Panembahan Wonokromo
Bab 001 — Akar dari Hijaz
bulan Safar 40 H / 661 M — Atmosfer Fitnah Kubra
BAGIAN 1 — Angin yang Membawa Kabar
Petang turun perlahan di atas Madinah pada hari ketujuh belas bulan Safar tahun empat puluh Hijriah. Langit di ufuk barat memerah suram seperti bara yang tertutup debu gurun. Angin panas berembus pelan melewati lorong-lorong tanah, membawa bau pasir, peluh unta, dan aroma kurma kering dari pasar Bani Qainuqa’. Di sepanjang jalan sempit dekat Masjid Nabawi, orang-orang masih lalu-lalang sebelum datangnya waktu magrib. Para pedagang mulai menurunkan kain peneduh kedai mereka. Suara kayu beradu terdengar bersahut-sahutan di antara langkah kaki manusia dan ringkikan keledai pembawa gandum. Dari kejauhan terdengar anak-anak kecil berlari sambil tertawa di dekat sumur umum, sebelum seorang perempuan memanggil mereka pulang dengan suara keras. Namun petang itu ada sesuatu yang berbeda di wajah kota Nabi. Orang-orang tampak lebih sering menoleh ke belakang ketika berbicara. Beberapa lelaki bahkan merendahkan suara mereka hingga nyaris hanya terdengar bibir yang bergerak. Di dekat deretan penjual kendi air, Abdullah bin Yusuf berdiri sambil memegangi tali seekor unta muda berwarna cokelat pucat. Sorbannya dililit rapi, tetapi ujung kainnya telah dipenuhi debu perjalanan pendek dari kebun kurma pinggir kota. Di sampingnya, Bilal bin Harits sedang memeriksa karung gandum sambil sesekali menyeka peluh dari tengkuknya.
“Engkau mendengarnya?” Bilal bertanya pelan tanpa mengangkat kepala. Suaranya tenggelam di tengah riuh pasar, namun Abdullah tetap dapat menangkap kegelisahan di balik nada rendah itu. Abdullah belum menjawab. Tatapannya justru tertuju ke arah gerbang utara pasar tempat beberapa musafir baru saja tiba. Debu mengepul di sekitar kaki unta mereka. Pakaian rombongan itu compang-camping dipenuhi pasir perjalanan panjang. Salah seorang lelaki turun dengan tubuh limbung. Janggutnya dipenuhi debu putih kecokelatan, sedangkan kain bagian bahunya tampak robek oleh sesuatu yang tajam. Ada bekas darah mengering di dekat lengannya. Lelaki itu berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti di dekat tempayan air besar. Tangannya gemetar ketika mengambil gayung kayu. Orang-orang pasar mulai memperhatikan. Seorang pedagang kurma tua memicingkan mata sambil mendekat beberapa langkah. “Dari mana kalian datang?” tanyanya hati-hati. Musafir itu meneguk air panjang terlebih dahulu. Dadanya naik turun berat. Peluh mengalir di pelipis hingga membasahi debu di wajahnya. Ketika akhirnya ia mengangkat kepala, matanya terlihat merah seperti seseorang yang telah terlalu lama menahan tidur dan ketakutan. “Dari Kufah...” jawabnya serak. Pasar yang tadi riuh perlahan mulai mereda. Bahkan suara kambing yang terikat di dekat kedai roti terdengar lebih jelas daripada percakapan manusia.
“Apa yang terjadi di Kufah?” tanya lelaki tua tadi lagi, kini lebih pelan. Musafir itu tidak segera menjawab. Ia memandang orang-orang di sekelilingnya satu per satu, seolah takut setiap telinga di pasar dapat membawa celaka. Angin gurun berembus perlahan, menggoyangkan kain-kain dagangan yang tergantung di depan kedai. Di dekat jalan batu kecil, seorang anak berhenti mengunyah roti gandumnya dan memandang kebingungan ke arah kerumunan. Musafir itu akhirnya berkata lirih, namun cukup jelas untuk membuat dada banyak orang menegang. “Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib telah gugur...” Kalimat itu jatuh seperti batu besar ke tengah air tenang. Seorang perempuan yang sedang membawa keranjang kurma spontan menutup mulutnya. Pedagang tua tadi mundur selangkah dengan wajah pucat. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un...” bisiknya gemetar. Di sisi lain pasar, dua lelaki yang sejak tadi bercakap segera menghentikan pembicaraan mereka. Salah satunya cepat menoleh ke sekitar sebelum berkata tertahan, “Rendahkan suaramu...” Abdullah merasakan tenggorokannya mengering. Bilal memandangnya lekat-lekat. Untuk beberapa saat tidak ada satu pun dari mereka berbicara. Yang terdengar hanya desir angin yang membawa pasir tipis melintasi jalan pasar dan bunyi kayu gerobak yang bergesekan pelan. Lalu seorang lelaki muda bersorban hitam mendekat tergesa dari belakang kerumunan. Wajahnya penuh debu dan matanya membara oleh kegelisahan. “Lalu Hasan dan Husain?” tanyanya cepat. “Di mana putera-putera Ali?” Musafir itu menunduk beberapa saat sebelum menjawab pelan, “Mereka masih di Kufah...” Kalimat itu belum sempat benar-benar mengendap ketika suara azan magrib mulai berkumandang dari Masjid Nabawi. Suara muazin mengalun panjang menembus udara petang Madinah, namun malam itu lantunan itu terasa seperti kabar duka yang menggantung di langit kota Nabi.
Orang-orang tidak segera beranjak menuju masjid setelah azan berkumandang. Sebagian masih berdiri mematung di sekitar musafir dari Kufah itu, seolah kaki mereka kehilangan tenaga untuk melangkah. Langit Madinah perlahan berubah gelap. Cahaya merah di ufuk barat mulai tenggelam di balik rumah-rumah tanah liat dan batang-batang kurma yang menjulang diam diterpa angin petang. Di dekat kedai minyak milik seorang tua dari Bani Aslam, lampu-lampu kecil mulai dinyalakan satu demi satu. Nyala apinya bergerak pelan tertiup angin gurun, memantulkan cahaya kekuningan di wajah-wajah manusia yang muram. Abdullah masih berdiri di tempatnya. Tangannya tetap menggenggam tali unta, namun pikirannya terasa jauh mengembara. Di sekelilingnya, bisik-bisik mulai tumbuh seperti api kecil yang menjalar di rerumputan kering.
“Apakah benar beliau gugur karena dibunuh?” tanya seorang lelaki kurus berjanggut tipis sambil merapatkan sorbannya. Musafir Kufah itu mengangkat wajah perlahan. “Aku melihat sendiri orang-orang berlarian menuju masjid di Kufah,” katanya serak. “Orang-orang menangis... sebagian memukul dada mereka. Darah masih tampak di lantai ketika kami tiba.” “Siapa pelakunya?” sahut lelaki lain cepat. Musafir itu menelan ludah. “Orang-orang menyebut seorang Khawarij... namun setelah itu kota menjadi kacau. Banyak pasukan mulai bergerak.” “Pasukan Muawiyah?” tanya Bilal pelan.
Musafir itu tidak segera menjawab. Ia justru menoleh ke sekitar pasar lebih dahulu. Beberapa wajah asing tampak berdiri di kejauhan dekat penjual gandum. Salah seorang di antaranya mengenakan sorban abu-abu gelap dan jubah panjang yang masih bersih meski jalanan dipenuhi debu. Lelaki itu tampak tidak membeli apa-apa. Ia hanya berdiri sambil memperhatikan kerumunan dengan mata menyipit. Musafir Kufah itu merendahkan suaranya. “Banyak orang mulai menyatakan baiat kepada Muawiyah...” katanya perlahan. “Dan nama-nama pendukung Ali mulai dicatat.”
Kalimat itu membuat beberapa orang spontan saling memandang. Seorang perempuan tua menarik cucunya menjauh dari kerumunan. Dua pemuda yang sejak tadi berdiri dekat tiang kayu pasar segera meninggalkan tempat itu tanpa bicara. Bahkan suara hembusan angin terasa lebih dingin setelah ucapan tersebut. Abdullah memperhatikan wajah-wajah di sekelilingnya. Ia mengenali sebagian besar dari mereka. Pedagang minyak, penjual kain, penggembala kambing, tukang kayu, dan para penuntut ilmu yang biasa memenuhi serambi Masjid Nabawi. Namun malam itu wajah-wajah yang ia kenal seumur hidup tampak berubah. Ada ketakutan yang perlahan tumbuh di mata mereka.
“Demi Allah...” bisik Bilal lirih. “Fitnah itu akhirnya tiba juga ke Madinah.” Abdullah akhirnya berbicara setelah sejak tadi diam. “Fitnah itu sudah lama berjalan,” ucapnya pelan sambil memandang jalan pasar yang mulai lengang. “Hanya saja kini ia mulai mengetuk pintu rumah-rumah kita.”
Di dekat mereka, seorang anak kecil tiba-tiba menangis karena terjatuh saat berlari. Ibunya segera mengangkatnya cepat-cepat sambil terus memandang gelisah ke arah kerumunan. Dari arah jalan utama menuju masjid, beberapa lelaki tampak berjalan lebih tergesa daripada biasanya. Sorban mereka berkibar kecil diterpa angin malam. Seorang di antaranya berbisik sesuatu kepada kawannya sambil menunjuk ke arah pasar. Abdullah menangkap kegelisahan di wajah mereka.
Musafir Kufah itu duduk perlahan di dekat tempayan air. Tubuhnya tampak sangat letih. “Di jalan menuju Madinah...” katanya pelan, “aku melihat beberapa rumah pendukung Ali di Hijaz mulai diawasi. Ada yang ditangkap menjelang malam. Ada pula yang menghilang sebelum fajar.” “Siapa yang melakukan semua itu?” tanya lelaki tua penjual kurma. Musafir itu menggeleng perlahan. “Sebagian orang mengaku prajurit. Sebagian lagi hanya lelaki bersenjata yang datang membawa nama penguasa.” Bilal mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rahangnya mengeras. “Mereka ingin membersihkan Madinah dari keluarga Ali.” “Pelankan suaramu,” Abdullah menegur cepat tanpa menoleh.
Bilal menarik napas berat lalu memandang sekeliling. Di kejauhan, lelaki bersorban abu-abu tadi masih berdiri di tempat yang sama. Tatapannya dingin dan tidak bergerak sedikit pun sejak tadi. Hanya matanya yang memperhatikan manusia satu demi satu seperti seseorang yang sedang menghafal wajah-wajah di pasar. Suara azan mulai mereda. Langit kini benar-benar gelap. Lampu-lampu minyak di depan kedai bergerak pelan tertiup angin. Seekor anjing gurun menggonggong pendek dari lorong sebelah timur sebelum akhirnya suasana kembali sunyi. Abdullah memandang ke arah Masjid Nabawi yang berdiri di tengah kota. Cahaya lampunya tampak samar dari kejauhan. Dadanya terasa berat oleh sesuatu yang belum mampu ia beri nama. Namun jauh di dasar hatinya, ia mulai memahami satu perkara: Madinah sedang berubah menjadi tempat yang asing bagi sebagian anak-anaknya sendiri.
“Kita akan terlambat ke masjid,” ucap Bilal pelan sambil mengangkat karung gandum ke atas pundaknya. Namun nada suaranya terdengar kosong, seolah pikirannya tidak benar-benar berada di pasar itu. Abdullah mengangguk kecil. Ia menyerahkan tali untanya kepada seorang anak penjaga kandang dekat sumur lalu mulai melangkah perlahan menuju Masjid Nabawi bersama Bilal. Orang-orang lain mulai bergerak mengikuti arah yang sama. Langkah kaki mereka terdengar berat di atas pasir dan batu-batu kecil jalan Madinah. Tidak banyak percakapan terdengar sekarang. Kalau pun ada, hanya bisik pendek yang segera terputus ketika orang lain mendekat. Dari beberapa lorong sempit, para perempuan tampak berdiri di balik pintu rumah sambil memperhatikan jalanan dengan mata cemas. Sebagian memeluk anak-anak mereka erat-erat. Angin malam mulai turun bersama hawa dingin gurun yang perlahan menggantikan panas siang. Debu tipis beterbangan di sela cahaya lampu minyak yang tergantung di depan rumah-rumah tanah liat.
Ketika mereka melewati lorong dekat rumah keluarga Bani Hasyim, Abdullah melihat dua lelaki asing berdiri di bawah pohon kurma tua. Salah seorang bertubuh tinggi dengan janggut pendek yang dipotong rapi. Yang seorang lagi lebih tua, bermata tajam dan mengenakan jubah cokelat gelap. Mereka tidak berbicara. Namun tatapan mereka mengikuti setiap orang yang melintas menuju masjid. Bilal memperlambat langkahnya sedikit. “Aku tidak pernah melihat mereka sebelumnya,” bisiknya tanpa menggerakkan banyak bibir. “Jangan memandang terlalu lama,” jawab Abdullah tenang. Bilal mendecakkan lidah pelan. “Mereka bukan orang pasar.” “Aku tahu.” “Prajurit?” Abdullah menggeleng samar. “Bukan prajurit biasa.” Langkah mereka kembali berlanjut. Dari kejauhan suara sandal manusia yang menuju masjid terdengar bersahut-sahutan. Seekor keledai melintas sambil menarik gerobak kecil berisi kendi air. Kayunya berderit pelan setiap kali roda melewati batu jalan yang tidak rata. Di depan sebuah rumah dekat lorong sempit, seorang lelaki tua tampak buru-buru memadamkan lampu minyak di luar rumahnya begitu melihat dua lelaki asing tadi berjalan perlahan ke arah lain. Abdullah memperhatikan semuanya dalam diam. Dadanya mulai dipenuhi kegelisahan yang makin sulit disembunyikan.
“Abdullah...” Bilal kembali membuka suara setelah mereka mendekati halaman masjid. “Jika mereka mulai mendata nama-nama pendukung Ali di Kufah, maka Madinah tidak akan lama lagi menyusul.” “Mungkin daftar itu sudah ada sebelum ini,” jawab Abdullah pelan. Bilal menoleh cepat. “Maksudmu...” “Orang-orang yang mencintai keluarga Nabi selalu diawasi.” Abdullah memandang pelataran Masjid Nabawi yang mulai dipenuhi jamaah. “Hanya saja sekarang mereka tidak lagi merasa perlu menyembunyikannya.” Mereka melewati beberapa lelaki penuntut ilmu yang biasa duduk di majelis Syekh Umar. Yusuf ash-Shaghir tampak berdiri dekat salah satu tiang masjid dengan wajah pucat. Pemuda itu biasanya banyak berbicara, namun malam ini bibirnya rapat. Di dekatnya, Musa al-Yamani sedang menenangkan seorang lelaki tua yang terus menggenggam tasbih kayu sambil beristighfar pelan.
“Apakah kabar itu benar?” tanya Yusuf cepat begitu melihat Abdullah mendekat. Abdullah mengangguk perlahan. Wajah Yusuf langsung berubah pucat. “Demi Allah...” bisiknya lirih. “Aku masih mengingat khutbah Amirul Mukminin ketika beliau datang ke Madinah dahulu.” “Pelankan suaramu, anak muda,” Musa mengingatkan lembut sambil memegang bahunya. Yusuf menunduk cepat. Di sekitar mereka, jamaah terus berdatangan. Namun malam itu suasana masjid tidak seperti biasanya. Orang-orang memang tetap datang untuk shalat, tetapi wajah mereka dipenuhi sesuatu yang lebih berat daripada keletihan perjalanan atau urusan perdagangan. Bahkan suara langkah kaki di pelataran masjid terdengar seolah lebih hati-hati.
Ketika Abdullah hendak memasuki halaman utama, matanya kembali menangkap sosok lelaki bersorban abu-abu yang tadi berada di pasar. Kini lelaki itu berdiri di dekat tempat wudhu sambil berpura-pura membasuh tangan. Namun matanya terus bergerak memperhatikan orang-orang yang datang. Sesekali ia berbicara singkat kepada lelaki lain yang berdiri di dekat pilar batu bagian luar masjid. Abdullah mengenali tatapan seperti itu. Tatapan seseorang yang sedang menghitung dan mengingat wajah manusia. Bilal juga melihatnya. “Ia mengikuti kita sejak pasar,” gumamnya pelan. Abdullah menarik napas panjang. Udara malam Madinah terasa lebih dingin dari biasanya. “Mulai malam ini,” katanya lirih tanpa memandang Bilal, “jangan lagi berbicara sembarangan di jalan-jalan kota.” Bilal terdiam.
Lalu dari dalam masjid terdengar suara iqamah mulai dikumandangkan. Jamaah segera merapatkan barisan. Namun di tengah lantunan panggilan shalat itu, Abdullah merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya sepanjang hidupnya di Madinah: ketakutan yang perlahan masuk ke jantung kota Nabi. Barisan jamaah mulai rapat memenuhi lantai Masjid Nabawi yang dingin. Cahaya lampu-lampu minyak memantul redup di tiang-tiang kayu penyangga atap masjid. Bau tanah, debu perjalanan, dan minyak zaitun bercampur menjadi satu di udara malam Madinah. Abdullah berdiri di saf tengah bersama Bilal, sementara di sebelah kanan mereka Yusuf ash-Shaghir tampak masih menundukkan kepala dalam-dalam. Nafas pemuda itu terdengar tidak teratur. Tangannya beberapa kali bergerak menggenggam ujung pakaiannya sendiri seperti seseorang yang sedang berusaha menenangkan kegelisahan dalam dada. Di bagian belakang masjid, beberapa musafir dari Kufah duduk bersandar di tiang dengan tubuh lelah dan wajah kusam dipenuhi pasir perjalanan. Salah seorang dari mereka bahkan masih memperlihatkan bekas luka memanjang di dekat pelipis yang belum benar-benar mengering.
Imam mulai mengangkat takbir. Suara itu menggema lembut di dalam masjid. Seluruh jamaah mengikuti gerakan shalat dengan tertib, namun malam itu kekhusyukan mereka terasa dipenuhi beban berat. Ketika ayat-ayat Qur’an dibacakan, beberapa orang tampak menundukkan kepala lebih lama dari biasanya. Seorang lelaki tua di saf depan terdengar sesenggukan pelan saat imam membaca ayat tentang kesabaran dan ujian manusia. Bahkan desir angin yang masuk melalui sisi terbuka masjid terasa membawa kesedihan yang sulit dijelaskan. Abdullah sendiri berusaha memusatkan hati pada shalatnya, namun pikirannya terus kembali pada wajah-wajah di pasar tadi: musafir berdebu dari Kufah, lelaki bersorban abu-abu, dan bisik manusia tentang nama-nama yang mulai dicatat.
Seusai salam, suasana masjid tidak segera ramai sebagaimana biasanya. Tidak banyak orang bercakap keras. Jamaah justru berkumpul dalam lingkaran-lingkaran kecil dengan suara rendah dan wajah muram. Sebagian memilih segera pulang sebelum malam makin larut. Dari luar masjid terdengar suara langkah unta yang melintas pelan di jalan utama kota. Bilal mengusap wajahnya panjang lalu menoleh ke arah Abdullah. “Aku tidak menyukai suasana ini,” katanya lirih. “Tidak ada seorang pun yang menyukainya,” jawab Abdullah pelan. Di dekat salah satu tiang masjid, beberapa lelaki mulai mengelilingi musafir Kufah yang tadi membawa kabar. Suara mereka rendah, namun sebagian kalimat masih terdengar samar. “Benarkah rumah-rumah keluarga Ali dijaga?” “Apakah Hasan telah dibaiat?” “Berapa banyak yang terbunuh?” Musafir itu menggeleng lemah. “Kota menjadi kacau setelah wafatnya Amirul Mukminin,” jawabnya perlahan. “Sebagian manusia menangis... sebagian lain justru mulai mencari keuntungan.”
Seorang lelaki muda berjubah gelap tiba-tiba berkata dengan nada marah tertahan, “Muawiyah tidak akan berhenti sampai seluruh pengikut Ali dibungkam.” “Diam!” bisik lelaki yang lebih tua cepat sambil menarik lengannya. “Apakah engkau ingin seluruh masjid mendengar ucapanmu?” Pemuda itu mengepalkan rahang namun akhirnya menunduk. Abdullah memperhatikan kejadian itu dalam diam. Ketakutan kini benar-benar terasa hidup di tengah manusia. Bahkan nama-nama besar yang dahulu disebut dengan lantang kini mulai diucapkan seperti rahasia.
Tidak jauh dari mereka, Syekh Umar al-Madani akhirnya tampak keluar dari salah satu serambi masjid. Langkah ulama tua itu pelan namun tegak. Janggut putihnya bergerak lembut diterpa angin malam. Wajahnya tampak letih, seolah usia dan kesedihan malam itu sama-sama menambah berat di pundaknya. Orang-orang segera memberi jalan ketika beliau melintas. Beberapa penuntut ilmu mendekat hormat, termasuk Yusuf dan Musa al-Yamani. “Wahai Syekh...” Yusuf berkata lirih dengan mata berkaca-kaca, “apakah benar Amirul Mukminin telah gugur?” Syekh Umar memandang pemuda itu beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk perlahan. “Semoga Allah merahmati Ali bin Abu Thalib,” ucapnya tenang. “Beliau telah kembali kepada Rabb-nya.”
Suasana di sekitar mereka semakin sunyi. Bahkan orang-orang yang tadi berbisik mulai menahan napas untuk mendengar ucapan ulama tua itu. “Wahai manusia...” Syekh Umar melanjutkan dengan suara rendah namun jelas, “jangan biarkan kesedihan menyeret kalian kepada kebencian yang membutakan. Fitnah yang besar telah dibuka. Dan apabila hati manusia dipenuhi amarah, maka darah akan lebih mudah tumpah daripada air.” Seorang lelaki di belakang bertanya dengan nada cemas, “Lalu apa yang harus kami lakukan, wahai Syekh?” Syekh Umar tidak segera menjawab. Tatapannya bergerak perlahan mengelilingi wajah-wajah di sekitarnya. Wajah-wajah lelah, takut, dan dipenuhi kegelisahan. Di kejauhan, dekat pintu luar masjid, Abdullah kembali melihat lelaki bersorban abu-abu itu berdiri dalam diam sambil memperhatikan mereka semua. “Jagalah lisan kalian,” jawab Syekh Umar akhirnya pelan. “Dan jagalah keluarga kalian.”
Ucapan Syekh Umar menggantung lama di udara malam Masjid Nabawi. Tidak seorang pun segera menjawab. Orang-orang hanya saling memandang dengan wajah yang makin muram. Di salah satu sudut masjid, lampu minyak kecil berkeredip pelan tertiup angin yang masuk dari sela-sela dinding terbuka. Bayangan manusia bergerak samar di lantai pasir dan batu. Abdullah memperhatikan wajah Syekh Umar yang tampak lebih tua malam itu. Garis-garis halus di sekitar mata ulama tersebut terlihat semakin dalam di bawah cahaya kekuningan lampu masjid. Di dekat pintu luar, beberapa jamaah mulai pergi terburu-buru sambil merapatkan sorban mereka. Suara langkah sandal terdengar bersahutan menuju lorong-lorong Madinah yang mulai gelap.
Ucapan Syekh Umar menggantung lama di udara malam Masjid Nabawi. Tidak seorang pun segera menjawab. Orang-orang hanya saling memandang dengan wajah yang makin muram. Di salah satu sudut masjid, lampu minyak kecil berkeredip pelan tertiup angin yang masuk dari sela-sela dinding terbuka. Bayangan manusia bergerak samar di lantai pasir dan batu. Abdullah memperhatikan wajah Syekh Umar yang tampak lebih tua malam itu. Garis-garis halus di sekitar mata ulama tersebut terlihat semakin dalam di bawah cahaya kekuningan lampu masjid. Di dekat pintu luar, beberapa jamaah mulai pergi terburu-buru sambil merapatkan sorban mereka. Suara langkah sandal terdengar bersahutan menuju lorong-lorong Madinah yang mulai gelap. “Wahai Syekh...” suara lain terdengar dari belakang kerumunan. Seorang lelaki bertubuh kurus dengan janggut tidak terurus melangkah maju perlahan. “Apakah benar mereka mulai menangkap orang-orang yang setia kepada keluarga Ali?” Beberapa kepala langsung menoleh cepat ke arah lelaki itu. Bahkan Bilal tampak menarik napas pendek seolah khawatir pertanyaan tersebut terdengar oleh telinga yang salah. Syekh Umar memandang lelaki itu tenang. “Berita dari berbagai jalan sering bercampur antara benar dan dusta,” jawab beliau hati-hati. “Namun manusia yang tamak kepada kekuasaan biasanya tidak pernah membiarkan rasa takut tidur terlalu lama di tengah rakyat.” Lelaki kurus itu menggigit bibirnya sendiri. “Saudaraku di Yanbu telah mengirim kabar...” katanya lirih. “Ada rumah yang digeledah menjelang malam.” “Dan di Mekah,” sambung lelaki lain cepat, “aku mendengar beberapa orang mulai diminta menyatakan baiat secara terbuka.” “Cukup...” Musa al-Yamani berkata pelan sambil mengangkat tangan menenangkan. “Masjid ini bukan tempat meninggikan suara ketakutan.”
Namun ketakutan itu sudah telanjur hidup di wajah manusia. Abdullah dapat melihatnya dengan jelas. Seorang pemuda terus menoleh ke arah pintu masjid setiap beberapa saat. Dua lelaki tua berbicara sangat pelan sambil menutupi mulut mereka dengan ujung sorban. Bahkan beberapa anak kecil yang tadi bermain di pelataran kini duduk diam dekat ibu mereka, seolah ikut merasakan perubahan udara malam itu.
BAGIAN 2 — Kegelisahan mencekam Madinah
Di luar masjid, suara derap langkah kuda tiba-tiba terdengar melintas cepat di jalan utama kota. Sebagian jamaah spontan menoleh. Bunyi tapal kuda menghantam batu jalan menggema singkat sebelum perlahan menjauh ke arah barat Madinah. Bilal menyipitkan mata. “Mereka mulai bergerak malam-malam begini,” gumamnya pelan. “Siapa?” tanya Yusuf ash-Shaghir cepat. Bilal belum sempat menjawab ketika Abdullah lebih dahulu berkata rendah, “Orang-orang yang ingin memastikan kota ini tetap tunduk.” Yusuf menelan ludah. Wajah mudanya tampak pucat di bawah cahaya lampu minyak. “Apakah Madinah akan menjadi seperti Kufah?” Pertanyaan itu membuat suasana kembali hening. Tidak ada yang segera menjawab. Bahkan Syekh Umar hanya menundukkan kepala beberapa saat sambil mengusap janggut putihnya perlahan. “Kota ini adalah kota Rasulullah,” ucap beliau akhirnya pelan. “Tetapi manusia tetap manusia. Ketika hati dipenuhi cinta dunia dan kekuasaan, maka tidak semua orang lagi memandang kesucian sebagaimana dahulu.”
Angin malam kembali berembus masuk ke dalam masjid. Debu tipis bergerak pelan di lantai dekat pintu. Abdullah merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya. Untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya, ia melihat Masjid Nabawi bukan hanya sebagai tempat ibadah dan ilmu, tetapi juga sebagai tempat manusia menyimpan ketakutan mereka agar tidak tumpah di jalanan. Tiba-tiba seorang anak kecil berlari masuk dari halaman luar sambil terengah-engah. Umurnya mungkin belum lebih dari sepuluh musim. Pakaiannya kusut dipenuhi debu, dan salah satu sandalnya hampir putus. Ia berhenti di dekat seorang lelaki tua sambil berkata dengan napas memburu, “Ayah... ayah... ada prajurit di dekat rumah Bani Harits!” Kerumunan langsung bergerak gelisah. “Prajurit siapa?” tanya seseorang cepat. Anak itu menggeleng gugup. “Aku tidak tahu... mereka membawa tombak...” Bilal memandang Abdullah. Tatapan kedua lelaki itu bertemu sesaat tanpa kata-kata. Namun mereka sama-sama memahami satu perkara: malam ini Madinah mulai berubah menjadi kota yang diawasi.
Di dekat pintu masjid, lelaki bersorban abu-abu itu akhirnya bergerak pergi. Langkahnya tenang, namun sebelum menghilang ke lorong gelap kota, matanya sempat kembali menatap kerumunan jamaah untuk terakhir kali. Tatapan dingin dan panjang seperti seseorang yang sedang memilih nama-nama manusia di dalam kepalanya. Kerumunan jamaah perlahan mulai bubar setelah kabar tentang prajurit di dekat rumah Bani Harits menyebar di pelataran masjid. Tidak ada kepanikan besar, namun kegelisahan tampak jelas di langkah manusia. Sebagian lelaki memilih segera pulang bersama keluarga mereka. Beberapa yang lain berkumpul sebentar dalam lingkaran kecil sebelum akhirnya berpisah dengan suara rendah dan wajah tegang. Lampu-lampu minyak di sepanjang lorong Madinah mulai menyala lebih banyak sekarang. Cahayanya berpendar redup di dinding-dinding tanah liat yang dipenuhi bayangan manusia pulang menjelang malam. Abdullah berjalan keluar masjid bersama Bilal tanpa banyak bicara. Di belakang mereka, Yusuf ash-Shaghir masih mengikuti dengan langkah cepat, sementara Musa al-Yamani tertinggal membantu seorang lelaki tua yang kesulitan berjalan.
Udara malam semakin dingin. Angin gurun membawa debu halus yang sesekali berputar kecil di jalan sempit antara rumah-rumah. Dari kejauhan terdengar suara pintu kayu ditutup lebih keras dari biasanya. Seekor anjing kembali menggonggong pendek sebelum mendadak diam. Madinah malam itu tidak benar-benar sunyi, tetapi suara-suara kecilnya justru membuat kegelisahan terasa lebih hidup. “Aku tidak menyukai tatapan lelaki bersorban abu-abu tadi,” gumam Bilal sambil menoleh singkat ke belakang. “Karena ia memang tidak datang untuk beribadah,” jawab Abdullah pelan. Yusuf yang berjalan di sisi lain langsung mengangkat wajah. “Apakah ia mata-mata?” Bilal mendecakkan lidah. “Di masa seperti ini, seorang lelaki bisa menjadi mata-mata hanya demi sekantung dinar.” “Atau demi keselamatan kepalanya sendiri,” sambung Abdullah tenang.
Mereka melewati lorong kecil dekat rumah Umar bin Jundab. Bau kayu yang baru dipotong masih terasa samar di udara malam. Dari dalam rumah terdengar suara ketukan pelan, mungkin Umar sedang menyelesaikan kerangka peti atau roda gerobak sebelum tidur. Tidak jauh dari sana, cahaya lampu minyak tampak keluar dari rumah Qasim bin Thauban. Bayangan seseorang bergerak di balik kain penutup jendela kecil. Kota itu masih hidup, namun kehidupan malamnya kini dipenuhi kewaspadaan. “Abdullah...” Yusuf kembali membuka suara dengan nada ragu. “Apakah benar mereka akan menangkap keluarga-keluarga yang setia kepada Ali?” Abdullah belum segera menjawab. Langkahnya melambat beberapa saat ketika mereka melewati rumah kosong milik seorang lelaki tua yang wafat beberapa bulan sebelumnya. Pintu rumah itu tertutup rapat, dan debu mulai menumpuk di ambang bawahnya.
“Aku tidak tahu sejauh mana mereka akan melangkah,” jawab Abdullah akhirnya. “Tetapi manusia yang sedang mengejar kekuasaan jarang merasa cukup hanya dengan satu kemenangan.” Bilal menghela napas berat. “Yang paling aku takutkan bukan pedang mereka.” “Lalu?” “Rasa takut yang mereka tanam di hati manusia.” Bilal menatap jalan gelap di depan mereka. “Ketika manusia mulai takut berbicara, maka kota ini akan berubah.” Yusuf terdiam. Pemuda itu tampak menelan kegelisahannya sendiri. Tangannya beberapa kali menggenggam ujung jubahnya yang tipis terkena angin malam.
Ketika mereka mendekati rumah Abdullah, suara lembut bacaan Qur’an terdengar dari salah satu rumah tetangga. Suara itu lirih dan bergetar, dibaca oleh seseorang yang tampaknya sedang berusaha menenangkan hatinya sendiri. Di dekat sumur kecil ujung lorong, seorang perempuan menimba air sambil sesekali memandang jalan dengan cemas. Ember kayu beradu pelan dengan bibir sumur setiap kali tali ditarik ke atas.
Rumah Abdullah berdiri tidak jauh dari kebun kurma kecil milik keluarga mereka. Dindingnya sederhana dari tanah dan batu, namun bersih dan terawat. Cahaya lampu minyak tampak menyala dari dalam. Begitu Abdullah membuka pintu kayu rumahnya, aroma roti hangat dan sup gandum langsung menyambut dari ruang utama. Namun kehangatan rumah itu segera bertabrakan dengan wajah Maryam binti Salman yang tampak cemas sejak melihat mereka masuk. “Kalian terlambat,” ucap Maryam cepat sambil berdiri dari dekat tungku kecil. Kerudungnya belum terpasang sempurna, seolah ia beberapa kali keluar masuk rumah sejak magrib tadi. “Apa yang terjadi di kota?” Abdullah belum menjawab. Ia melepaskan sorbannya perlahan lalu menggantungnya di dekat pintu. Debu tipis jatuh ke lantai tanah rumah. Maryam melangkah mendekat. “Abdullah?” Bilal memandang Maryam beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, “Kabar dari Kufah telah tiba.” Wajah Maryam langsung berubah pucat. “Ali bin Abu Thalib telah gugur,” lanjut Bilal lirih.
Ruangan kecil itu mendadak sunyi. Bahkan suara kayu tungku yang terbakar terdengar jelas di sela napas mereka. Di sudut ruangan, Fatimah kecil yang sejak tadi duduk dekat anyaman kurma perlahan mengangkat wajah kebingungan. Sementara dari balik tirai ruang dalam, Iskandar muncul dengan langkah cepat setelah mendengar percakapan mereka. “Apa maksudnya gugur?” tanya Iskandar polos, meski matanya mulai menangkap kegelisahan orang-orang dewasa di rumah itu. Tidak seorang pun langsung menjawab. Hanya suara angin malam yang masuk melalui celah dinding rumah membawa hawa dingin gurun ke dalam keheningan mereka. Iskandar berdiri di dekat tirai ruang dalam dengan wajah bingung. Cahaya lampu minyak memantul redup di matanya yang masih muda. Anak itu baru saja melewati tiga belas musim kehidupan, namun malam itu ia mulai melihat sesuatu yang selama ini hanya ia dengar dari percakapan orang-orang dewasa: ketakutan. Fatimah kecil perlahan mendekat ke sisi ibunya sambil menggenggam ujung pakaian Maryam erat-erat. Di luar rumah, angin malam bergerak melewati pelepah-pelepah kurma hingga terdengar suara gesekan lembut seperti bisikan panjang dari kejauhan.
Abdullah berjalan perlahan menuju tungku kecil di tengah ruangan lalu duduk di atas hamparan anyaman kasar. Wajahnya tampak letih. Debu perjalanan masih melekat di ujung janggut dan lipatan pakaiannya. Untuk beberapa saat ia hanya memandangi api kecil yang menari di bawah periuk sup gandum. “Ayah...” Iskandar kembali bertanya pelan. “Apa maksud paman Bilal berkata Amirul Mukminin gugur?” Abdullah mengangkat wajah perlahan ke arah putranya. Tatapannya berat, seolah ia sedang memilih kata-kata yang tidak akan merobek hati anak itu terlalu cepat. “Ali bin Abu Thalib telah wafat,” jawabnya akhirnya lirih. Iskandar terdiam. “Dibunuh?” Bilal menundukkan kepala sambil mengusap wajahnya kasar. Maryam memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya duduk perlahan di dekat Fatimah. “Manusia kadang menjadi sangat haus kepada dunia,” ucap Abdullah pelan. “Dan ketika itu terjadi, darah sering tumpah di antara sesama kaum muslimin.” Ruangan kembali sunyi. Hanya suara api kecil dan sesekali bunyi angin yang menekan dinding rumah dari luar. Iskandar melangkah mendekat beberapa langkah. Wajah mudanya tampak tegang. “Apakah Hasan dan Husain juga dalam bahaya?” tanyanya. Pertanyaan itu membuat Maryam spontan menoleh cepat ke arah Abdullah. Bahkan Bilal mengangkat wajah perlahan. Anak itu ternyata mendengar lebih banyak daripada yang mereka kira selama ini. “Mereka berada di Kufah,” jawab Abdullah hati-hati. “Tetapi orang-orang akan melindungi cucu Rasulullah, bukan?” Iskandar bertanya lagi dengan nada yang masih menyimpan harapan polos anak seusianya. Bilal menghela napas panjang. “Nak...” katanya lirih, “di masa fitnah seperti ini, manusia kadang takut melindungi bahkan keluarganya sendiri.”
Iskandar tampak ingin berkata sesuatu lagi, namun suara ketukan cepat di pintu rumah tiba-tiba memotong percakapan mereka. Tok. Tok. Tok. Semua orang langsung diam. Fatimah spontan memeluk lengan ibunya erat. Maryam menahan napas. Bilal mengangkat kepala cepat sambil menoleh ke arah pintu kayu rumah yang bergoyang kecil tertiup angin malam. Ketukan itu terdengar lagi. Kali ini lebih pelan, tetapi tergesa. Abdullah berdiri perlahan. Wajahnya tetap tenang, namun matanya tampak waspada. Bilal ikut bangkit sambil melirik ke sudut ruangan tempat sebuah tongkat kayu panjang bersandar di dekat kendi air. “Siapa?” tanya Abdullah dari dalam rumah. Suara di luar menjawab cepat dengan nada tertahan. “Aku... Hadi bin Malik.” Bilal langsung menghembuskan napas kasar. “Anak itu hampir membuat jantungku berhenti.”
Abdullah membuka pintu perlahan. Hadi bin Malik segera masuk dengan napas berat. Pemuda itu tampak baru datang terburu-buru dari jalan kota. Rambut hitamnya berantakan terkena angin malam. Debu menempel di wajah dan pakaiannya. Ada bekas goresan tipis di dekat rahang kirinya seperti baru terkena gesekan benda tajam. Sorbannya bahkan hampir terlepas dari kepala. “Apa yang terjadi?” tanya Abdullah cepat. Hadi menoleh sekilas ke arah jalan luar sebelum Abdullah menutup pintu rapat. “Mereka mulai bergerak,” katanya dengan napas masih memburu. “Siapa?” “Orang-orang Muawiyah.” Mata Hadi tampak membara oleh amarah dan kegelisahan sekaligus. “Aku baru dari dekat rumah Bani Harits. Ada beberapa lelaki bersenjata mendatangi rumah mereka menjelang isya.” Maryam menutup mulutnya pelan. “Apa mereka menangkap seseorang?” Bilal bertanya. Hadi mengangguk keras. “Dua orang dibawa pergi.” Rahangnya mengeras. “Mereka dituduh menyembunyikan surat dari Kufah.” Ruangan kembali dipenuhi kesunyian berat. Di luar rumah, suara angin gurun terus bergerak melewati lorong-lorong Madinah yang mulai tenggelam dalam malam. Namun kini malam itu tidak lagi terasa damai. Ia terasa seperti sesuatu yang sedang mengintai di balik pintu-pintu kota Nabi.
Hadi masih berdiri dekat pintu dengan dada naik turun berat. Peluh mengalir dari pelipisnya hingga ke leher jubahnya yang kusam oleh debu jalan. Nafasnya berbau pasir dan kelelahan perjalanan malam. Abdullah memandang pemuda itu beberapa saat tanpa bicara. Cahaya lampu minyak membuat bayangan wajah Hadi tampak lebih keras dari biasanya. Ada kemarahan yang belum padam di matanya. “Duduklah dahulu,” kata Abdullah akhirnya pelan. Hadi menggeleng cepat. “Aku tidak datang untuk makan atau beristirahat.” “Tetapi engkau datang dengan napas seperti lelaki yang baru dikejar setan gurun,” sahut Bilal sambil menuangkan air ke dalam cawan tanah liat. Hadi menerima cawan itu lalu meneguknya panjang. Air menetes melewati dagunya yang dipenuhi debu. Setelah itu ia mengusap wajah kasar-kasar sebelum kembali berkata, “Mereka mulai mendatangi rumah-rumah satu demi satu.” “Berapa banyak?” tanya Abdullah. “Aku belum tahu.” Hadi menatap api tungku kecil di tengah ruangan. “Tetapi orang-orang mulai ketakutan. Di lorong dekat rumah Bani Harits tadi, beberapa perempuan menangis ketika para lelaki bersenjata itu masuk.” Fatimah makin merapat ke sisi ibunya. Maryam memeluk putrinya perlahan sambil tetap mendengarkan percakapan mereka. “Apakah mereka prajurit resmi?” Bilal bertanya. Hadi mendecakkan lidah pelan. “Sebagian membawa tombak dan pedang seperti prajurit. Tetapi sebagian lagi hanya lelaki kasar yang berlindung di balik nama penguasa.” Iskandar yang sejak tadi diam akhirnya melangkah mendekat. “Mengapa mereka menangkap orang-orang itu?” tanyanya. Hadi memandang anak itu sejenak. Tatapannya sedikit melunak. “Karena mereka takut,” jawabnya pendek. “Takut kepada siapa?” “Kepada manusia yang masih mencintai keluarga Ali.” Ruangan kembali sunyi. Api tungku berbunyi kecil ketika kayu kering di bawah periuk mulai patah dimakan bara. Dari luar rumah terdengar langkah seseorang melintas cepat di lorong, lalu suara itu perlahan menjauh ke arah selatan kota.
Bilal duduk perlahan di dekat dinding sambil memijat tengkuknya yang pegal. “Aku pernah melihat Madinah ketakutan,” katanya lirih. “Ketika Rasulullah wafat... manusia menangis di jalan-jalan. Tetapi malam ini berbeda.” Ia menatap lampu minyak yang bergoyang kecil tertiup angin dari celah pintu. “Malam ini manusia takut kepada sesama muslim.” Maryam menundukkan wajah. “Aku tidak menyukai semua ini,” bisiknya. Abdullah memandang istrinya lama. Wajah Maryam terlihat pucat di bawah cahaya lampu. Perempuan itu biasanya tenang, tetapi malam ini jemarinya terus bergerak menggenggam kain pakaiannya sendiri. “Apakah keadaan akan menjadi lebih buruk?” tanya Maryam lirih. Tidak ada yang langsung menjawab. Hadi justru berjalan mendekati pintu kecil rumah lalu membuka sedikit celahnya. Udara malam langsung masuk bersama bau pasir dingin dan tanah gurun. Lorong luar tampak sepi. Hanya cahaya samar dari beberapa rumah tetangga yang masih terjaga.
“Aku bertemu Umar bin Jundab di jalan tadi,” kata Hadi tanpa menoleh. “Ia berkata beberapa orang asing terlihat berkeliling dekat rumah-rumah Bani Hasyim sejak sore.” Bilal mengangkat kepala cepat. “Orang yang sama seperti di pasar?” “Mungkin.” Abdullah menarik napas panjang. Ia mulai memahami bahwa ketakutan malam ini bukan sekadar kabar yang dibawa musafir dari Kufah. Ia telah tiba di Madinah bersama mata-mata, bisik-bisik, dan langkah kaki orang-orang bersenjata. “Syekh Umar harus mengetahui semua ini,” ujar Abdullah akhirnya. “Beliau sudah mendengarnya.” Hadi menutup kembali pintu rumah perlahan. “Beberapa murid beliau berkumpul di rumah Musa sebelum aku ke sini.” “Dan apa yang mereka putuskan?” Hadi terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, “Belum ada keputusan.” “Belum ada?” Bilal mengerutkan dahi. “Sebagian ingin tetap diam di Madinah. Sebagian lain mulai berbicara tentang pergi.” Hadi memandang Abdullah lekat-lekat. “Ada yang menyebut Yaman. Ada pula yang ingin menuju Kufah.” “Kufah sekarang seperti bara yang baru disiram minyak,” gumam Bilal. “Dan Madinah perlahan mulai mengering seperti rumput gurun,” sahut Hadi lirih. Ucapan itu membuat semua orang kembali diam.
Di luar rumah, malam semakin larut. Langit Madinah dipenuhi bintang-bintang pucat yang tampak jauh dan dingin. Angin terus bergerak melewati lorong kota, menyentuh pintu-pintu rumah yang kini tertutup rapat lebih awal dari biasanya. Dan di dalam rumah Abdullah bin Yusuf, untuk pertama kalinya, kata “pergi” mulai terasa bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan bayangan yang perlahan mendekat ke kehidupan mereka. Malam kian larut, namun tidak seorang pun di rumah Abdullah benar-benar merasa mengantuk. Sup gandum yang sejak tadi berada di atas tungku perlahan mulai dingin tanpa banyak disentuh. Aroma gandum rebus dan roti hangat masih memenuhi ruangan kecil itu, bercampur dengan bau debu perjalanan yang melekat di pakaian Hadi dan Bilal. Lampu minyak di dekat dinding bergerak kecil setiap kali angin malam menyusup dari celah atap. Bayangan manusia di dalam rumah tampak memanjang dan bergoyang pelan di dinding tanah.
Fatimah akhirnya tertidur di pangkuan Maryam setelah terlalu lama menahan takut dan kantuk. Nafas anak kecil itu terdengar pelan dan teratur. Maryam membelai rambut putrinya perlahan tanpa ikut memejamkan mata. Tatapannya terus berpindah antara Abdullah, Bilal, dan Hadi. Iskandar sendiri masih duduk dekat tungku dengan kedua lutut terangkat. Wajahnya serius mendengarkan pembicaraan orang-orang dewasa, meski sesekali matanya tampak kosong seperti sedang berusaha memahami dunia yang tiba-tiba berubah di hadapannya. “Aku melihat Harits al-Qurasyi malam ini.” Ucapan Hadi membuat Bilal langsung mengangkat kepala. “Harits?” ulang Bilal pelan. “Yang pernah menjadi penghubung Muawiyah di Syam itu?” Hadi mengangguk. “Aku melihatnya dekat rumah Bani Harits sebelum para lelaki bersenjata datang.” Abdullah menyipitkan mata. “Engkau yakin itu dia?” “Aku pernah melihatnya dua tahun lalu ketika ia datang bersama rombongan dagang dari Syam.” Hadi mengepalkan rahangnya perlahan. “Aku tidak mungkin lupa wajahnya.”
Ruangan kembali dipenuhi kesunyian berat. Bahkan suara bara kayu yang pecah terdengar jelas di sela napas mereka. “Kalau Harits sudah berada di Madinah...” Bilal berkata pelan sambil menatap lantai, “maka ini bukan lagi sekadar pengawasan biasa.” Maryam memandang Abdullah cepat. “Siapa lelaki itu?” “Orang yang pandai membuat manusia saling mencurigai,” jawab Abdullah lirih. “Dan orang seperti itu lebih berbahaya daripada lelaki yang membawa pedang.” Iskandar mengerutkan dahinya. “Apakah ia seorang prajurit?” “Tidak selalu,” jawab Bilal. “Kadang ia hanya datang membawa senyum dan kabar baik. Tetapi setelah itu rumah-rumah mulai terbakar oleh fitnah.”
Angin malam kembali menggoyangkan pintu rumah pelan. Di kejauhan terdengar suara keledai melenguh panjang sebelum akhirnya sunyi lagi. Kota Madinah tampak tidur, namun sebenarnya banyak mata masih terjaga di balik pintu-pintu yang tertutup rapat. “Syekh Umar pernah berkata,” gumam Abdullah perlahan, “ketika fitnah mulai berjalan, manusia tidak lagi dibunuh hanya dengan pedang.” Ia mengangkat wajah memandang nyala lampu minyak. “Kadang nama seseorang dibunuh lebih dahulu.” Hadi menunduk sambil mengusap bekas goresan di rahangnya. “Aku hampir terlibat perkelahian tadi.” Maryam langsung menoleh cepat. “Perkelahian?” Bilal menghembuskan napas kasar seolah tidak terkejut sedikit pun. “Aku sudah menduga.” Hadi tampak sedikit malu, namun amarah masih jelas di wajahnya. “Salah seorang lelaki mereka menyebut Ali dengan hinaan.” Jemarinya mengepal keras di atas lutut. “Aku tidak mampu menahan diri.” “Lalu?” tanya Abdullah tenang. “Aku mendorongnya.” Hadi menatap api tungku. “Ia menarik belati. Kami hampir saling menikam kalau orang-orang pasar tidak memisahkan.” Maryam menutup mulut pelan. Iskandar memandang Hadi dengan mata membesar. “Engkau harus lebih menahan amarahmu,” ujar Abdullah rendah namun tegas. “Bagaimana aku menahan diri ketika mereka menghina keluarga Rasulullah?” balas Hadi cepat. Nada suaranya meninggi untuk pertama kali malam itu. “Mereka datang ke Madinah seolah kota ini milik mereka!” “Pelankan suaramu,” Bilal mengingatkan sambil melirik ke arah pintu rumah. Hadi menarik napas panjang lalu menunduk lagi. Otot rahangnya masih bergerak keras menahan gejolak di dadanya.
Abdullah memperhatikan pemuda itu beberapa saat. Ia memahami amarah Hadi. Banyak anak muda Madinah tumbuh dengan kecintaan besar kepada Ali dan keluarganya. Namun Abdullah juga memahami sesuatu yang lebih mengerikan: orang-orang seperti Hadi adalah sasaran paling mudah bagi mereka yang ingin memancing kekacauan. “Dengarkan aku baik-baik,” kata Abdullah akhirnya pelan namun berat. “Mulai malam ini, jangan ada seorang pun bergerak sendirian di jalan kota setelah isya.” Bilal mengangguk kecil. “Dan jangan melayani provokasi mereka,” lanjut Abdullah. “Itulah yang mereka inginkan.” Hadi mengangkat wajah perlahan. “Jadi kita hanya diam?” Abdullah tidak segera menjawab. Tatapannya bergerak ke arah anak-anaknya, lalu kepada Maryam yang masih memeluk Fatimah kecil dalam diam. “Kadang,” katanya lirih, “menjaga keluarga tetap hidup adalah bentuk keberanian yang paling berat.” Ucapan Abdullah membuat ruangan kembali tenggelam dalam diam yang panjang. Hadi menundukkan kepala sambil menarik napas berat. Pemuda itu masih menggenggam lututnya erat-erat hingga urat di punggung tangannya terlihat menegang di bawah cahaya lampu minyak. Api tungku mulai mengecil. Bara merah di dasar kayu sesekali memercik kecil lalu padam kembali. Dari luar rumah terdengar desir angin melewati pelepah kurma dan suara langkah samar seseorang yang berjalan cepat di lorong malam.
Bilal akhirnya memecah kesunyian sambil mengusap janggutnya perlahan. “Aku tidak pernah membayangkan akan melihat Madinah seperti ini.” Ia memandang dinding rumah yang bergoyang kecil terkena angin malam. “Dahulu orang-orang datang ke kota ini untuk mencari ketenangan hati. Sekarang manusia mulai saling mengawasi.” “Fitnah selalu bermula dari rasa takut,” gumam Abdullah. “Dan rasa tamak,” sambung Hadi lirih. Maryam bangkit perlahan lalu mengambil periuk kecil dari dekat tungku. Ia menuangkan sup gandum ke beberapa mangkuk tanah liat dengan gerakan tenang, meski wajahnya masih tampak dipenuhi kecemasan. Aroma hangat gandum dan daging kambing tipis kembali memenuhi ruangan. “Makanlah dahulu,” katanya pelan. “Kalian berbicara tentang ketakutan sejak tadi sementara perut kalian kosong.”
Bilal tersenyum tipis untuk pertama kalinya malam itu. “Demi Allah, Maryam...” katanya sambil menerima mangkuk. “Kadang engkau lebih bijak daripada seluruh lelaki di Madinah.” Maryam tidak membalas gurauan itu. “Lelaki terlalu sering lupa bahwa tubuh yang lapar membuat hati lebih mudah marah.” Hadi menunduk hormat ketika menerima mangkuk dari Maryam. Tangannya yang kasar tampak masih sedikit gemetar oleh emosi yang belum benar-benar reda. Iskandar sendiri segera duduk lebih dekat ke tungku, tetapi matanya tetap mengawasi percakapan orang-orang dewasa. “Ayah...” katanya pelan sambil memegang mangkuk hangat di kedua tangannya. “Apakah kita juga akan dicari?” Bilal langsung menoleh cepat kepada Abdullah. Maryam pun menghentikan gerak tangannya sejenak. Abdullah memandang putranya lama sebelum akhirnya menjawab hati-hati, “Aku tidak tahu.” “Tetapi kita mencintai keluarga Ali,” lanjut Iskandar polos. “Bukankah itu yang mereka cari?” Hadi menatap anak itu dengan sorot mata yang bercampur antara kagum dan sedih. “Nak,” ujar Abdullah perlahan, “mencintai keluarga Rasulullah bukanlah kesalahan.” “Lalu mengapa manusia diburu karena itu?” Tidak ada yang langsung menjawab. Pertanyaan anak itu terasa terlalu jujur bagi dunia orang dewasa yang dipenuhi kepentingan dan ketakutan. Bilal akhirnya menghela napas panjang. “Karena manusia sering menjadikan kekuasaan lebih tinggi daripada hati mereka sendiri.”
Iskandar tampak masih belum benar-benar mengerti, namun ia tidak bertanya lagi. Anak itu hanya menunduk memandangi permukaan sup di mangkuknya yang masih mengepulkan uap tipis.Di luar rumah, suara langkah kembali terdengar melintas. Kali ini lebih dari satu orang. Semua kepala spontan terangkat. Hadi perlahan meletakkan mangkuknya lalu bergerak mendekati pintu tanpa suara. Tangannya seketika bergerak cepat—”Hadi berhenti seketika, lalu menarik napas pendek sambil mengusap wajahnya kasar. Tangannya perlahan meraih tongkat kayu yang bersandar dekat kendi air.
Abdullah memperhatikan lorong kecil di bawah pintu rumah. Bayangan beberapa orang tampak bergerak melewati cahaya lampu luar yang redup. Langkah mereka berat seperti lelaki-lelaki bersenjata. Tok... tok... Suara ketukan terdengar dari rumah sebelah. Maryam langsung memeluk Fatimah lebih erat. Anak kecil itu terbangun perlahan dengan mata setengah takut dan setengah bingung. “Jangan buka pintu!” terdengar suara perempuan dari rumah tetangga dengan nada panik tertahan. Lalu suara lelaki kasar menyahut dari luar, “Kami hanya ingin bertanya!” Bilal mengepalkan rahangnya. Hadi memandang Abdullah dengan mata membara. “Mereka mulai masuk ke lorong-lorong rumah,” bisik Hadi pelan. Abdullah tetap duduk diam, tetapi sorot matanya berubah tajam. Untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar merasakan bahwa Madinah yang selama ini ia kenal perlahan sedang dicengkeram ketakutan yang nyata.
Suara dari rumah sebelah terus terdengar samar menembus dinding tanah. Tidak jelas seluruh percakapannya, namun nada tegang di antara mereka cukup membuat lorong kecil itu terasa semakin sempit dan pengap. Hadi berdiri dekat pintu sambil memegang tongkat kayu erat-erat. Nafasnya terdengar berat. Bilal sendiri perlahan bangkit dari tempat duduknya lalu mendekat ke sisi Abdullah. “Aku mengenali suara itu,” bisik Bilal sangat pelan. “Salah seorangnya lelaki yang tadi berada dekat pasar.” Abdullah tidak menjawab. Tatapannya tetap tertuju ke arah pintu rumah. Lampu minyak di atas dinding bergerak pelan diterpa angin sehingga bayangan mereka tampak hidup dan gelisah di ruangan kecil itu. Dari luar terdengar lagi suara benturan kayu. Tok! Tok! “Buka pintunya!” bentak suara kasar.
Fatimah langsung memeluk Maryam lebih erat hingga wajah kecilnya tersembunyi di dada ibunya. Iskandar menelan ludah sambil menatap pintu tanpa berkedip. Anak itu berusaha terlihat tenang, namun jemarinya mencengkeram mangkuk tanah liat begitu kuat sampai ruas-ruasnya memutih. “Apakah mereka akan masuk ke rumah-rumah lain juga?” tanya Maryam lirih. “Jika malam ini mereka berani mengetuk satu rumah,” jawab Bilal pelan, “maka besok mereka akan mengetuk rumah yang lain.” Hadi memalingkan wajah cepat. “Biarkan aku keluar.” “Tidak,” potong Abdullah tegas namun rendah. “Tetapi—” “Engkau ingin mereka punya alasan untuk menumpahkan darah di lorong ini?” Hadi terdiam. Rahangnya bergerak keras menahan amarah. Pemuda itu memandang pintu seperti seekor singa muda yang dikurung dalam kandang sempit.
Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan menangis tertahan dari rumah sebelah. Setelah itu disusul suara barang jatuh dan langkah kaki tergesa di dalam rumah. Iskandar spontan berdiri. “Mereka menyakiti seseorang...” katanya cepat. Abdullah mengangkat tangan memberi isyarat agar ia tetap diam. Namun bahkan wajah Abdullah sendiri mulai menegang sekarang. Garis-garis di sekitar matanya tampak lebih keras di bawah cahaya lampu. Lalu suara lelaki lain terdengar dari luar lorong. “Sudah cukup!” bentaknya. “Jangan membuat seluruh lorong terbangun!” Suasana mendadak hening beberapa saat. Setelah itu terdengar percakapan pendek dengan nada rendah yang tidak jelas. Kemudian langkah kaki mulai menjauh perlahan dari rumah sebelah. Bunyi besi pedang beradu dengan gesper kulit terdengar samar di tengah desir angin malam. Semua orang di rumah Abdullah tetap diam sampai suara langkah itu benar-benar hilang.
Hadi akhirnya membuka sedikit celah pintu lalu mengintip keluar. Lorong tampak remang-remang diterangi lampu minyak kecil di depan rumah Umar bin Jundab. Debu malam bergerak tipis di atas tanah. Tidak ada siapa-siapa lagi selain seekor kucing kurus yang berlari cepat melintasi jalan sempit. “Mereka pergi,” gumam Hadi. Namun tak lama kemudian pintu rumah sebelah terbuka perlahan. Seorang lelaki tua keluar dengan langkah goyah sambil memegangi dinding. Sorbannya miring hampir terlepas. Di bawah cahaya lampu, tampak bercak darah kecil di dekat pelipisnya. “Itu Abu Faris...” bisik Bilal cepat.
Abdullah segera bangkit lalu berjalan keluar rumah tanpa banyak bicara. Hadi langsung menyusul di belakangnya. Udara malam terasa dingin menusuk kulit. Lorong kecil itu kini dipenuhi bau debu, minyak lampu, dan ketakutan manusia yang belum reda. “Abu Faris!” panggil Abdullah pelan sambil menahan tubuh lelaki tua itu sebelum jatuh. Abu Faris mengangkat wajah perlahan. Nafasnya gemetar. “Mereka mencari surat...” katanya lirih terbata. “Mereka bilang aku menyembunyikan kabar dari Kufah...” “Apakah mereka melukaimu?” tanya Hadi dengan mata membara. Abu Faris tersenyum pahit. “Aku sudah tua...” katanya lemah. “Mereka tidak perlu banyak tenaga untuk menjatuhkanku.”
Dari dalam rumah Abu Faris terdengar suara istrinya menangis pelan sementara seorang anak kecil memanggil ayahnya ketakutan. Abdullah membantu lelaki tua itu duduk di dekat dinding lorong. Cahaya lampu minyak memperlihatkan jelas wajah Abu Faris yang dipenuhi debu dan peluh. Bekas tamparan mulai membiru di pipinya. Bilal keluar membawa kendi air. “Minumlah perlahan.” Abu Faris menerima kendi itu dengan tangan gemetar. Setelah meneguk sedikit, ia memandang Abdullah dengan mata yang dipenuhi kelelahan. “Ini baru permulaan,” bisiknya lirih.
Angin malam kembali berembus melewati lorong Madinah. Jauh di atas mereka, langit kota Nabi tampak gelap dan luas dipenuhi bintang-bintang dingin. Dan di lorong kecil itu, di antara rumah-rumah tanah yang mulai dipenuhi ketakutan, Abdullah perlahan menyadari bahwa malam ini bukan sekadar malam berkabung atas wafatnya Ali bin Abu Thalib. Ini adalah malam ketika pintu fitnah mulai benar-benar dibuka di Madinah. Lorong kecil itu tetap sunyi beberapa saat setelah ucapan Abu Faris menghilang ditelan angin malam. Tidak ada seorang pun yang segera berbicara. Dari dalam rumah-rumah sekitar, beberapa wajah tampak mengintip samar dari balik tirai kain dan celah pintu. Orang-orang belum berani keluar sepenuhnya, namun rasa ingin tahu dan ketakutan membuat mereka terus memperhatikan keadaan lorong. Di kejauhan, suara anjing gurun kembali menggonggong panjang lalu berhenti mendadak. Udara malam Madinah terasa semakin dingin menusuk kulit.
Hadi masih berdiri dengan rahang mengeras. Matanya mengikuti arah para lelaki bersenjata tadi pergi. Tangannya menggenggam tongkat kayu begitu kuat hingga ruas-ruas jemarinya tampak pucat. “Aku bersumpah...” gumamnya pelan namun penuh bara, “suatu hari mereka akan merasakan ketakutan yang sama.” “Jangan biarkan amarahmu berbicara lebih dahulu daripada akalmu,” ujar Abdullah tenang tanpa menoleh. Hadi menghembuskan napas kasar. “Bagaimana aku bisa diam setelah melihat ini?” Ia menunjuk wajah Abu Faris yang lebam. “Beliau lelaki tua. Bahkan berjalan jauh saja sudah sulit.” Abu Faris tersenyum lemah sambil menyeka darah tipis di dekat pelipisnya. “Amarah anak muda selalu lebih panas daripada api tungku,” katanya lirih. “Dan dunia sering memanfaatkannya untuk membakar lebih banyak rumah,” sambung Bilal pelan.
Beberapa saat kemudian pintu rumah Abu Faris terbuka lebih lebar. Hafsah binti Malik keluar dengan wajah pucat sambil membawa kain basah. Kerudungnya sedikit miring seolah dipasang tergesa. Di belakangnya tampak Lubna memegang lengan ibunya dengan mata membesar ketakutan. Gadis kecil itu memandang wajah ayahnya yang lebam lalu menunduk cepat sambil menahan tangis. “Masuklah ke dalam,” kata Hafsah lirih kepada suaminya. Abu Faris menggeleng kecil. “Biarkan aku menghirup udara dahulu.” “Udara malam ini dipenuhi ketakutan,” Bilal bergumam pelan. Hafsah mulai membersihkan luka kecil di wajah suaminya dengan tangan gemetar. Sesekali ia melirik ke arah ujung lorong seolah takut para lelaki bersenjata itu kembali lagi. Rafi’, putra sulung Abu Faris, akhirnya keluar membawa lampu minyak tambahan. Tubuh pemuda itu tinggi dan kuat, namun wajahnya dipenuhi kemarahan yang masih muda dan mentah. “Ayah tidak seharusnya membiarkan mereka masuk,” katanya tertahan. “Dan lalu apa?” Abu Faris memandang anaknya lelah. “Engkau ingin mereka menyeret seluruh keluarga kita malam ini?” Rafi’ menunduk namun dadanya masih naik turun keras.
Abdullah memperhatikan pemuda itu beberapa saat. Ia mengenali tatapan seperti itu. Tatapan anak muda yang mulai melihat ketidakadilan dunia namun belum memahami bahwa kemarahan saja tidak cukup untuk menyelamatkan manusia. “Apa yang mereka cari?” tanya Abdullah perlahan. Abu Faris menelan ludah sebelum menjawab. “Mereka bertanya apakah aku menerima surat dari Kufah.” Ia memandang tanah lorong yang dipenuhi debu tipis. “Mereka ingin tahu siapa saja di Madinah yang masih berhubungan dengan keluarga Ali.” Bilal menyipitkan mata. “Berarti mereka benar-benar sedang menyusun daftar.” Hadi memukul dinding tanah lorong pelan dengan tongkatnya. Debu langsung runtuh kecil dari permukaan dinding. “Daftar...” ulangnya getir. “Seolah manusia dapat dihitung seperti kambing di pasar.” “Bagi penguasa yang takut kehilangan kekuasaan,” kata Abdullah pelan, “nama manusia memang lebih berbahaya daripada pedang.”
Dari arah lorong sebelah tiba-tiba muncul Umar bin Jundab sambil membawa lentera kecil. Tubuh lelaki tukang kayu itu tampak besar di bawah cahaya malam. Janggutnya masih dipenuhi serbuk kayu halus, seolah ia meninggalkan pekerjaannya begitu mendengar keributan tadi. “Aku mendengar mereka masuk ke rumah Abu Faris,” katanya pendek sambil memandang wajah lebam lelaki tua itu. “Dan mereka akan masuk ke rumah lain setelah ini,” sahut Bilal. Umar mengangguk pelan. “Beberapa lelaki asing juga terlihat dekat rumah Malik bin Atiyah sebelum isya.” Ia menurunkan suaranya. “Orang-orang mulai menyembunyikan surat dan catatan mereka.” Mendengar itu, Abdullah langsung teringat Qasim bin Thauban dan Salman al-Katib yang menyimpan banyak tulisan serta catatan perjalanan di rumah mereka. “Qasim harus diberi tahu malam ini juga,” ujar Abdullah cepat. “Aku sudah mengirim Sa’ad untuk memperingatkannya,” jawab Umar.
BAGIAN 3 — Pertemuan-pertemuan Sahabat dan Karib
Angin kembali bergerak melewati lorong, membuat nyala lentera bergoyang kecil. Bayangan mereka memanjang di dinding-dinding rumah tanah yang kusam. Di kejauhan terdengar suara pintu rumah ditutup rapat satu demi satu. Madinah belum tidur malam itu. Kota Nabi sedang menahan napasnya sendiri.
Sa’ad bin Umar muncul tidak lama kemudian dari ujung lorong dengan langkah cepat. Nafas pemuda itu sedikit memburu, sementara peluh masih tampak mengilap di dahinya meski udara malam mulai dingin. Di tangannya tergenggam lentera kecil yang cahayanya bergoyang-goyang mengikuti langkahnya. Tubuhnya tinggi dan tegap seperti ayahnya, Umar bin Jundab, namun wajahnya masih menyimpan kegelisahan seorang pemuda yang baru pertama kali melihat kota tempat ia tumbuh berubah begitu cepat. “Qasim telah menutup rumahnya,” lapornya sambil berhenti dekat ayahnya. “Ia memadamkan lampu bagian depan supaya tidak menarik perhatian.”
“Apakah engkau melihat orang-orang asing di sekitar rumahnya?” tanya Abdullah. Sa’ad mengangguk perlahan. “Dua lelaki berdiri dekat sumur kecil ujung jalan.” Ia menoleh sebentar ke arah lorong gelap di belakangnya. “Mereka berpura-pura berbicara tentang unta, tetapi mata mereka terus memandang rumah-rumah sekitar.” Bilal mendecakkan lidah pelan. “Mereka bahkan tidak lagi berusaha menyembunyikan pengawasan.” “Karena mereka ingin manusia tahu bahwa mereka sedang diawasi,” jawab Abdullah rendah. Hadi memalingkan wajah sambil mengusap tengkuknya kasar. “Kalau begini terus, Madinah akan dipenuhi ketakutan sebelum datang bulan berikutnya.” “Ketakutan sudah masuk malam ini,” gumam Umar bin Jundab sambil memandang pintu-pintu rumah yang tertutup rapat di sepanjang lorong.
Di dalam rumah Abdullah, Maryam masih berdiri di dekat pintu sambil menggendong Fatimah yang belum benar-benar terlelap lagi. Mata anak kecil itu setengah terbuka memandang orang-orang dewasa di luar rumah dengan bingung dan takut. Iskandar sendiri kini berdiri dekat ambang pintu bersama Lubna dan Rafi’ yang keluar dari rumah Abu Faris. Ketiga anak muda itu sama-sama diam, namun wajah mereka memperlihatkan pertanyaan yang sama: apakah hidup mereka mulai berubah malam ini? Dari kejauhan, suara langkah kuda kembali terdengar melintas di jalan utama kota. Kali ini lebih banyak dari sebelumnya. Tapal-tapal besi menghantam batu jalan dengan bunyi berat dan tergesa. Semua kepala spontan menoleh ke arah suara itu. “Mereka berkeliling lagi,” bisik Sa’ad.
Hadi menyipitkan mata ke arah jalan besar di ujung lorong. Cahaya obor samar tampak bergerak jauh di antara rumah-rumah Madinah. “Aku mengenali cara mereka bergerak,” katanya pelan. “Mereka tidak sedang mencari pencuri atau perampok.” “Mereka sedang memperlihatkan kekuasaan,” ujar Bilal. Angin malam membawa suara samar percakapan para penunggang itu, namun tidak cukup jelas untuk dipahami. Hanya nada keras dan tawa pendek yang terdengar sesekali sebelum kembali tenggelam dalam malam. Abdullah memandang langit Madinah yang gelap dan dipenuhi bintang-bintang pucat. Dulu, ketika masih muda, ia sering berjalan malam di kota itu tanpa rasa takut. Lorong-lorong Madinah terasa akrab seperti halaman rumah sendiri. Orang-orang saling mengenal, saling memberi salam, dan saling menjaga kehormatan satu sama lain. Tetapi sekarang sesuatu mulai berubah. Ketakutan telah masuk ke sela-sela pintu rumah dan percakapan manusia.
“Kita tidak bisa terus berdiri di luar seperti ini,” ujar Maryam dari ambang pintu. “Anak-anak mulai ketakutan.” Abu Faris mengangguk lemah. “Masuklah kalian. Malam ini sudah cukup panjang.” Namun sebelum mereka sempat benar-benar bubar, suara seseorang tiba-tiba terdengar dari ujung lorong. “Abdullah!” Semua orang menoleh cepat. Seorang lelaki tua berjubah cokelat tampak berjalan tergesa sambil membawa lentera kecil. Nafasnya memburu dan sebagian janggut putihnya basah oleh peluh. Abdullah langsung mengenalinya. “Salman al-Katib?” Penyalin mushaf tua itu segera mendekat. Tangannya tampak gemetar ketika memegang lentera. “Syekh Umar meminta kalian datang malam ini juga,” katanya cepat dengan suara tertahan. Wajah Bilal langsung berubah serius. “Sekarang?” Salman mengangguk. “Majelis kecil telah dikumpulkan di rumah Musa al-Yamani.” Ia menurunkan suaranya lebih pelan lagi. “Ada kabar baru dari Irak... dan Syekh Umar berkata kita tidak punya banyak waktu lagi.” Lorong kecil itu kembali tenggelam dalam sunyi. Hanya suara angin gurun yang terus bergerak melewati rumah-rumah Madinah seperti membawa pertanda tentang sesuatu yang jauh lebih besar sedang mendekat ke kota Nabi.
Tidak ada seorang pun yang segera menjawab setelah ucapan Salman al-Katib itu. Cahaya lentera kecil di tangannya bergoyang pelan tertiup angin malam, memantulkan bayangan panjang di wajah-wajah mereka yang tegang. Dari kejauhan suara langkah kuda para patroli masih sesekali terdengar samar di jalan utama Madinah. Namun di lorong kecil itu, kesunyian terasa jauh lebih berat daripada suara apa pun. “Kabar apa?” tanya Abdullah akhirnya pelan. Salman menoleh singkat ke kanan dan kiri lorong sebelum menjawab. “Bukan tempatnya dibicarakan di jalan terbuka.” Suaranya sangat rendah, nyaris seperti bisikan angin. “Syekh Umar meminta hanya orang-orang tertentu yang datang.” Hadi mendekat setengah langkah. “Apakah tentang Hasan dan Husain?” “Sebagian tentang itu.” Salman menarik napas pendek. “Sebagian lagi tentang Madinah.”
Bilal mengusap wajahnya perlahan. “Demi Allah... malam ini terus menjadi lebih buruk.” Umar bin Jundab memandang Abdullah dengan sorot mata berat. “Jika Syekh Umar memanggil malam-malam begini, berarti keadaan sudah tidak dapat dianggap ringan.” Abdullah mengangguk kecil. Ia lalu memandang Maryam yang masih berdiri di ambang pintu sambil menggendong Fatimah kecil. Mata istrinya penuh kegelisahan yang tidak lagi mampu disembunyikan. “Aku harus pergi,” kata Abdullah pelan. Maryam menatapnya beberapa saat tanpa bicara. Angin malam meniup sedikit helaian rambut hitam yang keluar dari balik kerudungnya. Wajah perempuan itu tampak pucat diterpa cahaya lampu rumah.
“Apakah keadaan sudah seburuk itu?” tanyanya lirih. Abdullah tidak langsung menjawab. Tatapannya bergerak ke arah Iskandar dan Fatimah, lalu kembali kepada Maryam. “Aku belum tahu,” katanya akhirnya. “Tetapi aku merasa malam ini bukan permulaan yang kecil.” Iskandar melangkah maju. “Aku ikut.” “Tidak,” jawab Abdullah cepat namun tenang. “Tetapi aku—” “Engkau tetap di rumah menjaga ibumu.” Nada suara Abdullah tidak keras, tetapi cukup membuat Iskandar diam. Anak itu menunduk pelan, meski jelas terlihat ia tidak menyukai keputusan tersebut.
Hadi menepuk bahu Iskandar ringan. “Belajarlah dahulu membedakan malam yang harus dihadapi dengan pedang dan malam yang harus dihadapi dengan kesabaran.” “Aku tidak takut,” jawab Iskandar cepat. Hadi tersenyum tipis. “Itulah sebabnya engkau belum boleh ikut.” Bilal terkekeh pendek untuk pertama kalinya malam itu, meski suara tawanya cepat hilang ditelan kecemasan. Abu Faris perlahan bangkit dibantu Rafi’. Wajah lelaki tua itu masih tampak letih, namun sorot matanya mulai lebih tenang setelah orang-orang berkumpul di lorong. “Pergilah,” katanya kepada Abdullah. “Syekh Umar bukan lelaki yang mudah dipenuhi ketakutan. Jika beliau memanggil kalian malam ini, maka dengarkanlah.” Abdullah mengangguk hormat.
Maryam lalu masuk sebentar ke dalam rumah sebelum kembali membawa kain sorban tambahan dan selimut tipis perjalanan. Tangannya bergerak tenang, tetapi jemarinya sedikit gemetar ketika menyerahkan kain itu kepada Abdullah. “Malam semakin dingin,” katanya pelan. Abdullah menerima kain tersebut lalu memandang istrinya lama. Dalam tatapan singkat itu ada sesuatu yang tidak mereka ucapkan: ketakutan bahwa malam-malam setelah ini mungkin akan membawa perubahan besar bagi hidup mereka. Di ujung lorong, Salman al-Katib tampak terus memperhatikan jalan utama kota dengan gelisah. Sesekali ia mengangkat lentera kecilnya sedikit lebih tinggi ketika suara langkah atau derap kuda terdengar dari kejauhan.
“Kita harus bergerak sekarang,” katanya lirih. “Syekh Umar meminta semua datang melalui jalan belakang dekat kebun kurma.” “Beliau takut diawasi?” tanya Bilal. Salman tersenyum pahit. “Sekarang bahkan burung yang hinggap di atap rumah terasa seperti mata yang sedang mengintai.” Angin kembali bertiup melewati lorong kecil Madinah. Debu halus berputar rendah di atas tanah. Lampu-lampu rumah mulai dipadamkan satu demi satu, sementara langit malam semakin gelap dan dalam. Abdullah akhirnya melangkah meninggalkan rumah bersama Bilal, Hadi, dan Salman al-Katib. Langkah mereka pelan namun cepat, menyusuri lorong sempit yang diterangi cahaya lentera kecil dan bulan pucat di atas kota Nabi. Di belakang mereka, Maryam masih berdiri di ambang pintu sambil memeluk Fatimah dan ditemani Iskandar yang terus memandangi ayahnya menjauh ke dalam malam. Dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di Madinah, Maryam merasakan sesuatu yang belum pernah benar-benar ia rasakan sebelumnya: ketakutan bahwa kota Nabi mungkin tidak lagi mampu melindungi keluarganya.
Lorong-lorong Madinah tampak berbeda ketika malam telah larut seperti itu. Pada siang hari jalan-jalan sempit itu dipenuhi suara pedagang, anak-anak, dan unta pembawa barang dari pasar. Namun sekarang hanya cahaya bulan pucat dan beberapa lampu minyak redup yang menemani langkah manusia. Bayangan dinding rumah tanah liat memanjang gelap di kanan kiri jalan. Sesekali angin gurun berembus membawa debu tipis yang bergerak rendah di atas tanah seperti asap samar. Abdullah berjalan paling depan bersama Salman al-Katib. Bilal berada sedikit di belakang sambil sesekali menoleh ke arah lorong yang mereka lewati, sedangkan Hadi terus memperhatikan setiap persimpangan jalan dengan mata tajam. Pemuda itu tampak belum sepenuhnya melepaskan amarahnya sejak melihat Abu Faris diperlakukan kasar. “Lewat sini,” bisik Salman sambil menunjuk jalan sempit di antara dua rumah tua.
Mereka berbelok pelan. Langkah sandal mereka nyaris tidak bersuara di atas pasir jalan yang dingin. Dari salah satu rumah terdengar batuk panjang seorang lelaki tua. Dari rumah lain terdengar bayi menangis kecil sebelum segera ditenangkan ibunya. Kota itu tampak tidur, tetapi sebenarnya banyak manusia masih terjaga dalam kegelisahan. “Aku tidak menyukai jalan memutar seperti ini,” gumam Bilal. “Aku juga tidak menyukainya,” jawab Salman lirih. “Tetapi Musa berkata beberapa orang asing terlihat dekat jalan utama menuju rumahnya.” Hadi mendecakkan lidah pelan. “Mereka benar-benar mulai menyebar.” Abdullah tetap diam. Tatapannya terus bergerak memperhatikan sekitar. Beberapa kali ia melihat bayangan manusia berdiri di balik jendela kecil rumah-rumah yang mereka lewati. Orang-orang tampaknya mulai saling memperhatikan siapa yang berjalan malam-malam seperti ini.
Ketika mereka melewati kebun kurma kecil dekat sumur tua, suara desir pelepah kurma terdengar panjang diterpa angin malam. Bulan setengah menggantung pucat di langit Madinah. Cahaya keperakannya jatuh samar di batang-batang pohon dan tumpukan batu pinggir sumur. Tiba-tiba Hadi mengangkat tangan memberi isyarat berhenti. Semua langsung diam. Dari arah jalan depan terdengar suara langkah beberapa orang mendekat. Bilal segera merendahkan tubuh sedikit. Salman memadamkan lentera kecilnya cepat-cepat hingga lorong itu hanya diterangi cahaya bulan yang pucat. Langkah kaki itu makin dekat. Suara besi beradu samar terdengar bersama percakapan pelan yang terbawa angin malam. “...rumah dekat kebun kurma sebelah timur sudah diperiksa?” “Belum. Kata Harits, beberapa nama masih harus dipastikan.” Abdullah menyipitkan mata. Ia mengenali nama itu segera. Harits al-Qurasyi.
Mereka semua menahan napas dalam diam ketika tiga lelaki bersenjata melintas di jalan depan. Cahaya obor kecil yang mereka bawa bergerak samar di antara batang-batang kurma. Salah seorang mengenakan jubah hitam panjang dengan pedang tergantung di pinggang. Lelaki lain bertubuh besar dan berjanggut tebal, sementara yang ketiga tampak lebih muda namun terus menoleh ke sekitar seperti anjing pemburu yang mencium jejak. “Kota ini terlalu besar untuk diperiksa seluruhnya dalam satu malam,” gumam lelaki berjanggut tebal itu. “Tetapi kita hanya mencari orang-orang tertentu,” jawab yang lain. Mereka terus berjalan hingga suara langkah dan obor mereka perlahan menjauh ke arah jalan utama.
Beberapa saat tidak seorang pun bergerak. Hanya suara angin dan detak napas mereka sendiri yang terdengar di tengah kebun kurma gelap itu. “Mereka benar-benar sedang memburu nama,” bisik Bilal akhirnya. “Dan mereka belum puas dengan rumah Abu Faris,” sambung Hadi dengan mata menyala. Salman menyalakan kembali lenteranya dengan tangan sedikit gemetar. “Kita harus cepat.” Suaranya makin pelan sekarang. “Aku mulai merasa bahkan dinding-dinding Madinah ikut mendengarkan manusia.” Mereka kembali berjalan melewati jalan kecil belakang kebun. Tanah di sana lebih lembap karena dekat saluran air lama. Bau tanah basah bercampur aroma kurma matang memenuhi udara malam.
Tidak lama kemudian tampak rumah Musa al-Yamani di ujung jalan kecil. Rumah itu sederhana dengan dinding tanah berwarna gelap dan pintu kayu rendah. Tidak ada lampu tergantung di luar sebagaimana biasanya. Hanya cahaya sangat samar yang keluar dari sela bawah pintu. Salman mengetuk perlahan tiga kali. Tok... tok... tok... Beberapa saat tidak ada jawaban. Lalu terdengar suara pelan dari dalam. “Siapa?” “Salman al-Katib bersama Abdullah bin Yusuf.” Suara kayu bergeser pelan terdengar dari balik pintu. Setelah itu pintu terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Musa al-Yamani yang diterangi cahaya lampu minyak dari dalam rumah. Tatapan lelaki itu tampak lebih berat dari biasanya. “Cepat masuk,” katanya lirih. “Syekh Umar sudah menunggu.”
Musa al-Yamani segera menutup pintu begitu mereka masuk. Suara kayu bergeser terdengar pelan namun berat di tengah kesunyian malam. Ruangan dalam rumah itu remang-remang diterangi tiga lampu minyak kecil yang diletakkan di sudut-sudut berbeda. Bau minyak zaitun, debu kitab tua, dan anyaman kurma memenuhi udara. Rumah Musa tidak besar, namun cukup hangat. Dinding tanahnya dipenuhi rak-rak kayu sederhana tempat gulungan kulit dan lembaran catatan disimpan rapi. Di salah satu sudut tampak kendi air besar dan beberapa mangkuk tanah liat yang belum tersentuh. Beberapa lelaki sudah duduk melingkar di atas hamparan kasar. Qasim bin Thauban tampak paling dekat dengan lampu minyak sambil memegangi sebuah gulungan kecil di tangannya. Wajah penulis itu terlihat lebih pucat dari biasanya. Di sebelahnya duduk Umar bin Jundab dengan tubuh besar membungkuk sedikit ke depan, sementara Yusuf ash-Shaghir tampak gelisah di dekat dinding sambil terus memainkan ujung sorbannya.
Dan di bagian paling ujung ruangan, Syekh Umar al-Madani duduk bersandar pada bantal tipis dengan wajah muram yang tenang. Cahaya lampu membuat janggut putih beliau tampak seperti perak kusam di tengah malam. Mata ulama tua itu terlihat lelah, namun tetap tajam memperhatikan setiap orang yang masuk. “Duduklah,” ujar beliau pelan. Abdullah dan Bilal segera mengambil tempat. Hadi duduk sedikit terpisah dekat pintu, seolah masih siap berdiri sewaktu-waktu bila sesuatu terjadi di luar rumah.
Beberapa saat tidak ada yang berbicara. Hanya suara api kecil lampu minyak dan desir angin di luar rumah yang terdengar samar. Syekh Umar akhirnya mengangkat wajah perlahan. “Berapa banyak lorong yang telah diperiksa malam ini?” tanyanya. “Tiga yang aku ketahui,” jawab Umar bin Jundab pendek. “Dan semuanya rumah orang-orang yang dikenal dekat dengan keluarga Ali.” Qasim menambahkan pelan, “Beberapa penulis dan pembawa surat juga mulai dicari.” “Karena tulisan lebih panjang umurnya daripada manusia,” gumam Salman al-Katib lirih. Syekh Umar mengangguk kecil. “Orang yang ingin menguasai sejarah selalu takut kepada catatan.” Yusuf ash-Shaghir menelan ludah sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya, “Wahai Syekh... apakah keadaan benar-benar akan memburuk?” Semua mata perlahan tertuju kepada ulama tua itu.
Syekh Umar tidak langsung menjawab. Beliau justru memandang lampu minyak di dekat dinding beberapa saat seperti sedang mengumpulkan sesuatu dalam hatinya sendiri. “Ketika Rasulullah wafat,” ujar beliau akhirnya pelan, “umat ini diuji dengan kehilangan.” Suara beliau tenang, namun setiap katanya terasa berat memenuhi ruangan kecil itu. “Ketika Utsman wafat, umat ini diuji dengan kemarahan.” Beliau menarik napas perlahan. “Dan setelah Ali gugur...” mata beliau bergerak memandang mereka satu per satu, “umat ini akan diuji dengan ketakutan.” Ruangan kembali sunyi.
Di luar rumah terdengar suara angin menggoyangkan pelepah kurma. Bayangan lampu bergerak pelan di dinding tanah. Bilal mengusap wajahnya kasar. “Aku lebih takut kepada ketakutan manusia daripada kepada pedang mereka.” “Karena manusia yang takut mudah dijadikan alat,” sahut Abdullah lirih. Hadi yang sejak tadi diam akhirnya bersuara dengan nada tertahan. “Lalu apa yang harus kita lakukan? Menunggu mereka datang satu demi satu ke rumah-rumah kita?” Tatapan Syekh Umar berpindah kepada pemuda itu. “Apa yang ingin engkau lakukan, Hadi?” Hadi mengepalkan tangannya perlahan. “Melawan.” “Dengan siapa?” “Dengan siapa pun yang menghinakan keluarga Rasulullah.” Suasana menjadi semakin berat. Musa al-Yamani menunduk pelan. Bahkan Bilal tampak memejamkan mata sesaat.
Syekh Umar memandang Hadi lama sekali sebelum akhirnya berkata pelan, “Anak muda... pedang paling mudah diangkat ketika hati sedang marah.” Hadi tidak menjawab. “Tetapi membangun kehidupan manusia,” lanjut Syekh Umar lirih, “jauh lebih sulit daripada menumpahkan darah.” Abdullah menatap ulama tua itu dengan sorot mata dalam. Ia mulai memahami bahwa majelis malam ini bukan sekadar membicarakan ketakutan Madinah. Ada sesuatu yang lebih besar sedang mulai dipertimbangkan. Dan perasaan itu menjadi semakin kuat ketika Syekh Umar perlahan berkata: “Mungkin... sebagian dari kita tidak akan dapat tinggal lama lagi di kota ini.”
Ucapan Syekh Umar membuat ruangan kecil itu seolah kehilangan udara sesaat. Tidak ada seorang pun yang segera bergerak. Cahaya lampu minyak bergoyang pelan, memantulkan bayangan panjang di wajah-wajah yang mulai dipenuhi kegelisahan baru. Di luar rumah Musa al-Yamani, angin malam terus bergerak melewati pelepah kurma dengan suara lirih seperti bisikan panjang yang tidak pernah selesai. Yusuf ash-Shaghir adalah orang pertama yang tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Pemuda itu mengangkat wajah cepat. “Meninggalkan Madinah?” tanyanya lirih, nyaris tidak percaya dengan kata-katanya sendiri. Syekh Umar memandangnya tenang. “Aku belum berkata seluruhnya harus pergi.” “Tetapi engkau memikirkannya,” sambung Bilal perlahan. Ulama tua itu tidak segera menjawab. Jemarinya bergerak pelan mengusap tasbih kayu kecil di tangannya. Wajah beliau tampak semakin letih di bawah cahaya lampu.
“Aku memikirkan keselamatan manusia,” jawabnya akhirnya lirih. “Dan aku memikirkan apa yang akan terjadi bila Madinah berubah menjadi tempat yang tidak lagi memberi aman bagi sebagian kaum muslimin.” Hadi langsung mengangkat kepala. “Kita tidak boleh meninggalkan kota Rasulullah hanya karena orang-orang tamak!” Nada suaranya lebih keras dari sebelumnya. Musa al-Yamani cepat melirik ke arah pintu rumah dengan cemas. “Pelankan suaramu,” bisik Salman al-Katib. Namun Hadi tampak tidak peduli. Dadanya naik turun keras. “Apakah kita akan lari dari mereka?” lanjutnya tertahan. “Apakah itu yang akan kita wariskan kepada anak-anak kita?” “Dan apa yang akan engkau wariskan bila engkau mati sia-sia di lorong Madinah?” tanya Abdullah tenang. Hadi langsung menoleh kepadanya. Mata pemuda itu membara oleh gejolak yang belum menemukan tempat. “Lebih baik mati daripada hidup dipenuhi ketakutan,” jawabnya cepat. “Kata-kata seperti itu mudah diucapkan lelaki muda,” ujar Umar bin Jundab dengan suara berat. “Tetapi seorang ayah harus memikirkan lebih dari sekadar keberanian.” Ruangan kembali sunyi.
Abdullah memandang wajah-wajah di sekelilingnya satu demi satu. Qasim tampak gelisah sambil memegang gulungan catatan di pangkuannya. Salman al-Katib terus memandangi lampu minyak seperti sedang menghitung sesuatu dalam kepalanya. Yusuf ash-Shaghir tampak pucat dan kebingungan. Sedangkan Hadi masih seperti bara yang belum padam. Syekh Umar akhirnya kembali berbicara. “Dengarkan aku baik-baik.” Suara beliau rendah, namun setiap katanya terasa jelas di ruangan kecil itu. “Hijrah bukan selalu tanda kelemahan.” Beliau memandang Hadi lama. “Kadang hijrah adalah cara menjaga ilmu, menjaga keturunan, dan menjaga iman agar tidak mati sebelum waktunya.” Hadi menundukkan wajah, namun nafasnya masih terdengar berat. Bilal menghela napas panjang lalu berkata pelan, “Aku tidak pernah membayangkan akan mendengar kata hijrah disebut kembali di Madinah.” “Aku juga tidak,” jawab Syekh Umar lirih.
Angin malam kembali menyusup melalui celah atap rumah. Nyala lampu minyak bergerak kecil. Dari kejauhan terdengar suara anjing menggonggong panjang lalu hilang ditelan gelap. “Apakah keadaan di luar Madinah benar-benar lebih aman?” tanya Musa al-Yamani. “Tidak ada tempat yang benar-benar aman ketika manusia mulai memperebutkan kekuasaan,” jawab Syekh Umar. “Tetapi ada tempat-tempat yang masih memberi ruang bagi manusia untuk bernapas.” Qasim bin Thauban akhirnya membuka suara setelah lama diam. “Aku mendengar sebagian keluarga Bani Hasyim mulai bergerak menuju Mesir.” “Sebagian ke Yaman,” sambung Salman al-Katib pelan. “Dan beberapa orang telah pergi ke Kufah untuk bergabung dengan Hasan,” ujar Umar bin Jundab. Abdullah menatap lantai tanah di depannya. “Kufah sekarang seperti kota yang berdiri di atas bara.” “Benar,” jawab Syekh Umar. “Dan Syam bukan tempat bagi orang-orang yang dicurigai mencintai Ali.” Kesunyian kembali turun.
Lalu Salman al-Katib perlahan mengangkat wajahnya. “Ada satu lagi tempat yang mulai sering disebut para saudagar,” katanya lirih. Beberapa kepala menoleh kepadanya. “Di mana?” tanya Bilal. Salman menelan ludah pelan sebelum menjawab. “Wilayah-wilayah seberang laut timur.” Lampu minyak kecil berkeredip pelan di tengah keheningan mereka. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, arah perjalanan panjang menuju dunia timur mulai benar-benar disebut di dalam sebuah rumah kecil di Madinah.
Ucapan Salman al-Katib membuat beberapa orang saling memandang dalam diam. Kata “timur” terdengar begitu jauh dari Madinah, seolah berada di luar jangkauan kehidupan yang selama ini mereka kenal. Bahkan Hadi yang sejak tadi dipenuhi bara amarah tampak mengernyitkan dahi. “Seberang laut?” ulang Yusuf ash-Shaghir perlahan. “Negeri-negeri India itu?” Salman mengangguk kecil. “Para saudagar dari Basrah dan Oman sering menyebutnya.” Ia mengusap janggut putihnya perlahan. “Pelabuhan-pelabuhan yang ramai. Tanah yang lembap dan subur. Jalur dagang yang panjang hingga negeri-negeri yang tidak pernah dilihat mata kita.”
Bilal menghembuskan napas pendek sambil bersandar ke dinding tanah. “Aku selalu mengira kisah-kisah itu hanya cerita para pelaut yang terlalu lama dihantam ombak.” “Tidak,” sahut Umar bin Jundab. “Aku pernah bertemu saudagar dari Gujarat tiga tahun lalu.” Lelaki besar itu menatap lampu minyak di depannya seperti sedang mengingat sesuatu yang jauh. “Kulitnya lebih gelap daripada orang Hijaz. Ia membawa kain halus dan rempah yang aromanya memenuhi seluruh pasar.” “Dan engkau percaya kita akan pergi sejauh itu?” Hadi bertanya dengan nada masih sulit menerima. “Belum ada keputusan,” jawab Syekh Umar tenang. Namun Abdullah menangkap sesuatu dalam sorot mata ulama tua itu. Beliau belum memutuskan, tetapi pikirannya telah mulai memandang jauh melampaui Madinah.
Di luar rumah Musa al-Yamani, angin malam bergerak lebih dingin sekarang. Sesekali suara langkah manusia terdengar samar di jalan kecil belakang kebun kurma. Setiap bunyi kecil membuat sebagian mereka menoleh singkat ke arah pintu, seolah malam itu sendiri telah berubah menjadi sesuatu yang mencurigakan. “Mengapa timur?” tanya Qasim bin Thauban pelan. “Mengapa bukan tetap di Hijaz atau menuju Mesir seperti keluarga lain?” Salman menjawab perlahan, “Karena semakin jauh manusia dari pusat perebutan kekuasaan, semakin besar harapannya untuk hidup tenang.” “Atau untuk dilupakan,” gumam Bilal. Hadi menggeleng keras. “Aku tidak ingin dilupakan.” “Kadang,” ujar Syekh Umar pelan sambil memandang pemuda itu, “manusia harus memilih antara dikenal penguasa atau tetap hidup menjaga keluarganya.” Hadi terdiam lagi.
Musa al-Yamani lalu bangkit perlahan menuju rak kayu di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah gulungan kulit tua yang tampak mulai menguning di bagian tepinya. Gulungan itu diikat dengan tali tipis dari serat kurma. “Ini dibawa seorang saudagar dari Basrah beberapa bulan lalu,” katanya sambil menyerahkannya kepada Abdullah. Abdullah membuka gulungan itu perlahan. Di dalamnya tampak gambar jalur-jalur perdagangan sederhana yang dibuat dengan tinta hitam pudar. Ada nama Basrah, Oman, dan beberapa pelabuhan asing yang belum pernah dilihat sebagian besar lelaki di ruangan itu. “Apa ini?” tanya Bilal sambil mendekat. “Jalur laut menuju timur,” jawab Musa.
Yusuf ikut merapat dengan mata penuh rasa ingin tahu. “Demi Allah...” gumamnya pelan ketika melihat garis panjang laut yang tergambar di kulit tua itu. “Begitu jauhkah dunia?” “Dunia selalu lebih luas daripada yang dibayangkan manusia yang hanya tinggal di satu kota,” jawab Salman al-Katib lirih. Abdullah memperhatikan gulungan itu lama. Jari-jarinya menyentuh nama-nama pelabuhan asing yang terasa begitu jauh dari kehidupannya sekarang. Basrah. Oman. Gujarat. Nama-nama itu terasa asing namun juga seperti panggilan samar dari tempat yang belum pernah ia lihat. “Aku pernah mendengar kisah tentang negeri-negeri itu,” kata Bilal pelan. “Para pedagang berkata hujan turun lebih sering di sana. Sungai-sungainya besar. Dan tanahnya hijau.” Hadi terkekeh pendek tanpa kegembiraan. “Hijau atau tidak, tempat asing tetaplah tempat asing.” “Begitu pula Madinah mulai menjadi asing bagi sebagian anak-anaknya sendiri,” jawab Abdullah lirih tanpa mengangkat wajah dari gulungan kulit di tangannya. Ruangan kembali hening. Ucapan itu terasa jatuh berat di tengah mereka.
Di luar rumah, malam terus berjalan perlahan di atas kota Nabi. Angin gurun masih membawa bau pasir dan debu ke lorong-lorong Madinah. Namun di dalam rumah kecil Musa al-Yamani, sebuah kemungkinan besar mulai tumbuh malam itu: kemungkinan bahwa sebagian dari mereka suatu hari akan meninggalkan tanah kelahiran mereka dan berjalan jauh menuju dunia yang belum pernah mereka kenal. Tidak ada seorang pun yang segera berbicara setelah ucapan Abdullah itu. Gulungan kulit tua masih terbuka di tangannya, memperlihatkan garis-garis jalur laut yang tampak seperti urat panjang menuju dunia asing. Cahaya lampu minyak memantul redup di permukaan tinta yang mulai pudar dimakan usia. Di luar rumah, angin malam bergerak perlahan melewati kebun kurma, membawa suara desir daun dan bau tanah lembap dari saluran air dekat sumur tua
Yusuf ash-Shaghir memandang gulungan itu dengan mata penuh kebingungan dan rasa ingin tahu sekaligus. “Aku belum pernah membayangkan meninggalkan Hijaz,” katanya pelan. “Bahkan Mekah saja terasa sangat jauh ketika aku pertama kali pergi dari Madinah.” Bilal tersenyum tipis. “Aku masih ingat engkau muntah sepanjang perjalanan karena tidak tahan panas gurun.” Beberapa orang tersenyum samar mendengar itu. Untuk sesaat ketegangan malam terasa sedikit melonggar. Yusuf sendiri tampak malu lalu menunduk. “Dan sekarang kalian berbicara tentang lautan,” gumamnya lirih. “Lautan menakutkan,” sahut Umar bin Jundab pendek. “Aku lebih percaya pasir daripada ombak.” “Pasir tidak pernah menelan kapal,” jawab Salman al-Katib pelan. “Tetapi pasir juga tidak pernah menelan manusia hidup-hidup seperti laut,” balas Umar. Hadi mendecakkan lidah kecil. “Kalian sudah berbicara seolah kita benar-benar akan pergi.” “Karena malam ini kita mulai memahami bahwa kemungkinan itu ada,” ujar Abdullah tenang. Hadi menatap lantai beberapa saat tanpa bicara. Api amarah di matanya belum padam, namun kini mulai bercampur dengan sesuatu yang lain: kegelisahan.
Syekh Umar lalu mengangkat tangan pelan memberi isyarat agar percakapan mereda. Semua mata kembali tertuju kepada beliau. “Dengarkan aku baik-baik,” ujar ulama tua itu lirih namun jelas. “Aku tidak memanggil kalian malam ini untuk menanam ketakutan.” Beliau memandang mereka satu demi satu. “Tetapi seorang lelaki yang menolak melihat badai akan menyeret keluarganya tenggelam bersama dirinya.” Ruangan kembali sunyi. Musa al-Yamani menambahkan pelan, “Kabar dari Irak tidak baik. Sebagian kabilah mulai berubah arah setelah wafatnya Ali.” “Dan di Syam,” sambung Salman, “Muawiyah semakin kuat.” Bilal mengusap wajahnya perlahan. “Sedangkan Madinah mulai dipenuhi mata-mata.” “Madinah tidak akan langsung berubah dalam satu malam,” kata Syekh Umar. “Tetapi manusia yang tamak tidak pernah berhenti setelah mendapat satu kemenangan.”
Abdullah menutup perlahan gulungan kulit di tangannya lalu meletakkannya di dekat lampu minyak. “Apa yang sebenarnya engkau khawatirkan, wahai Syekh?” Syekh Umar tidak segera menjawab. Beliau tampak memikirkan kata-katanya sangat hati-hati. “Aku khawatir,” ujar beliau akhirnya pelan, “akan tiba masa ketika anak-anak kalian tumbuh dalam ketakutan menyebut nama orang-orang saleh.” Ucapan itu membuat dada beberapa orang terasa sesak. Hadi memejamkan mata sejenak sambil menarik napas panjang. Yusuf tampak menggenggam ujung pakaiannya erat-erat. “Dan aku lebih khawatir lagi,” lanjut Syekh Umar, “bila ilmu dan akhlak yang diajarkan Rasulullah perlahan hilang karena manusia hanya sibuk memperebutkan kekuasaan.”
Angin malam kembali masuk dari celah atap. Nyala lampu bergerak kecil. Lalu terdengar suara adzan jauh dari salah satu sudut kota. Bukan adzan shalat wajib, melainkan panggilan tahajud seorang lelaki tua yang terbiasa membangunkan orang-orang menjelang akhir malam. Suara itu lirih dan sendu di tengah gelap Madinah. Bilal menundukkan kepala perlahan. “Dahulu suara seperti itu membuat hati terasa damai.” “Dan sekarang?” tanya Musa. Bilal memandang lampu minyak di depannya. “Sekarang aku takut suatu hari suara itu akan hilang dari kota ini.” Kesunyian turun kembali. Lalu tiba-tiba terdengar ketukan sangat pelan dari pintu rumah Musa. Tok... tok... Semua kepala langsung terangkat. Hadi spontan berdiri. Musa memandang Syekh Umar cepat. Tidak ada seorang pun yang bergerak selama beberapa detik yang terasa panjang.
Ketukan itu terdengar lagi. Tok... tok... Kali ini disusul suara lirih dari luar rumah. “Bukalah... ini aku, Zubair bin Rahman...” Hadi masih berdiri dekat pintu dengan tubuh menegang ketika nama itu disebut. Tangannya refleks menggenggam tongkat kayu di samping dinding. Beberapa orang saling memandang cepat sebelum Musa al-Yamani melangkah perlahan menuju pintu rumah. “Sendirian?” tanya Musa dengan suara rendah dari balik kayu pintu. “Sendiri,” jawab suara di luar cepat. Nafas lelaki itu terdengar berat seperti seseorang yang baru berjalan jauh tanpa berhenti. Musa menoleh kepada Syekh Umar. Ulama tua itu mengangguk kecil. Pintu pun dibuka perlahan.
Zubair bin Rahman segera masuk lalu menutup kembali pintu di belakangnya dengan cepat. Lelaki saudagar laut itu tampak jauh lebih kacau daripada biasanya. Jubah cokelat mudanya dipenuhi debu jalan. Ada bekas lumpur kering di bagian bawah pakaiannya, sementara sorbannya melorot hampir jatuh dari kepala. Wajahnya berkeringat meski udara malam dingin. Nafasnya masih memburu ketika ia berdiri di tengah ruangan. “Demi Allah...” gumam Bilal pelan. “Engkau tampak seperti baru lari dari pasukan perang.” Zubair tidak membalas gurauan itu. Matanya langsung mencari Syekh Umar. “Mereka mulai memeriksa orang-orang yang keluar masuk Madinah,” katanya cepat. Ruangan seketika sunyi.
“Siapa?” tanya Abdullah. “Lelaki-lelaki Muawiyah.” Zubair mengusap wajahnya yang penuh peluh. “Di gerbang utara kota. Mereka menghentikan beberapa musafir malam ini.” “Apa yang mereka cari?” tanya Musa. “Nama.” Jawaban Zubair pendek namun berat. “Dan surat.” Salman al-Katib menundukkan kepala perlahan. Qasim langsung menggenggam gulungan catatan di dekatnya lebih erat. “Aku melihat sendiri seorang saudagar dari Yanbu dipukul karena membawa surat dari Irak,” lanjut Zubair. “Mereka bahkan membuka karung-karung dagang.” Hadi mengepalkan rahangnya. “Anjing-anjing itu mulai menguasai kota.” “Pelankan suaramu,” bisik Umar bin Jundab cepat. Namun kemarahan Hadi kini mulai menjalar ke wajah orang-orang lain juga. Bahkan Yusuf ash-Shaghir tampak menahan napas gelisah.
Zubair akhirnya duduk setelah Musa memberinya kendi air. Ia meneguk panjang sebelum kembali berbicara. “Dan itu belum semuanya.” Tatapan semua orang kembali tertuju kepadanya. “Aku bertemu seorang nakhuda dari Basrah di luar kota sore tadi.” Zubair menurunkan suaranya lebih pelan. “Ia membawa kabar bahwa beberapa keluarga dari Kufah mulai bergerak menuju selatan secara diam-diam.” “Menuju Basrah?” tanya Abdullah. Zubair mengangguk. “Sebagian berharap dapat berlayar sebelum nama mereka sampai ke tangan para penguasa.” Bilal memandang Syekh Umar perlahan. “Jadi ini bukan hanya ketakutan kita di Madinah.” “Tidak,” jawab ulama tua itu lirih. “Fitnah ini mulai menyebar ke banyak kota.”
Lampu minyak kembali bergerak kecil tertiup angin. Bayangan mereka bergoyang di dinding rumah Musa seperti manusia-manusia yang sedang dipaksa memilih jalan hidup mereka sendiri. “Aku mengenal Basrah,” kata Zubair sambil memijat tengkuknya yang tegang. “Pelabuhannya besar. Orang-orang dari berbagai negeri datang ke sana. Bila seseorang ingin menghilang dari pengawasan Hijaz...” ia memandang Abdullah dan Bilal bergantian, “Basrah mungkin tempat pertama yang paling mungkin.” “Dan setelah Basrah?” tanya Yusuf perlahan. Zubair mengangkat wajah. Sorot matanya tampak lelah namun penuh sesuatu yang jauh. “Laut.” Kesunyian kembali memenuhi ruangan.
Bahkan Hadi yang biasanya cepat membantah kini hanya diam memandang lantai tanah. “Aku pernah berlayar sampai pesisir Oman,” lanjut Zubair lirih. “Dan aku mendengar banyak kisah tentang negeri-negeri timur dari para pelaut.” Ia menarik napas perlahan. “Tempat-tempat jauh di mana manusia tidak terlalu peduli kepada pertikaian Syam dan Kufah.” “Atau belum peduli,” gumam Bilal. Syekh Umar mengangguk kecil. “Dunia berubah cepat.” Zubair menatap ulama tua itu dalam-dalam. “Karena itulah aku datang malam ini.” Ia menelan ludah perlahan sebelum berkata, “Jika kalian benar-benar mempertimbangkan meninggalkan Madinah... maka kalian harus mulai memikirkan jalannya sejak sekarang.” Di luar rumah, angin gurun terus bergerak di bawah langit Madinah yang dingin dan gelap. Dan di dalam rumah kecil itu, kata “hijrah” tidak lagi terasa seperti bayangan yang jauh. Ia mulai berubah menjadi kemungkinan yang nyata.
Lampu minyak di tengah ruangan mengeluarkan bunyi kecil ketika sumbunya mulai tenggelam dalam minyak hangat. Musa al-Yamani segera membetulkan sumbu itu dengan ujung kayu tipis, lalu nyala api kembali membesar perlahan. Cahaya kekuningan menyapu wajah-wajah yang kini tidak lagi sekadar dipenuhi ketakutan, tetapi juga pertimbangan-pertimbangan berat yang sebelumnya belum pernah mereka bayangkan. Hijrah. Kata itu menggantung di udara rumah Musa seperti sesuatu yang hidup. Bukan lagi kisah para sahabat terdahulu yang mereka dengar sejak kecil. Tetapi kemungkinan yang mulai mengetuk kehidupan mereka sendiri. “Aku masih sulit mempercayainya...” Yusuf ash-Shaghir berkata lirih sambil menatap lantai tanah. “Kita membicarakan meninggalkan Madinah... kota Rasulullah...” “Tidak ada seorang pun di ruangan ini yang menginginkannya,” jawab Syekh Umar tenang. Ulama tua itu lalu mengangkat wajah perlahan. Mata beliau tampak sayu diterpa cahaya malam.
“Aku dilahirkan di kota ini,” lanjut beliau lirih. “Aku belajar Qur’an di masjidnya. Aku melihat para tabi’in berjalan di lorong-lorongnya ketika aku masih anak-anak.” Jemari beliau bergerak pelan di atas tasbih kayu. “Dan aku berharap tulangku kelak dikuburkan di tanah Madinah.” Ruangan kembali sunyi. Bahkan Hadi kini tidak lagi memotong pembicaraan. “Tetapi,” sambung Syekh Umar perlahan, “seorang lelaki tidak boleh membiarkan cintanya kepada sebuah kota membutakan matanya dari bahaya yang mendekat.” Abdullah menundukkan kepala kecil. Ia memahami ucapan itu lebih dalam daripada yang lain. Sebab sepanjang perjalanan menuju rumah Musa tadi, ia telah melihat sendiri perubahan di wajah Madinah: • lorong-lorong yang mulai dipenuhi pengawasan, • rumah-rumah yang menutup pintu lebih cepat, • manusia yang merendahkan suara, • dan ketakutan yang mulai tumbuh di mata anak-anak.
“Apakah engkau benar-benar percaya mereka akan sampai memburu keluarga-keluarga biasa seperti kami?” tanya Qasim bin Thauban perlahan. “Hari ini mungkin belum,” jawab Zubair bin Rahman sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. “Tetapi bila keadaan terus memburuk, maka orang-orang yang hanya menulis catatan pun akan dianggap ancaman.” Qasim memandang gulungan tulisan di dekat pangkuannya dengan wajah berat. Salman al-Katib lalu berkata lirih, “Aku telah melihat masa ketika manusia mulai membakar tulisan karena takut kepada kata-kata.” “Dan aku telah melihat manusia membunuh karena takut kepada nama,” sambung Bilal.
Angin malam kembali menyusup melalui celah dinding rumah. Lampu minyak bergerak kecil. Dari kejauhan terdengar suara langkah beberapa orang melintas di jalan belakang kebun kurma, lalu perlahan menghilang lagi. Hadi menoleh cepat ke arah pintu. “Tenang,” ujar Musa pelan. “Itu bukan langkah prajurit.” “Bagaimana engkau bisa yakin?” tanya Hadi. Musa tersenyum tipis. “Prajurit berjalan seperti lelaki yang ingin ditakuti. Musafir berjalan seperti lelaki yang ingin segera sampai.”
Beberapa orang tersenyum samar mendengar itu. Ketegangan di ruangan sedikit mengendur untuk sesaat. Namun Syekh Umar kembali mengangkat suara pelan. “Dengarkan aku baik-baik.” Tatapan beliau menyapu seluruh ruangan. “Aku belum meminta siapa pun meninggalkan Madinah malam ini.” Semua kembali diam mendengarkan. “Tetapi mulai esok...” lanjut beliau, “setiap kepala keluarga harus mulai memikirkan keselamatan keluarganya masing-masing.” Abdullah merasakan dadanya mengeras perlahan. “Simpan seperlunya makanan dan air,” ujar Syekh Umar. “Jangan banyak berbicara di pasar. Dan jangan lagi menyimpan surat atau catatan penting di tempat yang mudah ditemukan.” Qasim langsung mengangkat wajah. “Catatan-catatan ilmu juga?” tanyanya pelan. Syekh Umar memandangnya lama sebelum menjawab. “Terutama catatan-catatan ilmu.” Ruangan kembali tenggelam dalam kesunyian berat.
Malam kini telah melewati pertengahannya. Udara Madinah makin dingin. Sebagian lampu rumah di kejauhan telah padam, namun kota Nabi itu belum benar-benar tertidur. Dan di rumah kecil Musa al-Yamani malam itu, satu demi satu lelaki mulai memahami bahwa hidup mereka mungkin akan berubah untuk selamanya. Untuk beberapa lama tidak ada lagi percakapan besar di dalam rumah Musa al-Yamani. Orang-orang mulai tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Lampu minyak di sudut ruangan terus menyala kecil, sementara bayangan mereka bergerak samar di dinding tanah yang kasar. Di luar rumah, suara malam Madinah terdengar semakin jauh dan dingin. Sesekali desir angin menyapu kebun kurma belakang rumah hingga pelepah-pelepahnya bergesekan seperti suara hujan kering.
Abdullah duduk diam sambil memandangi kedua tangannya sendiri. Tangannya adalah tangan lelaki yang terbiasa bekerja: kulitnya kasar oleh tali unta, kayu, dan perjalanan panjang di bawah matahari Hijaz. Tetapi malam itu untuk pertama kalinya ia merasa kedua tangannya mungkin tidak lagi cukup kuat menjaga semua yang ia cintai tetap aman di Madinah. Maryam. Iskandar. Fatimah. Nama-nama itu muncul silih berganti di kepalanya. Ia membayangkan wajah Fatimah yang ketakutan ketika mendengar ketukan pintu tadi malam. Ia juga teringat tatapan Iskandar yang mulai berubah. Anak itu mulai melihat dunia orang dewasa yang dipenuhi kekuasaan, darah, dan ketakutan. Dan Abdullah membenci kenyataan itu. “Engkau diam sejak tadi,” ujar Bilal pelan di sampingnya. Abdullah mengangkat wajah perlahan. “Aku sedang memikirkan rumahku.” Bilal tersenyum kecil namun letih. “Malam ini semua lelaki di ruangan ini sedang memikirkan rumah mereka.”
Di dekat dinding, Qasim bin Thauban membuka perlahan gulungan catatannya. Jemarinya bergerak hati-hati menyentuh tulisan-tulisan tinta hitam yang memenuhi lembaran kulit. Cahaya lampu membuat bayangan huruf-huruf itu tampak hidup. “Aku menyimpan khutbah-khutbah lama... catatan ilmu... dan kisah-kisah para tabi’in di rumahku,” katanya lirih tanpa mengangkat wajah. “Aku tidak tahu mana yang harus kuselamatkan lebih dahulu.” “Keluargamu,” jawab Umar bin Jundab pendek. Qasim tersenyum pahit. “Aku tahu.” Ia menarik napas panjang. “Tetapi tulisan-tulisan itu juga bagian dari hidupku.” Salman al-Katib memandang lelaki itu dengan mata tua yang dipenuhi pengertian. “Ilmu selalu berjalan bersama pengorbanan,” gumamnya.
Hadi yang sejak tadi duduk dekat pintu akhirnya bersandar ke dinding. Bara amarah di wajahnya mulai mereda, digantikan kelelahan yang perlahan muncul setelah malam panjang itu. “Aku masih tidak suka semua ini,” katanya pelan. “Tidak ada yang menyukainya,” jawab Musa. “Aku merasa seperti pengecut bila harus pergi.” Syekh Umar memandang pemuda itu lama sekali. “Apakah engkau mengira Rasulullah dan para sahabat berhijrah karena mereka pengecut?” tanya beliau tenang. Hadi langsung terdiam. “Kadang,” lanjut Syekh Umar lirih, “Allah membuka jalan jauh di depan manusia karena suatu tempat tidak lagi memberi ruang bagi kebaikan untuk tumbuh.” Lampu minyak kembali bergerak kecil tertiup angin.
Zubair bin Rahman lalu mengangkat kepala perlahan. “Bila keadaan memburuk...” katanya hati-hati, “aku dapat membantu mencari jalan menuju Basrah.” Semua mata kembali tertuju kepadanya. “Aku mengenal beberapa nakhuda di sana,” lanjutnya. “Dan aku masih memiliki hubungan dagang dengan saudagar-saudagar laut.” “Perjalanan menuju Basrah sendiri sudah berat,” gumam Bilal. “Lebih berat lagi bila membawa perempuan dan anak-anak,” sambung Umar bin Jundab. Abdullah memandang gulungan jalur laut di dekat lampu minyak. Basrah terasa begitu jauh dari Madinah. Dan laut di balik Basrah terasa seperti dunia lain yang belum pernah disentuh hidupnya.
“Aku tidak pernah melihat laut,” ujar Yusuf ash-Shaghir tiba-tiba. Bilal terkekeh kecil. “Engkau akan muntah lebih parah daripada ketika ke Mekah.” Beberapa orang tersenyum samar lagi. Bahkan Hadi menghembuskan napas pendek seperti hampir tertawa. Namun senyum itu cepat memudar ketika dari kejauhan tiba-tiba terdengar suara gaduh samar dari arah utara kota. Semua kepala langsung terangkat. Suara itu tidak terlalu jelas, tetapi cukup untuk membuat dada mereka menegang: • suara orang berteriak, • derap langkah tergesa, • dan bunyi kayu dipukul keras. Hadi langsung berdiri. “Apa itu?” bisiknya cepat. Musa bergerak menuju celah kecil jendela rumah lalu mengintip keluar ke arah lorong gelap. Beberapa detik terasa sangat panjang. Lalu Musa menoleh kembali dengan wajah muram. “Mereka masuk ke lorong utara.” Kesunyian berat kembali memenuhi rumah kecil itu. Dan malam di Madinah terus bergerak perlahan menuju sesuatu yang terasa semakin gelap.
Suasana di dalam rumah Musa al-Yamani langsung berubah tegang. Tidak ada lagi sisa senyum kecil yang tadi sempat muncul. Semua orang kini mendengarkan suara gaduh samar dari arah utara kota dengan wajah membeku. Teriakan itu tidak terus-menerus, melainkan pecah sesekali seperti pertengkaran yang berpindah dari satu rumah ke rumah lain. Hadi bergerak cepat mendekati pintu. “Aku ingin melihat.” “Duduk,” ujar Syekh Umar tanpa meninggikan suara. Pemuda itu berhenti, namun dadanya masih naik turun keras. “Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi,” lanjut ulama tua itu tenang. “Dan malam seperti ini lebih banyak melahirkan jebakan daripada keberanian.” Hadi memalingkan wajah sambil mengusap rambutnya kasar. Ia jelas ingin membantah, tetapi akhirnya kembali duduk dekat pintu dengan gerakan berat.
Bilal memperhatikan ke arah jendela kecil rumah. “Lorong utara dekat rumah siapa?” “Dekat keluarga Bani Khalid,” jawab Musa lirih. “Dan beberapa rumah penuntut ilmu.” Qasim langsung mengangkat wajah. “Di sana juga tinggal Abdullah bin Harun.” “Yang sering menerima surat dari Kufah?” tanya Salman. Qasim mengangguk perlahan. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan setelah itu. Ruangan kembali tenggelam dalam diam panjang. Abdullah memperhatikan wajah-wajah di sekelilingnya satu demi satu. Semua orang mulai memahami bahwa apa yang mereka khawatirkan tidak lagi bergerak perlahan. Ia sudah mulai mengetuk rumah-rumah Madinah malam ini juga.
Di luar rumah Musa, angin bergerak lebih kencang sekarang. Debu tipis terdengar menyapu dinding luar rumah. Cahaya bulan masuk samar melalui celah atap dan bercampur dengan cahaya lampu minyak di ruangan. Zubair bin Rahman akhirnya bersandar lebih dekat ke dinding sambil memejamkan mata sesaat. “Aku melewati pasar sebelum datang ke sini,” katanya lirih. “Beberapa kedai bahkan tutup sebelum isya.” “Orang-orang takut berkumpul,” jawab Bilal. “Bukan hanya itu.” Zubair membuka matanya kembali. “Aku melihat beberapa lelaki asing mulai bertanya tentang keluarga-keluarga tertentu.” “Keluarga siapa?” tanya Abdullah. “Orang-orang yang dikenal dekat dengan Syekh Umar... para penulis... dan beberapa keluarga keturunan Bani Hasyim.”
Musa menundukkan wajah perlahan. Hadi mengepalkan rahangnya lagi. “Jadi sekarang mereka mulai menghitung manusia seperti barang dagangan.” “Penguasa yang takut selalu ingin mengetahui nama sebelum wajah,” gumam Salman al-Katib. Yusuf ash-Shaghir tampak semakin pucat. “Apakah nama kita juga sudah diketahui?” Tidak ada yang segera menjawab. Dan justru diam itulah yang membuat pertanyaan itu terasa semakin menakutkan. Syekh Umar akhirnya menarik napas panjang. “Mungkin sebagian sudah.” Yusuf menunduk cepat. “Tetapi dengarkan aku baik-baik,” lanjut Syekh Umar. “Jangan biarkan ketakutan membuat kalian kehilangan adab dan akal.” Mata beliau bergerak perlahan memandang setiap lelaki di ruangan itu. “Fitnah paling berbahaya bukan ketika manusia diburu.” Suara beliau makin lirih. “Melainkan ketika manusia mulai berubah menjadi zalim karena ketakutan mereka sendiri.” Abdullah mengangguk kecil. Ucapan itu terasa benar. Ia telah melihat banyak orang baik berubah kasar ketika hidup mulai dipenuhi rasa takut. “Lalu apa yang harus kita lakukan setelah malam ini?” tanya Umar bin Jundab. Syekh Umar memandang lampu minyak beberapa saat sebelum menjawab. “Kita mulai bersiap.”
Hadi mengangkat wajah cepat. “Bersiap untuk pergi?” “Bersiap untuk segala kemungkinan.” Angin malam kembali menyapu dinding rumah. Lalu dari arah luar terdengar lagi suara samar orang berteriak di kejauhan. Kali ini lebih singkat, namun diakhiri bunyi sesuatu jatuh keras ke tanah. Bilal menutup mata perlahan sambil menghela napas panjang. “Madinah...” gumamnya lirih. “Aku hampir tidak mengenalimu malam ini.”
Suara gaduh dari lorong utara perlahan mulai mereda, namun ketegangannya masih terasa menggantung di dalam rumah Musa al-Yamani. Tidak seorang pun benar-benar merasa tenang lagi. Bahkan setelah suara langkah dan bentakan di kejauhan menghilang, ruangan itu tetap dipenuhi kewaspadaan yang berat. Cahaya lampu minyak tampak makin kecil sekarang. Bayangan wajah-wajah mereka bergerak samar di dinding tanah seperti manusia-manusia yang sedang duduk di tepi sesuatu yang belum mereka ketahui bentuk akhirnya. Musa akhirnya menuangkan air ke beberapa mangkuk kecil lalu membagikannya satu per satu. Tidak banyak yang diminum. Sebagian hanya memegang mangkuk itu di tangan mereka sendiri tanpa benar-benar menyentuh isinya.
“Malam hampir mendekati akhir,” gumam Salman al-Katib sambil memandang celah kecil di atap rumah tempat langit gelap tampak samar. “Dan kita masih belum memiliki jawaban,” sahut Hadi pelan. “Tidak semua jawaban turun dalam satu malam,” ujar Syekh Umar tenang. Hadi menunduk lagi. Kini kemarahannya mulai bercampur dengan kelelahan yang nyata. Matanya merah akibat menahan banyak gejolak sejak sore tadi. Abdullah memandang pemuda itu beberapa saat sebelum akhirnya berkata lirih, “Engkau masih muda, Hadi.” “Aku tahu.” “Dan karena itu darahmu bergerak lebih cepat daripada pikiranmu.” Bilal tersenyum tipis di sudut ruangan. “Dahulu aku juga seperti itu.” “Dan sekarang?” tanya Yusuf pelan. Bilal menghembuskan napas panjang. “Sekarang aku tahu bahwa dunia tidak berubah hanya karena satu lelaki marah.” Ruangan kembali sunyi.
Supported Reading Space
Support This Epic Publication
This reserved space is prepared for cultural, educational, or publishing partners supporting long-form historical storytelling.