Panembahan Wonokromo
Bab 006 — Langkah Pulang ke Ambang Pintu
bulan Safar 40 H / 661 M — Wajah-wajah kecil yang memberi kesejukan hati diantara kegelisahan dan beban pikiran
BAGIAN 1 — Lapisan tipis di balik kedamaian kota
Dari arah pasar, suara seorang penjual gandum terdengar meninggi karena sedang berdebat harga dengan pembeli. Sedangkan di sisi lain jalan, dua musafir asing tampak berbicara sambil menunjuk arah jalur timur kota. Kini Abdullah mulai merasa: setiap pembicaraan kecil tentang timur terdengar lebih jelas di telinganya. Seolah sejak pagi tadi, dunia memang sedang mendorong pikirannya ke arah yang sama terus-menerus. Harits akhirnya mengubah arah pembicaraan. “Maryam pasti menunggu kabar.” Abdullah tersenyum kecil samar. “Dan Iskandar pasti lebih ingin tahu apakah Irak memiliki unta besar.” Harits terkekeh pendek. “Sedangkan Fatimah hanya memikirkan roti.” Untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah Syekh Umar, Abdullah benar-benar tersenyum kecil. Karena mengingat: • suara anak-anak, • aroma rumah, • dan kehidupan kecil mereka, membuat dadanya sedikit lebih ringan. Namun jauh di dalam hati, ia tetap memahami satu hal: Pagi ini, setelah keluar dari rumah Syekh Umar, ia tidak lagi memandang masa depan keluarganya dengan cara yang sama seperti kemarin. Mereka akhirnya mulai berjalan kembali meninggalkan kawasan rumah-rumah keluarga terpandang Madinah.
Matahari kini telah naik cukup tinggi, membuat udara pagi mulai kehilangan dinginnya sedikit demi sedikit. Di beberapa sudut jalan, para pelayan rumah tampak mulai menyiram tanah untuk menahan debu. Sedangkan para pedagang yang tadi baru membuka lapak kini sudah sibuk melayani pembeli. Kehidupan kota Nabi bergerak semakin penuh. Namun bagi Abdullah, semua itu terasa seperti berada di balik lapisan tipis kegelisahan yang terus menempel di pikirannya sejak pagi. Mereka melewati lorong kecil dekat rumah seorang penyalin mushaf tua. Dari dalam rumah itu terdengar suara pena bambu bergerak di atas lembar kulit: perlahan, teratur, dan menenangkan. Abdullah tanpa sadar melirik ke arah rumah tersebut. Di ambang pintunya duduk seorang anak kecil membaca hafalan Qur'an dengan suara pelan, sedangkan lelaki tua di dalam terus menulis tanpa tergesa. Pemandangan itu membuat hati Abdullah terasa aneh. Di satu sisi, dunia terasa mulai bergerak menuju ketidakpastian. Namun di sisi lain, kehidupan ilmu dan Qur'an di Madinah masih berjalan setenang biasanya. Dan mungkin justru karena itulah, sebagian manusia masih belum menyadari seberapa besar perubahan yang sedang mendekat.
Harits rupanya memperhatikan arah pandang Abdullah. “Apa yang kaupikirkan?” Abdullah menjawab pelan: “Aku memikirkan bagaimana kota ini tetap terlihat damai meskipun manusia-manusia di dalamnya mulai gelisah.” Harits mengangguk kecil. “Karena kota tidak gelisah.” Ia memandang jalan di depan mereka. “Manusialah yang gelisah.” Kalimat sederhana itu membuat Abdullah diam cukup lama. Mungkin benar. Masjid Nabi tetap berdiri. Qur'an tetap dibaca. Pasar tetap hidup. Dan matahari tetap terbit di atas Madinah seperti biasanya. Yang berubah perlahan adalah hati manusia: • rasa aman mereka, • kepercayaan mereka, • dan ketakutan mereka terhadap masa depan. Mereka akhirnya tiba kembali dekat kawasan pasar utama. Kini suasananya jauh lebih ramai dibanding pagi tadi: • unta pengangkut gandum berdatangan, • penjual kain mulai berteriak keras, • dan aroma daging panggang mulai memenuhi udara dari kedai-kedai makan kecil.
Di salah satu sudut, beberapa musafir tampak berdebat cukup serius sambil membuka peta perjalanan. Sekilas Abdullah mendengar kata: “Kufah”. Lalu: “Basrah”. Ia segera mengalihkan pandangan. Kini nama-nama itu terasa seperti terus mengejarnya ke mana pun ia pergi. Harits mendekat sedikit lalu berkata sangat pelan: “Kalau pembicaraan seperti ini terus menyebar di pasar...” sorot matanya bergerak ke sekitar, “maka tidak lama lagi seluruh Madinah akan mulai gelisah.” Abdullah tidak membantah. Karena keresahan manusia memang bergerak cepat: lebih cepat daripada kafilah, lebih cepat daripada surat, dan kadang lebih cepat daripada kebenaran itu sendiri.
BAGIAN 2 — Peringatan lama di bawah pohon kurma
Seorang penjual rempah yang mengenal Abdullah akhirnya melambaikan tangan dari dekat kiosnya. “Abu Iskandar!” serunya ramah. “Sudah lama engkau tidak mampir.” Abdullah mendekat sebentar demi menjaga kebiasaan baik hubungan antar saudagar. Penjual itu segera menuangkan sedikit minyak harum ke telapak tangannya. “Cium ini.” Wajahnya tampak bangga kecil. “Baru datang dari selatan.” Abdullah mencium aroma itu perlahan: hangat, tajam, dan bercampur wangi kayu gurun. Untuk sesaat, ia merasa seperti kembali kepada kehidupan biasa: perdagangan, pasar, dan obrolan ringan para saudagar.
Namun kemudian penjual rempah itu berkata lebih pelan: “Apakah benar banyak keluarga mulai memindahkan simpanan mereka ke timur?” Dan seketika, ketenangan kecil itu kembali pecah. Pertanyaan penjual rempah itu tidak diucapkan keras. Namun di tengah hiruk-pikuk pasar, kalimat itu tetap terasa seperti sesuatu yang tidak seharusnya dibicarakan terlalu terbuka. Abdullah memperhatikan lelaki itu beberapa saat. Wajahnya tampak biasa: • seorang saudagar kecil, • tangan penuh warna rempah, • dan pakaian kerja yang masih terkena debu pasar. Tetapi matanya menyimpan kegelisahan yang mulai Abdullah lihat di banyak wajah sejak pagi tadi. Kegelisahan manusia yang takut terlambat memahami perubahan. Abdullah menjawab hati-hati. “Pasar terlalu cepat memperbesar kabar.” Penjual rempah itu tersenyum kecil pahit. “Biasanya aku juga berpikir begitu.” Ia menurunkan suara sedikit lagi. “Tetapi sekarang terlalu banyak manusia mulai bertanya jalur timur.”
Harits berdiri diam di samping Abdullah sambil memperhatikan keadaan sekitar. Di belakang mereka, dua musafir baru saja membeli air lalu kembali membuka peta kecil perjalanan. Sedangkan dekat kios gandum, seorang pedagang tampak berdebat tentang keamanan jalur utara. Pasar Madinah masih hidup seperti biasa. Namun sekarang, setiap sudutnya terasa dipenuhi percakapan tentang: • perjalanan, • keamanan, • dan kemungkinan meninggalkan sesuatu. Penjual rempah tadi akhirnya berkata lagi: “Aku punya saudara di Kufah.” Jemarinya sibuk merapikan kantung jintan dan lada. “Ia mengirim surat dua pekan lalu.” Wajahnya menegang sedikit. “Katanya manusia dari Hijaz mulai berdatangan lebih sering.” Abdullah merasakan dadanya kembali berat. Bukan karena berita itu sendiri. Melainkan karena sekarang: bahkan pedagang kecil pasar sudah mulai menerima kabar serupa. Artinya keresahan itu benar-benar sedang menyebar ke seluruh lapisan kota. “Dan apa yang kaupikirkan tentang semua itu?” tanya Abdullah pelan. Penjual rempah itu tertawa kecil pendek, namun terdengar lelah. “Aku?” Ia menggeleng pelan. “Aku hanya manusia pasar.” Matanya bergerak ke arah para pembeli yang lalu-lalang. “Aku tidak punya emas besar untuk dipindahkan.” Lalu suaranya mengecil sedikit, “tetapi kalau keluarga-keluarga besar mulai takut...” ia berhenti sejenak, “maka manusia kecil seperti kami pasti ikut merasakan akibatnya nanti.” Kalimat itu menusuk Abdullah lebih dalam dibanding pembicaraan para saudagar besar tadi pagi. Karena lelaki ini tidak berbicara tentang: • siasat atau perhitungan, • jalur, • ataupun perpindahan kekuatan. Ia hanya berbicara tentang ketakutan sederhana manusia kecil: bagaimana perubahan besar selalu lebih dahulu menghantam mereka yang paling lemah. Harits akhirnya berkata tenang: “Allah tidak meninggalkan manusia yang tetap menjaga amanah dan sabar.” Penjual rempah itu mengangguk kecil cepat. “Aamiin.” Tak lama kemudian, seorang pembeli perempuan datang meminta rempah untuk masakan pagi. Percakapan mereka pun terputus.
Namun ketika Abdullah dan Harits mulai melangkah meninggalkan kios itu, pikiran Abdullah tetap tertinggal pada satu hal: fitnah besar tidak hanya mengubah arah keluarga terpandang. Ia perlahan juga mulai mengubah: • pasar, • kehidupan rakyat kecil, • dan rasa aman manusia biasa di Madinah. Mereka berjalan kembali melewati keramaian pasar. Di kejauhan, suara seorang qari muda terdengar membaca Qur'an dari dekat masjid. Lantunan ayat itu mengalir lembut di atas: • suara tawar-menawar, • langkah unta, • dan hiruk-pikuk perdagangan pagi. Dan untuk sesaat, Abdullah merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya: Madinah masih penuh keberkahan. Tetapi manusia-manusia di dalamnya mulai hidup dengan ketakutan yang perlahan tumbuh dari hari ke hari.
Mereka terus berjalan meninggalkan keramaian pasar. Matahari kini semakin tinggi di atas Madinah. Jalan-jalan kota mulai dipenuhi kehidupan siang: • para pengangkut air bolak-balik membawa kendi, • para saudagar sibuk memanggil pembeli, • dan anak-anak kecil berlarian di sela lorong sambil membawa papan hafalan mereka. Di dekat masjid, beberapa penuntut ilmu masih duduk melingkar mendengarkan seorang guru tua membacakan hadits. Suara itu bercampur dengan hiruk-pikuk pasar, namun justru itulah wajah Madinah yang selama ini dikenal Abdullah: kota tempat ilmu, perdagangan, dan kehidupan berjalan berdampingan. Harits berjalan di samping Abdullah tanpa banyak bicara. Sesekali lelaki Badui itu mengangguk kepada orang-orang yang mereka kenal di jalan. Namun sejak keluar dari rumah Syekh Umar, Abdullah merasa pikirannya belum benar-benar kembali ke jalan-jalan Madinah. Sebagian dirinya masih tertinggal di ruangan itu: bersama: • peta, • kantung logam, • dan jalur Basrah yang terbentang di atas lembar kulit.
Ketika mereka melewati lorong dekat masjid, seorang lelaki tua tiba-tiba memanggil dari bawah pohon kurma. “Abu Iskandar!” Abdullah menoleh. Seorang lelaki Anshar tua sedang duduk di atas tikar kecil sambil memperbaiki sandal kulit. Wajahnya dikenal Abdullah baik. Namanya Salman. Dahulu ia sering membantu keluarga Abdullah mengurus beberapa kebutuhan perjalanan kafilah kecil. Abdullah segera mendekat sambil tersenyum hormat. “Semoga Allah memberi kesehatan untukmu, Paman Salman.” Lelaki tua itu terkekeh kecil. “Kalau lututku tidak ikut menua mungkin aku akan percaya doa itu.” Harits tersenyum kecil. Sedangkan Abdullah duduk sebentar di dekatnya. Salman memperhatikan Abdullah beberapa saat. Lalu matanya menyipit sedikit. “Engkau berjalan seperti orang yang membawa karung batu di kepala.” Abdullah hampir tersenyum kecil. “Seberat itukah?” “Lebih buruk.” Salman mengikat simpul sandal lalu mengangkat wajah. “Karena batu tidak ikut berpikir. Sedangkan wajahmu sedang memikirkan terlalu banyak hal.” Kesunyian kecil turun.
Di dekat mereka, dua anak kecil baru saja berlari sambil saling mengejar. Salah satunya jatuh, lalu bangkit lagi sambil tertawa. Abdullah memperhatikan mereka sesaat. Lalu tanpa sadar teringat: Iskandar. Fatimah. Maryam. Rumah kecilnya. Kandang. Aroma roti pagi. Salman rupanya mengikuti arah pandangnya. “Anak-anak membuat manusia takut kehilangan rumah,” katanya pelan. Abdullah menoleh cepat. Kalimat itu terasa terlalu dekat dengan apa yang sedang memenuhi isi kepalanya. Salman tersenyum samar. “Aku tua.” Ia kembali memperbaiki sandalnya. “Orang tua melihat lebih banyak dari yang kalian kira.” Harits diam. Sedangkan Abdullah mulai merasa: bahkan pagi Madinah yang biasa pun hari ini seperti dipenuhi manusia yang seolah dapat membaca kegelisahan di wajahnya. Salman menundukkan kembali kepalanya lalu melanjutkan pekerjaannya. Jemari tuanya bergerak pelan menarik tali kulit sandal yang mulai aus. Di bawah pohon kurma itu, angin bergerak lembut membawa bayangan daun-daun yang bergeser pelan di atas tanah. Beberapa langkah dari mereka, seorang penjual air baru saja berhenti untuk melayani dua pengembara yang tampak kelelahan. Sedangkan dari arah masjid, lantunan Qur'an masih terdengar samar: tenang, teratur, dan mengalir lembut di atas hiruk-pikuk Madinah.
Salman akhirnya kembali berbicara tanpa mengangkat wajah. “Aku mendengar pasar terlalu banyak berbicara pagi ini.” Abdullah diam beberapa saat. Lalu menjawab hati-hati: “Pasar memang selalu suka berbicara.” Lelaki tua itu tersenyum kecil. “Tidak seperti ini.” Tangannya berhenti sebentar. Lalu ia mengangkat wajah perlahan. “Dulu orang-orang Madinah berbicara tentang: • panen, • hujan, • perdagangan, • atau hafalan anak-anak mereka.” Matanya bergerak ke arah jalan. “Sekarang...” suaranya melambat, “aku terlalu sering mendengar manusia membicarakan: • jalur, • perpindahan, • dan ketakutan.” Kesunyian turun sesaat.
Karena sekali lagi, seorang manusia sederhana mengucapkan sesuatu yang terasa jauh lebih tajam daripada pembicaraan para saudagar besar. Harits menyandarkan pundaknya pada batang pohon kurma. “Engkau juga merasakannya?” Salman mendengus pelan. “Aku tua.” Ia terkekeh kecil. “Manusia tua tidak banyak bekerja.” Senyumnya memudar perlahan. “Karena itu kami punya terlalu banyak waktu memperhatikan manusia lain.” Di jalan depan, dua lelaki tampak berjalan cepat sambil berbicara setengah berbisik. Salah satu dari mereka sesekali menoleh ke belakang sebelum kembali melanjutkan percakapan. Beberapa hari lalu, Abdullah mungkin tidak akan memikirkan pemandangan seperti itu. Namun sekarang, hal kecil pun terasa berbeda. Salman selesai mengikat tali sandal lalu menepuk-nepuk debu di tangannya. “Aku pernah melihat keadaan seperti ini.” Abdullah mengangkat wajah. Harits juga menoleh. “Kapan?” Salman memandang ke arah masjid cukup lama. “Bukan di Madinah.” Sorot matanya perlahan berubah jauh. “Bertahun-tahun lalu.” Ia menarik napas pelan. “Di perjalanan dagang dekat Syam.”
Angin bergerak lagi. Suara pasar tetap hidup. Namun Abdullah mendadak merasa pembicaraan kecil di bawah pohon kurma itu menjadi jauh lebih berat. Karena lelaki tua seperti Salman tidak berbicara sembarangan. Dan bila ia berkata pernah melihat keadaan seperti ini, maka kemungkinan besar ia sedang mengingat sesuatu yang tidak ingin ia lihat terulang kembali. “Apa yang terjadi waktu itu?” tanya Abdullah pelan. Salman tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju jauh ke depan. Seolah sebagian dirinya baru saja berjalan kembali ke masa puluhan tahun silam. Salman tetap diam beberapa saat. Di wajah tuanya, terlihat perubahan kecil yang tidak terlalu mudah ditangkap: sorot mata yang menjauh, rahang yang mengeras sesaat, dan napas yang keluar sedikit lebih berat dibanding sebelumnya. Abdullah tidak menyela. Harits juga diam. Karena mereka memahami: ada jenis kenangan yang tidak dapat ditarik keluar dengan tergesa. Di jalan depan, kehidupan Madinah tetap berjalan: • seorang penjual susu memanggil pembeli, • anak-anak melewati lorong sambil membawa papan hafalan, • dan seekor keledai kecil menolak bergerak meskipun pemiliknya sudah menarik talinya berulang kali. Beberapa orang tertawa kecil melihatnya. Namun di bawah pohon kurma itu, suasana terasa seolah berada di dunia yang berbeda.
Akhirnya Salman menghela napas pelan. “Waktu itu aku masih jauh lebih muda.” Matanya masih melihat ke kejauhan. “Aku ikut rombongan dagang menuju Syam.” Tangannya mengambil segenggam kecil pasir dekat tikar lalu membiarkannya jatuh perlahan dari sela jemari. “Awalnya biasa saja.” Ia tersenyum kecil, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. “Pasar tetap ramai. Kafilah tetap berjalan. Dan manusia tetap tertawa seperti biasa.” Abdullah memperhatikan tanpa berkedip. Karena kalimat itu terasa terlalu mirip dengan keadaan Madinah sekarang. Salman melanjutkan: “Lalu mulai muncul hal-hal kecil.” Tangannya menghitung perlahan dengan jari yang kasar oleh usia. “Manusia mulai: • berbicara pelan, • menyimpan logam mereka, • menanyakan jalur lain, • dan mulai sering berkata: ‘sekadar berjaga-jaga.’” Angin bergerak melewati mereka lagi. Lalu Salman menoleh kepada Abdullah. “Semua orang saat itu berkata keadaan belum buruk.” Kesunyian kecil turun. Karena kalimat itu sama persis seperti yang diucapkan Syekh Umar tadi pagi. Belum. Belum buruk. Tetapi sesuatu mulai bergerak. Harits perlahan menurunkan pandangannya ke tanah. Sedangkan Abdullah merasakan tengkuknya dingin. Salman kembali memandang jalan. “Lalu suatu pagi...” suaranya melemah sedikit, “beberapa keluarga pergi.” Tak ada perang. Tak ada teriakan. Tak ada pasukan datang. Mereka hanya pergi. Pelan. Diam-diam. Dan sesudah itu manusia lain mulai ikut bergerak.
Abdullah tidak menyadari jemarinya perlahan menggenggam lututnya sendiri. Karena untuk pertama kalinya sejak pagi, seluruh potongan: • rumah Syekh Umar, • kantung logam, • jalur Basrah, • dan bisik-bisik pasar, mulai terasa tersusun menjadi sesuatu yang lebih jelas. Salman menatapnya cukup lama. Lalu berkata pelan: “Aku berharap aku salah, Abdullah.” Matanya bergerak ke arah Madinah. Ke arah kota yang masih dipenuhi suara Qur'an, pasar, anak-anak, dan kehidupan. “Karena aku tidak ingin melihat Madinah belajar pelajaran yang sama.” Tak seorang pun langsung berbicara sesudah itu. Angin siang bergerak pelan di sela daun kurma. Bayangan pohon perlahan bergeser sedikit demi sedikit di atas tanah, mengikuti matahari yang semakin naik.
Di jalan depan, Madinah masih menjalani harinya seperti biasa. Seorang penjual madu berjalan sambil memikul bejana kecil di pundaknya. Dua anak kecil berhenti dekat sumur lalu saling memperlihatkan hafalan yang mereka tulis pada papan kayu. Sedangkan dari kejauhan, lantunan Qur'an dari dekat masjid sesekali masih terdengar menyentuh udara. Kota itu masih hidup. Dan justru karena itu, kalimat Salman terasa semakin berat. Karena sulit membayangkan kota yang tampak setenang ini dapat berubah menjadi tempat yang membuat manusia diam-diam mulai pergi meninggalkannya. Salman akhirnya berdiri perlahan. Lutut tuanya tampak sedikit bergetar sebelum ia menegakkan tubuh. Harits segera bergerak refleks membantu memegang lengannya. “Pelan.” Salman mendengus kecil. “Lihat?” Ia menepuk lututnya sendiri. “Tubuh tua mulai berkhianat.” Harits tersenyum kecil. “Kalau begitu berhenti duduk terlalu lama di bawah pohon sambil mengawasi manusia.” Salman terkekeh pendek. “Kalau aku berhenti mengawasi manusia...” matanya melirik Abdullah, “siapa yang akan melihat wajah-wajah gelisah seperti milik sahabatmu ini?” Untuk pertama kalinya sejak percakapan tadi, Abdullah tersenyum tipis. Tipis sekali. Namun cukup untuk membuat ketegangan yang sejak tadi menggantung sedikit mencair.
Salman mulai menggulung tikarnya pelan. Gerakannya lambat, tetapi rapi seperti orang yang melakukan kebiasaan itu ribuan kali sepanjang hidupnya. Lalu sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sesaat. Tidak menoleh. Tidak pula mengangkat kepala. Hanya berkata pelan: “Kalau suatu hari manusia mulai pergi...” suaranya nyaris seperti gumaman, “jangan menjadi orang yang terakhir menyadarinya.” Kesunyian kembali turun. Karena nasihat itu tidak terdengar seperti kalimat biasa. Ia terdengar seperti sesuatu yang dibawa dari pengalaman panjang, dari perjalanan jauh, dan dari penyesalan yang mungkin tidak pernah Salman ceritakan sepenuhnya. Lelaki tua itu lalu berjalan perlahan meninggalkan mereka. Masuk ke lorong kecil dekat masjid. Tubuhnya semakin jauh, semakin kecil, lalu menghilang di antara kehidupan siang Madinah.
Abdullah terus memandang ke arah itu cukup lama. Harits tidak mengganggunya. Karena ia tahu: sahabatnya sedang mengumpulkan terlalu banyak hal di dalam pikirannya: • rumah Syekh Umar, • keluarga-keluarga besar, • peta Basrah, • pasar, • dan sekarang... Salman. Lalu Harits akhirnya menghela napas pelan. “Aku mulai merindukan pagi tadi.” Abdullah menoleh. “Pagi tadi?” Harits mengangguk kecil. “Ketika masalah terbesar kita hanya Iskandar yang diam-diam memberi kurma pada unta tua.” Kalimat Harits menggantung beberapa saat di antara mereka. Lalu untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah Syekh Umar, Abdullah benar-benar tertawa kecil. Bukan tawa panjang. Bukan pula tawa manusia yang hatinya ringan. Hanya tawa kecil yang muncul karena tiba-tiba teringat sesuatu yang terasa sangat jauh, padahal baru terjadi pagi tadi. “Dan Fatimah yang khawatir roti Irak tidak seenak buatan Maryam,” jawab Abdullah pelan. Harits ikut tersenyum. “Atau Iskandar yang lebih mengkhawatirkan unta daripada dirinya sendiri.” Abdullah menggeleng kecil. “Aku masih belum mengerti bagaimana anak itu bisa menganggap unta tua lebih penting daripada perjalanan jauh.” Harits mendengus kecil. “Karena anak-anak belum belajar ketakutan orang dewasa.” Kesunyian turun lagi sesudah kalimat itu. Namun kali ini kesunyian yang berbeda. Tidak seberat rumah Syekh Umar. Tidak setajam pembicaraan pasar. Melainkan kesunyian manusia yang tiba-tiba menyadari sesuatu.
Abdullah memandang jalan di depan mereka. Lorong Madinah dipenuhi kehidupan: • anak-anak, • para penuntut ilmu, • pedagang, • dan pengembara. Tetapi Harits benar. Anak-anak belum memandang dunia seperti orang dewasa. Mereka belum memikirkan: • perpindahan keluarga, • pengawasan, • jalur aman, • ataupun harta. Mereka hanya memikirkan: • rumah, • hewan yang mereka sayangi, • makanan kesukaan, • dan apakah ayah mereka akan pulang sebelum malam. Dan tiba-tiba, kalimat terakhir itu menghantam Abdullah pelan. Pulang sebelum malam. Pikirannya mendadak kembali pada Maryam. Pada malam sebelumnya. Pada percakapan panjang mereka. Pada tatapan istrinya ketika berkata: "Anak-anak Bani Hasyim boleh tumbuh jauh dari kota Nabi... tetapi mereka tidak boleh tumbuh jauh dari ingatan tentangnya."
Langkah Abdullah perlahan melambat. Harits langsung memperhatikannya. “Apa?” Abdullah tidak segera menjawab. Matanya bergerak ke arah rumah-rumah Madinah yang berdiri tenang di bawah matahari siang. Lalu ke arah masjid. Lalu ke jalan-jalan yang sudah sangat dikenalnya sejak bertahun-tahun. Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, sebuah pertanyaan muncul sangat jelas dalam hatinya: Kalau suatu hari mereka benar-benar pergi... apa yang sebenarnya akan dibawa? Harta? Ternak? Dinar? Atau sesuatu yang jauh lebih sulit dipindahkan: ingatan tentang rumah? Angin siang bergerak kembali melewati lorong. Dan di tengah hiruk-pikuk Madinah, Abdullah mulai merasakan: Mungkin pertanyaan paling berat bukanlah: "Ke mana kita pergi?" Melainkan: "Apa yang harus tetap tinggal di dalam hati ketika semuanya berubah?" Untuk beberapa saat Abdullah berjalan tanpa berbicara. Harits tidak mengganggunya. Lelaki Badui itu mengenal sahabatnya cukup lama untuk mengetahui: ketika Abdullah diam terlalu lama, berarti pikirannya sedang berjalan jauh melampaui langkah kakinya sendiri.
Mereka melewati lorong yang mengarah ke sisi masjid Nabi. Di bawah bayangan dinding batu, beberapa penuntut ilmu duduk melingkar mendengarkan seorang guru tua. Suara hafalan terdengar bergantian: pelan, tertata, dan memenuhi udara siang Madinah dengan ketenangan yang akrab. Tak jauh dari sana, dua anak kecil tampak saling berebut tempat dekat kendi air. Salah satu dari mereka berkata dengan wajah sangat serius: “Aku duduk di sini lebih dulu.” “Tidak.” temannya segera membantah. “Aku lebih haus.” Perdebatan besar menurut ukuran dunia anak-anak. Harits melirik mereka sebentar lalu tersenyum kecil. “Lihat.” Abdullah mengikuti arah pandangnya. “Mereka sedang menghadapi musibah besar rupanya.” Abdullah tersenyum tipis. “Dan selesai sebelum matahari bergeser.”
Benar saja. Belum sampai beberapa tarikan napas, seorang lelaki tua yang menjaga kendi itu datang lalu menuangkan air untuk keduanya. Perdebatan pun selesai. Kini mereka tertawa lagi seolah tidak pernah bertengkar. Abdullah memperhatikan itu diam-diam. Lalu berkata pelan: “Anak-anak tidak menyimpan beban terlalu lama.” Harits mengangguk. “Karena hati mereka belum dipenuhi terlalu banyak ketakutan.” Kalimat itu kembali membuat Abdullah diam. Karena sejak pagi tadi, ia mulai melihat ketakutan di mana-mana: • rumah Syekh Umar, • wajah para saudagar, • percakapan pasar, • bahkan manusia-manusia sederhana seperti Salman. Dan kini ia mulai bertanya dalam hati: Sejak kapan Madinah mulai dipenuhi manusia yang saling menyembunyikan kegelisahan? Di depan mereka, jalan menuju rumah mulai terlihat. Lorong-lorong mulai terasa lebih akrab sekarang. Dinding batu. Pagar kandang. Dan pohon kurma yang dikenalnya sejak bertahun-tahun.
BAGIAN 3 — Ketenangan yang belum sempat diberi nama
Lalu langkah Abdullah kembali melambat. Karena dari kejauhan, ia mulai melihat halaman rumahnya. Dan di dekat pagar kandang... Iskandar sedang berdiri di atas batu kecil. Matanya menatap jauh ke arah jalan. Seperti seseorang yang sejak tadi menunggu. Begitu melihat Abdullah dari kejauhan, anak itu langsung melompat turun. Lalu berlari secepat mungkin. “Ayah!” Suara kecil itu memecah seluruh isi kepala Abdullah dalam satu detik. Dan tiba-tiba: • peta Basrah, • keluarga besar, • jalur timur, • dan seluruh pembicaraan pagi, terasa sangat jauh dibanding suara seorang anak yang sedang berlari pulang menuju ayahnya.
Iskandar berlari secepat yang kakinya mampu. Debu tipis beterbangan di bawah sandal kecilnya. Kain bagian pundaknya bergerak ke sana-sini, hampir terlepas karena ia sama sekali tidak memikirkan kerapian saat itu. “Ayah!” Kali ini lebih dekat. Lebih keras. Dan penuh kegembiraan yang begitu utuh hingga seolah tidak ada tempat bagi kegelisahan di dunia anak kecil itu. Abdullah baru saja membuka kedua tangannya ketika Iskandar langsung menabrak pelukannya. “Pelan...” Abdullah tertawa kecil sambil menahan tubuh anaknya agar tidak jatuh. Harits menggeleng kecil di samping mereka. “Aku yakin suatu hari anak ini akan menabrak unta.” Iskandar sama sekali tidak memedulikannya. Matanya justru membesar penuh rasa ingin tahu. “Ayah!” “Hm?” “Irak punya unta besar?” Harits langsung menutup wajah dengan telapak tangannya. “Lihat?” gumamnya. “Aku bilang juga.” Abdullah benar-benar tertawa kecil kali ini. Untuk pertama kalinya sejak pagi, tawa itu keluar tanpa terasa dipaksa. Karena di tengah: • peta, • perpindahan logam, • pembicaraan keluarga besar, • dan ketakutan, anak kecil ini hanya mengingat satu hal. Unta.
“Aku belum sempat bertanya,” jawab Abdullah akhirnya. Wajah Iskandar langsung berubah. “Ayah lupa?” Nada suaranya benar-benar terdengar kecewa. Harits langsung terkekeh. “Selesai sudah.” Abdullah mengusap kepala anaknya perlahan. “Aku datang untuk urusan lain.” Iskandar masih tampak belum puas. “Tetapi Ayah janji.” Abdullah membuka mulut hendak menjawab, namun sebelum sempat berbicara, suara Maryam terdengar dari arah rumah: “Biarkan ayahmu masuk dulu sebelum kau mengadilinya.” Semua menoleh. Maryam berdiri dekat pintu rumah sambil membawa nampan kecil berisi: • kendi air, • beberapa kurma, • dan kain untuk membersihkan debu perjalanan. Fatimah berdiri di samping ibunya. Sedangkan di belakang mereka, beberapa kambing tampak bergerak dekat pagar sambil mengembik pelan meminta makan.
Rumah kembali terlihat seperti rumah. Bukan tempat penuh: • peta, • jalur, • atau pembicaraan rahasia. Hanya: • anak-anak, • kandang, • aroma makanan, • dan manusia-manusia yang menunggu seseorang pulang. Dan entah mengapa, tepat ketika melihat Maryam berdiri di ambang pintu rumah mereka, dada Abdullah terasa sesak kecil. Karena pagi tadi, ketika meninggalkan rumah, semua masih terasa seperti kegelisahan. Tetapi sekarang... setelah rumah Syekh Umar, pasar, Salman, dan semua percakapan itu— ia mulai takut kehilangan sesuatu yang sebelumnya selalu ia kira akan tetap ada. Maryam tidak langsung bertanya apa pun. Ia hanya berdiri menunggu ketika Abdullah dan Harits memasuki halaman rumah. Seperti kebiasaannya selama bertahun-tahun: tidak menyambut dengan banyak pertanyaan, tidak pula tergesa meminta jawaban. Karena ia memahami sesuatu yang tidak selalu dipahami banyak orang: lelaki yang baru pulang dari perjalanan, meskipun hanya setengah hari, kadang perlu menurunkan isi pikirannya lebih dahulu sebelum mulai bercerita. Abdullah menerima kendi air dari tangan Maryam. Airnya dingin. Dingin khas kendi tanah yang disimpan di tempat teduh. Ia meminumnya perlahan. Dan baru ketika air itu menyentuh tenggorokannya, ia sadar betapa panjang pagi yang baru saja dilaluinya.
Rumah Syekh Umar terasa seperti terjadi beberapa hari lalu, padahal matahari bahkan belum sampai pertengahan langit. Fatimah mendekat pelan sambil memegang ujung kain ibunya. “Ayah...” Abdullah menoleh sambil tersenyum kecil. “Hm?” “Apakah di Irak ada roti?” Harits langsung membuang wajah ke samping. Bahu lelaki Badui itu mulai bergerak kecil menahan tawa. Sedangkan Iskandar segera memprotes: “Pertanyaanku lebih penting.” “Tidak.” Fatimah menggeleng cepat. “Roti lebih penting.” “Unta.” “Roti.” “Unta.” “Roti.” Abdullah memejamkan mata sesaat sambil menahan senyum. Sedangkan Maryam akhirnya menggeleng kecil. “Lihat?” katanya pelan kepada Abdullah. “Sejak pagi mereka menunggu dengan urusan besar mereka masing-masing.” Dan untuk beberapa saat, halaman rumah kembali dipenuhi hal-hal kecil: • suara anak-anak, • kambing yang mengembik, • langkah pekerja kandang, • dan angin siang yang membawa aroma jerami serta roti hangat dari dapur. Tidak ada: • Basrah, • jalur timur, • ataupun perpindahan keluarga besar. Hanya rumah.
Dan ketika Abdullah memandang semuanya, ia mulai memahami sesuatu yang sejak tadi belum sempat ia beri nama: ketakutannya bukan sekadar tentang pergi. Melainkan tentang kehilangan bentuk kehidupan yang selama ini ia anggap biasa. Karena manusia sering baru menyadari nilai sebuah nikmat ketika mulai membayangkan hidup tanpa nikmat itu. Harits akhirnya mengambil kurma dari nampan lalu duduk dekat pagar kandang. “Aku lapar.” Iskandar menoleh cepat. “Karena berjalan?” Harits menggigit kurmanya pelan. Lalu menjawab datar: “Karena terlalu banyak mendengar manusia membicarakan masalah.” Dan kali ini bahkan Maryam ikut tertawa kecil. Tawa kecil itu menyebar sebentar di halaman rumah. Ringan. Hangat. Dan cukup untuk mengusir sebagian beban yang sejak pagi menempel di dada Abdullah. Harits tetap duduk dekat pagar kandang sambil memakan kurmanya perlahan. Sedangkan Iskandar kini duduk bersila di depannya dengan wajah sangat serius, seolah sedang menghadiri majelis ilmu penting. “Kalau terlalu banyak mendengar masalah...” tanya anak itu hati-hati, “lapar bisa bertambah?” Harits menatapnya cukup lama. Lalu mengangguk sangat serius. “Sangat bertambah.” Fatimah langsung ikut duduk dekat mereka. “Kalau begitu Ayah pasti sangat lapar.” Beberapa detik sunyi. Lalu Harits tertawa lebih dahulu. Maryam menutup mulut menahan senyum. Sedangkan Abdullah hanya menggeleng kecil sambil menatap kedua anaknya. Anak-anak. Mereka benar-benar mampu menarik manusia keluar dari pikirannya sendiri tanpa menyadarinya.
Di dekat kandang, dua pekerja sedang mengganti tempat air ternak. Suara kendi besar diletakkan di tanah terdengar berat. Seekor kambing putih kecil yang sejak pagi terus membuat masalah kembali mendekati Harits. Matanya langsung tertuju ke kurma di tangan lelaki Badui itu. Harits mempersempit matanya. “Jangan.” Kambing itu maju satu langkah. “Jangan.” Maju lagi. Harits mulai menunjuk. “Aku bersumpah demi—” Belum selesai kalimatnya, kambing kecil itu tiba-tiba menyambar kurma dari tangannya lalu melompat mundur. Sunyi. Satu detik. Dua detik. Lalu Iskandar tertawa paling keras. Fatimah ikut tertawa sambil bertepuk tangan kecil. Bahkan salah satu pekerja kandang sampai membalikkan badan sambil menahan tawa.
Harits menatap kambing itu tidak percaya. “Aku mulai membenci hewan di rumah ini.” “Tidak,” bantah Iskandar cepat. “Engkau hanya kalah.” “Aku tidak kalah.” “Kalah.” “Tidak.” Abdullah memperhatikan semuanya sambil diam. Matahari siang jatuh hangat ke halaman rumah. Angin bergerak membawa aroma: • jerami, • susu hangat, • tanah, • dan makanan dari dapur. Maryam berdiri di ambang pintu memperhatikan mereka semua. Dan untuk sesaat, waktu terasa berjalan sangat pelan. Lalu Abdullah menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak kembali: Mungkin inilah yang sebenarnya sedang ia takutkan sejak pagi. Bukan perjalanan. Bukan Basrah. Bukan jalur timur. Melainkan kemungkinan bahwa suatu hari, ia harus memandang halaman kecil ini hanya sebagai kenangan.
Abdullah tetap memandang halaman rumah mereka. Iskandar masih sibuk berdebat dengan Harits tentang siapa yang sebenarnya kalah dari kambing kecil itu. Fatimah sekarang berdiri dekat pagar sambil mencoba memanggil kambing nakal tadi agar mendekat. Sedangkan Maryam perlahan masuk kembali ke dapur setelah memastikan kendi air dan kurma tersedia. Semuanya tampak biasa. Terlalu biasa. Dan mungkin justru karena itulah hati Abdullah terasa berat. Karena manusia jarang takut kehilangan sesuatu ketika sedang hidup di dalamnya. Mereka baru takut ketika mulai membayangkan: bagaimana bila semua itu tidak lagi ada. Di dekat kandang, Harits akhirnya berdiri sambil menunjuk kambing kecil tadi. “Aku mengenal tatapan itu.” Iskandar mengerutkan dahi. “Tatapan apa?” “Tatapan pencuri.” Fatimah langsung memeluk kambing itu cepat. “Bukan!” Harits menunjuk lebih dekat. “Lihat matanya.” Kambing kecil itu malah sibuk mengunyah sambil menatap kosong. Iskandar memperhatikan sangat serius. Lalu mengangguk pelan. “Sedikit.” “Iskandar!” protes Fatimah. Halaman kembali dipenuhi tawa kecil.
Dan Abdullah menyadari sesuatu: sejak keluar dari rumah Syekh Umar, baru sekarang dadanya benar-benar terasa lebih ringan. Bukan karena masalahnya hilang. Bukan pula karena jawaban sudah ditemukan. Tetapi karena rumah memiliki sesuatu yang tidak dimiliki pasar, jalur, atau rumah para saudagar besar: ketenangan. Dan ketenangan itu tidak lahir dari: • dinding, • harta, • atau luas tanah. Melainkan dari manusia-manusia yang hidup di dalamnya. Tak lama kemudian, Maryam keluar kembali dari dapur. Kali ini bukan hanya membawa kurma. Aroma hangat langsung ikut keluar bersamanya. Roti. Roti yang baru diangkat dari tungku. Disertai semangkuk kecil susu hangat dan beberapa potong daging yang dimasak sejak pagi. Belum sempat ia meletakkan nampan itu, Fatimah sudah berseru: “Ibu!” Maryam menoleh. “Hm?” Fatimah menunjuk Harits dengan sangat serius. “Harits kalah dari kambing.” Sunyi. Lalu Maryam menatap Harits. Harits menatap balik. Lalu berkata datar: “Aku sedang dizalimi di rumah ini.” Dan halaman kecil itu kembali dipenuhi tawa. Sedangkan Abdullah memandang mereka semua diam-diam. Lalu tanpa sadar ia berdoa sangat pelan di dalam hati: Ya Allah... jangan jadikan aku termasuk manusia yang terlambat mensyukuri nikmat yang ada di hadapannya.
Mereka akhirnya duduk melingkar di halaman rumah. Tikar sederhana dibentangkan dekat bayangan dinding agar terhindar dari panas matahari siang yang mulai terasa. Harits duduk bersandar dekat pagar kandang, masih sesekali melirik kambing kecil yang tadi "merampok" kurmanya. Sedangkan Iskandar duduk sangat dekat Abdullah. Terlalu dekat. Hingga pundak kecilnya terus menempel seolah khawatir ayahnya akan pergi lagi. Maryam mulai membagi: • roti hangat, • susu, • dan daging. Aroma makanan memenuhi halaman. Dan untuk sesaat, semua kegelisahan pagi terasa benar-benar jauh. Fatimah menerima rotinya lalu bertanya: “Ayah.” “Hm?” “Kalau nanti pergi jauh...” wajahnya serius sekali, “kambing ini ikut?” Kesunyian kecil turun. Tangan Abdullah berhenti sesaat. Harits perlahan mengangkat wajah. Maryam juga menoleh. Karena pertanyaan itu datang terlalu tiba-tiba. Dan terlalu dekat dengan isi pikiran Abdullah sejak pagi. Fatimah tidak menyadarinya. Ia sibuk memegang roti dengan kedua tangannya. Lalu menambahkan: “Kalau tidak ikut...” ia memeluk kambing kecil itu, “siapa yang kasih dia makan?” Harits segera menunduk menahan senyum. Sedangkan Iskandar tampak berpikir sangat serius. Sangat serius. Lalu ia mengangguk pelan. “Benar.”
Abdullah memperhatikan kedua anaknya. Dan lagi-lagi, anak-anak memandang dunia dengan cara yang berbeda. Ketika orang dewasa memikirkan: • jalur aman, • logam, • perpindahan keluarga, • dan kemungkinan fitnah, mereka justru memikirkan: siapa yang memberi makan kambing. Dan entah mengapa, itu terasa jauh lebih menyentuh. Maryam memandang Abdullah sekilas. Hanya sekilas. Tetapi cukup lama bagi Abdullah untuk memahami: ia mendengar kalimat itu juga. Dan mungkin, sedang memikirkan hal yang sama. Abdullah akhirnya tersenyum kecil. Lalu mengusap kepala Fatimah perlahan. “Kalau suatu hari kita pergi...” suaranya lembut, “kita tidak akan meninggalkan makhluk yang menjadi tanggung jawab kita begitu saja.” Fatimah langsung tampak lega. Sedangkan Iskandar segera bertanya: “Dan unta?” Harits langsung memejamkan mata. “Dia kembali.” Tawa kecil kembali memenuhi halaman. Namun kali ini Abdullah memperhatikan Maryam. Dan di balik senyum tipis istrinya, ia melihat sesuatu yang sejak tadi belum sempat muncul: Maryam belum bertanya apa yang sebenarnya terjadi pagi ini. Tetapi matanya menunjukkan: ia sedang menunggu saat Abdullah siap bercerita.
Makan siang kecil itu berlangsung pelan. Tanpa tergesa. Seperti kebiasaan rumah mereka sejak dulu. Di halaman kecil itu, manusia tidak hanya makan untuk mengenyangkan perut. Mereka juga: • berbagi cerita, • saling mendengar, • dan meletakkan sebagian beban hari di antara orang-orang yang mereka cintai. Maryam memotong roti menjadi bagian lebih kecil lalu memberikannya kepada Fatimah. Sedangkan Iskandar masih sibuk menjelaskan kepada Harits bahwa seekor unta yang baik pasti dapat mengenali pemiliknya dari jauh. “Kalau aku punya unta,” katanya penuh keyakinan, “aku akan mengajarinya datang saat dipanggil.” Harits mengunyah pelan. Lalu berkata datar: “Kalau begitu engkau tidak butuh unta.” Iskandar mengerutkan dahi. “Kenapa?” Harits menunjuk kambing kecil dekat pagar. “Mulai dari itu dulu.” Iskandar menoleh. Kambing kecil tadi malah sedang berdiri dengan kepala tersangkut di sela pagar kayu. Anak itu langsung bangkit panik. “Eh! Eh! Jangan bergerak!” Fatimah ikut berdiri. “Aku bilang jangan makan daun itu!” Beberapa detik kemudian halaman kembali ribut: • langkah kecil berlarian, • suara kambing mengembik, • dan Harits yang akhirnya ikut membantu sambil mengomel setengah tertawa. Maryam memperhatikan semuanya sambil tersenyum kecil. Sedangkan Abdullah hanya memandang. Memandang cukup lama. Lalu tanpa sadar, senyumnya perlahan memudar. Karena ketika kegaduhan kecil itu berlangsung di depannya, ia justru teringat rumah Syekh Umar lagi. Teringat: • peta, • kantung logam, • jalur Basrah, • dan manusia-manusia yang mulai bersiap menghadapi masa depan. Kontrasnya terasa terlalu jauh.
Di satu tempat, orang-orang sedang memikirkan: ke mana keluarga harus pergi. Di tempat lain, dua anak kecil sedang berusaha menyelamatkan kambing dari pagar. Maryam rupanya melihat perubahan kecil di wajah Abdullah. Ia tidak langsung berbicara. Ia menunggu. Sampai Iskandar akhirnya berhasil menarik kepala kambing kecil itu keluar. “Berhasil!” Fatimah tertawa lega. Harits mengangkat kedua tangannya. “Segala puji bagi Allah.” Ia menghela napas panjang berlebihan. “Musibah besar berhasil diatasi.” Iskandar tertawa puas. Lalu semua kembali duduk. Baru sesudah suasana tenang, Maryam menuangkan air ke mangkuk kecil Abdullah. Dan tanpa menoleh langsung, ia berkata pelan: “Bagaimana rumah Syekh Umar?” Pertanyaannya sederhana. Sangat sederhana. Tetapi seketika seluruh isi kepala Abdullah terasa kembali ke pagi tadi. Pertanyaan Maryam membuat Abdullah tidak segera menjawab. Tangannya masih memegang mangkuk kecil berisi air. Namun pandangannya perlahan turun ke permukaan air yang bergerak tipis terkena angin. Harits yang tadi masih setengah bersandar dekat pagar kandang ikut diam. Bahkan Iskandar dan Fatimah yang belum memahami isi pembicaraan orang dewasa pun perlahan ikut tenang. Mungkin bukan karena mengerti. Tetapi karena anak-anak sering dapat merasakan perubahan suasana jauh sebelum memahami sebabnya.
Dari dapur, masih tercium sisa aroma: • roti hangat, • susu, • dan daging yang dimasak sejak pagi. Sedangkan dari kandang, terdengar suara kambing kecil tadi yang kembali mengembik seolah tidak pernah membuat keributan. Kehidupan rumah terus berjalan. Namun Abdullah tahu: cepat atau lambat, ia memang harus bercerita. Maryam bukan orang yang suka mendesak. Tetapi justru karena itu, ia tidak ingin menyembunyikan sesuatu terlalu lama. Abdullah akhirnya menarik napas perlahan. “Rumah itu ramai.” Maryam mengangkat wajah sedikit. “Ramai?” Abdullah mengangguk kecil. “Lebih ramai daripada biasanya.” Ia berhenti sebentar. Mencari cara memulai sesuatu yang bahkan sejak keluar dari rumah Syekh Umar pun masih terasa berat. “Ada saudagar Syam.” “Ada beberapa orang Quraisy.” “Dan ada tamu dari Irak.” Maryam tidak berbicara. Tetapi matanya mulai memperhatikan Abdullah lebih sungguh-sungguh sekarang. Harits menundukkan wajah sambil memainkan biji kurma di tangannya. Sedangkan Iskandar tampak berusaha mendengarkan, meskipun mungkin hanya menangkap satu kata. Irak.
Abdullah melanjutkan pelan: “Mereka membicarakan: • jalur, • perpindahan, • dan keluarga-keluarga yang mulai mengirim simpanan ke timur.” Halaman kecil itu mendadak terasa lebih sunyi. Angin masih bergerak. Kambing masih mengembik. Namun bagi Maryam, beberapa kalimat tadi sudah cukup. Karena semalam mereka sudah berbicara tentang keresahan kecil. Dan sekarang keresahan itu mulai memiliki bentuk. Maryam menatap Abdullah beberapa saat. Lalu bertanya sangat pelan: “Bukan lagi sekadar kabar pasar?” Abdullah diam. Diam cukup lama. Lalu perlahan menggeleng. Dan entah mengapa, gerakan kecil itu terasa lebih berat daripada seluruh kalimat yang telah diucapkannya sejak pagi. Tak ada yang segera berbicara setelah itu.
Gerakan kecil kepala Abdullah tadi terasa seperti menjatuhkan sesuatu ke tengah halaman rumah. Bukan benda. Melainkan kenyataan. Maryam menundukkan pandangannya perlahan. Tangannya masih memegang potongan roti yang sejak tadi belum disentuh lagi. Ia tidak tampak terkejut. Karena mungkin, sejak malam sebelumnya, sebagian hatinya memang telah bersiap mendengar jawaban seperti itu. Namun bersiap mendengar kemungkinan dan mendengar kenyataan adalah dua hal yang berbeda. Di dekat kandang, seekor ayam melintas cepat sambil dikejar kambing kecil yang sejak tadi terus membuat masalah. Iskandar menoleh. Fatimah ikut menoleh. Lalu beberapa detik perhatian mereka berpindah sepenuhnya. Anak-anak memang seperti itu. Dunia mereka bergerak cepat. Sedangkan dunia orang dewasa kadang berhenti terlalu lama pada satu kegelisahan.
Maryam akhirnya mengangkat wajah. “Dan Syekh Umar?” Abdullah menghela napas pelan. “Beliau berkata keadaan belum buruk.” Harits mengangkat wajah sedikit. Maryam juga memperhatikan. Lalu Abdullah melanjutkan: “Tetapi beliau juga berkata...” suaranya melambat, “orang bijak tidak menunggu api membesar sebelum mulai menyelamatkan keluarganya.” Kesunyian turun lagi. Namun kali ini berbeda. Karena kalimat itu sekarang tidak lagi berada: • di rumah Syekh Umar, • di atas peta, • atau di tengah saudagar besar. Sekarang kalimat itu berada di rumah Abdullah sendiri. Di halaman kecil tempat: • Iskandar tertawa, • Fatimah memeluk kambing, • dan Maryam membagikan roti. Dan tiba-tiba kalimat itu terasa jauh lebih nyata. Maryam memandang anak-anak beberapa saat. Matanya bergerak: ke Iskandar, ke Fatimah, lalu ke rumah. Ke kandang. Ke halaman. Ke kehidupan kecil yang mereka bangun bertahun-tahun. Lalu ia bertanya pelan: “Apakah ada yang sudah pergi?” Abdullah mengingat: • kantung logam, • nama keluarga, • dan jalur Basrah di atas peta. Lalu menjawab pelan: “Belum seluruhnya.” Ia berhenti sejenak. “Tetapi sebagian sudah mengirim simpanan mereka lebih dulu.” Maryam tidak langsung menjawab. Ia menurunkan pandangannya lagi. Lalu untuk beberapa saat, yang terdengar hanya: • suara angin, • langkah pekerja kandang, • dan tawa kecil Iskandar di kejauhan. Kemudian Maryam berkata sangat pelan: “Jadi... mereka benar-benar sedang bersiap.” Dan untuk pertama kalinya sejak pulang ke rumah, Abdullah tidak memiliki jawaban yang terasa cukup menenangkan. Karena semakin panjang pagi hingga siang itu berjalan, semakin jelas satu hal: ini bukan lagi sekadar bisikan pasar. Dan Maryam tampaknya memahami jawaban yang tidak terucap itu.
Namun seperti kebiasaannya, ia tidak memperpanjang pertanyaan. Tidak mendesak. Tidak memaksa Abdullah mengeluarkan semua isi pikirannya sekaligus. Ia hanya menundukkan kepala kecil, lalu kembali merapikan potongan roti di atas nampan. Beberapa saat kemudian, Fatimah datang membawa kambing kecil tadi sambil memeluk lehernya dengan susah payah. “Ibu.” Maryam mengangkat wajah. “Hm?” “Dia lapar.” Harits langsung menoleh. “Tidak.” Fatimah mengerutkan dahi. “Bagaimana engkau tahu?” Harits menunjuk kambing itu. “Karena sejak pagi dia sudah makan: • daun, • jerami, • kurmaku, • dan hampir pagar rumah.” Iskandar langsung tertawa. Fatimah tampak berpikir sangat serius. Lalu menatap kambing itu. “Benarkah?” Kambing kecil itu mengembik pelan. Harits langsung mengangkat tangan. “Lihat? Dia bahkan tidak menyesal.” Tawa kecil kembali memenuhi halaman. Dan lagi, Abdullah merasakan sesuatu yang aneh: Setiap kali rumah ini kembali hidup oleh suara: • anak-anak, • hewan, • dan manusia yang saling mengenal, ketakutannya justru semakin jelas bentuknya. Karena manusia tidak takut kehilangan sesuatu yang tidak dicintainya. Ia takut kehilangan apa yang telah menjadi bagian dari dirinya.
Waktu berjalan perlahan. Matahari bergerak semakin condong. Para pekerja kandang mulai memindahkan tempat minum ternak. Maryam masuk ke dapur beberapa kali. Sedangkan Iskandar akhirnya pergi ke belakang rumah sambil membawa seutas tali, bersikeras bahwa kambing kecil itu harus “dilatih agar lebih patuh.” Harits mengikuti dari belakang. “Aku ingin melihat bagaimana manusia kecil melatih pencuri kecil.” Fatimah segera berlari mengikuti mereka. “Jangan kasar!” Tak lama kemudian suara mereka terdengar dari belakang rumah: “Pelan!” “Bukan begitu!” “Dia menggigit talinya!” “Harits!” “Aku tidak melakukan apa-apa!” Maryam tersenyum kecil tanpa menoleh. Sedangkan Abdullah hanya mendengar semua itu dalam diam. Lalu setelah beberapa saat, Maryam duduk di sampingnya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Seperti kebiasaan dua manusia yang telah hidup bersama cukup lama hingga memahami diam satu sama lain. Untuk beberapa waktu mereka hanya mendengar suara anak-anak dari belakang rumah. Lalu Maryam berkata pelan: “Malam ini...” Ia berhenti sebentar. “Aku ingin mendengar semuanya.”
Abdullah tidak menjawab cepat. Namun kali ini ia mengangguk pelan. Karena ia tahu: Malam nanti, percakapan yang semalam hanya berupa keresahan... mungkin akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata. Sisa siang bergerak perlahan. Matahari mulai turun sedikit demi sedikit dari puncaknya. Bayangan dinding rumah memanjang ke halaman. Udara yang tadi panas mulai lebih lembut, dan angin sesekali membawa aroma tanah serta jerami dari sekitar kandang. Di belakang rumah, suara Iskandar dan Harits masih terdengar sesekali: “Jangan tarik sekuat itu!” “Aku tidak menarik!” “Dia menggigit lagi!” Lalu disusul suara Fatimah: “Jangan bentak dia!” Tak lama kemudian terdengar suara kambing mengembik keras. Maryam menggeleng kecil sambil tersenyum. “Rumah ini tidak pernah benar-benar sunyi.” Abdullah memperhatikan halaman. Beberapa tahun lalu, ketika mereka baru memulai kehidupan rumah tangga, halaman ini jauh lebih kosong. Belum ada: • kandang yang lebih besar, • anak-anak yang berlarian, • pekerja yang membantu, • atau suara ribut dari belakang rumah. Hanya: • dirinya, • Maryam, • dan kehidupan kecil yang sedang mereka bangun perlahan.
Abdullah tersenyum samar. “Dulu rumah ini lebih tenang.” Maryam menoleh. “Dan engkau menyukainya?” Abdullah diam sesaat. Matanya bergerak: ke arah pagar, ke tempat Iskandar tadi berdiri menunggu, ke dapur, ke kandang, lalu ke lorong rumah. Ke tempat-tempat yang sekarang terasa dipenuhi kehidupan. Lalu ia menggeleng kecil. “Tidak.” Maryam tersenyum tipis. Namun senyum itu perlahan memudar. Karena di balik jawaban sederhana tadi, ada sesuatu yang mereka berdua pahami: Semakin banyak manusia membangun kehidupan, semakin banyak pula yang mereka takutkan untuk hilang. Tak lama kemudian, Harits muncul dari belakang rumah. Pakaiannya sedikit penuh debu. Sedangkan Iskandar berjalan di belakangnya dengan wajah sangat serius. Fatimah memeluk kambing kecil itu seperti pahlawan yang baru menyelamatkan seseorang. Harits duduk berat dekat pagar. “Aku menyerah.” Iskandar langsung protes. “Engkau menyerah terlalu cepat.” Harits menunjuk kambing kecil tadi. “Hewan itu tidak ingin dilatih.” Ia menatap Abdullah. “Aku yakin suatu hari dia akan menguasai rumah ini.” Fatimah memeluk kambing lebih erat. “Tidak.” “Lihat saja.” Abdullah memperhatikan mereka sambil tersenyum kecil. Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai menghitung sesuatu tanpa sadar: berapa banyak yang mereka miliki sekarang. Rumah. Kandang. Ternak. Pekerjaan. Anak-anak. Kehidupan. Lalu untuk pertama kalinya hari itu, sebuah pertanyaan muncul jauh lebih jelas dibanding sebelumnya: Kalau suatu hari benar-benar harus pergi... apa yang mungkin dibawa, dan apa yang harus ditinggalkan? Pertanyaan itu datang begitu saja. Tidak diucapkan. Tidak pula terlihat di wajah Abdullah. Namun setelah muncul, pertanyaan itu tidak pergi lagi. Ia tinggal diam di dalam kepala, seperti tamu yang datang tanpa dipanggil. Kalau suatu hari benar-benar harus pergi... apa yang dibawa? Dan apa yang ditinggalkan?
Di depan matanya, Iskandar sedang memperlihatkan sesuatu kepada Harits dengan wajah penuh keyakinan. Anak itu memegang tali kambing dengan kedua tangan. “Lihat.” Harits tampak setengah pasrah. “Aku melihat.” “Tidak.” Iskandar menggeleng cepat. “Lihat baik-baik.” Lalu anak itu berdiri lebih tegak. “Duduk.” Kambing kecil itu menatap Iskandar. Diam. “Duduk.” Diam lagi. Harits memandang langit. Fatimah menunggu dengan wajah sangat berharap. Sedangkan Maryam mulai menahan senyum kecil. Lalu kambing itu bergerak. Satu langkah. Dua langkah. Melewati Iskandar. Dan langsung menuju tempat roti. Sunyi. Lalu Harits menepuk lututnya sendiri. “Aku menyukainya.” Iskandar menoleh cepat. “Tadi hampir berhasil.” “Tentu.” “Benar.” “Sangat dekat.” Fatimah langsung memeluk kambing itu. “Dia lelah.” “Tidak,” jawab Harits cepat. “Dia cerdik.” Halaman kembali dipenuhi tawa kecil.
Dan Abdullah memperhatikan semuanya dengan diam yang lebih tenang daripada siang tadi. Karena perlahan ia mulai menyadari sesuatu: Sejak pagi, pikirannya terus dipenuhi: • jalur, • logam, • perpindahan, • dan kemungkinan masa depan. Tetapi rumahnya tidak hidup dari semua itu. Rumah ini hidup karena: • Maryam, • suara Iskandar, • tawa Fatimah, • Harits yang datang seperti keluarga sendiri, • dan kegaduhan kecil yang kadang terasa melelahkan namun diam-diam dirindukan. Lalu entah mengapa, ia teringat kalimat Syekh Umar: "Jangan biarkan ketakutan membuatmu lupa meminta petunjuk Allah." Abdullah menundukkan pandangan perlahan. Benar. Sejak keluar dari rumah Syekh Umar, ia terlalu sibuk memikirkan apa yang akan terjadi. Terlalu sibuk memikirkan hari esok.
Dan tanpa sadar, hampir lupa melakukan kebiasaan yang selalu diajarkan keluarganya sejak kecil: Ketika hati gelisah... jangan berlari lebih dulu kepada ketakutan. Berlarilah lebih dulu kepada Allah. Kalimat itu datang pelan di dalam hati Abdullah. Bukan seperti nasihat baru. Bukan pula seperti sesuatu yang belum pernah ia dengar. Justru sebaliknya. Ia terasa seperti sesuatu yang sangat lama dikenalnya, namun sejak pagi tertutup oleh terlalu banyak suara: • peta, • pasar, • jalur, • dan ketakutan manusia. Ketika hati gelisah... jangan berlari lebih dulu kepada ketakutan. Berlarilah lebih dulu kepada Allah. Itu bukan sekadar kebiasaan keluarga mereka. Itu cara hidup. Cara yang diwariskan turun-temurun: ketika Allah memberi kelapangan, maka perbanyak syukur dan sedekah. Dan ketika kesulitan datang, maka perbanyak: • Qur'an, • shalat, • dzikir, • dan meminta petunjuk. Karena manusia sering mengira ketenangan berada di luar dirinya: di kota, di harta, di tempat aman, atau di jauhnya perjalanan. Padahal sering kali, Allah meletakkan ketenangan pertama di dalam dada.
Abdullah mengangkat wajah perlahan. Matahari mulai bergerak turun. Cahaya siang yang tadi tajam kini berubah lebih lembut. Bayangan pohon kurma memanjang ke halaman. Beberapa burung kecil melintas rendah di atas atap rumah. Sedangkan dari kejauhan, suara orang-orang mulai terdengar pulang dari pasar. Hari bergerak menuju sore. Dan tanpa terasa, Abdullah baru menyadari betapa panjang hari itu. Seolah sejak subuh, ia sudah hidup selama beberapa hari. Maryam sedang merapikan nampan. Fatimah kini duduk memeluk kambing kecil itu sambil berbicara pelan seolah hewan itu memahami semua perkataannya. Sedangkan Iskandar masih berusaha meyakinkan Harits: “Kalau besok dilatih lagi, dia pasti mengerti.” Harits mengangguk dengan wajah sangat serius. “Benar.” Iskandar tampak senang. Lalu Harits melanjutkan: “Tiga atau empat tahun lagi mungkin.” “Harits!” Halaman kembali dipenuhi tawa. Namun kali ini Abdullah ikut tertawa kecil lebih lama.
Karena untuk pertama kalinya hari itu, sesuatu terasa mulai kembali ke tempatnya. Masalah belum hilang. Basrah belum hilang. Keresahan belum hilang. Tetapi hatinya tidak lagi berdiri sendirian di hadapan semua itu. Lalu ia memandang langit yang mulai bergerak menuju sore, dan berkata pelan: “Menjelang maghrib nanti...” Harits menoleh. Maryam juga mengangkat wajah. Abdullah melanjutkan: “Aku ingin pergi ke masjid.” Sesudah kalimat itu, halaman menjadi tenang beberapa saat. Bukan karena aneh. Karena Abdullah memang sering pergi ke masjid. Bukan pula karena mengejutkan. Karena sejak dahulu, ketika pikirannya penuh, ia memang lebih banyak diam, lebih banyak membaca, dan lebih lama duduk di rumah Allah. Namun Maryam memahami sesuatu: Kalimat tadi bukan tentang pergi ke masjid. Kalimat itu tentang hati Abdullah. Tentang seorang lelaki yang sejak pagi memikul terlalu banyak hal sendirian, dan sekarang mulai mencari tempat untuk menurunkan sebagian bebannya.
Maryam tidak bertanya. Ia hanya mengangguk pelan. “Baik.” Satu kata. Pendek. Tetapi Abdullah memahami seluruh isi yang tidak diucapkan: Aku mengerti. Pergilah. Tenangkan hatimu. Di belakang mereka, Iskandar yang sejak tadi sibuk dengan kambing kecil menoleh cepat. “Aku ikut!” Fatimah ikut mengangkat kepala. “Aku juga.” Harits langsung mendengus kecil. “Kalian bahkan belum tahu untuk apa beliau pergi.” Iskandar tampak bingung. “Ke masjid.” “Dan?” Anak itu diam. Fatimah juga diam. Lalu Iskandar menjawab dengan keyakinan penuh: “Dan... berjalan.” Harits memejamkan mata. “Aku menyerah.” Maryam menahan senyum. Sedangkan Abdullah mengusap kepala Iskandar perlahan. “Bukan sekarang.” Wajah anak itu langsung sedikit turun. “Kenapa?” Abdullah memandangnya beberapa saat. Lalu menjawab pelan: “Karena ada waktu ketika manusia pergi untuk berbicara.” Ia berhenti sejenak. Lalu jemarinya mengetuk pelan dada anaknya. “Dan ada waktu ketika manusia pergi untuk mendengarkan isi hatinya sendiri.” Iskandar tampak tidak benar-benar memahami. Matanya berkedip beberapa kali. Lalu menoleh kepada Harits. “Apa maksudnya?” Harits memandang Abdullah. Lalu memandang Iskandar. Kemudian menjawab sangat tenang: “Artinya ayahmu sedang memikirkan terlalu banyak hal.” Sunyi. Lalu Iskandar mengangguk pelan. Sangat pelan. Kemudian anak itu mendekat, bersandar kecil ke lengan Abdullah, dan berkata: “Kalau begitu nanti pulang sebelum malam.” Dan entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa lebih berat daripada pembicaraan tentang Basrah sekalipun.
Kalimat Iskandar membuat Abdullah diam. Bukan karena tidak tahu harus menjawab. Tetapi karena beberapa kata sederhana dari anak kecil kadang datang tepat mengenai bagian hati yang sedang paling rapuh. Nanti pulang sebelum malam. Pagi tadi, ketika melihat anak-anak berlari di dekat masjid, kalimat serupa sempat terlintas di kepalanya. Dan sekarang Iskandar mengucapkannya tanpa mengetahui apa pun tentang isi pikirannya. Abdullah memandang wajah anaknya. Wajah kecil yang belum mengenal: • fitnah, • perpindahan, • ketakutan orang dewasa, • ataupun dunia yang berubah diam-diam. Yang ia tahu hanya: Ayah pergi. Lalu ayah pulang. Dan dunia terasa baik-baik saja. Abdullah mengusap rambut Iskandar perlahan. “InsyaAllah.” Jawabannya pendek. Namun kali ini ia mengucapkannya lebih pelan daripada biasanya.
Harits yang duduk di dekat pagar memandang Abdullah sekilas. Lelaki Badui itu tidak berkata apa-apa. Tetapi matanya memahami sesuatu. Sejak pagi, Abdullah berkali-kali memikirkan: • jalan, • perpindahan, • dan masa depan. Namun anak kecil tadi, hanya mengingatkannya tentang pulang. Dan mungkin itulah yang sering dilupakan manusia ketika terlalu lama memikirkan hari esok. Bahwa alasan mereka takut sebenarnya bukan perjalanan. Bukan pula kota baru. Melainkan karena ada tempat yang selalu ingin mereka datangi kembali. Sore bergerak perlahan. Langit mulai berubah warna. Cahaya keemasan jatuh miring ke dinding rumah dan pagar kandang. Pekerja rumah mulai menyelesaikan urusan hari itu: • menutup tempat pakan, • memeriksa tali tambatan, • dan membawa ember air terakhir. Dari dapur, aroma masakan untuk malam mulai tercium. Sedangkan dari kejauhan, suara pasar mulai berkurang sedikit demi sedikit.
Madinah perlahan bergerak menuju petang. Abdullah berdiri. Gerakannya pelan. Lalu tanpa sadar, matanya kembali menyapu: • halaman, • rumah, • kandang, • Maryam, • Fatimah, • dan Iskandar. Sekali lagi. Lama. Seolah sedang menyimpan semuanya di dalam hati. Maryam memperhatikannya diam-diam. Dan untuk pertama kalinya sejak siang, sebuah perasaan kecil muncul di dadanya: Seolah suaminya sedang memandang rumah mereka dengan cara yang berbeda. Maryam memperhatikan Abdullah diam-diam. Sudah bertahun-tahun ia hidup bersama lelaki itu. Cukup lama untuk mengenali perubahan-perubahan kecil yang mungkin tidak terlihat bagi orang lain. Cara Abdullah diam. Cara ia mengusap janggut ketika sedang berpikir. Cara matanya memandang jauh ketika ada sesuatu yang belum selesai di dalam pikirannya. Dan sekarang... cara ia memandang rumah. Bukan seperti manusia yang hendak pergi. Tetapi seperti seseorang yang baru menyadari betapa besar rasa cintanya terhadap sesuatu yang selama ini hadir setiap hari.
Di dekat kandang, Fatimah sedang berbisik kepada kambing kecil itu. Sedangkan Iskandar mulai sibuk menunjukkan kepada Harits seutas tali baru yang menurutnya lebih baik untuk "melatih" hewan. Suara mereka bercampur: • tawa, • langkah kecil, • dan sesekali suara hewan. Maryam berjalan mendekat beberapa langkah. Lalu berdiri di samping Abdullah. Tidak berkata apa-apa lebih dulu. Keduanya hanya memandang halaman. Memandang rumah yang sedang dipenuhi kehidupan. Beberapa saat kemudian Maryam bertanya pelan: “Apa yang kaupikirkan?” Abdullah tersenyum samar. “Banyak.” Maryam menunggu. Lalu Abdullah menarik napas pelan. “Aku baru menyadari...” matanya tetap ke depan, “selama ini aku terlalu sering mengira semua ini akan selalu ada.” Angin sore bergerak melewati halaman. Membawa aroma: • roti, • tanah, • jerami, • dan rumah. Maryam tidak menoleh. Namun perlahan sorot matanya berubah. Karena ia memahami kalimat itu. Terlalu memahami. Abdullah melanjutkan: “Rumah.” Ia memandang pagar kecil dekat kandang. “Anak-anak.” Matanya bergerak ke arah Iskandar. “Suara mereka.” Lalu kepada Fatimah. “Kegaduhan kecil.” Kemudian ke arah dapur. “Dan kehidupan seperti ini.” Ia diam sesaat. Lalu berkata lebih pelan: “Manusia hidup terlalu lama bersama nikmat...” suaranya nyaris seperti berbicara kepada dirinya sendiri, “sampai kadang lupa mensyukurinya sebelum takut kehilangannya.”
Kesunyian turun. Namun bukan kesunyian yang berat. Melainkan kesunyian dua manusia yang sedang memandang kehidupan mereka sendiri dari jarak yang berbeda. Lalu dari belakang terdengar suara Harits: “Iskandar!” “Apa?” “Kambingmu sedang makan tali latihanmu.” Sunyi. Lalu: “APA?!” Dan sore itu kembali dipenuhi suara langkah kaki kecil yang berlari panik. Iskandar berlari seperti anak panah kecil. “Jangan!” Fatimah ikut berlari di belakangnya. “Jangan makan itu!” Sedangkan kambing kecil tadi justru melompat mundur sambil membawa ujung tali di mulutnya. Harits berdiri sambil melipat kedua tangan di dada. Wajahnya datar. Terlalu datar. Wajah manusia yang sedang menikmati kekacauan kecil tanpa ingin terlihat menikmatinya. “Aku sudah memperingatkan kalian.” Iskandar berhenti. Menatap kambing. Menatap tali. Lalu menatap Harits. “Kenapa engkau tidak menghentikannya?” Harits mengangkat alis. “Aku ingin melihat pelatihan besar ini sampai selesai.” Fatimah memeluk kambing itu cepat sebelum tali habis benar-benar. “Jangan marahi dia.” “Aku tidak marah.” “Wajahmu marah.” “Aku tidak marah.” “Sedikit.” Abdullah akhirnya tertawa kecil. Dan Maryam menutup mulutnya sambil menahan senyum. Untuk beberapa saat, seluruh rumah kembali tenggelam dalam kehidupan kecil mereka: • langkah kaki, • suara hewan, • tawa, • dan kegaduhan yang tidak pernah direncanakan.
Matahari terus turun perlahan. Cahaya keemasan kini memenuhi halaman rumah. Bayangan pohon kurma membentang panjang. Angin petang mulai lebih dingin. Dari kejauhan, Madinah pun mulai berubah. Suara pasar semakin mereda. Sebagian orang mulai kembali ke rumah mereka. Para penggembala menggiring ternak. Dan suara kehidupan siang perlahan berganti menjadi suasana petang. Abdullah memandang langit beberapa saat. Lalu ke arah masjid yang atapnya tampak samar dari kejauhan. Di sana. Di tempat itu. Sejak dahulu, ketika: • hati terasa sempit, • pikiran terlalu penuh, • atau dunia terasa terlalu bising, selalu ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Bukan karena bangunannya. Bukan karena dindingnya. Melainkan karena di sana, manusia mengingat sesuatu yang jauh lebih besar daripada ketakutannya sendiri.
Abdullah menarik napas perlahan. Lalu menoleh kepada Maryam. Maryam memahami sebelum ia berbicara. Ia hanya mengangguk kecil. “Pergilah.” Satu kata. Pendek. Tetapi cukup. Karena kadang manusia tidak membutuhkan banyak kalimat dari rumahnya. Mereka hanya perlu tahu: ada tempat yang menunggu mereka pulang. Abdullah berdiri beberapa saat tanpa bergerak. Matanya memandang: • Maryam, • Iskandar, • Fatimah, • Harits, • kandang, • dan halaman kecil yang sepanjang hari dipenuhi suara kehidupan. Lama. Sangat lama. Seolah sedang menyimpan semuanya ke tempat yang lebih dalam daripada ingatan. Lalu Iskandar menoleh. “Ayah.” Abdullah mengangkat wajah. “Hm?” Anak itu berdiri sambil membawa sisa tali yang tadi hampir habis dimakan kambing. “Kalau nanti pulang...” wajahnya sangat serius, “lihat hasil latihannya.” Harits langsung menutup wajah dengan telapak tangan. “Dia belum menyerah.” Fatimah cepat membela: “Dia sudah lebih baik.” “Lebih baik dalam memakan tali.” “Harits!” Tawa kecil kembali pecah. Dan Abdullah tersenyum. Benar-benar tersenyum. Lalu ia mendekat kepada Iskandar. Berjongkok. Merapikan ujung kain anaknya yang sejak tadi berantakan karena terlalu banyak berlari. “Baik.” Lalu kepada Fatimah: “Dan jangan biarkan kambingmu menguasai rumah sebelum aku kembali.” Fatimah langsung mengangguk cepat. Sangat cepat. Seolah menerima amanah besar. Abdullah tersenyum kecil. Kemudian berdiri kembali.
Harits ikut berdiri. “Aku ikut mengantar.” Abdullah menoleh. Harits mengangkat bahu kecil. “Aku tidak ingin kambing itu menyusun siasat lain selama perjalananmu.” Fatimah langsung memeluk kambing lebih erat. “Dia bukan pencuri.” “Belum.” Mereka kembali tertawa. Lalu Abdullah melangkah menuju pintu halaman. Satu langkah. Dua langkah. Kemudian tanpa sadar, ia menoleh sekali lagi. Maryam masih berdiri di tempat yang sama. Memandangnya. Tidak melambaikan tangan. Tidak berkata apa-apa. Namun sorot matanya mengatakan sesuatu yang jauh lebih tenang: Pulanglah. Kami di sini. Dan entah mengapa, tepat sebelum keluar dari halaman rumah itu, Abdullah kembali teringat perkataan Salman: "Anak-anak membuat manusia takut kehilangan rumah." Dulu ia mengira itu sekadar kalimat seorang lelaki tua. Sekarang... ia mulai mengerti sepenuhnya.
English Version Notice
English Translation Coming Soon
We deeply regret that this epic chapter is not yet available in English. We kindly ask for your patience. The English version will be published shortly.
Please stay tuned for our official updates on Facebook, Instagram, X, TikTok, and LinkedIn.