Panembahan Wonokromo
Bab 008 — Rumah-Rumah yang Mulai Berhitung
Rabiul Awal 40 H / 661 M — Ketika setiap rumah mulai menghitung apa yang sanggup dibawa dan apa yang harus ditinggalkan.
BAGIAN 1 — Fajar di Rumah Penjaga Mata Air
Fajar belum benar-benar memutihkan langit Madinah ketika ayam-ayam pertama mulai berkokok dari halaman-halaman belakang rumah. Udara masih menyimpan dingin malam yang turun dari padang Hijaz. Di atas pucuk-pucuk kurma, bintang-bintang belum seluruhnya menghilang. Hanya di ufuk timur tampak seberkas cahaya pucat yang perlahan mengusir gelap. Dari kejauhan, sebelum azan Subuh berkumandang, terdengar suara timba kayu beradu dengan bibir sumur. Seorang perempuan sedang mengambil air untuk keluarganya, sementara angin membawa harum tanah yang semalam disentuh embun tipis. Rumah Hilal bin Rasyid telah terjaga lebih awal daripada rumah-rumah lain di lorong itu. Hilal duduk bersila di beranda tanah yang menghadap kebun kurma kecil miliknya. Di hadapannya terbentang beberapa perkakas sederhana: seutas tali rami yang telah berkali-kali diperbaiki, sepotong kayu penanda kedalaman sumur, dan kantung kulit berisi batu-batu kecil yang biasa dipakainya ketika menaksir keadaan tanah. Semua benda itu telah menemaninya bertahun-tahun, jauh sebelum orang-orang mengenalnya sebagai pencari mata air terbaik di Madinah.
Tangannya yang kasar membelai batang kayu itu perlahan. Bukan karena kayu itu berharga. Melainkan karena di setiap guratan permukaannya tersimpan perjalanan panjang yang pernah ia tempuh bersama ayahnya menyusuri padang-padang Hijaz. Langkah kaki kecil terdengar mendekat dari ruang dalam. “Ayah...” Suara itu masih berat oleh kantuk. Hilal menoleh sambil tersenyum tipis. Rafi’ berdiri di ambang pintu dengan jubah yang belum benar-benar rapi. Rambutnya masih sedikit acak-acakan, tetapi matanya telah terbuka penuh. “Engkau terbangun lebih awal daripada biasanya.” Rafi’ duduk di samping ayahnya tanpa banyak bicara. Beberapa saat keduanya hanya memandang langit yang perlahan berubah warna.
“Ayah tidak tidur?” tanya Rafi’ lirih. Hilal menghela napas panjang. “Sudah.” “Lalu mengapa sudah berada di luar?” Hilal tidak segera menjawab. Jemarinya masih memutar-mutar tali rami yang berada di pangkuannya. “Ada kalanya seseorang tidak dibangunkan oleh suara manusia.” “Lalu oleh apa?” “Oleh pikirannya sendiri.” Kesunyian kembali turun. Dari arah Masjid Nabawi, suara seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an mulai terdengar terbawa angin. Bacaan itu lirih, tetapi cukup jelas untuk memenuhi fajar yang masih muda. Rafi’ memandang wajah ayahnya cukup lama. “Apakah Ayah sedang memikirkan Basrah?” Hilal mengangguk perlahan. “Bukan hanya Basrah.” “Lalu?” “Semua mata air yang belum pernah kulihat.” Rafi’ mengernyit. Hilal mengambil sebutir batu kecil dari kantung kulitnya lalu meletakkannya di atas tanah. “Manusia yang hidup di padang tidak pernah bertanya di mana jalan berakhir.” Beliau mengambil batu kedua. “Ia lebih dahulu bertanya...” “...di mana air berikutnya dapat ditemukan.” Rafi’ memperhatikan setiap gerakan ayahnya. “Bila seseorang salah memperkirakan satu sumur saja,” lanjut Hilal pelan, “maka seekor unta dapat tumbang.”
Beliau mengambil batu ketiga. “Bila dua sumur ternyata telah kering...” “...maka sebuah keluarga dapat kehilangan harapan.” Angin kembali bergerak perlahan melewati pelepah-pelepah kurma. Rafi’ baru menyadari bahwa selama ini ia hanya memandang perjalanan sebagai jauhnya jalan. Ayahnya memandang perjalanan dengan cara yang berbeda. Beliau memandangnya melalui air. Melalui tanah. Melalui bau angin. Melalui warna dedaunan. Melalui jejak-jejak burung yang berputar di langit. “Itulah sebabnya,” ujar Hilal sambil memandang ufuk timur, “Allah menjadikan bumi penuh dengan tanda-tanda bagi orang yang mau memperhatikannya.” Belum sempat Rafi’ menjawab, pintu rumah kembali terbuka perlahan. Hafsah keluar sambil membawa dua mangkuk kecil berisi susu hangat yang baru diperah sebelum fajar.
Ia tidak langsung berbicara. Ia hanya meletakkan kedua mangkuk itu di hadapan suami dan putranya. “Udara masih dingin.” Hilal mengangguk. “Semoga Allah membalas kebaikanmu.” Hafsah duduk di sisi lain beranda. Matanya mengikuti arah pandang kedua lelaki itu menuju langit timur yang mulai memucat. “Aku mendengar Lubna menangis semalam.” Hilal menoleh perlahan. “Karena apa?” “Dia bermimpi rumah ini kosong.” Tidak ada yang segera menjawab. Suara ayam kembali terdengar dari kejauhan. Disusul embikan kambing yang mulai meminta dilepaskan dari kandang. Hafsah menundukkan wajah. “Anak-anak mulai mendengar pembicaraan orang dewasa.” Hilal mengusap janggutnya perlahan. “Kita memang telah terlalu banyak berbicara tentang pergi.” “Bukankah itu memang sedang terjadi?” “Belum.” “Tetapi akan terjadi.” Hilal memandang istrinya cukup lama. Tatapan mereka bertemu dalam keheningan yang tidak memerlukan banyak kata. Mereka sama-sama mengetahui bahwa pembicaraan di rumah Syekh Umar beberapa hari terakhir bukan lagi sekadar dugaan.
Perlahan-lahan, ia sedang berubah menjadi jalan hidup yang tidak dapat dihindari. Tepat ketika cahaya pertama matahari mulai muncul di balik ufuk timur dan azan Subuh berkumandang dari Masjid Nabawi, Hilal bangkit berdiri. Beliau memandang kebun kurma kecil di samping rumahnya. Setiap batang kurma itu pernah ditanam dengan tangannya sendiri. Setiap saluran air pernah digalinya sendiri. Setiap batu yang menjadi batas kebun pernah dipikulnya bersama Rafi’ ketika putranya masih jauh lebih kecil. Untuk pertama kalinya sejak lahir di Madinah, sebuah pertanyaan yang selama ini tidak pernah berani muncul akhirnya tumbuh di dalam hatinya.
“Apakah semua ini benar-benar akan kutinggalkan demi menjaga agama, keluarga, dan generasi yang akan datang?” Dan fajar Rabiul Awal itu tidak memberikan jawaban. Ia hanya terus memancarkan cahaya perlahan ke atas kota Nabi yang sedang bersiap menghadapi hari baru. Mereka bertiga berjalan menuju Masjid Nabawi ketika cahaya matahari belum lebih tinggi daripada ujung tombak yang ditancapkan di atas tanah. Lorong-lorong Madinah mulai dipenuhi manusia yang keluar dari rumah masing-masing dengan langkah tenang. Sebagian membawa kendi untuk mengambil air, sebagian lagi menggiring kambing menuju padang rumput di luar kota, sedangkan para pedagang telah membuka pintu-pintu kayu kedai mereka meski belum seluruh barang dagangan dikeluarkan.
Hilal berjalan paling depan. Langkahnya tidak tergesa, tetapi juga tidak lamban. Ia mengenal hampir setiap batu yang mereka pijak, setiap pohon kurma yang tumbuh di sepanjang lorong, bahkan setiap dinding rumah yang telah beberapa kali diperbaiki pemiliknya selama bertahun-tahun. “Assalamu’alaikum, wahai Hilal.” Suara tua itu datang dari halaman sebuah rumah sederhana. Seorang lelaki sepuh sedang menyapu daun-daun kurma yang berguguran semalam. Janggutnya telah memutih seluruhnya, sedangkan punggungnya mulai membungkuk dimakan usia. “Wa’alaikumussalam wa rahmatullah.” Hilal menghampirinya beberapa langkah. “Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai Abu Malik?” Lelaki tua itu tersenyum tipis. “Selama Allah masih mengizinkan kakiku berjalan menuju masjid, aku masih memiliki banyak nikmat.” Hilal menganggukkan kepala dengan penuh hormat. Percakapan mereka hanya berlangsung sesaat. Namun Rafi’ memperhatikan bagaimana ayahnya selalu berhenti untuk menyapa orang-orang yang lebih tua, seolah waktu tidak pernah terlalu sempit untuk menunjukkan adab kepada mereka yang lebih dahulu hidup.
Setelah berpamitan, mereka kembali berjalan. Beberapa langkah kemudian Hafsah memperlambat langkahnya hingga sejajar dengan putranya. “Rafi’.” “Ya, Ibu.” “Kelak apabila engkau telah menjadi kepala keluarga...” Rafi’ menoleh. “...jangan hanya dikenal sebagai orang yang pandai bekerja.” Pemuda itu menunggu kelanjutan kalimat ibunya. “Berusahalah agar manusia juga mengenalmu sebagai orang yang menjaga silaturahim.” Rafi’ mengangguk perlahan. Nasihat itu sederhana. Namun pagi itu ia menyimpannya dalam-dalam di dalam hati. Sesudah shalat Subuh, sebagaimana kebiasaan yang telah berlangsung sejak masa Rasulullah ﷺ, sebagian jamaah tidak segera meninggalkan masjid. Mereka duduk membentuk kelompok-kelompok kecil. Ada yang membaca Al-Qur’an. Ada yang berzikir. Ada pula yang saling bertukar kabar mengenai keluarga, perdagangan, ataupun keadaan kebun mereka. Hilal duduk bersandar pada salah satu tiang masjid. Tidak jauh darinya tampak Qasim bin Thauban sedang berbicara pelan dengan Salman al-Katib. Di sisi lain, Samir bin Wahhab tampak memperhatikan dua orang saudagar yang baru datang dari arah utara. Wajahnya tenang, tetapi matanya tidak pernah berhenti membaca gerak-gerik manusia di sekitarnya.
Rafi’ duduk bersama beberapa pemuda seusianya. Di antara mereka terdapat Amr, putra Qasim. Keduanya telah berteman sejak masih belajar membaca Al-Qur’an kepada Syekh Umar. “Semalam ayahku tidak tidur.” Amr membuka percakapan sambil memandangi lantai masjid. “Begitu pula ayahku.” Keduanya tersenyum tipis. Senyum yang lahir bukan karena gembira, melainkan karena mereka mulai menyadari bahwa kegelisahan sedang mengunjungi hampir setiap rumah. Amr merendahkan suaranya. “Aku melihat ayah menyimpan beberapa gulungan tulisan ke dalam peti kayu.” “Tulisan apa?” “Aku tidak tahu.” “Engkau tidak bertanya?” Amr menggeleng. “Ayah hanya berkata, ada tulisan yang lebih baik dibawa jauh daripada jatuh ke tangan orang yang tidak amanah.”
Rafi’ terdiam. Kalimat itu terus terngiang di telinganya. Ia baru memahami bahwa yang sedang dipersiapkan orang-orang tua bukan sekadar bekal makanan. Ada ilmu. Ada catatan. Ada amanah. Ada warisan yang tidak boleh hilang. Sementara itu, beberapa langkah dari mereka, Hilal melihat Syekh Umar berjalan perlahan keluar dari serambi masjid. Usia yang telah lanjut membuat langkah beliau semakin pendek, namun wajahnya tetap memancarkan ketenangan yang tidak mudah terusik. Beliau berhenti sejenak ketika melihat Hilal. “Bagaimana keadaan rumahmu?” “Segala puji bagi Allah, masih berada dalam penjagaan-Nya.” Syekh Umar mengangguk. “Lalu anak-anak?” Hilal melirik Rafi’ yang sedang berbincang dengan Amr. “Mereka mulai banyak bertanya.” “Itu pertanda baik.” Hilal tampak sedikit heran. “Bukankah pertanyaan mereka lahir karena ketakutan?” Syekh Umar tersenyum lembut. “Seorang anak yang bertanya sedang belajar memahami dunia.” Beliau berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Yang berbahaya adalah anak yang berhenti bertanya.” Hilal menundukkan kepala. Nasihat itu terasa sederhana. Namun ia mengetahui bahwa Syekh Umar tidak pernah mengucapkan sesuatu tanpa hikmah. Belum lama mereka berbincang, terdengar suara langkah cepat dari halaman masjid. Seorang musafir yang tubuhnya masih dipenuhi debu perjalanan memberi salam kepada beberapa jamaah. Ia membawa kantung kulit kecil di pundaknya. Sandalnya telah aus. Jubahnya memperlihatkan bekas-bekas perjalanan yang panjang. Beberapa orang segera mempersilahkannya duduk. Samir bin Wahhab memperhatikan lelaki itu dengan saksama. Naluri seorang saudagar mengatakan bahwa musafir tersebut baru saja menempuh perjalanan jauh. Mungkin dari arah timur. Mungkin pula dari jalur menuju Basrah. Namun Samir tidak tergesa-gesa bertanya. Ia memilih menunggu lelaki itu meminum air terlebih dahulu. Karena ia mengetahui satu kebiasaan para musafir: berita yang paling jujur sering keluar setelah dahaga mereka hilang, bukan ketika napas mereka masih memburu.
Dan tanpa disadari oleh siapa pun yang duduk di serambi Masjid Nabawi pagi itu, kabar yang dibawa musafir tersebut kelak akan menjadi salah satu batu pertama yang mengubah perjalanan seluruh keluarga menuju timur. Matahari telah naik setinggi tombak ketika jamaah yang masih bertahan di Masjid Nabawi mulai berangsur meninggalkan serambi. Cahaya pagi menerobos di antara batang-batang kurma yang tumbuh di halaman masjid, membentuk bayang-bayang panjang di atas tanah yang masih menyimpan sisa kesejukan malam. Burung-burung pipit beterbangan rendah, mematuki butiran gandum yang tercecer di sudut pelataran, sementara beberapa anak kecil duduk mengelilingi seorang lelaki tua yang sedang mengajarkan huruf-huruf Al-Qur’an dengan sepotong pelepah kurma sebagai penunjuk.
Syekh Umar belum beranjak dari tempat duduknya. Beliau memandang para jamaah yang satu demi satu berpamitan. Tidak sedikit di antara mereka yang sengaja mendekat hanya untuk mencium tangan ulama sepuh itu sebelum kembali kepada pekerjaan masing-masing. Wajah beliau tetap tenang, namun kedua matanya memperlihatkan seseorang yang sedang memikul beban yang tidak dibagikan kepada banyak orang. Di sisi kanan serambi, Abdullah bin Yusuf tampak berbincang dengan Bilal bin Harits dan Umar bin Jundab. Percakapan mereka berlangsung pelan agar tidak mengganggu orang-orang yang masih berzikir. Sesekali Bilal menunjuk ke arah jalan utama yang menuju pasar, sementara Umar menganggukkan kepala sambil mengusap janggutnya. Abdullah lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Tatapannya beberapa kali beralih kepada rombongan musafir yang baru tiba, seakan berusaha membaca arah perjalanan mereka dari debu yang masih melekat pada pakaian dan pelana unta.
Tidak jauh dari mereka, Samir bin Wahhab telah lebih dahulu menghampiri musafir yang datang dari arah timur. Sebagai saudagar, ia terbiasa mengenali manusia dari cara mereka membawa barang dan memelihara hewan tunggangan. Ia tidak menanyakan tujuan mereka lebih dahulu, melainkan mempersilakan mereka meminum air dan mengusap debu perjalanan dari wajah. Barulah setelah napas para musafir mulai teratur, Samir duduk bersila di hadapan mereka. “Semoga Allah memudahkan perjalanan kalian. Dari jalan manakah kalian datang?” Salah seorang musafir yang usianya tidak jauh berbeda dengan Samir mengangkat wajahnya perlahan. “Dari Basrah.” Samir mengangguk pelan, seolah jawaban itu telah diduganya sejak awal. “Bagaimana keadaan negeri itu?” Musafir tersebut tidak segera menjawab. Ia memandang sekeliling lebih dahulu, memastikan tidak ada telinga yang terlalu dekat. Sikap seperti itu kini semakin sering terlihat sejak kabar dari Kufah sampai ke Madinah.
“Basrah masih hidup sebagaimana biasanya,” katanya lirih, “tetapi setiap orang merasa sedang menunggu sesuatu.” “Menunggu apa?” “Lelaki yang bijaksana menunggu kepastian.” Ia berhenti sejenak. “Sedangkan orang-orang yang tamak menunggu kesempatan.” Samir terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk menggambarkan keadaan sebuah kota tanpa perlu panjang lebar. Di sisi lain pelataran, Rafi’ dan Amr masih duduk berdekatan. Keduanya memperhatikan para lelaki dewasa yang berbicara dalam kelompok-kelompok kecil. “Aku baru menyadari sesuatu,” bisik Rafi’. “Apa?” “Sejak beberapa hari terakhir, orang-orang tidak lagi berbicara sambil tertawa.” Amr mengikuti arah pandangan sahabatnya. Memang benar. Percakapan masih berlangsung di mana-mana, tetapi tawa yang dahulu mudah terdengar kini seakan enggan muncul. Bahkan ketika seseorang tersenyum, senyum itu hanya singgah sebentar sebelum kembali hilang ditelan kegelisahan.
Beberapa langkah dari mereka, Qasim bin Thauban menggulung selembar kulit tulis yang baru saja diperiksanya. Gulungan itu kemudian dimasukkan ke dalam kantung kain yang selalu dibawanya. Abdullah yang melihat dari kejauhan menghampiri sahabatnya dengan langkah tenang. “Apakah masih banyak yang harus engkau salin?” Qasim tersenyum tipis. “Tidak sebanyak yang harus kujaga.” Abdullah memahami maksud sahabatnya tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. Tulisan-tulisan itu bukan sekadar lembaran kulit. Sebagian berisi catatan ilmu. Sebagian lagi silsilah keluarga. Ada pula surat-surat lama yang menjadi saksi hubungan persaudaraan di antara kaum Muslimin. Apabila semua itu jatuh ke tangan orang yang zalim, bukan hanya tinta yang akan dibaca, melainkan juga nama-nama yang tertulis di dalamnya.
Syekh Umar memandang para murid dan sahabatnya dari kejauhan. Di hadapan beliau tidak lagi tampak orang-orang yang berjalan sendiri-sendiri. Yang beliau lihat adalah sekelompok keluarga yang perlahan sedang dipersiapkan oleh Allah menuju perjalanan yang belum mereka ketahui ujungnya. Sebagian di antara mereka pandai mencari mata air. Sebagian mahir berdagang. Sebagian menjaga ilmu dengan tulisan. Sebagian membentuk kayu menjadi peralatan yang berguna. Sebagian lagi menyiapkan kulit dan wadah untuk bekal perjalanan. Mereka berasal dari pekerjaan yang berbeda-beda, tetapi kelak, semua kemampuan itu akan saling menguatkan. Syekh Umar menundukkan kepala seraya beristighfar dalam hati. Beliau mulai melihat hikmah yang belum sepenuhnya dipahami oleh murid-muridnya. Mungkin Allah tidak sedang memerintahkan beberapa orang meninggalkan Madinah. Mungkin Allah sedang mempersiapkan sebuah jamaah yang suatu hari akan menanamkan benih peradaban di negeri yang belum pernah mereka lihat.
Dan pagi di Rabiul Awal itu terus berjalan menuju waktu dhuha, sementara matahari perlahan meninggi di atas langit Madinah, menyinari sebuah kota yang belum mengetahui bahwa beberapa keluarga terbaiknya sedang memasuki lembaran baru dalam perjalanan sejarah. Matahari terus merangkak naik. Bayang-bayang tiang-tiang Masjid Nabawi yang semula memanjang ke arah barat kini mulai memendek sedikit demi sedikit. Udara pagi yang semula sejuk mulai kehilangan dinginnya. Burung-burung pipit meninggalkan pelataran masjid menuju kebun-kebun kurma di pinggir kota, sementara para pedagang yang telah selesai menunaikan shalat mulai membuka tikar dan peti dagangan mereka di sepanjang jalan menuju pasar.
Syekh Umar perlahan bangkit dari tempat duduknya. Beliau tidak segera meninggalkan masjid. Kebiasaan itu telah lama dikenal oleh para muridnya. Seusai shalat Subuh, beliau sering berjalan perlahan mengelilingi pelataran, menyapa orang-orang yang datang meminta nasihat atau sekadar mengucapkan salam. “Assalamu’alaikum, wahai Syekh.” Suara itu datang dari Malik bin Atiah yang baru selesai membantu seorang lelaki tua mengikat kembali tali pelana untanya yang terlepas. “Wa’alaikumussalam warahmatullah.” Syekh Umar tersenyum lembut. “Semoga Allah menambah kekuatan pada kedua tanganmu.” Malik menundukkan kepala hormat. “Tangan ini hanya mampu bekerja karena karunia-Nya.” Beberapa langkah di belakang Malik tampak putranya, Umar, sedang membantu adiknya, Khalid, mengangkat gulungan kulit yang akan dibawa pulang. Anak yang lebih kecil itu berkali-kali hampir menjatuhkannya, namun sang kakak tidak menunjukkan rasa kesal. Ia hanya tersenyum sambil memperbaiki letak gulungan di pundak adiknya.
Syekh Umar memperhatikan keduanya cukup lama. “Didiklah mereka dengan kesabaran sebagaimana engkau mengolah kulit itu.” Malik memahami maksud gurunya. Kulit yang baik tidak pernah menjadi baik dalam satu hari. Demikian pula seorang anak. Di sisi lain pelataran, Abdullah, Bilal, Hilal, dan Umar bin Jundab akhirnya berkumpul di bawah naungan sebatang kurma yang telah berusia puluhan tahun. Samir ikut bergabung setelah mengantar para musafir menuju tempat mereka beristirahat. Mereka duduk membentuk lingkaran kecil. Tidak ada seorang pun yang berbicara lebih dahulu. Suara pasar yang mulai hidup terdengar sampai ke halaman masjid. Sesekali terdengar ringkikan keledai. Disusul suara pedagang yang menawarkan kurma musim terakhir. Bilal memecah keheningan. “Aku belum pernah melihat orang-orang pasar saling memandang seperti beberapa hari ini.” Samir menganggukkan kepala. “Para saudagar mulai menyimpan barang yang biasanya mereka jual.” “Apa sebabnya?” “Mereka belum mengetahui hari esok.” Samir mengambil segenggam pasir halus di dekat kakinya. “Butir-butir pasir ini tidak pernah takut kepada angin.” Ia membuka telapak tangannya. Pasir itu jatuh perlahan. “Tetapi manusia...” “...selalu takut kepada kabar yang belum pasti.” Hilal mengusap janggutnya. “Kabar lebih cepat berjalan daripada unta.” “Dan sering kali lebih tajam daripada mata pedang,” sahut Abdullah pelan. Semua mengangguk. Tidak ada yang membantah. Tidak jauh dari mereka, para pemuda mulai meninggalkan halaman masjid. Rafi’ dan Amr berjalan berdampingan. Di belakang mereka menyusul Yasir bin Umar bin Jundab, kemudian Sa’d putra Samir, serta Umar putra Malik.
Mereka telah lama saling mengenal. Sebagian belajar membaca Al-Qur’an bersama. Sebagian pernah menggembala kambing di padang yang sama. Sebagian lain tumbuh besar bermain di lorong-lorong yang sama. Namun pagi itu pembicaraan mereka berbeda daripada biasanya. “Apakah ayahmu juga sering diam?” tanya Yasir. Rafi’ mengangguk. “Beberapa malam terakhir.” “Begitu pula ayahku.” Sa’d memungut sepotong ranting kurma lalu mematahkannya menjadi dua. “Ayahku semakin sering pergi ke pasar sebelum matahari terbit.” “Untuk berdagang?” Sa’d menggeleng. “Katanya untuk mendengar kabar.” Mereka kembali berjalan. Tidak seorang pun menyadari bahwa tanpa sengaja mereka sedang mulai memahami dunia orang-orang dewasa. Dunia yang dipenuhi keputusan-keputusan yang tidak pernah dipikirkan anak-anak sebelumnya. Di rumah-rumah sekitar Masjid Nabawi, para perempuan juga memulai pekerjaan mereka. Maryam binti Salman baru saja selesai menyapu halaman rumah ketika Hafsah binti Malik datang membawa sebuah tempayan kecil.
“Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam.” Keduanya saling tersenyum. Hafsah menyerahkan tempayan itu. “Susu kambing tadi pagi.” Maryam menerimanya dengan penuh syukur. “Semoga Allah membalas kebaikanmu.” “Jangan menyebutnya kebaikan.” Hafsah tersenyum. “Bukankah sejak dahulu kita saling berbagi?” Maryam mengangguk. Keduanya kemudian duduk di bawah bayangan dinding rumah. Tidak lama kemudian datang pula Salma binti Nafi’, disusul Hindun binti Qais yang membawa beberapa lembar kain yang baru selesai dicuci. Percakapan mereka tidak langsung membahas kabar politik ataupun para musafir. Sebagaimana kebiasaan para perempuan Madinah. Mereka lebih dahulu bertanya tentang anak-anak. Tentang gandum. Tentang kambing yang baru beranak. Tentang kebun yang mulai membutuhkan air. Barulah setelah cukup lama, suara Hafsah berubah lebih pelan. “Apakah Maryam...” “...engkau juga mulai menyiapkan kantung-kantung perjalanan?” Maryam tidak segera menjawab. Tatapannya jatuh kepada kedua tangannya sendiri. Beberapa helai benang masih tersangkut pada ujung jarinya. “Aku belum menjahitnya.” Ia berhenti sejenak. “Tetapi kainnya telah kupilih.” Kesunyian turun di antara mereka. Tidak ada satu pun perempuan yang menginginkan hari itu benar-benar datang. Namun sebagai istri para lelaki yang telah dewasa dalam iman, mereka memahami bahwa terkadang sebuah perjalanan tidak dipilih karena disukai.
Melainkan karena itulah jalan yang dibukakan Allah. Angin Rabiul Awal berembus perlahan melewati lorong-lorong Madinah. Matahari telah naik semakin tinggi. Hari baru benar-benar dimulai. Dan tanpa disadari oleh sebagian besar penduduk kota, di beberapa rumah sederhana dekat Masjid Nabawi, para lelaki sedang mengumpulkan keberanian, sementara para perempuan mulai mengumpulkan bekal, untuk perjalanan yang kelak akan mengubah sejarah jauh di sebelah timur lautan.
BAGIAN 2 — Tulisan yang Tidak Boleh Hilang
Matahari telah naik hampir dua tombak ketika kesibukan mulai memenuhi lorong-lorong Madinah. Panasnya belum begitu menyengat, tetapi embun yang sejak fajar masih menempel di ujung-ujung pelepah kurma telah lama menghilang. Para penggembala membawa kambing dan domba menuju padang rumput di luar kota, sementara para penjual roti mulai mengangkat tungku tanah mereka ke bagian depan rumah agar lebih mudah didatangi pembeli. Dari arah pasar terdengar suara beberapa keledai menarik gerobak gandum, bercampur dengan panggilan para saudagar yang menawarkan minyak zaitun, kurma, dan kain tenun dari Syam. Di sebuah rumah sederhana yang letaknya tidak jauh dari Masjid Nabawi, Qasim bin Thauban duduk seorang diri di ruang belakang rumahnya.
Ruangan itu tidak besar. Dindingnya terbuat daripada tanah yang dipadatkan, sedangkan atapnya disusun dari batang-batang kurma yang ditutup anyaman pelepah. Cahaya matahari masuk melalui sebuah celah kecil di bagian atas dinding, cukup untuk menerangi tikar yang terbentang di tengah ruangan. Di hadapannya tersusun beberapa gulungan kulit tulis. Sebagiannya telah berusia bertahun-tahun hingga warnanya berubah menjadi kekuningan. Ada pula yang masih tampak baru, karena belum lama selesai disalin. Beberapa diikat dengan tali kulit yang tipis, sedangkan yang lain hanya digulung dengan hati-hati lalu disimpan di dalam peti kayu kecil yang dibuat oleh Umar bin Jundab beberapa musim yang lalu.
Qasim membuka salah satu gulungan itu perlahan. Tangannya bergerak penuh kehati-hatian, seolah-olah yang sedang disentuhnya bukan sekadar lembaran kulit, melainkan amanah yang dititipkan kepadanya. Di sudut lain ruangan, Salma binti Nafi’ sedang melipat beberapa helai kain. Ia memperhatikan suaminya sejak tadi, namun memilih tidak mengganggu. Ia telah mengenal Qasim sejak masa mudanya. Lelaki itu selalu berubah menjadi sangat pendiam setiap kali berhadapan dengan tulisan. “Aku membuatkan susu hangat.” Qasim mengangkat wajah sambil tersenyum kecil. “Semoga Allah membalas kebaikanmu.” Salma meletakkan mangkuk tanah di samping suaminya. Matanya kemudian jatuh kepada tumpukan gulungan yang memenuhi ruangan. “Engkau sudah memeriksanya sejak selepas Subuh.” “Aku belum selesai.” “Masih banyak?” Qasim menghela napas perlahan. “Bukan banyak atau sedikitnya.” “Lalu?” “Aku sedang memilih.” Salma duduk di hadapan suaminya. “Memilih apa?” Qasim tidak segera menjawab. Ia memandang setiap gulungan itu bergantian sebelum akhirnya berkata lirih, “Apabila suatu hari nanti aku hanya mampu membawa sebagian daripadanya...” “...aku harus mengetahui mana yang tidak boleh hilang.” Kesunyian turun memenuhi ruangan. Salma memahami maksud suaminya. Tidak semua harta berbentuk emas. Tidak semua warisan dapat ditimbang dengan timbangan pasar. Sebagian manusia meninggalkan kebun. Sebagian meninggalkan ternak. Sedangkan suaminya... ...mungkin akan meninggalkan rumah demi menyelamatkan ilmu. Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kecil berlari dari halaman depan. “Abi...” Suara itu milik Amr. Pemuda yang baru beranjak dewasa itu masuk sambil membawa sepotong pelepah kurma yang masih hijau.
“Ayah Hilal memintaku mengantarkan ini.” Qasim menerima pelepah tersebut. Di salah satu sisinya terdapat beberapa guratan pendek yang dibuat menggunakan ujung pisau. Qasim membacanya sekilas. Kemudian ia tersenyum tipis. “Apakah ada kabar?” Amr menggeleng. “Tidak.” “Lalu mengapa Ayah Hilal mengirimkan ini?” “Beliau berkata, Ayah akan memahaminya.” Qasim menganggukkan kepala. Ia memang memahaminya. Guratan-guratan sederhana itu bukan tulisan biasa. Itu adalah tanda yang biasa digunakan oleh beberapa sahabat dekat untuk mengabarkan bahwa mereka akan berkumpul menjelang matahari tergelincir tanpa menarik perhatian orang lain. Qasim memasukkan pelepah itu ke dalam tungku yang apinya hampir padam. Tidak lama kemudian guratan-guratan tersebut berubah menjadi abu. Amr memperhatikan semua itu dengan heran. “Mengapa Ayah membakarnya?” Qasim tersenyum kepada putranya. “Karena pesan yang telah dipahami tidak perlu disimpan lebih lama daripada yang diperlukan.” Anak itu mengangguk, meskipun belum sepenuhnya mengerti. Di luar rumah, terdengar suara Hafsah memanggil Lubna yang sedang membantu Maryam menjemur kain di halaman. Tidak jauh dari sana, Fatimah kecil tertawa ketika seekor anak kambing berlari mengelilingi tempayan air. Suara tawa itu membuat beberapa perempuan tersenyum, seolah-olah untuk sesaat mereka berhasil melupakan kecemasan yang sejak beberapa hari terakhir memenuhi hati mereka.
Qasim menoleh ke arah halaman. Ia memandang anak-anak yang masih bermain tanpa memahami sepenuhnya apa yang sedang dipersiapkan oleh orang-orang dewasa. “Salma...” “Iya?” “Biarkan mereka bermain lebih lama.” “Karena beberapa hari lagi mereka mungkin tidak dapat bermain di lorong ini lagi?” Qasim tidak menjawab. Namun tatapannya telah memberikan jawaban yang cukup. Di kejauhan, dari arah Masjid Nabawi, suara Bilal bin Harits memanggil Abdullah terdengar samar. Keduanya berjalan bersama Hilal dan Samir menuju jalan yang mengarah ke pasar. Di belakang mereka tampak Malik bin Atiah memikul beberapa lembar kulit yang baru selesai dibersihkan, sedangkan Umar bin Jundab membawa sebatang kayu yang akan diolah menjadi peti perjalanan.
Masing-masing kembali kepada pekerjaannya. Masing-masing tampak menjalani hari sebagaimana biasa. Namun di balik pekerjaan yang sama itu, setiap keluarga kini sedang mengerjakan satu pekerjaan lain yang tidak tampak oleh mata kebanyakan orang. Mereka sedang belajar melepaskan diri sedikit demi sedikit dari segala sesuatu yang selama puluhan tahun mereka sebut sebagai rumah. Matahari terus menanjak perlahan di atas langit Madinah. Bayang-bayang dinding rumah yang sejak pagi memanjang ke arah barat kini semakin memendek. Hawa mulai menghangat, meskipun angin yang bertiup dari sela-sela kebun kurma masih membawa kesejukan yang tersisa dari malam. Di sepanjang lorong, para perempuan telah selesai menimba air. Beberapa di antara mereka duduk di depan rumah sambil memilah gandum dan jelai, sedangkan yang lain menjemur kain atau memperbaiki pakaian anak-anak yang mulai robek karena sering dipakai bermain.
Di rumah Qasim, gulungan-gulungan kulit masih terhampar di atas tikar. Amr belum beranjak dari tempatnya. Sejak kecil ia terbiasa melihat ayahnya menulis, tetapi baru kali itu ia memperhatikan setiap lembaran dengan sungguh-sungguh. Di matanya, semua gulungan tampak sama. Namun dari cara Qasim membuka dan menggulungnya kembali dengan sangat hati-hati, ia mengetahui bahwa masing-masing mempunyai nilai yang berbeda. “Abi...” Qasim mengangkat wajah. “Apakah semua ini engkau tulis sendiri?” Qasim tersenyum tipis. “Tidak.” Beliau mengambil satu gulungan yang lebih kecil daripada yang lain. “Sebagian kutulis dengan tanganku.” Beliau lalu menunjuk gulungan lain yang kulitnya tampak lebih tua. “Sebagian lagi kuterima daripada orang-orang saleh sebelum kita.” Amr mendekat. “Apakah semuanya tentang ilmu agama?” Qasim menggeleng perlahan. “Tidak semuanya.” Beliau membuka salah satu lembaran. “Tulisan ini berisi jual beli beberapa musim yang lalu.” Amr tampak heran. “Untuk apa disimpan?” Qasim menatap putranya cukup lama sebelum menjawab. “Supaya manusia tidak saling memakan hak saudaranya.” Beliau mengambil gulungan lain. “Yang ini berisi silsilah beberapa keluarga.” “Untuk apa?” “Supaya anak cucu mereka mengetahui dari mana asal mereka.” Kemudian beliau membuka satu gulungan lagi yang jauh lebih tipis. “Sedangkan ini...” “...berisi beberapa hadis yang pernah kudengar daripada orang-orang yang dapat dipercaya.” Amr mengangguk perlahan. Hari itu ia baru memahami bahwa seorang penulis bukan hanya memindahkan tinta ke atas kulit.
Seorang penulis sedang menjaga ingatan manusia. Di halaman rumah, Salma sedang menampi gandum bersama Maryam yang datang membawa sebuah bakul kecil. “Semoga Allah memberkahimu.” “Dan juga keluargamu.” Maryam duduk di samping Salma. Suara tampian bambu bergerak berirama. Butir-butir gandum yang telah bersih jatuh kembali ke dalam bakul, sedangkan sekamnya diterbangkan angin. Beberapa saat keduanya bekerja tanpa berbicara. Barulah Maryam memecah kesunyian. “Fatimah mulai bertanya mengapa banyak orang dewasa sering berkumpul.” Salma tersenyum kecil. “Zaynab pun demikian.” “Apa jawabanmu?” “Aku berkata bahwa orang-orang sedang saling mendoakan.” Maryam menatap wajah sahabatnya. “Itu bukan jawaban yang keliru.” “Tetapi belum seluruhnya benar.” Maryam mengangguk pelan. Keduanya memahami bahwa anak-anak belum saatnya memikul beban yang sedang memenuhi dada orang-orang dewasa. Biarlah mereka menikmati masa kecilnya beberapa waktu lagi. Tidak jauh dari rumah-rumah mereka, Abdullah bersama Bilal berjalan menyusuri jalan yang menuju pasar. Hilal dan Samir berada beberapa langkah di depan, sedangkan Umar bin Jundab sesekali berhenti menyapa orang-orang yang telah lama dikenalnya.
“Engkau hendak membeli sesuatu?” tanya Bilal. Abdullah menggeleng. “Aku ingin melihat.” “Melihat apa?” “Perubahan.” Bilal memahami maksud sahabatnya. Pasar selalu menjadi tempat pertama yang memperlihatkan perubahan sebuah negeri. Apabila hati manusia mulai dipenuhi ketakutan, pasar akan mengatakannya lebih dahulu. Sesampainya di pasar, mereka melihat beberapa kedai belum seluruhnya dibuka. Seorang saudagar kain tampak hanya menggantung separuh barang dagangannya. Penjual minyak zaitun yang biasanya memenuhi kendi-kendinya sejak pagi kini menyisakan sebagian besar persediaannya di ruang belakang. Samir memperhatikan semua itu dengan saksama. “Apakah engkau melihatnya?” bisiknya. Hilal mengangguk. “Mereka mulai menahan barang.” “Bukan karena dagangan sedikit.” “Tetapi karena mereka tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok.” Abdullah memandang wajah para pedagang satu demi satu. Di antara mereka masih banyak wajah yang dikenalnya sejak kecil. Namun pagi itu percakapan mereka lebih singkat, senyum mereka lebih tipis, dan mata mereka lebih sering memandang ke arah jalan-jalan yang memasuki pasar.
Seakan-akan setiap orang sedang menunggu seseorang yang belum datang. Sementara itu, di rumah Malik bin Atiah, suara ketukan kayu terdengar bersahut-sahutan. Tok... Tok... Tok... Umar, putra sulung Malik, sedang membantu ayahnya membentuk sebuah peti kecil daripada papan-papan kurma yang telah dikeringkan. “Pegang lebih kuat.” “Begini, Ayah?” “Bukan papan itu.” Malik tersenyum. “Pikiranmu.” Umar tertawa kecil. Malik mengambil pasak kayu lalu memasangnya perlahan. “Seorang tukang tidak boleh tergesa.” “Meskipun pekerjaannya banyak?” “Terlebih ketika pekerjaannya banyak.” Beliau memandang peti yang sedang mereka buat. “Kesalahan kecil pada sebuah peti...” “...dapat membuat seluruh isinya rusak ketika dibawa dalam perjalanan.” Kalimat itu terdengar seperti nasihat tentang pekerjaan. Namun Umar mengetahui ayahnya sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih besar. Tentang perjalanan yang mulai sering dibicarakan oleh para lelaki setelah mereka pulang dari majelis Syekh Umar.
Menjelang matahari tergelincir ke arah barat, kota Madinah tetap tampak hidup sebagaimana hari-hari sebelumnya. Anak-anak masih berlari di lorong. Para perempuan masih menumbuk gandum. Pedagang masih memanggil pembeli. Para penggembala mulai membawa pulang kambing mereka sedikit demi sedikit. Di mata orang asing, tidak ada sesuatu yang tampak berbeda. Namun bagi keluarga-keluarga yang berada di bawah bimbingan Syekh Umar, setiap detik yang berlalu seakan sedang menghitung jarak mereka dengan hari ketika keputusan besar itu harus benar-benar diambil. Dan tanpa disadari oleh sebagian besar penduduk Madinah, bukan hanya perbekalan yang sedang mereka siapkan.
Mereka sedang menyiapkan hati untuk menerima perpisahan yang mungkin menjadi perpisahan paling berat sepanjang hidup mereka. Matahari telah condong sedikit dari pertengahan langit ketika panas mulai menekan kota Madinah. Udara yang sejak pagi masih membawa kesejukan kini berubah kering. Dari halaman rumah-rumah terdengar suara lesung bertalu-talu, diselingi embikan kambing yang baru kembali dari padang rumput terdekat untuk diberi minum sebelum digiring lagi menjelang petang. Debu tipis berputar perlahan di lorong-lorong sempit setiap kali angin melintas di antara dinding-dinding tanah yang mengapit jalan. Di dalam rumah Qasim bin Thauban, suasana justru bertambah sunyi. Salma telah selesai menampi gandum. Amr keluar menuju halaman untuk membantu Zaynab mengambil ranting-ranting kurma yang gugur sejak pagi. Tinggallah Qasim seorang diri di ruang belakang, ditemani cahaya matahari yang masuk melalui celah kecil pada dinding.
Beliau kembali membuka peti kayu yang berada di hadapannya. Peti itu tidak besar. Panjangnya hanya sejengkal lebih sedikit daripada lengan seorang lelaki dewasa. Kayunya telah menggelap dimakan usia, tetapi sambungan-sambungannya masih rapat. Peti itu dibuat oleh Umar bin Jundab beberapa musim yang lalu, ketika Qasim mulai dipercaya banyak orang untuk menyalin berbagai catatan dan surat. Qasim mengangkat satu demi satu gulungan kulit dari dalamnya. Jemarinya bergerak perlahan. Sesekali beliau berhenti cukup lama, bukan karena kesulitan membaca tulisan yang dibuatnya sendiri, melainkan karena setiap gulungan mengingatkannya kepada seseorang. Ada yang berasal daripada seorang penuntut ilmu yang telah wafat. Ada yang pernah dibacakan oleh seorang musafir dari Kufah. Ada pula yang disalin daripada catatan seorang ulama tua yang kini penglihatannya mulai kabur dimakan usia.
Setiap lembar memiliki wajah. Setiap tulisan memiliki pemilik. Dan setiap pemilik memiliki kisah yang hanya diketahui Allah. Qasim menutup mata sejenak. Teringatlah beliau kepada ayahnya, Thauban. Lelaki tua itu bukan seorang penulis. Tangannya lebih sering memegang tali unta daripada qalam. Namun setiap kali melihat putranya menyalin tulisan hingga larut malam, beliau selalu berkata, “Wahai anakku, emas akan berpindah daripada satu tangan kepada tangan yang lain. Adapun ilmu, ia akan berpindah daripada satu hati kepada hati yang lain. Maka jagalah perpindahan itu dengan amanah.” Ketika ayahnya wafat beberapa musim yang lalu, kalimat itulah yang paling lama tinggal di dalam ingatannya.
Qasim membuka mata perlahan. Di hadapannya terbentang puluhan gulungan. Namun kini beliau tidak lagi memandangnya sebagai kumpulan tulisan. Beliau melihat amanah. Dari halaman depan terdengar suara tawa anak-anak. Zaynab sedang mengejar Fatimah yang berlari sambil memeluk seekor anak kambing kecil. Lubna ikut tertawa melihat kedua anak itu berputar mengelilingi tempayan air hingga Salma beberapa kali harus mengingatkan agar mereka tidak menabraknya. Suara mereka masuk ke ruang tempat Qasim duduk. Beliau tersenyum tanpa sadar. Tawa anak-anak selalu mempunyai kekuatan yang aneh. Ia mampu menembus dinding kecemasan yang paling tebal sekalipun. Namun senyum itu perlahan menghilang ketika pandangannya kembali jatuh kepada peti kayu di hadapannya. Beliau mulai menghitung dalam hati. Seekor unta hanya sanggup membawa beban tertentu. Air harus dibawa. Gandum harus dibawa. Pakaian anak-anak harus dibawa. Peralatan memasak harus dibawa. Kulit-kulit air harus dibawa. Lalu... Berapa banyak gulungan yang masih dapat ikut bersama mereka? Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, beliau dipaksa menimbang ilmu dengan berat beban. Dan tidak ada timbangan yang mampu melakukan pekerjaan seberat itu. Menjelang matahari mulai bergerak ke arah barat, terdengar salam dari halaman depan. “Assalamu’alaikum.” Qasim mengenali suara itu. “Wa’alaikumussalam warahmatullah.” Abdullah bin Yusuf melangkah masuk ditemani Hilal bin Rasyid. Keduanya baru kembali dari pasar. Debu masih melekat pada ujung jubah mereka, sedangkan wajah mereka memperlihatkan keletihan yang bukan semata-mata disebabkan oleh panas matahari.
Salma segera mempersilakan keduanya duduk. Air minum dituangkan ke dalam mangkuk tanah. Beberapa butir kurma diletakkan di atas talam kecil. Tidak ada jamuan yang mewah. Namun sebagaimana kebiasaan penduduk Madinah, tamu selalu memperoleh tempat sebelum pertanyaan. Abdullah meminum airnya perlahan. Kemudian beliau memandang peti kayu yang masih terbuka di hadapan Qasim. “Engkau masih bersama tulisan-tulisanmu.” Qasim mengangguk kecil. “Aku sedang belajar melepaskan sebagian daripadanya.” Hilal yang sejak tadi diam mengangkat wajah. “Apakah engkau telah memilih?” Qasim menggeleng. “Itulah kesulitannya.” Beliau mengusap perlahan salah satu gulungan kulit. “Apabila aku meninggalkan satu lembar saja...” “...aku merasa sedang meninggalkan seseorang.” Ruangan itu mendadak sunyi. Abdullah memahami sepenuhnya perasaan sahabatnya. Karena setiap orang di ruangan itu sedang menghadapi kehilangan yang berbeda. Hilal mungkin harus meninggalkan sumur-sumur yang dikenalnya sejak kecil. Abdullah mungkin harus meninggalkan rumah tempat anak-anaknya dilahirkan. Sedangkan Qasim... Beliau mungkin harus meninggalkan suara orang-orang saleh yang masih hidup melalui tulisan-tulisan yang kini berada di hadapannya.
Di luar rumah, angin Rabiul Awal kembali berembus perlahan. Pelepah-pelepah kurma bergesekan lembut, seolah turut mendengarkan percakapan empat sahabat yang sedang belajar menerima bahwa terkadang Allah menguji manusia bukan dengan mengambil apa yang tidak mereka miliki, melainkan dengan meminta mereka meninggalkan sesuatu yang paling mereka cintai demi menjaga amanah yang lebih besar. Keheningan masih memenuhi ruang belakang rumah Qasim bin Thauban. Cahaya matahari yang masuk melalui celah dinding kini telah bergeser beberapa jengkal. Sinar itu jatuh tepat di atas peti kayu yang terbuka, menyinari gulungan-gulungan kulit yang tersusun rapi di dalamnya. Debu-debu halus tampak melayang perlahan, berputar mengikuti embusan angin yang sesekali masuk melalui pintu rumah yang dibiarkan terbuka agar hawa tidak terlalu pengap.
Tidak seorang pun segera berbicara. Abdullah memandang sahabatnya dengan penuh pengertian, sedangkan Hilal menundukkan kepala sambil mengusap perlahan janggutnya yang mulai memutih di beberapa bagian. Salma mempersilakan mereka menikmati kurma yang telah dihidangkan, lalu ia kembali duduk di sisi ruangan bersama Maryam yang sejak beberapa saat lalu datang menyusul membawa sekeranjang kecil roti gandum yang baru selesai dipanggang. Aroma roti hangat memenuhi ruangan. Harum tepung yang bercampur asap kayu bakar perlahan mengusir bau kulit tua dan tinta yang sejak pagi memenuhi tempat itu. Maryam memandang peti kayu di hadapan Qasim. “Apakah semuanya akan ikut dibawa?” Pertanyaan itu diucapkannya dengan suara pelan, seolah khawatir kata-katanya sendiri akan menambah berat beban yang sedang dipikul sahabat mereka.
Qasim mengangkat wajah. “Seandainya seekor unta dapat membawa seluruh isi rumahku, niscaya semuanya akan kubawa.” Beliau tersenyum tipis. “Tetapi Allah tidak menjadikan perjalanan seperti itu.” Hilal mengangguk perlahan. “Padang pasir mengajarkan manusia memilih.” “Benar,” sahut Qasim lirih. “Dan memilih sering kali lebih berat daripada berjalan.” Ucapan itu membuat ruangan kembali tenggelam dalam diam. Masing-masing memikirkan perkara yang berbeda. Abdullah teringat kepada pohon kurma yang ditanamnya bersama Iskandar beberapa musim yang lalu. Hilal teringat kepada sumur-sumur yang selama puluhan tahun menjadi bagian daripada hidupnya. Maryam memikirkan halaman rumah tempat Fatimah belajar berjalan ketika masih kecil. Sedangkan Salma memandang suaminya dengan hati yang perlahan mulai memahami bahwa lelaki itu bukan sedang memilih gulungan kulit.
Beliau sedang memilih kenangan. Di halaman rumah terdengar suara langkah anak-anak. Amr masuk lebih dahulu, diikuti Rafi’, Yasir, dan Umar putra Malik. Wajah mereka dipenuhi peluh setelah membantu menggiring beberapa kambing ke kandang kecil di belakang rumah. Tidak lama kemudian terdengar pula suara Fatimah dan Zaynab yang masih saling bercerita tentang anak kambing yang hampir saja lolos ke lorong. Rumah yang semula sunyi mendadak dipenuhi kehidupan. Qasim memandang mereka satu per satu. Tanpa sadar, senyum tipis kembali menghiasi wajahnya. “Amr.” “Ya, Abi.” “Mari ke sini.” Pemuda itu segera duduk di samping ayahnya. Qasim mengambil sebuah gulungan kulit yang ukurannya paling kecil dibandingkan yang lain. Kulitnya telah menguning dimakan usia, tetapi ikatannya masih kuat. “Peganglah.” Amr menerimanya dengan kedua tangan. “Apakah ini tulisan Abi?” “Bukan.” “Lalu milik siapa?” Qasim memandang gulungan itu cukup lama sebelum menjawab. “Ini adalah salinan beberapa hadis Rasulullah ﷺ yang kuterima daripada seorang penuntut ilmu ketika usiaku hampir sama dengan usiamu sekarang.”
Amr membelalakkan mata. “Sudah selama itu Abi menyimpannya?” Qasim mengangguk. “Lebih lama daripada umur sebagian pohon kurma di halaman rumah kita.” Beliau meletakkan telapak tangannya di atas bahu putranya. “Dengarkan baik-baik, wahai anakku.” Amr menatap wajah ayahnya tanpa berkedip. “Apabila suatu hari nanti Allah mentakdirkan aku tidak lagi mampu menjaga semua tulisan ini...” “...jangan engkau bertanya berapa harganya.” Beliau berhenti sejenak. “Tetapi bertanyalah...” “...berapa banyak manusia yang dapat mengambil manfaat daripadanya.” Abdullah menundukkan kepala. Hilal memejamkan mata sejenak. Mereka mengetahui bahwa nasihat itu bukan hanya ditujukan kepada Amr. Melainkan kepada setiap orang yang berada di ruangan itu. Ilmu bukan harta yang diwariskan untuk disimpan. Ilmu diwariskan agar tetap hidup. Di luar rumah, matahari telah mulai condong ke arah barat. Bayang-bayang pohon kurma perlahan memanjang melintasi lorong. Beberapa penggembala tampak membawa pulang ternaknya lebih awal karena panas hari itu terasa lebih menyengat daripada hari-hari sebelumnya. Dari kejauhan terdengar suara tukul milik Malik bin Atiah yang masih memukul pasak-pasak kayu, diselingi suara keledai yang menarik gerobak gandum menuju pasar sore.
Madinah tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda bahwa kota itu sedang berdiri di ambang perubahan besar. Anak-anak masih berlari. Para perempuan masih menumbuk gandum. Para saudagar masih membuka tikar dagangan. Orang-orang masih saling mengucapkan salam ketika berpapasan. Namun jauh di dalam rumah-rumah yang sederhana itu, satu demi satu keluarga mulai menyadari bahwa yang sedang mereka persiapkan bukan sekadar bekal perjalanan. Mereka sedang menjaga agar ilmu, iman, adab, dan kenangan tidak terputus oleh panjangnya jalan yang kelak akan mereka tempuh. Dan di rumah Qasim bin Thauban, ketika cahaya sore mulai memenuhi ruangan tempat gulungan-gulungan kulit itu disimpan, lahirlah sebuah keputusan yang tidak pernah diucapkan dengan lantang.
Apabila tiba saatnya meninggalkan Madinah, tubuh mereka boleh berjalan menuju negeri yang jauh. Namun ilmu yang telah mereka jaga dengan penuh amanah tidak boleh tertinggal di belakang.
BAGIAN 3 — Pasar yang Mulai Menyimpan Rahasia
Matahari telah condong beberapa tombak ke arah barat ketika Samir bin Wahhab meninggalkan rumah Qasim. Panas siang belum benar-benar surut, tetapi angin yang datang dari arah kebun-kebun kurma mulai terasa lebih sejuk daripada beberapa saat sebelumnya. Bayang-bayang rumah memanjang perlahan ke tengah lorong, sementara para penggembala yang sejak pagi berada di padang mulai menggiring kambing dan domba mereka menuju kandang masing-masing agar sempat diberi minum sebelum waktu asar tiba. Samir melangkah seorang diri. Di pundaknya tergantung kantung kulit kecil berisi kepingan dirham, sepotong tali, dan sebuah buku hitung sederhana yang dibuat daripada lembaran kulit tipis. Tidak banyak orang mengetahui bahwa lelaki itu hampir tidak pernah berangkat ke pasar dengan tangan kosong. Baginya, seorang saudagar harus selalu siap apabila Allah membuka pintu rezeki melalui jalan yang tidak disangka-sangka.
Namun hari itu langkahnya lebih lambat daripada biasanya. Pikirannya masih dipenuhi percakapan di rumah Qasim. “Padang pasir mengajarkan manusia memilih.” Kalimat Hilal terus berputar di dalam benaknya. Sebagai saudagar, ia memahami benar makna kata-kata itu. Selama bertahun-tahun berdagang di Madinah, Samir belajar bahwa seseorang tidak menjadi miskin hanya karena kehilangan harta. Ada kalanya seorang lelaki kehilangan seluruh kebunnya, tetapi tetap berdiri tegak karena keluarganya masih utuh. Sebaliknya, ada pula yang memiliki peti-peti penuh dirham, namun hidupnya hancur karena kehilangan kepercayaan manusia. Ketika sampai di ujung lorong yang menghadap pasar, ia berhenti sejenak. Dari tempat itu seluruh kesibukan Madinah tampak terbentang di hadapannya. Puluhan tikar dagangan memenuhi sisi jalan. Karung-karung gandum ditumpuk di depan gudang kecil milik seorang pedagang tua. Beberapa penjual minyak zaitun sedang menuangkan dagangan mereka ke dalam kendi-kendi tanah. Seekor unta berwarna kelabu berlutut sambil mengunyah rumput kering, menunggu pemiliknya selesai menurunkan muatan. Semua tampak sebagaimana hari-hari sebelumnya. Namun bagi mata Samir, pasar itu telah berubah. Perubahan itu tidak tampak pada bangunan. Tidak pula pada jumlah manusia. Perubahan itu hidup pada wajah-wajah mereka. Seorang penjual kain yang biasanya gemar memanggil setiap orang yang lewat kini lebih banyak duduk sambil memperhatikan jalan.
Pedagang rempah dari Yaman tidak lagi membuka seluruh peti dagangannya. Hanya sebagian kecil yang diletakkan di atas tikar. Bahkan seorang penjual kurma yang terkenal murah hati tampak beberapa kali menghitung kembali isi kantung uangnya sebelum melayani pembeli berikutnya. Samir menarik napas perlahan. “Ketakutan...” gumamnya hampir tanpa suara, “...lebih cepat mengubah pasar daripada musim kering.” Belum sempat ia melangkah lebih jauh, sebuah suara memanggil dari balik tumpukan karung gandum. “Assalamu’alaikum, wahai Samir.” Samir segera mengenali pemilik suara itu. “Wa’alaikumussalam warahmatullah.” Yang datang adalah Zubair, seorang saudagar yang telah puluhan musim berlayar membawa barang dari pelabuhan-pelabuhan di Teluk Arab menuju pesisir timur. Kulit wajahnya lebih gelap daripada kebanyakan penduduk Madinah karena terlalu sering berada di bawah terik matahari laut. Di sudut mata kirinya tampak bekas luka lama yang diperolehnya ketika kapalnya pernah dihantam badai di tengah pelayaran.
Keduanya berjabat tangan erat. “Sudah lama aku tidak melihatmu di pasar siang.” “Aku baru selesai menghadiri urusan bersama beberapa sahabat.” Zubair mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Di masa seperti itu, setiap orang belajar untuk tidak menanyakan perkara yang tidak perlu diketahui. “Aku baru tiba tiga hari yang lalu dari arah Basrah.” Samir menatap wajah sahabat lamanya itu. “Bagaimana jalannya?” Zubair tidak segera menjawab. Ia justru mengajak Samir berpindah ke sisi teduh di bawah atap anyaman pelepah kurma milik seorang penjual kendi. Barulah setelah memastikan tidak banyak orang berada di dekat mereka, ia berkata dengan suara rendah, “Jalannya masih sama.” “Tetapi manusia di sepanjang jalan...” “...tidak lagi sama.” Samir merasakan tengkuknya menegang. Ia tidak memotong ucapan sahabatnya. Zubair melanjutkan, “Di beberapa tempat, para musafir lebih dahulu saling bertanya tentang asal kabilah daripada tujuan perjalanan.”
“Itu belum pernah terjadi sebelumnya.” “Benar.” “Apalagi?” “Ada rumah-rumah yang pintunya selalu tertutup sebelum matahari tenggelam.” Samir menatap lurus ke mata Zubair. “Lalu Basrah?” Saudagar tua itu mengusap perlahan janggutnya. “Basrah masih menjadi kota yang ramai.” “Tetapi...” Beliau berhenti beberapa saat. “...aku melihat manusia mulai membeli lebih banyak daripada yang mereka perlukan.” Samir memahami maksud kalimat itu. Orang yang membeli melebihi kebutuhannya sedang bersiap menghadapi sesuatu. Mungkin musim paceklik. Mungkin peperangan. Mungkin perjalanan. Atau mungkin... ketidakpastian yang lebih menakutkan daripada semuanya. Angin Rabiul Awal kembali berembus melewati pasar Madinah. Menggerakkan kain-kain dagangan yang tergantung di depan kedai. Mengangkat debu-debu halus dari jalan tanah. Dan membawa bersama-samanya sebuah kabar yang belum selesai diucapkan oleh Zubair, tetapi telah cukup untuk membuat hati Samir semakin yakin bahwa hari-hari tenang yang selama ini mereka kenal sedang bergerak perlahan meninggalkan Kota Nabi.
Samir tidak segera menanggapi perkataan Zubair. Tatapannya beralih ke jalan yang membelah pasar Madinah. Di sana lalu-lalang manusia masih tampak sebagaimana biasanya. Para pedagang memanggil pembeli dengan suara yang ramah, para perempuan memilih gandum dan kurma, sementara beberapa anak kecil berlari di sela-sela kaki unta yang sedang berlutut menunggu muatan diturunkan. Bagi mata yang tidak terbiasa mengamati, tidak ada sesuatu yang ganjil. Namun seorang saudagar belajar mengenali perubahan bukan dari apa yang tampak, melainkan dari apa yang mulai menghilang. “Aku melihat beberapa tikar kosong,” ujar Samir sambil menunjuk ke arah sisi timur pasar. Zubair mengikuti arah telunjuknya. “Engkau masih setajam dahulu.” “Tahun lalu tempat itu ditempati penjual minyak wangi dari Syam.” “Benar.” “Di sebelahnya ada saudagar kain dari Hims.” “Benar.” “Kini keduanya tidak ada.” Zubair menarik napas perlahan. “Mereka masih hidup.” “Alhamdulillah.” “Tetapi mereka memilih menunggu di rumah.” Samir mengusap janggutnya. “Menunggu apa?” Zubair tersenyum hambar. “Itulah pertanyaan yang kini diajukan semua orang.” Keheningan kembali menyelimuti mereka. Dari kejauhan terdengar suara seorang penjual tembikar menawarkan kendi-kendi air. Di sebelahnya, seorang pandai besi memukul bilah besi yang masih membara. Bunyi logam beradu memenuhi udara, berpadu dengan suara kambing dan langkah kaki manusia yang tidak pernah benar-benar berhenti sejak pagi.
Zubair menatap wajah sahabatnya. “Masihkah engkau berdagang sampai ke luar Madinah?” “Sesekali.” “Lalu bagaimana dengan tahun ini?” Samir tidak segera menjawab. Ia menundukkan kepala beberapa saat. “Aku belum memutuskannya.” “Bukan seperti dirimu.” “Memang.” Zubair memahami bahwa jawaban singkat itu menyimpan banyak perkara yang tidak diucapkan. Selama mengenal Samir, belum pernah sekali pun ia melihat sahabatnya ragu menentukan perjalanan dagang. Lelaki itu selalu mampu membaca musim, arah angin, dan keadaan pasar dengan tenang. Hari ini berbeda. Yang sedang dipertimbangkan Samir bukan sekadar untung atau rugi. Melainkan keselamatan keluarga. Di sisi lain pasar, Abdullah bin Yusuf berjalan bersama Hilal menuju sebuah kedai yang menjual tali, kulit air, dan pelana unta.
Bilal bin Harits telah lebih dahulu berada di sana, berbincang dengan pemilik kedai yang telah dikenalnya sejak masa muda. Abdullah tidak langsung menghampiri mereka. Beliau memperhatikan beberapa gulungan tali yang tergantung di depan kedai. Sebagian besar terbuat daripada serat kurma yang dipilin rapat. Ada pula tali yang dibuat daripada bulu kambing, lebih ringan namun tidak sekuat serat kurma. “Engkau sedang memikirkan sesuatu.” Suara Hilal memecah lamunan sahabatnya. Abdullah tersenyum kecil. “Aku sedang menghitung.” “Menghitung apa?” “Bukan jumlah tali.” “Lalu?” “Berapa banyak keluarga yang mungkin memerlukan semuanya.” Hilal mengikuti pandangan Abdullah. Barulah ia menyadari bahwa hampir setiap orang yang datang ke kedai itu membeli barang-barang yang sama.
Kulit air. Tali. Jarum. Pisau kecil. Kantung kulit. Tidak seorang pun membeli dalam jumlah berlebihan. Namun apabila semua pembelian kecil itu dijumlahkan, tampaklah sebuah perubahan yang tidak biasa. Hilal berbisik pelan, “Apakah hanya kita yang melihatnya?” Abdullah menggeleng. “Seorang pedagang melihatnya.” “Siapa?” “Samir.” Hilal tersenyum tipis. “Benar.” “Dan mungkin...” Abdullah melanjutkan dengan suara yang lebih pelan, “...orang-orang yang telah lama menempuh padang pasir juga melihatnya.” Keduanya saling berpandangan. Mereka sama-sama mengetahui bahwa seorang musafir tidak pernah membeli kulit air baru apabila ia tidak sedang bersiap menempuh perjalanan panjang. Sementara itu, di rumah Samir, Ruqayyah binti Yazid sedang menjemur beberapa lembar kain di halaman belakang.
Maryam kecil membantu ibunya menggantung kain dengan kedua tangan mungilnya, sedangkan Sa’d duduk di dekat kandang kambing sambil memperbaiki anyaman keranjang yang patah. “Ayah belum pulang?” tanya Maryam. “Belum.” “Apakah masih di pasar?” “Insya Allah.” Anak perempuan itu mengangguk. Ia kemudian memandang ke arah jalan kecil di depan rumah. “Ayah akhir-akhir ini sering pulang terlambat.” Ruqayyah berhenti sejenak. Tangannya masih memegang ujung kain yang belum selesai digantung. Ia memahami apa yang dirasakan putrinya. Bukan hanya Maryam kecil. Ia sendiri mulai merasakan perubahan itu. Samir semakin sering diam ketika malam tiba. Semakin lama memandang langit setelah shalat Isya. Dan semakin banyak menghabiskan waktu berbicara dengan Abdullah, Hilal, maupun Syekh Umar. Namun sebagaimana istri seorang mukmin, ia memilih menunggu hingga suaminya sendiri yang membuka pembicaraan. Sebab ia mengetahui, ada perkara-perkara yang tidak boleh dipaksa keluar sebelum waktunya. Di kejauhan terdengar azan Asar mulai berkumandang dari Masjid Nabawi. Suara muazin menggema melintasi kebun-kebun kurma, menembus lorong-lorong sempit, memasuki rumah-rumah tanah, dan sampai ke pasar tempat Samir masih berdiri bersama Zubair.
Mendengar panggilan itu, keduanya saling memandang. Zubair tersenyum. “Marilah.” Samir mengangguk. “Sesungguhnya, panggilan ini selalu lebih utama daripada segala urusan yang sedang kita bicarakan.” Keduanya pun melangkah menuju Masjid Nabawi. Di berbagai sudut pasar, para saudagar mulai menutup tikar dagangan mereka untuk sementara. Abdullah, Hilal, Bilal, Malik, dan beberapa sahabat lainnya juga bergerak ke arah yang sama. Untuk beberapa saat, kegelisahan, perdagangan, dan berbagai kabar dari luar Madinah berhenti di tempatnya. Sebab ketika seruan shalat berkumandang, seluruh langkah kaum Muslimin kembali menuju satu arah yang sama. Suara azan Asar yang dikumandangkan dari Masjid Nabawi bergulung lembut di atas atap-atap rumah Madinah. Seruan itu menjalar melewati lorong-lorong sempit, menyusup di antara batang-batang kurma, lalu menyentuh setiap telinga yang mendengarnya. Sejenak, hiruk-pikuk pasar yang sejak pagi tidak pernah benar-benar berhenti mulai mereda. Para saudagar menutup tikar dagangan mereka dengan kain kasar, kendi-kendi minyak ditutup rapat, karung-karung gandum disandarkan ke dinding kedai, sementara tali kekang unta diikat lebih pendek agar hewan-hewan itu tidak berkeliaran ketika pemiliknya pergi memenuhi panggilan shalat.
Samir menepuk perlahan bahu Zubair. “Marilah.” Zubair mengangguk. “Demi Allah, tidak ada keuntungan yang lebih besar daripada memenuhi panggilan ini.” Keduanya berjalan berdampingan meninggalkan pasar. Di sepanjang jalan menuju Masjid Nabawi, semakin banyak orang bergabung bersama mereka. Ada pedagang kurma yang masih membawa timbangan di tangannya. Ada penjual kain yang belum sempat melepaskan gulungan kain dari bahunya. Bahkan seorang penggembala berjalan tergesa-gesa sambil menggiring kambingnya kepada anak lelakinya yang menunggu di pinggir jalan. Madinah memiliki kebiasaan yang indah. Ketika azan berkumandang, manusia datang dari berbagai arah dengan pekerjaan yang berbeda-beda, namun semuanya berdiri dalam satu saf yang sama.
Tidak ada pembatas antara saudagar dan penggembala. Tidak ada pembeda antara penulis dan tukang kayu. Yang membedakan mereka hanyalah ketakwaan di sisi Allah. Abdullah dan Hilal tiba hampir bersamaan di pelataran masjid. Bilal bin Harits telah lebih dahulu berada di dekat tempat wudu. Malik bin Atiah tampak membasuh kedua tangannya yang masih menyisakan aroma kulit samak, sedangkan Umar bin Jundab membersihkan serpihan-serpihan kayu yang masih menempel pada ujung lengan bajunya. Tidak jauh dari mereka berdiri Qasim. Beliau membawa kantung kain kecil yang sejak tadi tidak pernah lepas dari sisinya. Melihat Abdullah datang, Qasim mendekat sambil mengucapkan salam. “Semoga Allah memberkahimu pada sore ini.” “Dan semoga Allah melimpahkan keberkahan pula kepadamu.” Abdullah memandang kantung kecil itu sambil tersenyum. “Engkau masih membawanya?” Qasim mengusap kantung tersebut perlahan. “Belum tenang hatiku apabila ia kutinggalkan di rumah.” Hilal tersenyum kecil. “Apakah isinya seluruh tulisanmu?” “Bukan.” “Lalu?” “Hanya beberapa lembar.” “Yang paling berharga?” Qasim menggeleng. “Tidak.” Beliau memandang halaman masjid yang mulai dipenuhi jamaah. “Yang paling sering kubaca.” Jawaban itu membuat Abdullah tersenyum. Beliau memahami sahabatnya. Ada tulisan yang bernilai tinggi. Ada tulisan yang sangat dicintai. Sering kali keduanya bukan lembaran yang sama. Sementara itu, dari arah rumah-rumah kaum Anshar, Syekh Umar berjalan perlahan ditemani Ziyad dan Harun.
Usia yang telah lanjut membuat langkah beliau tidak lagi sepanjang dahulu. Akan tetapi wajahnya tetap memancarkan ketenangan yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa tenteram. Harun memegang lengan gurunya dengan penuh hormat. “Apakah langkah kami terlalu cepat, wahai Syekh?” Syekh Umar tersenyum. “Bukan kalian yang terlalu cepat.” “Lalu?” “Kakiku yang mulai belajar menerima usia.” Ketiganya tersenyum. Di belakang mereka berjalan Miqdad, Naufal, dan Salim. Kelima murid itu tidak banyak berbicara. Mereka lebih memilih memperhatikan orang-orang yang datang dari berbagai penjuru kota. Salim yang paling muda memandang wajah-wajah para jamaah satu demi satu. “Hampir seluruh penduduk Madinah hadir.” bisiknya. Ziyad mengangguk. “Masjid inilah yang menyatukan mereka.” “Apakah akan selalu seperti ini?” Pertanyaan itu membuat Harun menoleh. “Mengapa engkau bertanya demikian?” Salim tampak ragu. “Aku hanya berpikir...” Beliau berhenti sejenak. “...bagaimana jika suatu hari kita berada sangat jauh dari Madinah?” Tidak seorang pun segera menjawab. Pertanyaan itu sederhana. Namun beberapa hari terakhir, pertanyaan serupa diam-diam mulai tumbuh di dalam hati banyak orang. Syekh Umar yang mendengarnya tidak menoleh. Beliau tetap melangkah perlahan sambil memandang ke arah kubah langit yang mulai berubah warna diterpa cahaya sore.
Kemudian beliau berkata dengan suara tenang, “Wahai Salim.” “Ya, Guru.” “Masjid dibangun daripada batu dan tanah.” Beliau berhenti sejenak. “Tetapi jamaah dibangun daripada hati yang dipersatukan Allah.” Kelima murid itu mendengarkan dengan saksama. “Selama hati-hati itu tetap menjaga iman...” “...maka mereka tidak akan kehilangan tempat berkumpul, meskipun dipisahkan oleh padang pasir, lautan, ataupun gunung-gunung yang tinggi.” Tidak ada lagi yang berbicara. Kalimat itu terus hidup di dalam dada masing-masing ketika mereka melangkah memasuki pelataran Masjid Nabawi. Di sana Abdullah, Hilal, Qasim, Samir, Bilal, Malik, Umar bin Jundab, dan para jamaah lainnya telah berdiri menunggu iqamah.
Untuk beberapa saat, kegelisahan tentang perjalanan, perdagangan, rumah, dan harta seakan melebur menjadi satu. Di hadapan Allah, mereka hanyalah hamba-hamba yang berdiri sejajar, memohon petunjuk bagi jalan yang belum mereka ketahui ujungnya. Iqamah telah dikumandangkan. Suara Bilal yang jernih memenuhi ruang Masjid Nabawi, memanggil kaum Muslimin agar merapatkan saf. Percakapan yang sejak tadi terdengar di serambi dan halaman perlahan menghilang. Satu demi satu para jamaah melangkah ke tempatnya masing-masing, merapatkan bahu tanpa membedakan kedudukan maupun pekerjaan. Abdullah berdiri di sisi kanan Hilal. Di sebelah kirinya berdiri Qasim bin Thauban. Beberapa langkah di belakang mereka tampak Samir bin Wahhab, Bilal bin Harits, Malik bin Atiah, Umar bin Jundab, serta para lelaki lain yang hampir setiap hari saling berjumpa di kota yang diberkahi itu.
Di saf berikutnya berdiri Ziyad, Harun, Miqdad, Naufal, dan Salim. Syekh Umar memilih tempat sebagaimana biasanya, tidak jauh dari para muridnya. Meskipun usia telah membuat tubuh beliau semakin renta, beliau tetap berdiri tegak ketika takbiratul ihram dikumandangkan. Sejenak, segala kegelisahan yang memenuhi dada masing-masing seakan terangkat. Tidak ada lagi pedagang. Tidak ada lagi penulis. Tidak ada lagi pencari mata air. Yang ada hanyalah hamba-hamba Allah yang menghadap Rabb mereka. Sesudah salam terakhir diucapkan, sebagian jamaah tetap duduk di tempatnya. Ada yang berzikir dengan kepala tertunduk. Ada yang membaca beberapa ayat Al-Qur’an dengan suara lirih. Sebagian lagi saling berjabat tangan sambil menanyakan keadaan keluarga.
Anak-anak yang sejak tadi menunggu di halaman mulai berlarian kembali setelah diingatkan agar tidak mengganggu orang-orang yang masih berdoa. Abdullah tetap duduk beberapa saat. Telapak tangannya masih terbuka di atas kedua lutut. Doanya tidak panjang. Namun di dalamnya tersimpan begitu banyak nama. Maryam. Iskandar. Fatimah. Syekh Umar. Kelima keluarga sahabatnya. Dan seluruh kaum Muslimin yang sedang menghadapi masa yang belum jelas ujungnya. Di sampingnya, Hilal menyelesaikan zikirnya perlahan. Beliau kemudian menoleh kepada Abdullah. “Dapatkah engkau tinggal sejenak setelah kebanyakan orang pulang?” Abdullah menganggukkan kepala. “Insya Allah.” Qasim yang mendengar percakapan itu hanya menatap keduanya sekilas, lalu kembali melanjutkan wiridnya. Beliau telah menduga bahwa beberapa perkara memang lebih baik dibicarakan ketika halaman masjid mulai lengang.
Sedikit demi sedikit jamaah meninggalkan pelataran. Para perempuan yang menunggu di luar masjid mulai berjalan pulang bersama anak-anak mereka. Maryam berjalan berdampingan dengan Hafsah dan Ruqayyah. Di belakang mereka tampak Salma menggandeng Zaynab yang sesekali menoleh ke arah masjid, seakan masih mencari ayahnya di antara para jamaah yang belum keluar. “Ayah belum selesai?” tanya Zaynab. “Beliau masih berbincang dengan beberapa sahabatnya.” “Apakah tentang perjalanan?” Salma menghentikan langkahnya sesaat. Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba sehingga ia membutuhkan beberapa helaan napas sebelum menjawab. “Mengapa engkau bertanya demikian?” “Karena beberapa hari ini...” Anak itu menundukkan kepala. “...Ayah sering memandang ke arah timur.” Salma tersenyum tipis. Ia mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih. “Ayahmu sedang memikirkan banyak perkara.” “Apakah perkara itu berat?” “Kadang-kadang.” “Lalu mengapa Ayah tidak meminta aku membantu?” Pertanyaan polos itu membuat Maryam dan Hafsah saling berpandangan. Mereka sama-sama tersenyum. Salma berjongkok agar wajahnya sejajar dengan putrinya. “Wahai anakku...” “Ayahmu telah meminta bantuanmu.” “Aku?” “Iya.” “Aku tidak mengerti.” Salma membetulkan kerudung kecil yang dikenakan putrinya. “Setiap kali engkau belajar membaca Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh...” “...setiap kali engkau berbuat baik kepada adik-adikmu...” “...setiap kali engkau menaati Allah dan Rasul-Nya...” “...engkau sedang meringankan beban ayahmu.” Zaynab terdiam. Ia belum sepenuhnya memahami ucapan ibunya. Namun ia mengangguk dengan wajah sungguh-sungguh. Maryam memperhatikan percakapan itu tanpa berkata apa-apa. Di dalam hatinya tumbuh rasa syukur. Bukan karena mereka hidup tanpa kesulitan. Melainkan karena Allah mengaruniakan kepada anak-anak mereka orang tua yang mengajarkan adab sebelum dunia. Sementara itu, halaman Masjid Nabawi mulai lengang. Tinggallah beberapa orang yang masih berbincang di bawah naungan pohon kurma. Abdullah, Hilal, Qasim, Samir, Bilal bin Harits, Malik bin Atiah, Umar bin Jundab, serta Syekh Umar duduk membentuk lingkaran sederhana di atas tikar anyaman.
Tidak ada seorang pun yang segera membuka pembicaraan. Mereka terbiasa membiarkan keheningan mengambil tempatnya terlebih dahulu. Angin sore bertiup lembut dari arah utara. Daun-daun kurma berdesir perlahan. Beberapa burung kecil berpindah dari satu dahan ke dahan lain, sementara matahari mulai bergerak turun meninggalkan puncak langit. Syekh Umar memandang wajah mereka satu per satu. Beliau tidak melihat saudagar. Tidak melihat penulis. Tidak melihat tukang kayu. Tidak pula melihat pencari mata air. Yang beliau lihat adalah lelaki-lelaki yang telah Allah pertemukan dalam satu jamaah, masing-masing membawa kelebihan yang berbeda, namun sedang dipersiapkan untuk memikul amanah yang sama.
Beliau menarik napas perlahan. Kemudian, untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, beliau membuka pembicaraan dengan suara yang tenang. “Wahai saudara-saudaraku...” Semua mata tertuju kepada beliau. “Aku ingin bertanya kepada kalian.” Beliau berhenti sejenak. “Bukan tentang perjalanan...” “Bukan pula tentang bekal...” “Tetapi tentang hati.” Keheningan kembali turun di antara mereka. Tidak seorang pun mengetahui pertanyaan apakah yang akan disampaikan oleh Syekh Umar. Namun dari sorot mata beliau, mereka memahami bahwa sore itu bukan sekadar pertemuan para sahabat. Melainkan permulaan dari sebuah musyawarah yang akan menguji keyakinan setiap orang yang duduk di dalam lingkaran itu.
Angin sore berembus perlahan melewati halaman Masjid Nabawi. Cahaya matahari yang mulai condong ke ufuk barat menerobos sela-sela pelepah kurma, memantulkan warna keemasan di atas tanah yang telah berkali-kali dipijak para sahabat Rasulullah ﷺ. Burung-burung kecil mulai kembali ke sarangnya, sementara beberapa anak yang tadi bermain di halaman telah dipanggil pulang oleh ibu mereka. Lingkaran kecil di bawah pohon kurma itu tetap tenang. Tidak ada seorang pun yang tergesa-gesa membuka pembicaraan. Mereka telah lama mengenal Syekh Umar. Apabila beliau memilih diam, berarti beliau sedang memberi kesempatan kepada hati murid-muridnya untuk berbicara lebih dahulu.
Syekh Umar memandang mereka satu demi satu. Tatapannya berhenti pada Abdullah. “Wahai Abdullah.” “Ya, Guru.” “Apakah engkau mencintai Madinah?” Pertanyaan itu terdengar begitu sederhana. Namun Abdullah tidak segera menjawab. Beliau menundukkan kepala. Pandangannya jatuh kepada butiran pasir yang berada di dekat lututnya. Kemudian beliau mengangkat wajah. “Demi Allah...” “...aku tidak mengenal negeri yang lebih kucintai daripada kota ini setelah Makkah.” Syekh Umar mengangguk perlahan. Beliau kemudian memandang Hilal. “Bagaimana denganmu?” Hilal menarik napas panjang. “Di kota inilah ayahku dimakamkan.” Beliau berhenti sejenak. “Di kota ini pula ibuku mengajarkanku mengenali bau tanah setelah hujan.” Matanya memandang halaman masjid yang mulai lengang. “Aku mengenal hampir setiap sumur di sekitar Madinah.” “Aku mengenal batu-batu di jalan menuju kebun.” “Bahkan...” Beliau tersenyum kecil. “...aku merasa dapat berjalan pulang dengan mata tertutup.” Beberapa orang tersenyum mendengar jawaban itu. Bukan karena lucu. Melainkan karena mereka memahami perasaan yang sama. Syekh Umar kemudian mengalihkan pandangan kepada Samir. “Dan engkau, wahai Samir?” Saudagar itu mengusap perlahan kedua lututnya. “Aku sering keluar masuk kota ini.” “Ke Syam.” “Ke Wadi al-Qura.” “Ke berbagai perkampungan.” “Tetapi...” Beliau memandang kubah langit yang mulai berubah warna. “...setiap kali melihat pohon-pohon kurma Madinah dari kejauhan, aku selalu merasa sedang pulang.” Keheningan kembali turun. Syekh Umar tidak memberikan komentar. Beliau memandang Qasim. “Bagaimana denganmu?” Qasim tersenyum tipis. “Aku berbeda.” “Mengapa?” “Karena yang paling kucintai di Madinah...” “...bukan rumahku.” Semua mata memandangnya. “Bukan pula kebunku.” “Lalu?” Qasim menoleh ke arah Masjid Nabawi. “Majelis-majelis ilmu.” Beliau mengusap ujung janggutnya. “Di tempat inilah aku mendengar banyak hadis.” “Di tempat inilah aku belajar menulis.” “Di tempat inilah aku mengenal banyak orang saleh.” Beliau berhenti sejenak. “Jika aku harus meninggalkan rumahku...” “...barangkali aku masih mampu bersabar.” “Tetapi...” “...apabila aku harus meninggalkan majelis ilmu ini...” Suara beliau perlahan mengecil. “...itulah yang paling berat.” Tidak seorang pun menyela. Abdullah menoleh kepada Qasim. Selama bertahun-tahun bersahabat, baru sore itu beliau mendengar isi hati sahabatnya sedalam itu. Di sudut lingkaran, Malik bin Atiah yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya membuka suara.
“Wahai Guru.” Syekh Umar memandangnya. “Silakan.” “Aku hanyalah tukang yang mengolah kayu dan kulit.” Beliau tersenyum sederhana. “Aku tidak pandai berkata-kata seperti mereka.” “Tetapi...” Beliau memandang kedua telapak tangannya yang kasar. “...selama tanganku masih mampu membuat sebuah peti...” “...aku berharap peti itu dapat membawa mushaf, kitab, atau bekal bagi orang-orang yang berjalan di jalan Allah.” Ucapan itu membuat Umar bin Jundab menganggukkan kepala. Beliau lalu berkata, “Sedangkan aku berharap setiap papan yang kupotong hari ini...” “...kelak menjadi bagian daripada rumah yang dipenuhi zikir kepada Allah.” Angin sore kembali berembus. Tidak seorang pun merasa dirinya lebih mulia daripada yang lain. Mereka baru menyadari bahwa Allah telah mengaruniakan kepada setiap orang kelebihan yang berbeda. Abdullah memimpin dengan keteguhan. Hilal membaca bumi dan air. Samir membaca manusia dan perjalanan. Qasim menjaga ilmu. Malik menjaga peralatan hidup. Umar membangun tempat berteduh. Dan ketika semuanya disatukan... mereka bukan lagi sekumpulan sahabat yang kebetulan saling mengenal. Mereka perlahan sedang dibentuk menjadi sebuah jamaah. Syekh Umar memejamkan mata sejenak. Beliau mengucapkan hamdalah dengan lirih. Kemudian membuka mata kembali. “Alhamdulillah.” Suara beliau sangat pelan. “Aku telah mendengar jawaban kalian.” Beliau memandang wajah mereka satu per satu. “Besok...” “...aku ingin mendengar perkara yang lebih berat.” Tidak ada seorang pun bertanya. Mereka mengetahui bahwa guru mereka tidak pernah melemparkan pertanyaan tanpa maksud. Dan menjelang matahari tenggelam di ufuk Madinah, setiap lelaki yang duduk di bawah pohon kurma itu pulang membawa satu kesadaran yang sama.
Hijrah bukan hanya meninggalkan sebuah negeri. Hijrah adalah menguji apa yang paling dicintai oleh hati manusia.
BAGIAN 4 — Tangan-Tangan yang Menyiapkan Perjalanan
Matahari telah tenggelam di balik perbukitan batu yang mengelilingi Madinah. Cahaya merah yang sejak beberapa saat lalu memenuhi ufuk barat perlahan memudar, digantikan warna kebiruan yang semakin pekat. Dari menara sederhana Masjid Nabawi, azan Magrib baru saja selesai dikumandangkan. Penduduk kota kembali memenuhi masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, kemudian perlahan berpencar menuju rumah masing-masing ketika langit mulai diselimuti malam. Di lorong-lorong kota, pelita-pelita minyak mulai dinyalakan. Cahayanya tidak begitu terang. Namun cukup untuk menerangi jalan tanah yang telah dikenal oleh setiap penduduk Madinah sejak mereka masih kanak-kanak. Di salah satu lorong yang mengarah ke bagian selatan kota, terdengar suara ketukan kayu yang datang silih berganti.
Tok... Tok... Tok... Bunyi itu tidak keras. Namun cukup teratur sehingga siapa pun yang melewati lorong tersebut segera mengetahui bahwa Malik bin Atiah masih bekerja. Rumahnya sederhana. Di samping ruang utama terdapat bangunan kecil beratap pelepah kurma yang selama bertahun-tahun digunakannya sebagai tempat bekerja. Berbagai perkakas tersusun rapi di sepanjang dinding. Ada pahat dengan berbagai ukuran, pisau kecil untuk menghaluskan kayu, palu kayu, bor tangan sederhana, serta beberapa pasak yang dibuat daripada kayu samurah yang terkenal keras. Di sudut lain tergantung lembaran-lembaran kulit kambing yang telah disamak. Sebagian masih berbau tajam, sebagian lagi telah mengering dan siap dijahit menjadi kantung air atau pembungkus barang.
Malik sedang membungkuk di hadapan sepotong papan kurma. Di sampingnya duduk Umar, putra sulungnya, yang memegang sebatang pahat dengan kedua tangan. “Jangan terburu.” Suara Malik tetap tenang. “Mata pisau tidak pernah menyukai tangan yang tergesa.” Umar segera memperlambat gerakannya. “Begini, Ayah?” “Boleh.” Malik mengangguk. “Tetapi jangan hanya melihat ujung pahat.” “Lalu?” “Lihatlah serat kayunya.” Anak muda itu mengernyit. Ia memandang papan di hadapannya lebih saksama. Malik meletakkan telapak tangannya di atas permukaan kayu. “Allah menciptakan setiap batang dengan jalannya masing-masing.” Beliau menarik jari telunjuknya mengikuti arah serat. “Apabila engkau memaksa memotong melawan jalannya...” “...kayu itu akan pecah.” Beliau memandang putranya sambil tersenyum. “Begitu pula manusia.” Umar berhenti memahat. Ia memahami bahwa ayahnya kembali mengajarkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pekerjaan. Di halaman rumah, Khalid yang masih kecil sedang membantu ibunya, Hindun binti Qais, mengumpulkan serpihan-serpihan kayu ke dalam keranjang anyaman.
“Jangan dibuang.” kata Hindun ketika melihat putranya hendak melempar beberapa potong kayu yang ukurannya kecil. “Kecil sekali, Ibu.” “Kecil bukan berarti tidak berguna.” Hindun mengambil salah satu potongan itu. “Lihat.” Beliau menunjukkannya kepada Khalid. “Ini dapat menjadi pasak.” Kemudian beliau mengambil potongan lain. “Yang ini dapat menjadi gagang sendok.” Beliau tersenyum. “Sedangkan yang paling kecil...” “...masih dapat menjadi kayu bakar untuk memanggang roti.” Khalid mengangguk sungguh-sungguh. Ia memasukkan kembali seluruh potongan kayu ke dalam keranjang. Tidak jauh dari mereka, terdengar suara salam dari depan rumah. “Assalamu’alaikum.” Malik menghentikan pekerjaannya. Beliau mengenali suara itu. “Wa’alaikumussalam warahmatullah.” Abdullah bin Yusuf berdiri di depan pagar sederhana bersama Hilal bin Rasyid. Tidak lama kemudian Samir menyusul dari arah lorong lain, seolah mereka memang telah berjanji untuk bertemu setelah shalat Magrib.
Malik segera bangkit menyambut sahabat-sahabatnya. “Silakan masuk.” Abdullah memandang ruang kerja kecil itu dengan saksama. Aroma kayu yang baru dipahat bercampur dengan bau kulit samak memenuhi udara. Beliau mengambil salah satu pasak yang berada di atas meja kerja. Pasaknya kecil. Panjangnya bahkan tidak lebih dari sejengkal tangan. “Berapa lama membuat yang seperti ini?” tanya Abdullah. Malik tersenyum. “Sebentar.” “Lalu mengapa engkau membuatnya dengan begitu teliti?” Malik mengambil pasak itu dari tangan sahabatnya. Beliau mengangkatnya hingga sejajar dengan cahaya pelita. “Karena peti yang besar...” “...kadang-kadang justru bergantung pada pasak yang kecil.” Ruangan itu kembali sunyi. Abdullah memandang pasak itu beberapa saat. Kemudian beliau tersenyum pelan. “Demi Allah...” “...hari ini aku telah belajar daripada seorang penulis, seorang pencari mata air, seorang saudagar...” Beliau memandang Malik. “...dan sekarang daripada seorang tukang kayu.” Hilal tertawa kecil. “Sesungguhnya Madinah menyimpan guru pada setiap rumah.” Mereka semua tersenyum. Tidak seorang pun menyadari bahwa percakapan sederhana di bengkel kecil itu kelak akan menjadi bekal yang jauh lebih berharga daripada kayu, pasak, ataupun peti-peti yang sedang mereka persiapkan. Sebab perjalanan panjang yang menanti mereka bukan hanya membutuhkan tangan yang kuat, melainkan juga hati yang memahami bahwa dalam membangun sebuah peradaban, sering kali perkara-perkara yang tampak kecil justru menjadi penopang bagi sesuatu yang besar.
Pelita yang tergantung pada salah satu tiang bengkel kecil itu bergoyang perlahan ketika angin malam menyelinap melalui sela-sela anyaman pelepah kurma. Cahayanya menari di atas dinding tanah, membuat bayangan orang-orang yang duduk di dalamnya memanjang lalu memendek mengikuti gerak api. Hindun membawa sebuah nampan kayu. Di atasnya tersusun beberapa potong roti gandum yang masih hangat, semangkuk kecil minyak zaitun, beberapa butir kurma, dan kendi tanah berisi air yang diambil dari sumur tidak lama sebelum matahari tenggelam. “Silakan.” ucapnya pelan. “Semoga Allah memberkahi rezeki yang sedikit ini.” Abdullah segera menjawab, “Semoga Allah memberkahi rumah ini dan orang-orang yang menghuninya.” Mereka makan sebagaimana kebiasaan kaum Muslimin. Tidak banyak berbicara ketika tangan masih memegang makanan. Yang terdengar hanyalah desir angin, bunyi pelita yang sesekali berkeretak halus, dan suara Khalid yang sedang berusaha menenangkan anak kambing yang terus mengembik di halaman belakang.
Sesudah selesai makan, Malik menuangkan air ke dalam mangkuk-mangkuk tanah. Beliau meminum seteguk, kemudian meletakkannya kembali. “Abdullah.” “Ya.” “Aku ingin menunjukkan sesuatu.” Beliau bangkit menuju sudut ruangan. Di sana berdiri tiga buah peti kayu dengan ukuran yang berbeda. Peti pertama hanya sebesar bakul gandum. Peti kedua cukup besar untuk menyimpan gulungan kulit, pakaian, dan beberapa perkakas. Sedangkan peti terakhir hampir sepanjang tubuh seorang anak kecil. Abdullah memperhatikan sambungan-sambungannya. Tidak tampak paku besi. Yang terlihat hanyalah pasak-pasak kayu kecil yang dipasang begitu rapat sehingga nyaris menyatu dengan papan. “Sudah berapa lama engkau membuat semuanya?” tanya Abdullah. Malik mengusap permukaan peti terbesar dengan telapak tangannya. “Hampir dua musim.” “Hampir dua musim?” Hilal tampak heran. “Untuk siapa?” Malik tersenyum. “Untuk siapa saja yang membutuhkan.” Beliau membuka tutup peti itu perlahan. Engselnya tidak mengeluarkan bunyi sedikit pun. “Aku terbiasa membuat beberapa peti lebih dahulu.” “Mengapa?” “Sebab ada pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan apabila orang baru memesannya.” Samir mengangguk pelan. “Itu juga kebiasaan saudagar.” Semua mata beralih kepadanya. “Aku selalu menyimpan sedikit gandum lebih banyak daripada yang dibutuhkan.” “Meskipun belum ada pembeli?” Samir tersenyum. “Justru karena belum ada.” Malik tertawa kecil. “Nampaknya Allah mengajarkan pelajaran yang sama kepada tukang kayu dan saudagar.” Suasana menjadi lebih ringan. Untuk beberapa saat mereka melupakan percakapan tentang perjalanan. Di sudut ruangan, Umar masih memegang pahatnya. Ia tidak ikut berbicara. Sejak tadi matanya lebih sering memperhatikan Abdullah. Lelaki itu tidak banyak memberi nasihat. Namun setiap kali berbicara, semua orang mendengarkan. Keinginannya untuk bertanya akhirnya tidak dapat lagi ditahan. “Wahai Abdullah.” Abdullah menoleh sambil tersenyum. “Ada apakah, Umar?” Anak muda itu tampak ragu. Ia melirik ayahnya lebih dahulu. Malik menganggukkan kepala. “Bertanyalah.” Umar menarik napas perlahan. “Apakah benar...” “...kita akan meninggalkan Madinah?” Ruangan yang semula hangat kembali diliputi keheningan. Hindun menghentikan tangannya yang sedang melipat kain. Khalid yang sedang bermain di halaman bahkan ikut memandang ke arah ruang kerja, seolah dapat merasakan perubahan suasana meskipun belum memahami sebabnya.
Abdullah tidak segera menjawab. Beliau memandang wajah Umar beberapa saat. Wajah itu masih muda. Sorot matanya jujur. Di sana tidak tampak rasa takut. Yang ada hanyalah keinginan mengetahui kebenaran. Abdullah kemudian memandang Malik. Malik membalas tatapan itu dengan tenang. Beliau menyerahkan jawaban kepada sahabatnya. Abdullah kembali memandang Umar. “Katakan kepadaku.” “Apa yang engkau ketahui tentang hijrah?” Umar berpikir beberapa saat. “Hijrah adalah meninggalkan suatu tempat.” Abdullah menganggukkan kepala perlahan. “Itu benar.” “Tetapi belum seluruhnya.” Beliau berhenti sejenak. “Hijrah...” “...adalah berpindah karena menaati Allah.” Semua orang tetap diam. “Hari ini...” “...belum ada seorang pun di antara kita yang diperintahkan untuk berangkat.” Suara Abdullah tetap tenang. “Karena itu, janganlah engkau memenuhi hatimu dengan perkara yang belum Allah tetapkan.” Beliau tersenyum kepada pemuda itu. “Isi hari ini dengan pekerjaanmu.” Beliau menunjuk pahat yang masih berada di tangan Umar. “Belajarlah membuat peti yang baik.” “Apabila suatu hari Allah benar-benar memanggil kita berjalan...” “...semoga tanganmu telah cukup terampil untuk membantu saudara-saudaramu.” Umar menundukkan kepala. “Insya Allah.” Jawaban itu pendek. Namun diucapkan dengan keyakinan yang membuat Malik tersenyum bangga kepada putranya. Di luar rumah, malam Rabiul Awal semakin pekat. Dari kejauhan terdengar suara seseorang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dari sebuah rumah yang tidak begitu jauh. Bacaan itu terbawa angin, mengalun lembut di antara kebun-kebun kurma dan lorong-lorong Madinah, seakan menemani malam yang perlahan menutup satu hari lagi dalam kehidupan keluarga-keluarga yang sedang dipersiapkan Allah untuk menempuh jalan yang belum mereka lihat ujungnya.
Malam semakin turun di atas Madinah. Di langit yang jernih, bintang-bintang mulai memenuhi angkasa. Udara yang siang tadi terasa kering kini berubah sejuk. Dari halaman-halaman rumah terdengar suara kendi diturunkan ke dalam sumur, disusul bunyi timba yang menyentuh permukaan air. Sesekali seekor keledai meringkik dari kejauhan, kemudian suasana kembali tenang, seakan seluruh kota sedang beristirahat setelah sehari penuh bekerja. Pelita di ruang kerja Malik mulai mengecil. Hindun memperbaiki sumbunya dengan sepotong lidi agar nyalanya kembali terang. Malik menatap cahaya itu sejenak, lalu bangkit menuju sudut bengkel. Dari sana beliau mengangkat sebuah gulungan kulit yang cukup lebar. Kulit itu belum dijahit. Warnanya masih pucat, pertanda belum lama selesai melalui proses penyamakan.
Beliau membentangkannya di atas meja kayu. “Besok kulit ini harus mulai dipotong.” Samir memperhatikan permukaannya. “Untuk kantung air?” Malik mengangguk. “Dan beberapa kantung kecil.” “Kecil?” “Untuk menyimpan biji-bijian.” Hilal ikut mendekat. Beliau mengusap permukaan kulit itu dengan ujung jarinya. “Halus.” “Aku memilih kulit daripada kambing muda.” “Patutlah.” Hilal mengangguk pelan. “Ia akan lebih ringan dibawa.” Percakapan mereka berlangsung tanpa tergesa. Setiap orang berbicara mengenai sesuatu yang benar-benar dikenalnya. Abdullah tidak ikut menyela. Beliau lebih banyak memperhatikan. Beliau melihat bagaimana jari-jari Malik bergerak ketika menjelaskan letak potongan kulit. Beliau melihat cara Hilal menyentuh permukaan kulit, seolah sedang menilai apakah bahan itu sanggup bertahan menghadapi panas padang.
Beliau melihat Samir menghitung ukuran kantung hanya dengan pandangan mata. Di dalam hati beliau tumbuh rasa syukur. Allah telah mengumpulkan orang-orang dengan kemampuan yang berbeda dalam satu majelis. Khalid masuk sambil membawa dua potong kayu yang ukurannya tidak sama. “Ayah.” Malik menoleh. “Mana yang lebih baik?” Anak itu meletakkan kedua potongan tersebut di atas meja. Yang satu lurus. Yang lain sedikit melengkung. Malik tidak langsung menjawab. Beliau justru memanggil Umar. “Kemarilah.” Umar meletakkan pahatnya. “Lihatlah kedua potongan ini.” Pemuda itu memperhatikannya beberapa saat. “Yang ini lebih baik.” Ia menunjuk kayu yang lurus. “Mengapa?” “Lebih mudah dikerjakan.” Malik mengangguk. Beliau kemudian mengambil kayu yang melengkung. “Lalu yang ini?” “Mungkin sulit.” “Mungkin.” Malik tersenyum. “Tetapi bukan berarti tidak berguna.” Beliau mengambil pisau kecil, kemudian mulai mengikis sedikit demi sedikit bagian yang menonjol. Serpihan kayu jatuh ke lantai. Tidak lama kemudian bentuk kayu itu berubah. Lengkungnya justru menjadi pegangan yang pas untuk sebuah sendok kayu. Malik menyerahkannya kepada Khalid. “Cobalah genggam.” Anak itu menggenggamnya. Matanya berbinar. “Nyaman.” Malik mengusap kepala putranya. “Allah tidak menciptakan semua pohon tumbuh lurus.” Beliau memandang Umar. “Karena tidak semua pekerjaan memerlukan kayu yang lurus.” Abdullah tersenyum tipis. Beliau tidak berkata apa-apa. Namun beliau melihat bagaimana Malik mengajar kedua anaknya. Tidak dengan banyak kata. Melainkan dengan sepotong kayu. Di luar rumah terdengar suara langkah seseorang. Tidak tergesa. Namun mantap. Sesaat kemudian terdengar salam. “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam warahmatullah.” Yang datang adalah Harun, salah seorang murid Syekh Umar. Jubahnya masih memperlihatkan bekas debu jalan. Di tangannya terdapat sebuah kantung kain yang diikat sederhana.
Beliau memberi salam kepada setiap orang yang berada di ruangan itu sebelum duduk di dekat pintu. “Wahai Harun.” sapa Abdullah. “Apakah Guru mengutusmu?” Harun menganggukkan kepala. “Beliau memohon maaf tidak dapat datang malam ini.” “Apakah beliau sehat?” “Alhamdulillah.” Harun tersenyum. “Beliau hanya meminta aku menyampaikan satu pesan.” Semua yang berada di ruangan itu menoleh kepadanya. Harun tidak segera mengeluarkan isi kantung kain yang dibawanya. Beliau meletakkannya lebih dahulu di atas lantai. Kemudian berkata dengan tenang, “Guru meminta agar mulai esok hari...” “...setiap keluarga menuliskan segala sesuatu yang mereka anggap paling penting untuk dibawa apabila Allah benar-benar membuka jalan hijrah.”
Ruangan menjadi hening. Tidak seorang pun menyangka permintaan itu akan datang secepat ini. Harun melanjutkan, “Beliau berpesan...” “...jangan menuliskan apa yang paling mahal.” “...jangan pula apa yang paling banyak.” Beliau berhenti sejenak. “Tuliskan apa yang paling kalian khawatirkan apabila ia tertinggal.” Tidak ada seorang pun segera menjawab. Abdullah menatap lantai. Hilal memandang kedua telapak tangannya. Samir menarik napas panjang. Malik memandang peti-peti yang belum selesai dibuatnya. Di sudut ruangan, Umar dan Khalid saling berpandangan tanpa benar-benar memahami mengapa orang-orang dewasa mendadak kembali diam. Sementara itu, pelita terus menyala dengan tenang. Bayangan mereka bergoyang perlahan di dinding tanah. Dan malam Rabiul Awal itu menjadi saksi awal sebuah perenungan yang akan membawa setiap keluarga memasuki perjalanan batin masing-masing—sebelum mereka benar-benar melangkahkan kaki meninggalkan tanah yang telah mereka cintai sejak dilahirkan.
Malam semakin dalam. Angin yang turun dari arah bukit-bukit batu di sebelah utara membawa hawa yang lebih dingin daripada malam sebelumnya. Api pelita bergerak perlahan setiap kali angin memasuki bengkel kecil milik Malik bin Atiah. Di luar, suara jangkrik mulai terdengar bersahut-sahutan dari sela-sela kebun kurma, sementara kota Madinah sedikit demi sedikit tenggelam ke dalam ketenangan malam. Tidak seorang pun segera menanggapi pesan yang dibawa Harun. Kantung kain yang masih terletak di dekat pintu tidak menarik perhatian siapa pun. Pikiran mereka justru tertuju kepada kalimat terakhir yang disampaikan murid Syekh Umar itu.
“Tuliskan apa yang paling kalian khawatirkan apabila ia tertinggal.” Kalimat itu sederhana. Namun setiap orang memaknainya dengan cara yang berbeda. Samirlah yang pertama memecahkan keheningan. Ia mengusap perlahan kedua lututnya, kemudian menoleh kepada Abdullah. “Wahai Abdullah.” “Ya.” “Apabila pertanyaan itu diajukan kepadamu malam ini...” “...apa yang akan engkau tuliskan?” Abdullah tidak segera menjawab. Beliau memandang nyala pelita yang bergoyang pelan. Beberapa saat berlalu tanpa sepatah kata. Barulah beliau berkata, “Aku belum tahu.” Samir sedikit terkejut. “Engkau belum tahu?” Abdullah mengangguk. “Aku khawatir apabila aku menjawab terlalu cepat...” “...aku hanya akan menjawab dengan lisanku.” Beliau tersenyum tipis. “Sedangkan pertanyaan seperti itu...” “...lebih pantas dijawab oleh hati.” Ruangan kembali sunyi. Harun menundukkan kepala. Ia teringat bagaimana Syekh Umar mengucapkan kalimat yang sama sebelum beliau berangkat meninggalkan rumah. “Jangan minta mereka menjawab malam ini.” “Biarkan mereka membawa pertanyaan itu pulang.” Harun baru memahami maksud gurunya. Ada pertanyaan yang tidak boleh segera dijawab. Karena jawaban yang lahir terlalu cepat sering kali belum lahir dari perenungan. Malik berdiri perlahan. Beliau mendekati rak kayu yang berada di sudut ruangan. Di sana tersusun beberapa perkakas yang telah menemaninya bekerja selama bertahun-tahun. Sebuah kapak kecil. Dua buah pahat. Pisau penyamak. Bor tangan. Palu kayu yang gagangnya mulai mengilap karena terlalu sering digenggam. Satu demi satu beliau mengangkat perkakas itu. Membersihkannya dengan sehelai kain. Lalu meletakkannya kembali. Abdullah memperhatikan tanpa berkata apa-apa. “Sudah berapa lama engkau memiliki palu itu?” tanyanya akhirnya. Malik tersenyum kecil. “Sejak sebelum Umar lahir.” Beliau memandang putra sulungnya yang sedang membantu Hindun membereskan sisa-sisa kayu. “Dahulu ayahku yang membuat gagangnya.” Beliau mengusap bagian kayu yang mulai mengilap. “Sedangkan besinya ditempa oleh seorang pandai besi yang kini telah lama kembali kepada Allah.” Hilal ikut memperhatikan. “Tidak pernah rusak?” “Pernah.” “Lalu?” “Kuganti bagian yang rusak.” Malik tertawa kecil. “Barangkali sekarang tidak ada lagi bagian yang benar-benar sama seperti dahulu.” Semua ikut tersenyum. Samir berkata pelan, “Namun engkau tetap menyebutnya palu yang sama.” “Benar.” “Mengapa?” Malik memandang alat itu cukup lama. “Karena yang kujaga bukan hanya besinya.” Beliau berhenti sejenak. “Aku menjaga amanah yang dititipkan ayahku ketika menyerahkan alat ini.” Tidak ada seorang pun yang menambahkan kata. Angin malam kembali berembus. Pelita bergoyang. Bayangan palu tua itu membesar di dinding tanah sebelum kembali mengecil. Khalid yang sejak tadi memperhatikan orang-orang dewasa akhirnya berjalan mendekati ayahnya. Dengan kedua tangannya yang masih kecil, ia memegang ujung jubah Malik. “Ayah.” “Ada apa?” “Kalau nanti kita pergi...” Kalimatnya terhenti. Ia tampak mencari-cari kata yang tepat. “...apakah palu Kakek ikut dibawa?” Ruangan kembali hening. Pertanyaan itu datang daripada seorang anak yang bahkan belum memahami perjalanan seperti apa yang sedang dibicarakan orang-orang dewasa.
Malik berlutut agar wajahnya sejajar dengan putranya. Beliau tidak langsung menjawab. Tangannya mengusap rambut Khalid perlahan. “Khalid.” “Ya.” “Apabila Allah menghendaki kita tetap tinggal...” “...palu ini akan tetap berada di rumah.” Beliau berhenti sejenak. “Dan apabila Allah membuka jalan yang lain...” “...selama tangan ayah masih mampu membawanya...” “...insya Allah palu ini akan ikut.” Khalid mengangguk puas. Baginya, jawaban itu sudah cukup. Ia kembali berlari ke halaman, mengejar seekor anak kambing yang lolos dari kandangnya. Orang-orang dewasa memperhatikan punggung anak itu hingga menghilang di balik pintu. Abdullah menarik napas panjang. Kemudian beliau berkata hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri, “Anak-anak selalu bertanya tentang benda yang mereka cintai.” Hilal mengangguk pelan. “Sedangkan orang-orang dewasa...” Beliau memandang wajah sahabat-sahabatnya satu per satu. “...lebih sering menyembunyikan apa yang paling mereka cintai.” Tidak ada yang menjawab. Karena setiap lelaki di ruangan itu mengetahui bahwa ucapan Hilal adalah kebenaran yang sedang mereka rasakan malam itu.
Di luar, langit Madinah dipenuhi bintang. Malam terus berjalan perlahan. Dan tanpa mereka sadari, satu demi satu rumah di kota itu mulai menyimpan pertanyaan yang sama—bukan tentang apakah mereka akan meninggalkan Madinah, melainkan tentang apa yang akan mereka bawa apabila hari itu benar-benar tiba. Langit Madinah telah berubah menjadi hamparan hitam yang dipenuhi bintang. Bulan sabit yang tipis menggantung rendah di ufuk barat sebelum perlahan tenggelam di balik perbukitan batu. Cahaya pelita dari rumah-rumah penduduk menjadi satu-satunya penerang di lorong-lorong yang mulai lengang. Sesekali terdengar suara pintu kayu ditutup, disusul langkah-langkah orang yang kembali ke dalam rumah setelah memastikan kambing-kambing mereka telah berada di kandang.
Di bengkel kecil Malik bin Atiah, percakapan mulai berkurang. Bukan karena tidak ada lagi yang hendak dibicarakan. Melainkan karena malam telah mengingatkan mereka bahwa setiap orang mempunyai keluarga yang menunggu kepulangannya. Malik mengangkat kembali palu tua peninggalan ayahnya. Dengan hati-hati beliau meletakkannya di atas rak kayu, tepat di samping pahat dan pisau penyamak yang telah dibersihkan sebelumnya. Beliau melakukan semuanya dengan perlahan, seolah setiap perkakas memiliki tempat yang tidak boleh berubah. Abdullah memperhatikan kebiasaan itu. “Engkau selalu meletakkannya pada tempat yang sama?” Malik tersenyum tanpa menoleh. “Sejak bertahun-tahun.” “Mengapa?” “Karena tanganku akan mencarinya di tempat itu ketika fajar tiba.” Beliau merapikan kembali sebuah gulungan tali rami. “Apabila aku memindahkannya malam ini...” “...maka besok aku sendiri yang akan kesulitan.” Hilal mengangguk pelan. “Rumah yang tertib memudahkan penghuninya.” “Benar.” Malik menoleh kepada Abdullah. “Begitu pula hati.” Tidak ada lagi yang menambahkan kata. Ucapan itu mengendap begitu saja di dalam benak masing-masing. Hindun keluar membawa sehelai kain tebal. Udara malam mulai terasa dingin, terutama bagi mereka yang masih duduk di ruang kerja yang terbuka.
Beliau meletakkan kain itu di dekat suaminya. “Angin malam mulai turun.” Malik menerima kain tersebut sambil mengucapkan syukur. Abdullah memandang pasangan suami istri itu dengan senyum yang hampir tidak terlihat. Rumah itu tidak besar. Tidak dipenuhi barang-barang berharga. Namun setiap sudutnya memperlihatkan sesuatu yang sukar ditemukan di banyak tempat. Keteraturan. Setiap perkakas kembali ke tempatnya. Setiap anak mengetahui tugasnya. Setiap pekerjaan diselesaikan sebelum berganti kepada pekerjaan berikutnya. Tidak ada suara yang ditinggikan. Tidak ada perintah yang diulang-ulang. Segala sesuatu mengalir sebagaimana air yang menemukan jalannya sendiri. Samir seolah membaca isi hati Abdullah. Beliau berkata pelan, “Sudah lama aku memperhatikan rumah Malik.” Abdullah menoleh. “Dan?” “Apabila seseorang ingin mengetahui bagaimana pemilik rumah itu...” “...lihatlah perkakasnya.” Hilal tersenyum kecil. “Seorang pencari mata air melihat tanah.” “Seorang saudagar melihat pasar.” “Dan engkau...” Hilal melirik ke arah Malik. “...melihat perkakas.” Mereka semua tertawa pelan. Tawa itu singkat. Namun cukup menghangatkan malam. Di halaman belakang, Khalid tertidur di atas pangkuan Hindun. Anak kambing yang sejak tadi dikejarnya kini justru meringkuk tidak jauh dari kakinya. Umar menutup pintu kandang setelah memastikan semua ternak telah masuk. Beliau kemudian memadamkan pelita kecil yang tergantung di dekat kandang agar minyaknya tidak cepat habis.
Ketika kembali ke ruang kerja, beliau melihat para tamu telah bersiap berpamitan. Abdullah berdiri lebih dahulu. “Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada rumah ini.” “Aamiin.” jawab Malik. Hilal memeluk sahabatnya dengan erat. Samir menjabat tangan Umar, kemudian mengusap kepala Khalid yang masih terlelap tanpa membangunkannya. Harun yang sejak tadi lebih banyak diam juga bangkit. Beliau memandang bengkel kecil itu sekali lagi. Matanya berhenti pada peti-peti kayu yang belum selesai dikerjakan. Kemudian pada tumpukan kulit yang masih menunggu dijahit. Lalu kepada Malik yang berdiri di depan pintu mengantar tamu-tamunya. Dalam hati Harun berkata, “Setiap rumah sedang menyiapkan sesuatu.” “Tetapi setiap rumah menyiapkannya dengan cara yang berbeda.” Mereka melangkah keluar bersama-sama. Langit Madinah tampak begitu jernih. Bintang-bintang memenuhi seluruh penjuru angkasa hingga seolah tidak menyisakan ruang kosong. Beberapa saat tidak ada yang berbicara. Mereka menikmati suara langkah sandal yang bergesekan dengan tanah, desir angin yang melewati pelepah kurma, dan keheningan kota yang perlahan memasuki pertengahan malam.
Di persimpangan jalan, mereka berhenti. Rumah masing-masing berada pada arah yang berbeda. Abdullah memandang sahabat-sahabatnya satu per satu. Hilal. Samir. Malik. Harun. Masing-masing membawa pekerjaan yang berbeda. Masing-masing memikul tanggung jawab yang tidak sama. Namun malam itu beliau merasakan sesuatu yang belum pernah begitu jelas sebelumnya. Selama bertahun-tahun mereka hidup bertetangga, saling membantu, dan beribadah di masjid yang sama. Baru sekarang beliau menyadari bahwa Allah telah menumbuhkan di antara mereka kemampuan-kemampuan yang saling melengkapi, jauh sebelum seorang pun membicarakan tentang meninggalkan Madinah. Beliau tidak mengucapkan pikiran itu. Hanya mengangkat tangan seraya mengucapkan salam. Mereka pun berpisah menuju rumah masing-masing. Di atas kota Nabi, bintang-bintang terus bersinar dalam diam, sementara malam Rabiul Awal berjalan perlahan menuju sepertiga akhirnya.
BAGIAN 5 — Cahaya yang Masih Menyala
Malam telah melewati pertengahan bagian pertamanya ketika Abdullah bin Yusuf berjalan meninggalkan rumah Malik bin Atiah. Langkahnya tenang, diiringi Hilal dan Samir hingga tiba di persimpangan lorong. Setelah saling mengucapkan salam dan doa, masing-masing mengambil jalan menuju rumahnya. Lorong-lorong Madinah semakin sunyi. Pelita yang tergantung di depan rumah-rumah hanya tinggal beberapa. Sebagian telah dipadamkan agar minyaknya tidak cepat habis. Dari kejauhan terdengar suara seseorang membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara perlahan. Bacaan itu mengalun lembut, terbawa angin malam yang menyusuri kebun-kebun kurma sebelum menghilang di antara dinding-dinding tanah. Abdullah berjalan seorang diri. Beliau mengenal setiap tikungan jalan yang dilewatinya. Di sebelah kanan terdapat rumah seorang penenun yang telah lanjut usia. Di sebelah kiri berdiri kebun kurma milik keluarga Anshar yang setiap musim panen sering mengirimkan beberapa tandan buah kepada tetangga-tetangganya. Tidak jauh dari sana terdapat sebuah sumur umum yang pada siang hari hampir tidak pernah sepi, tetapi kini hanya menyisakan suara timba yang bergoyang pelan diterpa angin.
Beliau berhenti sejenak. Mengangkat wajah memandang langit. Bintang-bintang bertaburan memenuhi angkasa. Di antara sekian banyak perjalanan yang pernah ditempuhnya, langit Madinah selalu menjadi langit yang paling dikenalnya. Setiap kali pulang dari perjalanan dagang, pemandangan pertama yang paling dirindukannya bukanlah rumahnya sendiri. Melainkan langit yang menaungi Kota Nabi. “Alhamdulillah...” ucapnya lirih. Kemudian beliau melanjutkan langkah. Pintu rumah belum tertutup. Cahaya pelita masih tampak dari sela-sela tirai yang menutupi pintu masuk. Abdullah tersenyum kecil. Maryam masih terjaga. Beliau mengucapkan salam sebelum melangkah masuk. “Assalamu’alaikum warahmatullah.” “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Maryam menyambutnya dengan senyum yang hangat. Di atas tikar telah tersedia kendi air, semangkuk susu kambing hangat, dan beberapa potong roti gandum yang masih tersisa dari makan malam.
“Engkau belum beristirahat?” tanya Abdullah sambil melepaskan selendangnya. Maryam menggeleng pelan. “Aku menunggumu.” Abdullah duduk di atas tikar. Beliau meminum air terlebih dahulu sebelum menyentuh roti. “Anak-anak?” “Fatimah telah tidur sejak tidak lama setelah Isya.” “Iskandar?” Maryam tersenyum. “Ia berusaha tetap terjaga.” “Lalu?” “Akhirnya tertidur sambil memegang pelepah kurma yang tadi digunakannya menulis.” Abdullah tertawa kecil. “Di mana sekarang?” Maryam menunjuk ruang sebelah. “Masih di sana.” Abdullah bangkit perlahan. Beliau melangkah menuju ruang tempat kedua anaknya beristirahat. Pelita kecil masih menyala. Cahayanya cukup untuk memperlihatkan wajah Iskandar yang tertidur miring dengan sepotong pelepah kurma berada di samping tangannya. Di dekatnya, Fatimah memeluk kain kecil kesayangannya. Napas keduanya terdengar teratur, menghadirkan ketenangan yang hanya dimiliki anak-anak.
Abdullah berjongkok. Dengan hati-hati beliau mengambil pelepah kurma dari sisi tangan putranya agar tidak patah ketika tubuhnya bergerak saat tidur. Beliau memperhatikan guratan-guratan huruf yang belum selesai ditulis. Sebagian masih miring. Sebagian lain terlalu rapat. Namun di sana tampak kesungguhan seorang anak yang sedang belajar. Abdullah tersenyum. Kemudian mengusap perlahan kepala Iskandar tanpa membangunkannya. “Semoga Allah menjadikanmu seorang yang mencintai ilmu.” bisiknya hampir tak terdengar. Beliau lalu memandang Fatimah. Anak itu tidur begitu lelap hingga sehelai rambutnya jatuh menutupi dahi. Dengan lembut Abdullah menyingkirkannya. Sejenak beliau hanya memandang kedua anaknya dalam diam. Di luar rumah, angin malam terus berembus pelan. Suara bacaan Al-Qur’an dari rumah yang jauh masih terdengar samar. Dan untuk sesaat, segala pembicaraan tentang perjalanan, bekal, pasar, peti, dan manuskrip seakan menjauh. Yang ada hanyalah seorang ayah yang memandang anak-anaknya, lalu bertanya di dalam hati dengan penuh harap: “Ya Allah, ke manapun kelak Engkau menuntun langkah kami, jangan pernah jauhkan mereka dari kitab-Mu dan dari sunnah Nabi-Mu.”
Abdullah tetap berjongkok di sisi pembaringan kedua anaknya. Cahaya pelita yang redup membuat bayangan wajah Iskandar dan Fatimah tampak bergerak perlahan setiap kali nyala api bergoyang ditiup angin yang masuk melalui celah dinding. Dari kejauhan terdengar lolongan seekor anjing padang, lalu kembali sunyi. Malam benar-benar telah menguasai Madinah. Beliau merapikan kembali selimut tipis yang menutupi tubuh Fatimah. Anak perempuan itu menggumam pelan di dalam tidurnya, lalu kembali terlelap tanpa membuka mata. Iskandar bergerak sedikit. Tangannya mencari-cari pelepah kurma yang tadi berada di sisinya. Ketika tidak menemukannya, jemarinya menggenggam ujung tikar, lalu kembali tenang. Abdullah tersenyum kecil. Beliau meletakkan pelepah kurma itu di dekat bantal putranya, cukup dekat sehingga dapat diraih apabila Iskandar terbangun menjelang fajar.
Kemudian beliau berdiri perlahan dan kembali ke ruang depan. Maryam sedang melipat beberapa helai pakaian yang telah kering sejak siang tadi. Lipatannya rapi. Setiap helai disusun menurut ukuran pemakainya. Pakaian Iskandar dipisahkan daripada pakaian Fatimah. Jubah Abdullah yang baru dicuci diletakkan paling atas agar mudah diambil ketika hendak berangkat ke masjid sebelum Subuh. Abdullah duduk di hadapan istrinya. Beberapa saat mereka tidak berbicara. Keheningan seperti itu bukan sesuatu yang asing di antara mereka. Selama bertahun-tahun hidup bersama, mereka telah belajar bahwa tidak setiap kebersamaan harus diisi dengan kata-kata. Maryam memecah kesunyian lebih dahulu. “Apakah malam ini engkau berkumpul di rumah Malik?” “Benar.” “Bagaimana keadaannya?” “Sebagaimana biasanya.” Abdullah mengambil sepotong roti gandum. “Rumah itu selalu membuatku ingin belajar.” Maryam tersenyum. “Aku juga sering merasakan demikian setiap berbincang dengan Hindun.” Abdullah mengangguk. “Masing-masing rumah memiliki pelajaran.” Beliau mencelupkan roti ke dalam minyak zaitun sebelum memakannya perlahan. “Rumah Hilal mengajarkan kesabaran.” “Rumah Qasim mengajarkan amanah.” “Rumah Malik mengajarkan ketelitian.” Maryam memandang suaminya. “Dan rumah kita?” Abdullah tersenyum tipis. “Itulah yang sedang kupikirkan dalam perjalanan pulang.” Maryam tidak segera meminta jawaban. Ia mengetahui suaminya masih mencarinya. Api pelita kembali bergoyang. Di luar rumah terdengar langkah seseorang melewati lorong. Langkah itu tidak tergesa-gesa. Sesaat kemudian terdengar salam kepada penghuni rumah di seberang jalan, disusul jawaban yang lirih. Kehidupan di Madinah belum benar-benar tertidur.
Maryam menyelesaikan lipatan pakaian terakhir. Kemudian ia mengangkat sebuah kantung kain kecil yang selama ini disimpan di dalam peti. Kantung itu tidak besar. Warnanya mulai pudar. Namun jahitannya masih kuat. Beliau meletakkannya di hadapan Abdullah. “Apakah engkau masih mengingatnya?” Abdullah memandang kantung itu beberapa saat. Lalu senyumnya perlahan mengembang. “Tentu.” Beliau mengambilnya dengan kedua tangan. “Ini dijahit oleh ibuku.” Maryam mengangguk. “Beliau memberikannya beberapa hari sebelum kita menikah.” Abdullah membuka ikatannya. Di dalamnya hanya terdapat beberapa benda. Sebuah cincin perak yang telah lama tidak dipakai. Sehelai kain kecil. Dan tasbih sederhana yang dirangkai daripada biji-bijian kering. Beliau mengusap kain kecil itu perlahan. “Ibu selalu menyimpan wewangian di dalam kantung ini.” Maryam masih mengingatnya. Setiap kali ibu mertuanya membuka kantung tersebut, selalu tercium harum yang lembut, bukan harum yang menyengat sebagaimana minyak wangi para saudagar.
Harum itu kini telah lama hilang. Yang tertinggal hanyalah kenangan. Abdullah menutup kembali kantung tersebut. Beliau tidak memasukkannya ke dalam peti. Sebaliknya, beliau meletakkannya di samping pelita. Maryam memperhatikan gerakan itu. “Apakah engkau sedang memikirkan pesan Harun?” Abdullah mengangguk perlahan. “Aku belum membuat daftar apa pun.” “Tetapi engkau sudah mulai mengingat.” Abdullah menarik napas panjang. “Mungkin memang demikian caranya.” Beliau memandang kantung kecil itu. “Seseorang tidak mulai memilih dengan tangannya.” “Melainkan dengan ingatannya.” Maryam menundukkan wajah. Kalimat itu membuatnya ikut mengingat banyak hal. Rumah tempat mereka tinggal. Pohon kurma yang ditanam Abdullah bersama Iskandar. Suara Fatimah tertawa ketika mengejar anak kambing milik tetangga. Majelis-majelis ilmu di Masjid Nabawi. Para perempuan yang hampir setiap pagi bertemu di sumur. Semua kenangan itu seakan memenuhi ruang kecil tempat mereka duduk. Beberapa saat kemudian terdengar ketukan perlahan pada pintu rumah. Bukan ketukan yang tergesa. Melainkan ketukan seseorang yang tidak ingin membangunkan anak-anak yang sedang tidur. Abdullah dan Maryam saling berpandangan. Malam telah semakin larut. Tidak banyak orang yang bertamu pada waktu seperti itu kecuali karena ada keperluan yang penting.
Abdullah bangkit. Beliau melangkah menuju pintu dan mengucapkan salam sebelum membukanya. Di hadapan beliau berdiri Ziyad, murid tertua Syekh Umar. Jubahnya masih dipenuhi debu halus. Di tangan kanannya tergenggam sebuah lentera kecil yang nyalanya hampir padam. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya memperlihatkan bahwa ia baru saja menempuh beberapa rumah malam itu. “Assalamu’alaikum, wahai Abdullah.” “Wa’alaikumussalam warahmatullah.” Abdullah mempersilakan Ziyad masuk. Namun murid tua itu menggeleng dengan hormat. “Aku tidak akan lama.” Beliau menundukkan kepala sejenak sebelum melanjutkan, “Guru memintaku menyampaikan salam kepada engkau dan keluargamu.” Abdullah menjawab salam itu dengan penuh hormat. “Lalu beliau berpesan...” Ziyad berhenti sesaat, memastikan suaranya tidak membangunkan rumah-rumah di sekitar mereka. “...apabila esok matahari telah naik setinggi satu tombak, beliau berharap seluruh keluarga dapat berkumpul di rumah beliau.”
Abdullah memandang wajah Ziyad. “Tidak ada perkara yang mendesak?” Ziyad menggeleng. “Beliau hanya berkata...” Murid itu tersenyum tipis, seakan masih mengingat tepat kata-kata gurunya. “Sudah tiba waktunya setiap rumah saling mendengar isi hati rumah yang lain.” Angin malam kembali berembus lembut melewati lorong Madinah. Pelita di tangan Ziyad bergoyang perlahan. Sementara di dalam rumah Abdullah, sebuah malam yang semula tenang mulai membuka jalan bagi pertemuan yang kelak akan mempererat ikatan seluruh keluarga yang dipersiapkan Allah menuju perjalanan besar mereka. Abdullah menganggukkan kepala perlahan. “Insya Allah, kami akan hadir.” Ziyad membalas dengan senyum yang tenang. “Semoga Allah memudahkan langkah kita.” “Aamiin.” Mereka saling berjabat tangan. Telapak tangan Ziyad terasa kasar, tidak jauh berbeda dengan tangan Hilal ataupun Malik. Bertahun-tahun belajar kepada Syekh Umar tidak menjadikan murid-murid beliau hidup jauh dari pekerjaan. Ketika tidak berada di majelis ilmu, mereka tetap membantu keluarga, mengangkat air, bekerja di kebun, atau mengiringi musafir yang memerlukan penunjuk jalan.
Setelah kembali mengucapkan salam, Ziyad melangkah meninggalkan rumah Abdullah. Lentera kecil di tangannya bergoyang mengikuti irama langkahnya. Cahayanya perlahan menjauh menyusuri lorong, lalu menghilang ketika ia berbelok menuju jalan yang mengarah ke rumah Umar bin Jundab. Abdullah masih berdiri di ambang pintu. Beliau memperhatikan langit Madinah yang dipenuhi bintang. Angin malam menggerakkan pelepah-pelepah kurma sehingga terdengar desiran yang lembut, seakan seluruh kota sedang melantunkan tasbih kepada Penciptanya. Maryam mendekat tanpa bersuara. “Ziyad?” “Benar.” “Aku melihat lentera itu.” Abdullah menutup pintu perlahan. “Guru mengundang seluruh keluarga besok.” Maryam tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk. Selama bertahun-tahun mengenal Syekh Umar, beliau memahami bahwa guru tua itu tidak pernah mengumpulkan banyak orang tanpa tujuan yang baik.
Di saat yang hampir bersamaan, Ziyad telah tiba di rumah berikutnya. Rumah itu milik Hilal bin Rasyid. Pelitanya masih menyala. Dari halaman terdengar suara Rafi’ yang sedang menimba air ke dalam tempayan-tempayan tanah. “Sedikit lagi, Ayah.” “Tidak usah terlalu penuh.” jawab Hilal dari dalam rumah. “Air yang terlalu lama disimpan juga kehilangan kesegarannya.” Rafi’ menganggukkan kepala meskipun ayahnya tidak melihatnya. Ia menuangkan air dengan hati-hati agar tidak meluap. Ketika mendengar salam dari depan rumah, ia segera meletakkan timba. “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam warahmatullah.” Rafi’ membuka pintu. “Silakan masuk, Kakanda Ziyad.” Ziyad tersenyum. “Apakah ayahmu masih terjaga?” “Masih.” Hilal segera keluar menyambut tamunya. Mereka saling berpelukan singkat. “Aku datang tidak membawa kabar buruk.” kata Ziyad sebelum sempat ditanya. Hilal menghembuskan napas lega. “Segala puji bagi Allah.” “Guru hanya memohon agar seluruh keluarga berkumpul esok hari setelah matahari naik setinggi satu tombak.”
Hilal menganggukkan kepala. “Insya Allah.” Tidak ada lagi yang dibicarakan. Ziyad berpamitan sebagaimana ia datang. Tanpa tergesa. Tanpa menambah atau mengurangi pesan yang diamanahkan kepadanya. Hilal memperhatikan punggung murid tua itu hingga menghilang di ujung lorong. Kemudian beliau menoleh kepada putranya. “Rafi’.” “Ya, Ayah.” “Besok bangunlah lebih awal.” “Karena kita akan pergi ke rumah Guru?” “Benar.” Rafi’ mengangguk. Ia tidak bertanya mengapa. Ia hanya melihat ada sesuatu yang berbeda pada wajah ayahnya malam itu. Bukan kegelisahan. Bukan pula ketakutan. Melainkan kesungguhan yang semakin nyata dari hari ke hari. Sementara itu, di rumah Qasim bin Thauban, pelita juga belum dipadamkan. Qasim masih duduk di depan peti kayunya. Namun kali ini tidak ada lagi gulungan kulit yang terbuka. Peti itu telah tertutup rapat. Kedua telapak tangannya bertumpu di atas tutup peti seolah beliau sedang menjaga sesuatu yang sangat berharga.
Salma keluar membawa sehelai kain. “Sudah larut.” ucapnya lembut. “Engkau belum beristirahat.” Qasim mengangkat wajah. “Aku sedang mengingat.” “Mengingat apa?” “Nama-nama.” Salma duduk di samping suaminya. Qasim melanjutkan dengan suara yang pelan. “Setiap gulungan yang kusimpan mengingatkanku kepada seseorang.” “Ada yang telah wafat.” “Ada yang telah lanjut usia.” “Ada yang mungkin tidak akan pernah kutemui lagi.” Beliau mengusap perlahan tutup peti itu. “Kadang-kadang aku takut.” Salma menoleh. “Takut kehilangan tulisan-tulisan itu?” Qasim menggeleng. “Aku takut...” “...tidak mampu menjaga amanah orang-orang yang telah mempercayaiku.” Salma tidak segera menjawab. Ia hanya meletakkan tangannya di atas tangan suaminya. Malam yang sunyi sering kali tidak memerlukan banyak kata. Pada saat itulah terdengar salam dari halaman. “Assalamu’alaikum.” Qasim dan Salma saling berpandangan. Qasim segera bangkit. Beliau telah mengenali suara itu. “Ziyad.” gumamnya lirih. Di luar rumah, angin malam masih berembus lembut. Satu demi satu rumah didatangi oleh murid tertua Syekh Umar. Beliau tidak membawa surat. Tidak membawa cap kerajaan. Tidak pula membawa pengawal. Yang dibawanya hanyalah salam, amanah, dan undangan yang disampaikan dengan penuh adab. Malam Rabiul Awal itu terus berjalan perlahan. Dan tanpa disadari oleh sebagian besar penduduk Madinah, sebuah jalinan yang tidak tampak oleh mata sedang dirajut dari rumah ke rumah—bukan dengan tali, bukan pula dengan kayu atau kulit, melainkan dengan kepercayaan yang telah tumbuh bertahun-tahun di antara orang-orang yang dipersatukan oleh iman.
Ziyad keluar dari rumah Qasim bin Thauban ketika malam telah memasuki sepertiga pertamanya. Cahaya pelita yang dibawanya memantulkan bayangan panjang di atas lorong yang sunyi. Sesekali angin meniup nyala api itu hingga mengecil, namun tidak pernah padam. Di atas langit Madinah, gugusan bintang tampak semakin jelas, seakan tidak terhitung banyaknya. Udara menjadi lebih dingin daripada ketika beliau meninggalkan rumah Syekh Umar selepas shalat Isya. Beliau berhenti sejenak di persimpangan jalan. Masih ada beberapa rumah yang harus didatanginya. Rumah Samir. Rumah Umar bin Jundab. Kemudian rumah Malik yang telah lebih dahulu dikunjunginya ketika membawa salam dari gurunya beberapa waktu lalu.
Ziyad mengangkat wajah memandang langit. Dalam benaknya terlintas wajah Syekh Umar ketika sebelum berangkat beliau hanya berkata, “Jangan tergesa, wahai Ziyad.” “Setiap rumah memiliki waktunya sendiri.” Barulah kini beliau memahami maksud kalimat itu. Ada rumah yang pintunya segera terbuka ketika salam diucapkan. Ada rumah yang lebih dahulu menenangkan anak-anaknya sebelum menyambut tamu. Ada pula rumah yang sedang mengerjakan pekerjaan malam hingga pelitanya masih menyala terang. Setiap rumah memiliki iramanya sendiri. Dan seorang tamu harus menghormati irama itu. Rumah Samir bin Wahhab berada tidak jauh dari jalan yang menuju pasar. Meskipun malam telah larut, masih tercium samar aroma rempah-rempah yang terbawa dari gudang-gudang para saudagar. Angin membawa harum jintan, lada, dan kulit kayu yang bercampur dengan bau tanah yang mulai dingin.
Ketika salam diucapkan, pintu rumah segera terbuka. Yang pertama menyambut adalah Sa’d. Pemuda itu membawa pelita kecil di tangannya. “Assalamu’alaikum, Kakanda Ziyad.” “Wa’alaikumussalam warahmatullah.” “Silakan masuk.” Ziyad menggeleng sambil tersenyum. “Aku hanya menyampaikan amanah.” Samir segera keluar dari ruang dalam. Di belakangnya tampak Ruqayyah sedang menggendong Maryam kecil yang tertidur di bahunya. Anak itu tidak terbangun sedikit pun meskipun pintu dibuka. “Semoga Allah menjagamu, wahai Ziyad.” “Dan semoga Allah menjaga keluargamu.” Ziyad menyampaikan pesan gurunya sebagaimana yang telah disampaikan kepada Abdullah, Hilal, dan Qasim. Tidak ditambah. Tidak dikurangi. Samir mendengarkan dengan kepala sedikit tertunduk. Setelah Ziyad selesai, beliau berkata, “Insya Allah kami akan datang.” Kemudian beliau menambahkan dengan suara yang lebih pelan, “Apakah Guru dalam keadaan sehat?” “Alhamdulillah.” “Beliau hanya tampak lebih banyak diam malam ini.” Samir mengangguk perlahan. “Itu berarti beliau sedang memikirkan sesuatu.” Ziyad tersenyum. “Seperti biasanya.” Keduanya saling memahami. Mereka telah cukup lama berada di majelis Syekh Umar untuk mengetahui bahwa diam beliau sering kali lebih bermakna daripada banyak perkataan.
Setelah berpamitan, Ziyad kembali menyusuri lorong. Langkahnya kini mengarah ke rumah Umar bin Jundab. Di sepanjang jalan, beberapa pelita mulai dipadamkan satu demi satu. Seorang lelaki tua tampak menutup pagar kebun kurmanya. Dua orang pemuda baru pulang dari kandang unta sambil memikul pelana. Di depan sebuah rumah, seorang ibu masih menimang bayinya yang belum juga tertidur. Madinah perlahan memasuki waktu istirahat. Namun kota itu tidak pernah benar-benar tidur. Selalu ada orang yang bangun untuk beribadah. Selalu ada musafir yang baru tiba. Selalu ada keluarga yang menunggu kepulangan salah seorang anggotanya. Dan selalu ada doa yang dipanjatkan dalam keheningan malam. Di rumah Abdullah, pelita mulai dikecilkan. Maryam telah selesai merapikan tikar. Abdullah masih duduk bersandar pada tiang kayu penyangga atap. Kantung kecil peninggalan ibunya masih berada di dekat pelita. Beliau belum memindahkannya. Maryam memperhatikan benda itu. “Apakah engkau akan membawanya esok ke rumah Guru?” Abdullah memandang kantung tersebut beberapa saat. “Lalu untuk apa?” “Aku tidak tahu.” Maryam tersenyum lembut. “Mungkin karena sejak tadi engkau tidak pernah meletakkannya jauh daripada pandanganmu.” Abdullah ikut tersenyum. “Barangkali engkau benar.” Beliau mengambil kantung itu. Membukanya sekali lagi. Jemarinya berhenti pada cincin perak yang berada di dalamnya. Bukan cincin itu yang menarik perhatiannya. Melainkan bekas jahitan di bagian dalam kantung. Beliau mengenal jahitan itu. Ibunya selalu membuat simpul terakhir sedikit lebih rapat daripada yang lain. Dahulu ketika masih kecil beliau pernah bertanya mengapa ibunya melakukan hal itu. Sang ibu hanya menjawab sambil tersenyum, “Agar apabila kantung ini terjatuh di jalan, isinya tidak mudah tercecer.” Mengingat jawaban itu membuat Abdullah menarik napas panjang. Bukan karena sedih. Melainkan karena beliau baru menyadari bahwa bahkan dalam sebuah jahitan kecil, ibunya selalu memikirkan hari-hari yang belum datang.
Maryam melihat perubahan wajah suaminya. Beliau tidak bertanya. Hanya menuangkan sedikit air ke dalam mangkuk tanah dan meletakkannya di dekat Abdullah. Di dalam rumah itu, mereka telah belajar selama bertahun-tahun bahwa kenangan yang baik tidak perlu diputus dengan banyak pertanyaan. Cukup ditemani. Di luar, malam terus berjalan menuju sepertiga akhirnya. Dan di berbagai penjuru Madinah, tanpa saling mengetahui, setiap keluarga yang akan berkumpul esok hari sedang menyelesaikan pekerjaan terakhir mereka sebelum memejamkan mata, sementara hati mereka perlahan bersiap menyambut musyawarah yang akan mempertemukan seluruh keluarga dalam satu majelis di rumah Syekh Umar.
Tidak lama setelah Ziyad meninggalkan rumah Abdullah, lorong di depan rumah itu kembali sunyi. Suara langkah sandal yang semula terdengar perlahan kini telah menghilang bersama bayangan lentera yang dibawanya. Angin malam bertiup semakin lembut, menggerakkan tirai pintu yang terbuat daripada anyaman pelepah kurma. Di kejauhan, seekor unta mengeluarkan suara panjang sebelum kembali diam, disusul desir daun-daun kurma yang bergesekan satu sama lain. Abdullah menutup pintu rumah dengan perlahan. Beliau memastikan penguncinya terpasang sebagaimana mestinya, bukan karena Madinah dipenuhi orang-orang yang berbuat aniaya, melainkan karena kebiasaan menjaga amanah telah diajarkan sejak lama di kota itu. Setelah itu beliau memadamkan pelita yang berada di dekat pintu, menyisakan satu pelita kecil di ruang tengah agar rumah tidak sepenuhnya gelap apabila salah seorang anak terbangun menjelang fajar.
Maryam masih duduk di atas tikar. Di hadapannya terdapat sekeranjang kecil berisi pakaian yang telah selesai dilipat. Ia memeriksa kembali setiap helai, memastikan tidak ada yang tertinggal di halaman ketika matahari mulai tenggelam tadi. “Besok pagi aku ingin lebih awal ke sumur.” ucapnya lirih. Abdullah memandang istrinya. “Karena undangan Guru?” Maryam mengangguk. “Hafsah biasanya datang sebelum matahari terbit. Barangkali Ruqayyah dan Salma juga akan lebih awal.” Abdullah memahami maksud istrinya. Para lelaki sering bermusyawarah di serambi masjid atau di rumah Syekh Umar. Namun para perempuan pun mempunyai caranya sendiri untuk saling menguatkan. Mereka bertemu di sumur. Di tempat menggiling gandum. Di halaman ketika menjemur pakaian. Di sela-sela pekerjaan yang tampaknya sederhana, tetapi sering kali menjadi tempat mereka saling bertukar doa dan menguatkan hati.
“Aku akan membangunkanmu sebelum berangkat ke masjid.” kata Abdullah. Maryam mengangguk pelan. “Semoga Allah membangunkan kita sebelum itu.” Di rumah Hilal bin Rasyid, suasana tidak jauh berbeda. Hafsah baru saja menutup tempayan-tempayan air dengan penutup kayu agar debu malam tidak masuk ke dalamnya. Rafi’ selesai memeriksa tali pengikat kambing, sedangkan Lubna yang sejak tadi mengantuk akhirnya tertidur di pangkuan ibunya sebelum sempat menyelesaikan kisah yang ingin diceritakannya. Hilal duduk di ambang pintu. Tangannya memegang sebuah cangkir tanah berisi air. Beliau tidak meminumnya. Tatapannya justru mengarah ke langit yang dipenuhi bintang. Rafi’ keluar membawa sehelai kain. “Angin mulai dingin, Ayah.” Hilal menerima kain itu. “Terima kasih.” Rafi’ duduk di samping ayahnya. Tidak ada percakapan untuk beberapa saat. Anak muda itu telah belajar bahwa ayahnya menyukai saat-saat sunyi seperti itu. “Ayah.” “Ya.” “Apakah besok kita membawa sesuatu ke rumah Guru?” Hilal berpikir sejenak. “Kita membawa diri kita.” “Maksud Ayah?” “Kadang-kadang...” Hilal memandang putranya. “...itulah bekal yang paling penting.” Rafi’ tidak bertanya lagi. Ia hanya mengangguk, lalu memandang langit bersama ayahnya. Di rumah Samir bin Wahhab, Ruqayyah menyelimuti Maryam kecil yang tertidur pulas di samping ibunya. Sa’d masih duduk di dekat pintu sambil menghaluskan ujung sebuah tongkat gembala menggunakan batu yang licin.
Samir memperhatikannya. “Sudah larut.” “Aku hampir selesai.” “Jangan memaksakan mata.” Sa’d tersenyum. “Tinggal sedikit.” Samir menghampiri putranya. Beliau mengambil tongkat itu. Mengamatinya dari ujung ke ujung. “Engkau menghaluskannya dengan baik.” Sa’d tersenyum bangga. “Besok bawalah ketika menggembala.” “Insya Allah.” Samir menyerahkan kembali tongkat itu. Kemudian beliau mengusap bahu putranya sebelum masuk ke dalam rumah. Tidak ada nasihat panjang. Tidak ada petuah yang berulang. Hanya sentuhan seorang ayah yang membuat hati anaknya merasa dihargai. Malam terus bergerak. Di rumah Qasim, peti kayu telah disimpan kembali ke tempatnya. Di rumah Malik, palu tua peninggalan ayahnya telah tergantung pada pasaknya. Di rumah Umar bin Jundab, serutan-serutan kayu telah disapu bersih dari lantai. Di rumah Abdullah, kantung kecil peninggalan ibunya kini berada di samping mushaf yang selalu dibacanya setiap selesai shalat Subuh.
Satu demi satu pelita dipadamkan. Satu demi satu pintu ditutup. Namun di setiap rumah masih ada hati yang belum benar-benar terlelap. Bukan karena takut kepada hari esok. Melainkan karena mereka mengetahui bahwa pertemuan yang akan datang bukan lagi sekadar pertemuan sahabat. Ada sesuatu yang sedang bergerak perlahan di balik semua musyawarah, doa, dan perjumpaan yang mereka alami selama beberapa hari terakhir. Belum ada seorang pun yang mampu menyebutkan bentuknya. Tetapi setiap orang mulai dapat merasakannya. Di langit Madinah, bintang-bintang tetap bersinar sebagaimana malam-malam sebelumnya. Masjid Nabawi berdiri tenang di tengah kota. Lorong-lorong kembali lengang. Dan ketika sepertiga malam mulai mendekat, satu demi satu penghuni kota Nabi menyerahkan diri ke dalam tidur, berharap Allah mempertemukan mereka kembali dengan fajar yang membawa keberkahan.
Sementara itu, di rumah Syekh Umar, pelita masih menyala. Beliau duduk seorang diri di serambi, ditemani sebuah mushaf yang terbuka di hadapannya. Bibirnya bergerak perlahan melantunkan ayat-ayat Allah. Tidak ada seorang pun yang mengganggu kekhusyukan itu. Sesekali beliau menghentikan bacaan, mengangkat kedua tangan, lalu berdoa dengan suara yang hanya didengar oleh Rabb semesta alam. Malam menyaksikan doa seorang guru. Sedangkan fajar yang belum terbit telah bersiap membawa jawaban-jawaban yang kelak akan mengubah perjalanan keluarga-keluarga itu.
English Version Notice
English Translation Coming Soon
We deeply regret that this epic chapter is not yet available in English. We kindly ask for your patience. The English version will be published shortly.
Please stay tuned for our official updates on Facebook, Instagram, X, TikTok, and LinkedIn.