia temukan.
Kabut berputar perlahan. Dan suara Dewamatra kembali terdengar: “Temukan dirimu, Bhre Kertabhumi. Karena tanpa itu… kau tidak akan selamat dari bayangan Suraprabhawa.” Kabut putih itu berputar semakin rapat, menutup dunia luar hingga semua bentuk berubah menjadi samar. Bhre Kertabhumi berdiri di tengah ruang hening yang tidak memiliki awal dan akhir. Sejenak, ia mencoba melangkah, namun setiap langkah membawa dirinya kembali ke titik yang sama. Ini bukan ruang fisik; ini adalah ruang batin, cermin dari jiwanya. Namun ia belum memahami bagaimana cara membaca cermin itu. Napasnya memburu. “Apakah ini semacam perangkap…?” Tidak ada jawaban. Namun kabut tiba-tiba menggeliat seperti memiliki nyawa sendiri. Dari dalam kabut, muncul sebuah siluet kecil. Langkahnya ringan, tubuhnya mungil, dan matanya besar memancarkan rasa ingin tahu yang polos. Kertabhumi membeku. Ia mengenali sosok itu meski bertahun-tahun telah berlalu. “Ini… aku saat kecil.”
Anak kecil itu—dirinya yang berusia kira-kira tujuh tahun—melihat ke arahnya sambil tersenyum. Senyuman yang tidak pernah ia tunjukkan lagi setelah menginjak usia dewasa. Senyuman tanpa beban. Tanpa tekanan. Tanpa kewajiban sebagai pewaris Majapahit. Tanpa ketakutan yang tersembunyi. Sosok kecil itu berlari menghampirinya, namun mendadak berhenti tepat beberapa langkah di depannya. Matanya menatap langsung ke mata Kertabhumi dewasa—tajam, jujur, tanpa topeng. “Kenapa kau tidak tersenyum lagi?” tanya sosok kecil itu dengan suara yang jernih. Kertabhumi terdiam. Ia mencoba membuka mulut—namun suaranya tenggelam oleh dentuman batin yang tiba-tiba muncul dari dalam kabut. Kabut itu kembali menggeliat, membentuk siluet lain. Kali ini sosok tinggi bermahkota sederhana… ayahnya, **Rajasawardhana**. Sosok itu berdiri tenang—namun mata yang dipantulkan kabut bukan mata ayahnya yang lembut, melainkan mata yang penuh harapan berat. “Ayah…” desis Kertabhumi. Tapi sosok itu tidak tersenyum. Hanya memandangnya dalam diam.
Sosok ketiga muncul: **Ibunya, Dyah Kusumadewi**, dengan wajah cemas seperti setiap kali ia pergi terlalu jauh dari istana. Kecemasannya begitu nyata hingga Kertabhumi merasakan kembali rasa bersalah yang selama ini ia simpan: rasa bahwa ia selalu membuat ibunya khawatir, bahwa ia tidak pernah bisa benar-benar tinggal dan menjadi pangeran yang penurut seperti yang diharapkan orang-orang istana. Sosok keempat muncul lebih lambat daripada yang lain. Tidak jelas bentuknya, namun Kertabhumi merasakan hawa dingin menyelubunginya. Bayangan besar. Gelap. Tidak memiliki wajah. Hanya mata merah samar—mata yang mengawasinya sejak jauh. Ia tahu siapa bayangan itu. **Suraprabhawa.** Ambisinya. Dendamnya. Niat membunuhnya. Dan dalam satu momen itu, keempat sosok berdiri melingkari dirinya: Anak kecil polos dirinya — jati diri yang hilang. Ayahnya — harapan. Ibunya — ketakutan. Bayangan Suraprabhawa — ancaman. Kabut bergemuruh.
Lalu suara Dewamatra muncul, menggema dari segala arah: “Beginilah batinmu, Kertabhumi. Kau terpecah oleh empat kekuatan: masa kecilmu, kewajibanmu, rasa bersalahmu, dan bayangan ancamanmu. Selama empat ini tidak kau satukan, kau tidak akan pernah menjadi apa pun—hanya akan terseret oleh salah satunya.” Kertabhumi menatap keempat sosok itu. Ia melihat anak kecil polos itu tersenyum tipis. “Kau meninggalkanku terlalu cepat.” Ia melihat ayahnya memandangnya tanpa kata, namun mata itu memancarkan harapan besar. “Apakah aku bisa memenuhi harapanmu, Ayah?” Ia menatap ibunya yang ketakutannya begitu nyata. “Maafkan aku selalu membuatmu gelisah.” Dan ia menatap bayangan Suraprabhawa. Untuk pertama kalinya… ia tidak mundur. “Jika kau ingin hidupku… kau harus berhadapan dengan seluruh diriku. Bukan hanya ketakutanku.” Ketika ia mengucapkan itu, kabut berguncang. Sosok anak kecilnya tersenyum lebar—kemudian masuk ke dalam tubuhnya seperti cahaya. Sosok ayah dan ibunya memudar perlahan, menyatu dengan dadanya, bukan sebagai beban… tetapi sebagai kekuatan. Bayangan Suraprabhawa mendesis—lalu hancur menjadi debu hitam yang terseret angin. Kabut menyingkir. Tanah kembali muncul di bawah kakinya.
Dan suara Dewamatra terdengar dengan nada lebih lembut, lebih dalam: “Sekarang… kau mulai mengenali inti jiwamu. Baru *mulai*. Namun itu cukup untuk hari ini.” Kertabhumi membuka mata. Dan dunia terasa berbeda—lebih jernih, lebih tenang, lebih kokoh. Ujian batin pertama telah dilewati. Kabut putih yang tadinya menelan seluruh ruang perlahan luruh seperti tirai tipis yang ditarik seseorang dari ujung-ujungnya. Cahaya matahari kembali menembus sela pohon pinus tua, membiaskan kilau keemasan yang lembut ke tanah yang lembap. Bhre Kertabhumi menarik napas panjang—napas yang terasa berbeda dari sebelumnya. Udara memasuki dadanya dengan ringan, namun mengisi seluruh tubuhnya dengan kehangatan yang ia belum pernah rasakan. Rasanya seperti ada beban yang selama ini menempel pada bahunya terangkat perlahan. Dewamatra berdiri di sisi lingkaran batu, seolah ia tidak pernah bergerak sejak ujian itu dimulai. Namun mata sang resi kini tidak lagi sekokoh batu gunung; ada kilatan tipis kebanggaan, atau mungkin pengakuan. Ia mengangguk sekali, tanda bahwa Kertabhumi telah lolos dari sesuatu yang tidak semua murid dapat lewati. “Duduklah,” ujar Dewamatra dengan suara yang kembali lembut, seperti aliran sungai kecil. “Jiwa yang baru saja kau rangkai masih rapuh. Ia harus menempel kuat pada tubuhmu sebelum kau melangkah lebih jauh.”
Kertabhumi menuruti perintah itu. Ia duduk bersila di atas batu datar, merasakan denyut halus dari tanah di bawahnya, seperti napas Semeru yang ditransmisikan melalui akar pohon dan batu-batu purba. Dewamatra mendekat, dan untuk pertama kalinya ia menatap langsung ke mata Kertabhumi tanpa selubung kabut atau pengaruh kekuatan batin. “Kau berhasil menyatukan empat bagian dirimu,” ujar resi itu. “Namun jangan salah… penyatuan itu bukan akhir. Itu baru pintu yang membuatmu bisa masuk ke ruang sejati jiwamu.” Kertabhumi mengangguk pelan. “Aku tidak pernah sadar bahwa aku membawa begitu banyak… pecahan.” “Setiap manusia membawanya,” jawab Dewamatra. “Namun tidak semua diberi kesempatan untuk melihatnya. Banyak orang hidup hanya sebagai bayangan dari masa kecil yang mereka tinggalkan. Banyak pula yang hidup tenggelam dalam harapan orang tua mereka. Banyak yang hidup dalam rasa bersalah. Dan tidak sedikit pula yang hidup dalam ketakutan terhadap musuh yang belum menghunus pedang.” Kertabhumi menunduk. “Suraprabhawa…”
“Dia hanyalah bayangan,” potong Dewamatra. “Bayangan yang mengejar kekosongan batinmu. Ketika seseorang membawa celah di jiwanya, musuh tidak perlu menggunakan pedang untuk mengalahkannya. Cukup dengan meniup bayangan ke dalam celah itu.” Kertabhumi mengangkat wajahnya kembali. “Lalu… apa inti jiwaku yang sebenarnya, Sang Resi?” Dewamatra tersenyum samar. “Inti jiwamu adalah keberanian yang tidak berasal dari ambisi, tetapi dari kepenuhan. Dari keseimbangan antara masa kecilmu yang jernih, harapan ayahmu, kasih ibumu, dan keberanian menatap ancaman. Semeru memanggilmu bukan karena kau kuat… tetapi karena kau *utuh*.” Kertabhumi merasakan sesuatu bergetar dalam dadanya—sebuah pengakuan yang membuat jantungnya hangat. Namun Dewamatra belum selesai. “Tetapi ingat,” lanjutnya, “keutuhan ini akan diuji lagi dan lagi. Kekuatan raga dapat hancur oleh pedang. Keahlian bisa dikalahkan oleh musuh yang lebih cepat. Namun jika jiwamu kokoh, tidak ada kekuatan yang dapat menjatuhkanmu.”
Ia menatap jauh ke arah pepohonan, seakan melihat masa depan yang hanya dapat dibaca oleh mereka yang telah menapaki jalan sunyi. “Sebentar lagi, Kertabhumi, kau akan memasuki latihan lain. Latihan yang jauh lebih berat. Latihan yang akan memisahkanmu dari pemuda biasa… dan membuatmu menjadi seseorang yang ditakdirkan untuk menantang Suraprabhawa, membela rakyatmu, dan kelak duduk di takhta Majapahit.” Kertabhumi menundukkan kepala, namun kali ini bukan karena takut. Ia menunduk sebagai tanda kesiapan. Dewamatra mengangguk perlahan. “Bangkitlah, Kertabhumi. Ujian batinmu baru dimulai. Sekarang saatnya menempuh *tapa raga*.” Angin turun lembut dari puncak Semeru. Langit seakan menyetujui. Dewamatra berdiri tegak di depan lingkaran batu, kemudian mengarahkan pandangan ke jalur hutan yang menanjak ke arah timur. Udara menjadi lebih dingin, namun sekaligus terasa lebih tajam—seolah seluruh pepohonan menunggu perintah berikutnya dari sang resi agung. Bhre Kertabhumi bangkit perlahan dari duduknya, dan tubuhnya yang baru saja melewati ujian batin terasa lebih ringan, tetapi belum sepenuhnya mapan. Ada sesuatu yang berdenyut halus di dadanya, seperti pusat tenaga yang baru terbentuk.
“Kertabhumi,” ujar Dewamatra, “ilmu batin tanpa kekuatan raga ibarat cahaya tanpa sumbu. Akan padam sebelum sempat menerangi apa pun.” Resi itu berjalan perlahan menuju kaki bukit di hadapan mereka. Kertabhumi mengikutinya. Jalur di sana tidak seramai jalur pendakian biasa; tanahnya berbatu, licin, dan diselimuti akar-akar tua yang menjalar seperti aliran sungai membeku. Di sisi kiri, jurang kecil menganga, memperlihatkan dasar lembah yang terhalang kabut. Di sisi kanan, dinding batu menjulang—dingin, basah, dan ditumbuhi lumut tebal. Dewamatra berhenti di sebuah titik yang terlihat sangat sederhana: tanah datar selebar beberapa langkah, dengan sebuah batu datar besar di tengahnya. “Di sinilah tapa ragamu dimulai,” ujar resi itu. Kertabhumi menatap sekeliling. “Apakah ini tempat latihan?” “Tempat ini bukan latihan,” koreksi Dewamatra. “Tempat ini adalah cermin kedua. Cermin raga.” Sang resi mengangkat tangan, dan seketika angin bertiup lebih kencang, mengelilingi mereka berdua. Daun-daun pinus berjatuhan, berputar dalam pusaran kecil yang anehnya tidak menyentuh tubuh keduanya. Lalu angin itu mereda, tetapi hawa dingin tetap tinggal—menusuk tulang, namun tidak menyakitkan.
“Kau akan berdiri di atas batu itu,” ujar Dewamatra sambil menunjuk batu datar besar. “Tanpa bergerak. Tanpa menekuk lutut. Tanpa bersuara. Sampai tubuhmu runtuh… atau sampai hatimu menemukan keteguhan.” Kertabhumi menatap batu itu, kemudian menatap Dewamatra. “Berapa lama aku harus bertahan?” Resi agung itu tersenyum samar, senyuman yang membuat hutan sekeliling terasa lebih tua dan lebih dalam. “Tidak ada hitungan waktu. Waktu adalah ilusi. Hanya tubuhmu yang akan tahu kapan kau benar-benar siap untuk langkah berikutnya.” Kertabhumi naik ke atas batu. Permukaannya dingin, keras, dan sedikit bergetar—seolah menyimpan gema jutaan tahun usia gunung. Ia berdiri tegak. Punggung lurus. Tangan di sisi tubuh. Mata lurus ke depan. Pada awalnya, tidak ada apa-apa. Hanya keheningan dan dingin. Namun beberapa saat kemudian, tantangan pertama muncul: **angin.** Angin bertiup dari arah timur, mendorong dadanya. Ia menahan tubuhnya agar tidak bergeser. Tidak lama kemudian, angin datang dari barat, lalu dari utara, lalu dari segala arah sekaligus—seperti sedang menguji keseimbangannya dari setiap sisi. Otot-ototnya menegang. Lututnya mulai bergetar. Namun ia tetap berdiri.
Lalu tantangan kedua datang: **dingin yang meresap ke dalam tulang.** Dingin yang bukan berasal dari cuaca, tetapi dari dalam bumi, naik melalui batu dan mengalir ke kaki, betis, lalu ke pinggang. Tubuhnya merespons dengan gemetar halus, namun ia tetap menjaga posisinya. Keringat dingin muncul di punggungnya. Dewamatra mengamati tanpa berkata apa pun. “Tapa raga,” kata resi itu akhirnya, “adalah ketika kau tidak sekadar melawan tubuhmu… tetapi melampauinya.” Kertabhumi memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi dengan tekad baru. Ia tahu latihan ini bukan untuk kekuatan otot. Ini latihan untuk membuat tubuhnya tunduk pada kehendak jiwanya—jiwa yang baru saja ia satukan melalui ujian batin. Setiap detik terasa seperti jam. Namun ia tidak menyerah. Angin menari mengelilinginya. Dingin naik dari batu. Raga bergetar. Tetapi batin tetap tegak. Dan jauh di dalam Semeru—tempat suara purba tertidur—sebuah getaran halus muncul, seolah gunung itu menyadari bahwa seorang calon pemimpin Majapahit sedang ditempa.
**Tapa raga baru dimulai.** Dan Kertabhumi tidak berniat mundur satu langkah pun. Angin dari puncak Semeru tiba-tiba berubah sifat: bukan lagi hembusan alam biasa, melainkan angin yang seolah memiliki kehendak. Udara yang semula dingin kini menjadi tajam seperti bilah tipis yang menggores kulit. Bhre Kertabhumi tetap berdiri di atas batu datar, meski lututnya mulai bergetar dan otot-otot betisnya terasa seperti ditarik dari dua arah yang berlawanan. Ia menahan napas perlahan, mencoba mengatur ritme pernapasan agar tubuhnya tidak runtuh oleh tekanan yang datang dari segala penjuru. Dewamatra berdiri hanya beberapa langkah darinya, tetapi sosok itu tampak seolah jauh sekali—bagaikan bayangan penuntun di ujung perjalanan panjang. Mata resi agung itu tetap tenang, mengamati setiap getaran kecil pada tubuh muridnya. “Kertabhumi,” ujar Dewamatra dengan suara yang tidak keras namun terdengar jelas di tengah hiruk angin, “ketahuilah bahwa seorang pemimpin yang ingin bertahan di tengah badai dunia… harus terlebih dahulu mampu berdiri dalam badai raganya.” Angin berputar lebih kuat. Helaian rambut Kertabhumi berhamburan. Napasnya keluar tersengal. Namun ia tidak menggerakkan kakinya. Tidak menekuk lutut. Tidak mengalihkan pandangan dari titik jauh di depan.
Dewamatra mendekat sedikit, namun tetap menjaga jarak agar energi latihan tidak terganggu. “Tubuhmu,” lanjutnya, “akan selalu menjadi musuh pertamamu. Ia menginginkan kenyamanan. Ia menolak penderitaan. Ia memohon untuk berhenti sebelum waktunya. Dan para leluhur mengajarkan bahwa siapa pun yang membiarkan tubuhnya memerintah… tidak akan pernah mampu memerintah orang lain.” Kertabhumi mengerang lirih. Otot punggungnya seperti terbakar. Mata kakinya menahan beban seperti batu gunung diletakkan di atasnya. Namun ia mengingat kabut ujian batin sebelumnya—mengingat dirinya yang terpecah, mengingat anak kecil yang telah menyatu dengannya, mengingat wajah ayah dan ibunya yang kini tidak lagi menjadi beban tetapi kekuatan. Ia menarik napas dalam-dalam… lalu memusatkan pikiran ke satu titik: **keteguhan**. Tanpa ia sadari, tubuhnya berhenti gemetar. Dewamatra menangkap perubahan itu dan mengangguk samar. “Begitulah,” ujarnya pelan. “Ketika batin memimpin, tubuh mengikuti. Ingat itu.” Tetapi latihan belum selesai.
Hawa panas tiba-tiba muncul dari batu tempat ia berdiri. Panas yang bukan berasal dari matahari, tetapi dari kedalaman Semeru—panas bumi yang merayap seperti bara lambat di bawah kulitnya. Sensasinya aneh: tubuh bagian bawahnya merasakan panas yang meningkat, sementara tubuh bagian atasnya diterpa angin dingin yang mematikan. Dua ekstrem ini bertemu di pusat tubuh, membuat dadanya sesak. Keringat dingin jatuh dari pelipisnya, bercampur dengan udara yang menusuk. Ia menggertakkan rahang. Tubuhnya mulai condong ke depan—hampir saja runtuh. “Jangan biarkan tubuhmu memilih,” suara Dewamatra terdengar lagi, lebih tegas. “Kaulah yang memilih.” Kertabhumi memperbaiki posturnya, mengangkat dagu sedikit, dan kembali berdiri tegak. Ia menatap jauh ke arah lembah seakan ingin menembus garis cakrawala. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi dari sorot matanya jelas: ia menolak kalah. Dewamatra tersenyum tipis. Senyuman seorang guru yang menyaksikan muridnya mulai menapaki jalan yang benar. “Jika kau mampu bertahan hari ini,” ujar resi itu, “maka kau akan mampu bertahan ketika dunia mencoba meruntuhkanmu. Jangan lupakan ini: seorang raja bukan yang paling berkuasa… tetapi yang paling tahan menghadapi penderitaan.” Angin perlahan mereda. Batu di bawah kaki Kertabhumi kehilangan panasnya. Dan ketika hening kembali turun, tubuh Kertabhumi masih berdiri… meski seluruh raganya berteriak ingin roboh. Semeru menyaksikan. Dan mengakui keteguhan itu.
Tubuh Bhre Kertabhumi terasa seolah bukan lagi miliknya. Otot-ototnya memanas, kulitnya menggigil, dan tulang-tulangnya seperti menjerit minta dihentikan. Angin telah mereda, panas batu telah turun, tetapi sisa-sisa penderitaan itu justru menjadi tantangan yang lebih halus namun lebih mematikan: **rasa ingin menyerah**. Rasa itu datang seperti bisikan lembut dari dalam tubuhnya sendiri: *“Cukup. Turunlah. Tidak ada yang akan menyalahkanmu.”* Bisikan yang tidak keras, tidak kasar, namun sangat meyakinkan. Sebuah godaan halus yang jauh lebih berbahaya daripada pukulan apa pun. Kertabhumi memejamkan mata, mencoba memusatkan pikiran. Namun rasa sakit yang mengalir dari betis hingga ke pinggang membuat pikirannya kabur. Posturnya melengkung perlahan, pundaknya merosot turun. Dadanya berguncang oleh napas berat yang tak bisa ia kendalikan. Ia tahu tubuhnya mendekati batas, titik di mana manusia biasa akan roboh tanpa mampu bangkit lagi.
Melihat itu, Dewamatra mengangkat tongkat kayu yang ia pegang sejak awal—tongkat pendek terbuat dari kayu cemara hitam—dan menekukkannya ke tanah. Hentakan itu tidak keras, tetapi getarannya merambat ke seluruh lembah. Burung-burung terbang dari dahan, dan daun-daun pinus berjatuhan seperti hujan tipis. “Kertabhumi,” ujar Dewamatra, suaranya berubah lebih dalam, “tubuhmu ingin menyerah. Itu wajar. Namun aku ingin bertanya padamu… apakah *jiiwamu* pun ingin menyerah?” Kertabhumi menggertakkan gigi. Ia ingin berkata “tidak”, tetapi lidahnya kelu. Hanya suara serak yang keluar dari tenggorokan. Dewamatra mendekat hingga angin dari ujung jubahnya menyentuh wajah Kertabhumi. “Ketahuilah,” lanjut resi itu, “bahwa kekuatan sejati bukanlah tubuh yang tidak lelah, tetapi jiwa yang mengangkat tubuh ketika tubuh ingin jatuh.” Kertabhumi membuka matanya perlahan. Tatapannya kacau, namun di balik kekacauan itu ada percikan kecil: kemauan. Percikan yang dewamatra sedang tunggu. Sang resi mengangkat tangannya ke langit. “Mereka yang ditakdirkan besar tidak diukur dari ototnya, tetapi dari kesediaannya mengalahkan dirinya sendiri. Kau bukan sekadar pangeran, Kertabhumi. Kau adalah calon pemimpin yang akan menghadapi badai lebih dahsyat daripada ini.”
Ia merendahkan suaranya menjadi bisikan penuh tekanan: “Jika hari ini kau kalah pada tubuhmu… maka bagaimana kau akan menahan serangan Suraprabhawa yang datang bukan dengan angin, tetapi dengan darah?” Kata-kata itu menghantam dada Kertabhumi. Seperti api kecil yang membakar kabut di benaknya. Ia menggertakkan gigi lebih keras. Punggungnya perlahan lurus kembali. Napasnya teratur—meski setiap helaan terasa seperti ditekan oleh batu besar. Dewamatra mundur satu langkah dan mengangkat tongkatnya lagi. Pada saat itu, **fenomena aneh terjadi**. Awan di atas mereka bergeser, membuka celah kecil tempat cahaya matahari menembus lurus ke arah batu tempat Kertabhumi berdiri. Cahaya itu bukan cahaya lembut; warnanya sedikit kemerahan, seperti bara pagi yang terpantul dari kawah gunung. Hutan hening. Angin berhenti. Burung-burung di kejauhan tiba-tiba terdiam. Semeru seolah memandang. “Kau lihat itu?” ujar Dewamatra dengan suara rendah. “Itu pertanda bahwa gunung mulai mengakui tekadmu. Semeru tidak akan memberi cahaya pada mereka yang hatinya rapuh.”
Cahaya itu menimpa wajah Kertabhumi, membuat tubuhnya yang hampir tumbang terasa hangat dari dalam. Sisa ketegangan di pundaknya berkurang. Rasa sakit di kakinya tidak hilang, tetapi tidak lagi menaklukkannya. Dengan suara serak, ia akhirnya mampu mengucapkan sesuatu—pelan namun jelas: “Aku… belum… selesai.” Dewamatra tersenyum tipis; senyuman seorang guru yang melihat muridnya melewati ambang yang paling sulit: **ambang keputusasaan**. “Bagus,” bisik resi itu. “Mulai saat ini, kau bukan lagi pemuda yang lari dari bahaya. Kau adalah seseorang yang siap berdiri menantangnya.” Semeru bergemuruh jauh di puncak, suara lembut namun dalam—seperti restu dari sang gunung tua. Cahaya kemerahan dari celah awan itu bukan sekadar sinar matahari yang kebetulan menembus kabut. Bhre Kertabhumi merasakannya langsung di kulitnya—hangatnya berbeda dari biasanya, seolah mengalir sebagai energi halus yang menyentuh tulang dan merayap sepanjang rongga dadanya. Sinar itu membuat pandangannya lebih jernih, meski seluruh tubuhnya masih gemetar hebat. Namun gemetar itu tidak lagi berasal dari kelemahan, melainkan dari **penyesuaian**, seperti tubuhnya sedang membuka jalan bagi kekuatan yang lebih dalam.
Dewamatra memperhatikan perubahan itu dengan mata yang sedikit menyipit, seolah sedang membaca sesuatu yang hanya para resi gunung mampu lihat. “Tanda ini tidak sering turun,” gumamnya. “Semeru hanya memberi cahaya kepada mereka yang jiwanya telah memotong satu lapisan kelelahan hidup.” Kertabhumi tidak menjawab. Ia tidak punya tenaga untuk berbicara. Tetapi ada kilau kecil di matanya—kilau yang menunjukkan bahwa ia *mengerti* apa yang terjadi dalam dirinya. Resi agung itu lalu menggerakkan tongkatnya secara perlahan, melukis lingkaran tipis di udara. Cahaya kemerahan itu mengikuti gerakan tongkatnya. Lalu perlahan-lahan, tanpa adanya angin yang jelas, dedaunan pinus di sekeliling batu mulai berputar. Bukan terbang liar, melainkan bergerak rapih, mengikuti aliran tenaga yang berputar mengitari Kertabhumi. “Kau sedang masuk ke tahap *warasana raga*,” ujar Dewamatra, suaranya kini menjadi lebih rendah dan bermedan. “Pada tahap ini, tubuhmu tidak lagi melawan… tetapi mulai mendengar. Tubuhmu belajar membaca kehendak jiwamu.”
Kertabhumi tetap berdiri, mata terbuka, namun fokusnya tidak lagi pada rasa sakit. Nafasnya mapan meski dadanya terasa seperti diselimuti bara lembut. Ia justru merasakan sensasi yang aneh: tubuhnya menjadi lebih berat **dan** lebih ringan sekaligus. Berat karena seluruh beban latihan menuntutnya, ringan karena jiwanya seperti mengangkat tubuh dari dalam. Dewamatra mengetuk tanah dengan ujung tongkat. Hentakan itu memicu sesuatu yang tidak terduga. Batu tempat Kertabhumi berdiri bergetar halus, dan dari dalam tanah muncul gelombang energi lembut—seperti denyut nadi bumi—yang naik perlahan melalui telapak kakinya. Gelombang itu menguatkan posturnya, menambah keteguhan pada lututnya yang hampir lumpuh, dan membuat tulang punggungnya lurus kembali. Kemudian, resi itu berkata: “Sekarang, Kertabhumi… Lihatlah ke dalam jiwamu sekali lagi. Jangan lihat tubuhmu. Jangan lihat dunia. Lihat hanya *dirimu*.” Perintah itu sederhana, tetapi ketika Kertabhumi memejamkan mata—dunia batinnya langsung berubah warna. Tidak lagi putih kosong seperti kabut sebelumnya. Tidak lagi gelap dengan bayangan Suraprabhawa. Kali ini, ia melihat **seberkas cahaya** di dalam dirinya. Cahaya itu kecil, sebesar biji wijen. Namun warnanya sama dengan cahaya Semeru di luar: merah keemasan, hangat, hidup. Cahaya itu berdenyut perlahan, seperti jantung batin yang baru lahir. Dewamatra tersenyum kecil.
“Benih itu telah muncul. *Wiji daya*… inti kekuatan pribadi. Setiap manusia memilikinya, tetapi tidak semua menemukan wujudnya.” Ia mengangkat tongkatnya tinggi. Pada saat itu— sebuah dentuman lembut terdengar dari arah puncak Semeru. Tidak keras, namun bergema jauh hingga dasar lembah—seperti suara raksasa yang menghembuskan napas panjang. Tanah di bawah mereka bergetar halus. Batu-batu kecil bergerak seperti digelitik. Burung-burung terbang serempak, bukan karena takut, tetapi seolah merespons panggilan purba. “Kau diterima,” ujar Dewamatra dengan penuh wibawa. “Semeru mengakui tekadmu.” Kertabhumi membuka mata. Dan untuk pertama kalinya ia merasakan kekuatan yang tidak berasal dari otot, tidak berasal dari latihan, tidak berasal dari amarah atau ambisi—tetapi dari **kedalaman jiwanya sendiri**. Tapa raga belum selesai. Tetapi Kertabhumi telah melangkah melewati pintu yang tidak semua manusia mampu masuki. Ia kini tidak lagi sekadar pangeran yang dikejar bahaya. Ia sedang berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Getaran lembut dari tubuh Semeru perlahan mereda, kembali menjadi hening yang hanya dimiliki gunung-gunung tua yang menyimpan rahasia para leluhur. Cahaya merah-keemasan di langit perlahan ditutup kembali oleh awan tipis, seolah matahari sengaja menutupi sinarnya agar kembali memberi hormat pada kesunyian lembah. Bhre Kertabhumi masih berdiri di atas batu datar itu, namun kini raut wajahnya berubah: tidak lagi tegang, tidak lagi diliputi rasa sakit, melainkan tenang—tenang seperti air telaga yang permukaannya baru saja disentuh cahaya pagi. Dewamatra melangkah mendekat. Langkahnya pelan, namun setiap hentakan kakinya meninggalkan gema ringan yang mengalir ke akar-akar pohon. Ketika ia berdiri tepat di depan Kertabhumi, resi agung itu menancapkan tongkatnya ke tanah. “Turunlah dari batu itu,” perintahnya dengan suara pelan, tetapi berwibawa. Untuk pertama kalinya setelah waktu yang panjang, Kertabhumi menggerakkan kakinya. Sensasinya aneh—seperti otot-ototnya masih dililit oleh energi yang tidak sepenuhnya tubuhnya kenal. Namun langkah itu mantap, meski perlahan. Ia menuruni batu, dan ketika kedua telapak kakinya menyentuh tanah biasa, tubuhnya bergetar sekali—singkat, seperti tubuhnya menyesuaikan diri dengan keadaan alam yang lebih tenang. Dewamatra menatapnya dengan dalam. “Kau telah melewati batas pertama. Ingatlah apa yang kau rasakan ketika tubuhmu hampir menyerah… dan apa yang akhirnya membawamu melewatinya.” Kertabhumi menarik napas, merasakan kembali aliran hangat yang ia lihat sebagai *wiji daya* dalam batinnya. “Jiwaku,” ujarnya lirih, namun mantap. Resi itu mengangguk. “Ya. Namun ketahuilah… benih itu masih kecil. Ia bisa tumbuh menjadi cahaya yang membimbingmu. Tapi ia juga bisa padam oleh keraguan kecil saja.”
Dewamatra kemudian duduk di atas batu rendah, memberi isyarat agar Kertabhumi duduk pula. Ketika ia duduk, tubuhnya kembali merasakan denyut halus dari bumi, namun kali ini tidak menuntut—justru menenangkan. “Dengarkan aku baik-baik, Kertabhumi,” ujar Dewamatra, “karena wejangan ini adalah jantung dari semua pelajaran yang akan aku berikan.” Ia menatap jauh ke arah puncak Semeru, seolah berbicara tidak hanya kepada Kertabhumi, tetapi juga kepada leluhur yang bersemayam di gunung. “Dalam hidup seorang pemimpin, ada tiga musuh terbesar: tubuhnya sendiri, pikirannya sendiri, dan bayangannya sendiri. Hari ini, kau telah mengenali ketiganya. Tubuhmu memberontak. Pikiranmu nyaris runtuh. Bayangan Suraprabhawa mencoba mengambil alih batinmu. Namun kau berdiri menghadapi semuanya.” Kertabhumi mendengarkan dalam-dalam. Setiap kata Dewamatra terasa menancap di hatinya. “Jalanmu tidak akan menjadi lebih mudah,” lanjut sang resi. “Dalam beberapa waktu ke depan, kau akan mempelajari gerak raga, ilmu pernapasan, penyelarasan tenaga, dan bagaimana membaca arah bahaya sebelum bahaya itu muncul di depan mata. Kau juga akan belajar memimpin—bukan dengan suara keras, tetapi dengan keteguhan.” Ia memandang langsung ke mata Kertabhumi. “Dan pada waktunya… kau akan dihadapkan langsung dengan bayangan yang ingin menenggelamkan Majapahit.” Nama itu tidak disebut. Namun Kertabhumi tahu siapa yang dimaksud.
Dewamatra kemudian berdiri perlahan, mengusap tongkatnya dengan telapak tangan. “Bangkitlah, Kertabhumi. Bagian pertamamu telah selesai. Mulai besok, kau akan memasuki penggemblengan tahap kedua. Tahap yang akan membentukmu bukan lagi sebagai pelarian dari istana… tetapi sebagai seseorang yang kelak akan kembali menantang istana itu.” Kertabhumi bangkit, merasakan tanah Semeru seperti mendukung setiap langkahnya. Tidak ada gentar dalam sorot matanya—hanya keteguhan. Dewamatra mengangguk sekali, senyuman tipis menghiasi wajahnya. “Sebutkan siapa dirimu.” Kertabhumi menarik napas dalam-dalam. Suaranya keluar berat, namun jelas: “Aku adalah Bhre Kertabhumi. Anak Rajasawardhana. Calon penerus Majapahit. Dan murid dari Sang Resi Dewamatra.” Semeru bergemuruh pelan—seperti menyetujui. Dan perjalanan menuju pematangan Kertabhumi memasuki babak lebih tinggi yang akan membawanya ke titik-titik yang menentukan masa depan Majapahit.