Panembahan Wonokromo
Bab 002 — Ketakutan Memenuhi Kota Madinah
bulan Safar 40 H / 661 M — Derap langkah pasukan Muawiyah menebar Ketakutan.
BAGIAN 1 — Ketakutan yang dibawa Angin memasuki rumah-rumah
Di luar rumah, suara ayam pertama mulai terdengar samar dari kejauhan. Tanda bahwa malam perlahan bergerak menuju akhir. Udara Madinah terasa lebih dingin menjelang fajar seperti biasa. Angin membawa bau tanah dan embun tipis dari kebun-kebun kurma di belakang rumah. Syekh Umar lalu perlahan meluruskan duduknya. Gerakan beliau tenang namun tampak berat karena usia. “Dengarkan aku sekali lagi sebelum kalian pulang,” ujar beliau pelan. Semua mata kembali tertuju kepada ulama tua itu. “Mulai hari ini...” suara beliau rendah namun jelas, “jangan lagi menganggap keadaan Madinah seperti dahulu.” Kalimat itu jatuh berat di dada mereka.
“Jaga perempuan dan anak-anak kalian.” Tatapan beliau bergerak perlahan ke arah Abdullah, Umar bin Jundab, dan lelaki-lelaki lain yang telah berkeluarga. “Kurangi perjalanan malam. Jangan berbicara sembarangan di pasar. Dan bila ada surat dari luar kota...” beliau berhenti sesaat, “jangan simpan terlalu lama.” Qasim menundukkan wajah semakin dalam. “Aku akan mulai memindahkan beberapa catatan sebelum matahari tinggi,” katanya lirih. Salman al-Katib mengangguk kecil. “Aku juga.” “Dan engkau, Zubair,” lanjut Syekh Umar, “tetaplah mencari kabar dari jalur dagang.” Saudagar laut itu mengangguk hormat. “Aku mengenal beberapa nakhuda yang dapat dipercaya.” “Kita mungkin akan membutuhkan mereka,” jawab Syekh Umar pelan. Hadi mengangkat wajah cepat ketika mendengar itu, namun kali ini ia tidak membantah lagi. Sebab jauh di dalam hatinya, ia mulai memahami bahwa pembicaraan malam ini bukan lagi sekadar ketakutan sesaat. Ini adalah awal perubahan besar.
Musa al-Yamani lalu bangkit dan membuka sedikit pintu rumah. Udara dingin menjelang fajar segera masuk bersama cahaya sangat pucat dari langit timur. Lorong belakang kebun kurma tampak sepi. Tidak ada patroli. Tidak ada suara bentakan. Hanya kota yang sedang menahan napasnya sendiri sebelum pagi datang. “Kalian harus pulang sebelum manusia mulai memenuhi jalan,” katanya lirih. Satu per satu mereka mulai berdiri. Kain sorban dirapikan. Tongkat diambil kembali. Gulungan catatan disembunyikan di balik jubah. Abdullah berdiri paling akhir. Sebelum melangkah keluar, ia memandang Syekh Umar beberapa saat. “Wahai Syekh...” katanya pelan, “apakah engkau benar-benar percaya jalan menuju timur itu akan menjadi bagian takdir kita?” Ulama tua itu tidak langsung menjawab. Beliau justru memandang cahaya pucat fajar yang mulai muncul di celah pintu rumah Musa. Lalu beliau berkata sangat lirih: “Kadang Allah menyelamatkan sebuah benih dengan membawanya jauh dari tanah tempat ia dilahirkan.”
Ucapan Syekh Umar terus terngiang di kepala Abdullah ketika mereka mulai meninggalkan rumah Musa al-Yamani. Langit Madinah perlahan berubah warna. Hitam pekat malam mulai retak oleh semburat kebiruan pucat di ufuk timur. Udara menjelang fajar terasa dingin dan lembap. Angin bergerak pelan melewati kebun kurma, membawa bau tanah basah dan dedaunan yang masih menyimpan embun malam. Mereka berjalan dalam diam. Tidak banyak percakapan tersisa setelah majelis panjang itu. Pikiran setiap orang telah dipenuhi oleh keluarga, rumah, dan kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah benar-benar mereka bayangkan sebelumnya.
Bilal berjalan di sisi Abdullah sambil sesekali mengusap wajahnya yang letih. Hadi berada beberapa langkah di depan dengan tongkat kayu masih tergenggam di tangan. Pemuda itu tampak lebih diam sekarang, namun cara jalannya memperlihatkan pikirannya masih penuh gejolak. “Aku membenci malam ini,” gumamnya tiba-tiba tanpa menoleh. “Banyak manusia membenci malam ketika hidup mereka mulai berubah,” jawab Bilal pelan. Hadi menendang kecil batu di jalan hingga memantul ke sisi lorong. “Aku masih tidak dapat menerima bahwa kita mungkin harus pergi.” “Dan aku masih tidak dapat menerima bahwa Madinah mulai dipenuhi rasa takut,” sahut Abdullah lirih.
Mereka melewati lorong kecil dekat rumah-rumah penuntut ilmu. Sebagian pintu masih tertutup rapat. Namun di beberapa rumah sudah tampak cahaya lampu kecil menyala untuk persiapan menjelang shalat fajar. Dari salah satu rumah terdengar suara lelaki tua membaca Qur’an dengan suara rendah dan bergetar. Suara itu membuat langkah Abdullah melambat sesaat. Dahulu suara seperti itu selalu menenangkan hatinya. Tetapi malam ini ia justru merasakan kesedihan yang aneh.
Mereka sampai di dekat lorong utara tempat keributan tadi terjadi. Beberapa pintu rumah tampak terbuka sedikit. Orang-orang mulai keluar perlahan untuk melihat keadaan sekitar. Di salah satu dinding rumah terlihat bekas benturan kayu yang baru. Sebuah kendi pecah berserakan di dekat saluran air kecil. Dan di depan rumah Abdullah bin Harun, dua lelaki tampak membersihkan bercak darah tipis di tanah menggunakan air dari ember. Hadi langsung menghentikan langkah. “Apa yang terjadi di sini?” tanyanya cepat. Salah seorang lelaki menoleh dengan wajah letih. “Mereka datang tengah malam.” “Siapa yang dibawa?” tanya Bilal. “Abdullah bin Harun.” Lelaki itu menelan ludah. “Dan keponakannya.” Kesunyian langsung turun di antara mereka. “Apakah mereka melawan?” tanya Abdullah pelan. Lelaki itu menggeleng. “Tidak banyak.” Ia memandang bercak darah di tanah. “Tetapi salah seorang prajurit memukul ibunya ketika perempuan tua itu mencoba menghalangi.” Hadi mengepalkan rahang keras hingga urat di lehernya tampak menegang. Bilal segera memegang lengannya pelan sebelum amarah pemuda itu kembali meledak. “Jangan sekarang,” bisik Bilal. Udara fajar terasa semakin dingin.
Ayam-ayam mulai berkokok dari berbagai sudut Madinah. Suara ember air dan langkah manusia perlahan mulai terdengar di beberapa lorong. Kota Nabi sedang bangun menuju pagi, tetapi pagi itu terasa berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Ada kegelisahan yang bergerak diam-diam dari rumah ke rumah. Ada bisik-bisik yang mulai tumbuh di pasar sebelum matahari bahkan terbit. Dan ada nama-nama manusia yang mulai disebut dengan suara pelan karena takut didengar telinga yang salah.
Ketika mereka kembali menyusuri jalan menuju rumah masing-masing, Abdullah melihat seorang anak kecil berdiri di depan pintu rumah sambil memandang orang-orang dewasa dengan wajah bingung. Ibunya cepat-cepat menarik anak itu masuk kembali begitu melihat beberapa lelaki melintas. Pemandangan kecil itu menusuk hati Abdullah lebih dalam daripada bentakan para prajurit malam tadi. Sebab ia sadar: ketika ibu-ibu mulai takut membiarkan anak mereka berdiri di depan rumah sendiri, maka sebuah kota sedang berubah menjadi tempat yang tidak lagi benar-benar aman. Langit timur kini mulai memerah tipis.
Dan di bawah cahaya fajar pertama itu, Madinah tampak seperti kota yang sedang berusaha menyembunyikan lukanya sendiri. Suara adzan fajar akhirnya mulai menggema dari Masjid Nabawi ketika Abdullah dan yang lain masih berjalan melewati lorong-lorong kota. Suara muadzin itu panjang dan sendu, menyentuh dinding-dinding rumah tanah yang masih dingin oleh malam. Biasanya suara itu membuat hati manusia terasa lapang. Namun pagi ini, adzan terdengar seperti panggilan yang bercampur dengan kesedihan yang sulit dijelaskan. “Hayya ‘alash shalah...” Langkah manusia mulai memenuhi jalan-jalan kecil Madinah.
Sebagian berjalan cepat menuju masjid dengan kepala tertunduk. Sebagian lain berhenti di dekat sumur untuk berwudhu sambil berbisik pelan satu sama lain. Abdullah menangkap potongan-potongan percakapan yang sama berulang kali: • tentang rumah yang diperiksa, • tentang orang-orang yang dibawa pergi, • tentang nama Muawiyah, • tentang Kufah, • dan tentang ketakutan yang mulai merayap di kota Nabi. Hadi berjalan dengan wajah keras. Beberapa kali tangannya mengepal ketika mendengar orang-orang berbicara tentang penangkapan malam tadi.
“Mereka bahkan belum berkuasa penuh di Madinah,” gumamnya tertahan. “Tetapi manusia sudah mulai gemetar.” “Ketakutan bergerak lebih cepat daripada pasukan berkuda,” jawab Bilal pelan. Mereka akhirnya berpisah di persimpangan lorong. Umar bin Jundab kembali ke rumahnya bersama Sa’ad yang sejak tadi diam memperhatikan semua keadaan sekitar. Qasim berjalan cepat sambil menyembunyikan gulungan catatannya di balik jubah. Salman al-Katib bergerak menuju rumahnya dengan langkah tua namun tergesa, seolah setiap detik sebelum matahari terbit menjadi sangat berharga baginya sekarang.
“Aku akan menemui kalian lagi setelah dhuha,” ujar Bilal kepada Abdullah. Abdullah mengangguk kecil. “Jangan berjalan sendiri malam ini,” tambah Bilal sebelum pergi. Hadi masih berdiri beberapa langkah dari mereka. Matanya memandang ke arah Masjid Nabawi yang mulai dipenuhi jamaah. “Aku ingin ke masjid,” katanya pelan. “Pergilah,” jawab Abdullah. Hadi menoleh sebentar. “Apakah engkau tidak ikut?” Abdullah memandang arah rumahnya sendiri yang masih tersembunyi di balik lorong kecil. “Aku harus melihat keluargaku dahulu.”
Hadi mengangguk perlahan lalu berjalan menuju arah masjid bersama arus manusia lain yang mulai memenuhi jalan. Abdullah memperhatikan pemuda itu beberapa saat sebelum akhirnya berbalik menuju rumahnya sendiri. Lorong tempat rumah Abdullah berada kini mulai hidup oleh suara pagi: • ember air yang ditarik dari sumur, • langkah sandal di tanah, • kambing-kambing yang mulai dilepas, • dan perempuan-perempuan yang membuka pintu rumah dengan wajah lelah karena malam panjang. Namun di balik semua kehidupan pagi itu, ada sesuatu yang berubah: manusia tidak lagi berbicara sekeras dahulu. Bahkan salam antar tetangga pun terdengar lebih pelan.
Ketika Abdullah sampai di depan rumahnya, ia melihat Maryam sudah berdiri di ambang pintu sejak tadi. Kerudungnya tersusun rapi, namun wajahnya memperlihatkan bahwa ia hampir tidak tidur sepanjang malam. Iskandar berdiri di belakang ibunya dengan mata merah karena menahan kantuk. Begitu melihat Abdullah pulang, Fatimah kecil segera berlari memeluk kakinya. “Ayah...” bisiknya lirih. Abdullah mengangkat putrinya perlahan lalu mencium kepalanya yang masih hangat oleh tidur. Maryam memandang wajah suaminya lama sebelum akhirnya bertanya dengan suara sangat pelan: “Apakah keadaan lebih buruk daripada yang kita kira?” Abdullah tidak segera menjawab. Ia hanya memandang lorong kecil di belakang Maryam, tempat beberapa tetangga kini mulai membuka pintu rumah sambil saling bertukar bisik dan kabar. Lalu perlahan ia berkata: “Malam tadi mereka membawa Abdullah bin Harun.” Wajah Maryam langsung berubah pucat. “Inna lillahi...” bisiknya pelan. Iskandar mengangkat wajah cepat. “Yang sering mengajari anak-anak membaca itu?” Abdullah mengangguk kecil. Anak itu langsung terdiam.
Dan di pagi pertama setelah wafatnya Ali bin Abu Thalib, keluarga Abdullah mulai memahami bahwa badai yang selama ini hanya terdengar dari Kufah kini telah benar-benar sampai ke Madinah. Matahari mulai naik perlahan di balik bangunan-bangunan Madinah. Cahaya pagi menyentuh dinding rumah-rumah tanah dengan warna kekuningan pucat. Biasanya pagi di kota Nabi dipenuhi suara manusia yang bergerak menuju pasar, kebun, dan sumur-sumur air dengan wajah tenang. Namun pagi itu suasana terasa berbeda. Orang-orang tetap menjalani pekerjaan mereka, tetapi langkah mereka lebih cepat dan percakapan mereka lebih pelan.
Abdullah duduk dekat pintu rumah sambil memandangi lorong kecil di depan rumahnya. Fatimah kecil sudah kembali tertidur di pangkuan Maryam setelah semalaman terbangun oleh ketakutan. Iskandar duduk di dekat dinding sambil mengasah pisau kecil miliknya dengan batu halus, meski pikirannya jelas tidak benar-benar berada pada pekerjaan itu. “Jangan mengasahnya terlalu keras,” ujar Abdullah pelan. Iskandar mengangkat wajah. “Mengapa?” “Pisau yang terlalu tipis mudah patah.” Anak itu terdiam sesaat sebelum akhirnya meletakkan pisaunya perlahan. Maryam memperhatikan keduanya dengan sorot mata penuh kecemasan. Ia sedang melipat kain-kain kecil dan memeriksa persediaan makanan di sudut rumah, tetapi jelas pikirannya tidak tenang. “Aku mendengar beberapa perempuan menangis dekat sumur tadi pagi,” katanya lirih. “Orang-orang mulai saling bertanya siapa yang akan dibawa berikutnya.” Abdullah menundukkan kepala kecil. “Ketakutan membuat manusia saling mencurigai,” gumamnya.
Di luar rumah terdengar suara langkah cepat mendekat. Tidak lama kemudian Bilal muncul di ujung lorong bersama Umar bin Jundab dan Sa’ad. Wajah mereka tampak lebih serius dibanding ketika berpisah setelah fajar tadi. “Masuklah,” ujar Abdullah sambil berdiri. Begitu mereka masuk, Bilal langsung menutup pintu rumah perlahan lalu berkata tanpa banyak pembuka: “Keadaan di pasar mulai memburuk.” Maryam menghentikan gerak tangannya. “Apa yang terjadi?” tanya Abdullah cepat. Bilal mengusap wajahnya kasar sebelum menjawab. “Beberapa lelaki dari Syam terlihat berbicara dengan kepala-kepala kabilah kecil pagi ini.” “Tentang baiat?” tanya Umar bin Jundab. Bilal mengangguk. “Dan tentang orang-orang yang masih dianggap setia kepada keluarga Ali.” Hening kembali memenuhi rumah kecil itu.
Sa’ad yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. “Aku juga mendengar nama Syekh Umar disebut di pasar.” Iskandar langsung mengangkat wajah cepat. “Apa maksudnya?” Sa’ad menelan ludah sebelum menjawab. “Mereka mulai bertanya siapa saja murid beliau.” Maryam memejamkan mata perlahan. “Ya Allah...” bisiknya lirih. Abdullah merasakan sesuatu mengeras di dalam dadanya. Kini pengawasan itu mulai bergerak semakin dekat kepada lingkaran mereka sendiri. “Siapa yang bertanya?” tanya Abdullah. “Lelaki yang tidak kukenal.” Sa’ad memandang ayahnya sebentar sebelum melanjutkan. “Tetapi beberapa pedagang berkata mereka datang bersama rombongan Syam dua hari lalu.”
Bilal duduk perlahan di dekat dinding lalu berkata dengan nada berat, “Aku juga mendengar rumah Salman al-Katib mulai diawasi.” “Karena tulisan-tulisannya,” gumam Abdullah. “Dan karena ia dikenal dekat dengan Syekh Umar.” Di luar rumah, suara pasar mulai terdengar semakin ramai terbawa angin pagi. Teriakan pedagang kurma dan langkah unta terdengar samar dari arah jalan besar. Kehidupan Madinah masih berjalan sebagaimana biasa di permukaan. Tetapi di bawah semua itu, rasa takut mulai menyebar seperti api kecil di rumput kering. Umar bin Jundab lalu memandang Abdullah dalam-dalam. “Aku mulai memindahkan alat-alatku pagi ini,” katanya pelan. Abdullah mengerutkan dahi. “Ke mana?” “Ke gudang lama dekat kebun sebelah selatan.” Umar menarik napas panjang. “Aku tidak ingin semua pekerjaanku hilang bila rumah-rumah mulai diperiksa.”
Maryam memandang lelaki besar itu dengan wajah sedih. “Apakah kita sudah sampai sejauh itu?” Tidak ada yang segera menjawab. Lalu Bilal berkata sangat pelan: “Aku mulai berpikir Syekh Umar benar.” “Tentang apa?” tanya Iskandar. Bilal memandang anak itu beberapa saat sebelum menjawab: “Bahwa Madinah mungkin tidak akan tetap menjadi tempat aman bagi kita.” Ucapan Bilal membuat ruangan kecil rumah Abdullah kembali tenggelam dalam diam yang panjang. Cahaya pagi kini mulai masuk lebih jelas dari celah pintu dan dinding rumah, memperlihatkan debu-debu halus yang melayang pelan di udara. Dari luar terdengar suara unta melintas bersama teriakan pedagang air yang mulai berkeliling lorong-lorong Madinah. Kehidupan kota terus bergerak sebagaimana biasa, namun bagi orang-orang di rumah itu, pagi terasa jauh lebih berat daripada hari-hari sebelumnya.
Iskandar menundukkan wajah perlahan setelah mendengar ucapan Bilal. Jemarinya masih memegang pisau kecil tadi, tetapi kini benda itu hanya diam di pangkuannya. “Kalau kita pergi...” katanya pelan tanpa mengangkat wajah, “apakah kita akan kembali lagi?” Tidak ada seorang pun yang langsung menjawab. Maryam memandang putranya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sedangkan Abdullah hanya memandangi lorong kecil di depan rumah seolah jawaban pertanyaan itu berada di luar sana, tersembunyi di antara langkah-langkah manusia Madinah. Bilal akhirnya menghela napas panjang. “Tidak ada seorang pun yang tahu.”
Fatimah kecil yang baru terbangun perlahan memeluk lengan ibunya sambil memandang wajah orang-orang dewasa di ruangan dengan bingung. Anak itu belum benar-benar memahami apa yang sedang terjadi, tetapi ia cukup mengerti bahwa sesuatu sedang berubah di sekitar keluarganya. “Apakah orang-orang jahat itu akan datang ke rumah kita juga?” tanyanya lirih. Maryam langsung memeluk putrinya erat sambil membelai rambutnya perlahan. “InsyaAllah tidak,” bisiknya lembut, meski ketakutan di matanya berkata lain.
Umar bin Jundab menundukkan kepala kecil. Lelaki besar itu tampak jauh lebih muram daripada biasanya. “Sa’ad tidak tidur semalaman,” katanya lirih. “Ia terus berjaga di depan rumah dengan tongkat kayu.” Sa’ad tampak sedikit malu lalu menunduk. “Aku mendengar langkah orang berkali-kali,” gumam pemuda itu. “Setiap suara terasa seperti mereka.” “Itulah yang terjadi bila ketakutan mulai masuk ke dalam kota,” ujar Abdullah pelan. “Manusia bahkan mulai takut kepada suara langkah.”
Di luar rumah tiba-tiba terdengar suara perempuan-perempuan berbicara cepat dekat sumur lorong. Nada mereka tegang dan penuh bisik-bisik. Maryam melirik ke arah pintu. Tidak lama kemudian Hafsah binti Malik muncul di depan rumah Abdullah dengan wajah pucat. Kerudungnya tampak dipasang tergesa. “Bolehkah aku masuk?” tanyanya cepat. Maryam segera berdiri membukakan jalan. Begitu masuk, Hafsah langsung berkata dengan suara tertahan, “Mereka kembali ke lorong utara pagi tadi.” Bilal mengangkat kepala cepat. “Untuk apa?” “Mereka mencari seorang penulis muda.” Nafas Hafsah terdengar tidak teratur. “Orang-orang berkata lelaki itu berhasil melarikan diri sebelum subuh.” “Siapa namanya?” tanya Abdullah. “Amir bin Khalaf.” Hafsah menelan ludah pelan. “Ia biasa membantu menyalin surat untuk orang-orang Kufah.” Qasim bin Thauban langsung memejamkan mata sebentar. “Aku mengenalnya,” gumamnya lirih. “Dan sekarang orang-orang mulai membicarakan siapa yang pernah dekat dengannya,” lanjut Hafsah. Ruangan kembali dipenuhi kesunyian berat.
Ketakutan kini mulai bergerak bukan hanya melalui penangkapan, tetapi juga melalui bisik-bisik manusia sendiri. Abdullah berdiri perlahan lalu melangkah menuju pintu rumah. Ia memandang lorong Madinah yang kini semakin ramai oleh manusia dan hewan pembawa barang. Matahari telah naik lebih tinggi. Namun kota itu tidak terasa lebih terang. Justru sebaliknya. Semakin pagi, semakin jelas terlihat bagaimana ketakutan mulai tumbuh di antara manusia.
Seorang lelaki yang biasanya bercakap keras kini hanya berbicara setengah berbisik kepada tetangganya. Seorang perempuan cepat-cepat menarik anaknya masuk ketika dua lelaki asing lewat di ujung lorong. Dan beberapa wajah baru tampak berdiri terlalu lama dekat jalan-jalan kecil, memperhatikan rumah-rumah tanpa benar-benar bergerak. Abdullah merasakan hawa panas matahari mulai menyentuh wajahnya. Lalu perlahan, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sebuah pertanyaan mulai tumbuh jelas di dalam dadanya: apakah keluarganya harus meninggalkan Madinah sebelum kota itu berubah menjadi tempat yang tidak lagi mengenali mereka?
Panas matahari mulai merayap turun ke lorong-lorong Madinah ketika pagi bergerak menuju dhuha. Cahaya keemasan menyentuh dinding-dinding rumah tanah dan atap-atap pelepah kurma yang mulai mengering diterpa musim panas Hijaz. Namun hangat matahari itu tidak mampu mengusir hawa gelisah yang sejak malam tadi menggantung di dalam dada banyak manusia. Abdullah masih berdiri di ambang pintu rumahnya. Matanya memperhatikan setiap orang yang lewat di lorong kecil depan rumah: • perempuan yang membawa kendi air dengan langkah cepat, • anak-anak yang biasanya berlari kini berjalan lebih dekat kepada ibu mereka, • dan lelaki-lelaki yang berbicara sambil sesekali menoleh ke belakang. Madinah masih hidup. Tetapi kehidupan itu kini bergerak dengan hati-hati.
“Ayah...” Suara Iskandar membuat Abdullah menoleh perlahan. Anak itu kini berdiri di dekat pintu dengan wajah serius yang terlalu dewasa untuk usianya. “Apakah semua kota seperti ini ketika terjadi perebutan kekuasaan?” tanyanya pelan. Abdullah memandang putranya beberapa saat sebelum menjawab. “Tidak semua.” “Lalu mengapa kaum muslimin saling memburu?” Pertanyaan itu jatuh pelan namun menusuk. Maryam yang sedang menyusun roti kering di sudut rumah menghentikan gerak tangannya sebentar. Bilal dan Umar bin Jundab pun terdiam.
Abdullah akhirnya menarik napas panjang. “Karena manusia,” katanya lirih, “kadang lebih mencintai kekuasaan daripada persaudaraan.” Iskandar tampak memikirkan jawaban itu dalam-dalam. “Tetapi bukankah mereka semua shalat kepada Allah yang sama?” tanyanya lagi. Bilal tersenyum pahit. “Nak...” katanya pelan, “manusia dapat berdiri dalam satu saf, tetapi hati mereka belum tentu berada di tempat yang sama.” Kesunyian kembali turun di ruangan kecil itu.
BAGIAN 2 — Pilihan pahit yang tak terbayangkan
Dari luar terdengar suara langkah tergesa mendekat. Beberapa saat kemudian Rafi’, putra Hilal bin Rasyid, muncul di depan rumah dengan wajah dipenuhi peluh. Nafas pemuda itu memburu seperti baru berlari jauh di bawah matahari pagi. “Abdullah!” panggilnya cepat. Abdullah segera keluar beberapa langkah. “Apa yang terjadi?” Rafi’ menoleh cepat ke kanan dan kiri lorong sebelum menjawab dengan suara tertahan. “Syekh Umar meminta beberapa kepala keluarga berkumpul setelah dhuha.” Bilal langsung berdiri dari tempat duduknya. “Di mana?” “Rumah Hilal bin Rasyid.” Rafi’ menelan ludah. “Tetapi beliau meminta orang-orang datang terpisah, tidak bergerombol.” Umar bin Jundab mengerutkan dahi. “Keadaan makin buruk rupanya.” Rafi’ mengangguk pelan. “Ayahku berkata ada kabar baru dari jalur Basrah.” Abdullah merasakan dadanya mengeras sedikit. Basrah. Nama kota itu kini mulai disebut semakin sering sejak malam tadi. “Apakah Syekh Umar mengatakan apa isi kabarnya?” tanya Bilal. “Tidak.” Rafi’ mengusap peluh di dahinya. “Tetapi beberapa musafir dari Irak telah tiba sebelum fajar. Dan mereka membawa berita buruk.”
Maryam yang mendengar dari dalam rumah langsung memandang Abdullah dengan wajah cemas. “Engkau akan pergi lagi?” tanyanya lirih. Abdullah mengangguk kecil. Fatimah langsung memeluk kaki ayahnya erat-erat. “Jangan lama-lama...” bisik anak kecil itu. Abdullah tersenyum tipis lalu mengusap kepala putrinya perlahan. Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai menyadari sesuatu yang pahit: sejak malam tadi, setiap kali ia meninggalkan rumah, selalu ada kemungkinan ia tidak kembali dalam keadaan yang sama. Angin panas pagi bergerak perlahan melewati lorong Madinah.
Dan di atas kota Nabi itu, matahari terus naik tanpa peduli bahwa manusia-manusia di bawahnya mulai hidup dalam ketakutan dan pilihan-pilihan berat yang akan mengubah seluruh hidup mereka. Setelah Rafi’ pergi meninggalkan lorong rumah Abdullah, suasana kembali dipenuhi kesunyian yang berat. Matahari kini mulai meninggi di atas Madinah. Cahaya panasnya memantul di dinding-dinding tanah dan jalan berbatu kecil yang mulai ramai oleh lalu lalang manusia. Namun keramaian itu tidak lagi terasa akrab seperti dahulu. Orang-orang bergerak cepat seolah takut terlalu lama berada di luar rumah.
Maryam mulai menyiapkan bekal kecil untuk Abdullah dengan tangan yang bergerak tenang namun wajah yang sulit menyembunyikan kecemasan. Ia membungkus beberapa potong roti gandum kering, kurma, dan sedikit daging asin ke dalam kain kecil perjalanan. “Engkau bahkan belum benar-benar beristirahat,” katanya lirih tanpa mengangkat wajah. “Hari-hari tenang mungkin sudah mulai menjauh dari kita,” jawab Abdullah pelan. Ucapan itu membuat Maryam berhenti sesaat. Di dekat dinding rumah, Iskandar diam-diam memperhatikan ayahnya. Anak itu kini tidak lagi bertanya banyak. Matanya justru mulai menyimpan sesuatu yang lebih sunyi: keinginan memahami dunia yang sedang berubah di depan matanya.
Bilal berdiri perlahan lalu merapikan sorbannya. “Aku akan menemui Samir bin Wahhab sebelum ke rumah Hilal,” katanya. Abdullah menoleh. “Untuk apa?” “Ia punya hubungan dengan beberapa saudagar jalur Syam dan Basrah.” Bilal mengencangkan ikatan kain di pinggangnya. “Kita perlu tahu bagaimana keadaan jalur dagang sekarang.” Umar bin Jundab mengangguk kecil. “Dan Samir selalu lebih cepat mendengar kabar pasar daripada siapa pun.” Maryam mengangkat wajah sedikit. “Apakah keadaan dagang juga mulai terganggu?” Bilal tersenyum pahit. “Ketika manusia mulai takut, pasar selalu ikut berubah.”
Tidak lama kemudian terdengar suara keledai melintas di lorong depan rumah. Disusul suara dua lelaki yang berbicara pelan sambil membawa karung-karung gandum. Abdullah memperhatikan mereka sebentar dari ambang pintu. Salah seorang lelaki tampak menoleh terlalu lama ke arah rumah-rumah sekitar sebelum kembali berjalan. Kebiasaan seperti itu mulai sering terlihat sejak pagi tadi. Madinah kini dipenuhi mata-mata kecil: • manusia yang pura-pura membeli barang, • manusia yang berdiri terlalu lama di pasar, • manusia yang terlalu banyak bertanya, • dan manusia yang menjual telinga mereka demi keselamatan atau upah. “Aku tidak menyukai wajah-wajah baru itu,” gumam Umar bin Jundab sambil memperhatikan lorong. “Aku bahkan mulai sulit membedakan siapa pedagang dan siapa pengintai,” sahut Bilal.
Fatimah kecil lalu berjalan mendekati Abdullah sambil membawa kendi air kecil dengan kedua tangannya. “Ayah haus?” tanyanya polos. Abdullah tersenyum tipis lalu menerima kendi itu. “Semoga Allah menjaga hatimu tetap lembut, wahai anakku.” Fatimah tidak memahami maksud ucapan itu. Ia hanya tersenyum kecil sebelum kembali duduk dekat ibunya.
Saat itulah dari ujung lorong tampak Malik bin Atiyah berjalan mendekat. Lelaki penyamak kulit itu membawa gulungan kain besar di pundaknya. Tubuhnya tinggi dan kurus, dengan langkah tenang khas orang yang lebih banyak bekerja daripada berbicara. Janggut hitamnya tampak dipenuhi debu kulit dan serpihan-serpihan kecil serat kain. Begitu sampai di depan rumah Abdullah, ia langsung menurunkan gulungan itu perlahan. “Aku mendengar Syekh Umar mengumpulkan para kepala keluarga lagi,” katanya pendek. “Kabar di lorong bergerak lebih cepat daripada angin rupanya,” ujar Bilal. Malik tidak tersenyum. “Di tempat penyamakan kulit pagi ini, orang-orang hanya berbicara tentang penangkapan.”
Abdullah memandang lelaki itu lama. Malik memang bukan banyak bicara, tetapi bila ia datang sendiri seperti ini, berarti kegelisahan telah benar-benar menyentuh hidupnya. “Bagaimana keadaan keluargamu?” tanya Abdullah. Malik menarik napas panjang. “Khadijah mulai menyimpan gandum dan air tanpa memberitahuku.” Ia memandang lorong kosong di depan rumah. “Ketika seorang perempuan mulai bersiap diam-diam, berarti ia merasa rumahnya tidak lagi aman.” Ucapan itu membuat Maryam menundukkan wajah perlahan. Karena sejak pagi tadi, tanpa mengatakan kepada siapa pun, ia juga mulai melakukan hal yang sama.
Kesunyian kecil jatuh sesaat setelah ucapan Malik bin Atiyah itu. Angin panas pagi bergerak perlahan melewati lorong Madinah, membawa debu tipis yang berputar rendah di dekat kaki-kaki mereka. Dari kejauhan terdengar suara tukul pandai besi memukul logam secara berulang, bercampur dengan teriakan penjual air dan lenguhan unta pembawa barang dari arah pasar. Kehidupan kota masih berjalan. Tetapi kini setiap suara terasa seperti datang dari dunia yang sedang retak perlahan.
Maryam menundukkan wajah sambil terus melipat kain bekal perjalanan Abdullah. Jemarinya bergerak tenang, namun napasnya tampak lebih berat dari biasanya. Bilal memperhatikan perempuan itu beberapa saat sebelum akhirnya berkata lirih, “Perempuan selalu lebih cepat merasakan bahaya daripada lelaki.” “Karena perempuan memikirkan rumah,” jawab Malik pendek. “Dan anak-anak,” sambung Maryam pelan. Fatimah kecil yang duduk di dekat ibunya mengangkat wajah bingung ketika mendengar namanya disebut-sebut sejak tadi pagi.
Sedangkan Iskandar kini berdiri dekat pintu rumah sambil memperhatikan lorong dengan tatapan yang semakin tajam dari hari ke hari. “Aku ingin ikut ke rumah Hilal,” katanya tiba-tiba. Maryam langsung mengangkat wajah cepat. “Tidak.” “Aku hanya akan berjalan bersama ayah.” “Tidak,” ulang Maryam lebih tegas. Iskandar menatap ayahnya mencari jawaban lain. Abdullah diam beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, “Belum sekarang.” Anak itu mengepalkan rahang kecilnya. “Sampai kapan aku hanya duduk di rumah sementara semua orang berbicara tentang bahaya?” “Sampai engkau mengerti bahwa keberanian bukan sekadar berjalan menuju bahaya,” jawab Abdullah tenang. Iskandar terdiam, namun jelas terlihat ia belum puas.
Umar bin Jundab memperhatikan anak itu sambil mengusap janggutnya. “Sa’ad juga mulai seperti itu beberapa musim lalu,” katanya kepada Abdullah. “Anak lelaki selalu ingin menjadi dewasa lebih cepat ketika dunia mulai gaduh.” Sa’ad yang berdiri di dekat pintu rumah hanya tersenyum tipis mendengar namanya disebut. Malik bin Atiyah lalu duduk perlahan di dekat dinding. Ia tampak jauh lebih letih daripada biasanya. Kulit tangannya yang kasar dipenuhi bekas luka kecil akibat pekerjaan penyamakan. “Talhah bertanya kepadaku tadi malam,” katanya lirih. “Ia ingin tahu apakah para prajurit itu akan datang juga ke tempat penyamakan.” Bilal menghembuskan napas panjang. “Anak-anak mulai mendengar terlalu banyak.” “Mereka tidak perlu mendengar,” jawab Malik. “Ketakutan sudah terlihat di wajah orang-orang dewasa.” Ruangan kembali sunyi. Ucapan itu benar. Anak-anak selalu dapat membaca ketakutan dari cara orang tua mereka berbicara, berjalan, dan memandang pintu rumah.
Di luar lorong, dua lelaki asing kembali terlihat melintas perlahan. Salah seorang membawa karung kecil di pundak, sedangkan yang lain terus memperhatikan rumah-rumah sekitar dengan tatapan terlalu lama. Iskandar langsung menyipitkan mata. “Aku belum pernah melihat mereka sebelumnya,” bisiknya. Bilal melirik sekilas lalu menundukkan suara. “Karena mereka memang bukan orang lorong ini.” Salah seorang lelaki asing itu sempat memandang rumah Abdullah beberapa detik sebelum kembali berjalan.
Dan beberapa detik singkat itu cukup membuat udara di dalam rumah terasa lebih berat. Maryam perlahan menggenggam tangan Fatimah kecil. Hanya gerakan kecil. Namun Abdullah melihatnya. Dan gerakan kecil itu membuat hatinya semakin yakin: bahwa rasa aman mulai meninggalkan rumah-rumah Madinah sedikit demi sedikit.
Tidak lama kemudian suara langkah cepat kembali terdengar dari ujung lorong. Kali ini Yahya, putra Samir bin Wahhab, muncul dengan napas sedikit memburu. Pemuda lincah itu biasa membantu ayahnya mengurus jalur dagang dan sering keluar masuk pasar sejak masih kecil. Rambutnya kusut terkena angin dan wajahnya dipenuhi peluh. “Bilal!” panggilnya cepat. Bilal segera berdiri. “Apa lagi sekarang?” Yahya menoleh ke kanan kiri lorong sebelum mendekat. “Ayahku meminta kalian berhati-hati.” Nafasnya masih belum teratur. “Ada kabar beberapa nama mulai dibawa ke tempat pencatatan dekat pasar.” Wajah Abdullah langsung mengeras. “Nama siapa?” Yahya menelan ludah perlahan. “Nama orang-orang yang dianggap dekat dengan keluarga Ali.”
Ucapan Yahya membuat udara di dalam rumah Abdullah seolah berhenti bergerak sesaat. Bahkan suara pasar yang tadi samar terdengar dari kejauhan kini terasa sangat jauh. Matahari semakin meninggi di atas Madinah, namun panasnya tidak mampu mengusir dingin yang perlahan menjalar ke dada orang-orang di ruangan itu. Bilal melangkah mendekati Yahya. “Siapa yang mencatat nama-nama itu?” Yahya menggeleng pelan. “Aku tidak mengenal mereka.” Ia mengusap peluh di dahinya dengan ujung sorban. “Tetapi Samir berkata beberapa berasal dari Syam.” “Dan orang-orang Madinah membantu mereka?” tanya Umar bin Jundab dengan nada berat. Yahya tampak ragu sebelum akhirnya menjawab, “Sebagian takut. Sebagian berharap mendapat perlindungan.” Ia menurunkan suaranya lebih pelan. “Dan sebagian lagi memang membenci keluarga Ali sejak lama.” Hening kembali turun.
Kenyataan itu terasa lebih pahit daripada ancaman prajurit. Sebab musuh tidak selalu datang dari luar kota. Kadang ia tumbuh diam-diam di antara manusia yang selama ini berjalan di lorong yang sama. Maryam perlahan memeluk Fatimah lebih dekat ke dadanya. Anak kecil itu kini mulai diam memperhatikan wajah-wajah orang dewasa dengan mata besar yang kebingungan. Sedangkan Iskandar berdiri semakin dekat ke pintu rumah. Tatapannya mengikuti dua lelaki asing yang tadi melintas dan kini sudah menghilang di ujung lorong. “Aku ingin tahu siapa mereka,” gumamnya. “Dan bila engkau tahu?” tanya Abdullah tenang. Iskandar tidak segera menjawab. Karena sebenarnya ia sendiri belum tahu apa yang ingin dilakukannya selain kemarahan yang mulai tumbuh di dalam dadanya.
Bilal memandang Yahya lagi. “Apakah Samir akan datang ke rumah Hilal nanti?” “Ya.” Yahya mengangguk cepat. “Ayahku juga membawa kabar tentang jalur dagang ke Basrah.” Nama itu kembali muncul. Basrah. Kini kota pelabuhan itu mulai terasa semakin dekat dalam percakapan mereka, seolah perlahan-lahan sedang bergerak masuk ke dalam takdir hidup mereka. Malik bin Atiyah mengusap wajahnya kasar. “Aku tidak menyukai arah pembicaraan kita sejak semalam.” “Karena semuanya mulai terasa nyata?” tanya Bilal. Malik mengangguk pelan.
Di luar rumah, suara langkah keledai terdengar melintas bersama dentingan kecil peralatan logam yang dibawa seorang pedagang keliling. Dua anak kecil berlari cepat melewati lorong sambil tertawa kecil sebelum segera dipanggil ibu mereka masuk kembali ke rumah. Pemandangan kecil itu membuat Abdullah terdiam. Kehidupan masih berjalan. Tetapi di bawah permukaannya, Madinah perlahan mulai berubah menjadi kota yang dipenuhi kehati-hatian. “Aku akan pergi lebih dahulu,” ujar Umar bin Jundab sambil berdiri. “Aku ingin memastikan keluargaku tidak sendirian terlalu lama.” Sa’ad segera ikut berdiri di belakang ayahnya. “Katakan kepada Aisyah agar tidak banyak membuka pintu hari ini,” pesan Bilal. “Ia sudah lebih waspada daripada aku,” jawab Umar dengan senyum pahit tipis. Setelah Umar dan Sa’ad pergi, suasana rumah terasa sedikit lebih sempit. Panas mulai masuk melalui celah atap. Bau roti gandum hangat bercampur aroma debu jalan yang terbawa angin.
Yahya masih berdiri dekat pintu dengan wajah gelisah. “Ayahku juga berkata...” ia berhenti sejenak seperti ragu melanjutkan. “Katakan,” ujar Abdullah. Yahya menelan ludah pelan. “Beberapa saudagar mulai memindahkan barang dagang mereka diam-diam ke luar kota.” Bilal langsung menyipitkan mata. “Karena takut dirampas?” “Karena takut keadaan menjadi lebih buruk.” Kesunyian kembali memenuhi ruangan. Lalu Malik bin Atiyah berkata sangat lirih, hampir seperti bicara kepada dirinya sendiri: “Biasanya manusia baru mulai menyembunyikan harta ketika mereka merasa rumah mereka tidak akan bertahan lama.” Ucapan Malik bin Atiyah terus menggantung di dalam rumah kecil Abdullah bahkan setelah Yahya berpamitan pergi menuju pasar. Suara langkah pemuda itu perlahan menghilang di ujung lorong bersama riuh kehidupan Madinah yang semakin padat menjelang tengah hari.
Abdullah duduk perlahan di dekat pintu rumah sambil memandangi cahaya matahari yang jatuh miring ke tanah lorong. Panas mulai terasa menyengat. Debu tipis beterbangan rendah setiap kali keledai atau unta lewat membawa barang dagangan menuju pasar. Maryam menuangkan sedikit air ke mangkuk tanah lalu menyerahkannya kepada Bilal dan Malik. Persediaan air di Madinah tidak pernah dianggap sepele, terlebih ketika hati manusia mulai dipenuhi kegelisahan. Bahkan suara air yang dituangkan pun terasa berharga pagi itu. “Aku mulai tidak menyukai pasar,” gumam Bilal sambil menerima mangkuk. Malik mengangkat wajah. “Sejak kapan?” “Sejak manusia mulai berbicara lebih banyak dengan mata daripada dengan mulut.”
Iskandar yang duduk dekat pintu memperhatikan kedua lelaki itu diam-diam. Anak itu kini mulai belajar membaca cara orang dewasa berbicara: • kalimat pendek, • suara pelan, • tatapan penuh makna, • dan ketakutan yang disembunyikan di balik kata-kata biasa. Tidak lama kemudian terdengar suara azan dhuha kecil dari kejauhan. Bukan panggilan resmi masjid, melainkan suara seorang lelaki tua yang biasa mengingatkan waktu shalat kepada para pedagang dekat pasar.
Matahari kini hampir tepat di atas Madinah. Bilal berdiri perlahan. “Kita harus bergerak sebelum lorong semakin ramai.” Abdullah mengangguk kecil lalu mengambil sorban luarnya. Maryam memperhatikan suaminya beberapa saat sebelum akhirnya mendekat dan membetulkan ujung sorban Abdullah dengan tangan pelan. Gerakan kecil yang biasa dilakukan seorang istri sebelum suaminya pergi bekerja atau bepergian. Namun hari itu terasa berbeda. Ada ketakutan diam-diam di balik sentuhan tangannya. “Jangan terlalu lama,” bisiknya lirih. Abdullah memandang wajah istrinya lama. “Aku akan kembali sebelum matahari turun.” Maryam tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil meski matanya belum benar-benar tenang. Fatimah kecil lalu berlari memeluk kaki ayahnya sekali lagi sebelum Abdullah keluar rumah bersama Bilal dan Malik bin Atiyah.
Lorong-lorong Madinah kini jauh lebih hidup dibanding pagi tadi. Pedagang-pedagang mulai memenuhi jalan utama. Unta pembawa karung gandum bergerak lambat sambil diiringi teriakan pengarah kafilah. Bau kulit samak, kurma matang, dan debu panas bercampur memenuhi udara. Namun di balik semua keramaian itu, sesuatu tetap terasa salah. Abdullah melihat beberapa lelaki asing berdiri terlalu lama dekat warung air. Salah seorang tampak berpura-pura memperbaiki tali sandal sambil mengamati manusia yang keluar masuk lorong. “Mereka bahkan tidak pandai menyembunyikan pengawasan,” gumam Bilal pelan. “Karena mereka ingin manusia tahu bahwa mereka sedang diawasi,” jawab Malik pendek. Mereka berjalan melewati rumah Qasim bin Thauban. Pintu rumah penulis itu tertutup rapat meski hari sudah tinggi. Tidak biasanya demikian. “Semoga ia sempat memindahkan catatan-catatan itu,” ujar Bilal lirih. Di dekat sumur kecil ujung lorong, beberapa perempuan sedang mengambil air sambil berbisik cepat satu sama lain. Ketika Abdullah dan yang lain lewat, percakapan mereka langsung mengecil. Ketakutan kini mulai mengubah bahkan cara manusia bergosip.
Mereka akhirnya tiba di jalan menuju rumah Hilal bin Rasyid yang berada dekat kebun kurma bagian selatan Madinah. Rumah itu lebih besar dibanding rumah-rumah lain di sekitar lorong karena Hilal sering menyimpan alat penggali air dan persediaan tali di bagian belakang rumahnya. Di depan rumah tampak Rafi’ berdiri berjaga sambil berpura-pura memperbaiki ember air tua. Begitu melihat Abdullah dan yang lain datang, pemuda itu segera berdiri. “Cepat masuk,” katanya pelan. “Syekh Umar sudah tiba... dan para musafir dari Irak juga sudah ada di dalam.” Rafi’ segera menutup pintu rumah Hilal bin Rasyid begitu Abdullah, Bilal, dan Malik masuk ke dalam. Suara kayu tua bergeser terdengar berat namun hati-hati. Berbeda dengan rumah Musa al-Yamani yang sempit dan penuh gulungan kitab, rumah Hilal terasa lebih luas dan hidup sebagai rumah keluarga besar pekerja gurun. Bau tanah basah langsung terasa begitu mereka masuk.
BAGIAN 3 — Kedatangan Musafir : Ketakutan dan Harapan, Tunas yang harus diselamatkan
Di bagian belakang rumah terdengar samar suara air menetes ke tempayan besar. Hilal memang dikenal sebagai lelaki yang memahami tanah dan mata air lebih baik daripada kebanyakan orang Madinah. Di salah satu sudut rumah tampak gulungan tali, cangkul kayu, ember kulit, dan alat-alat penggali sumur tersusun rapi. Dinding rumahnya dipenuhi bekas tangan dan debu pekerjaan sehari-hari. Namun pagi itu rumah tersebut tidak terasa seperti rumah pekerja biasa. Ia terasa seperti tempat manusia-manusia sedang berlindung dari sesuatu yang tidak terlihat.
Hafsah binti Malik muncul dari ruang dalam sambil membawa kendi air dingin. Perempuan itu bertubuh tegap dengan wajah yang memperlihatkan kelelahan karena kurang tidur. Meski demikian gerak-geriknya tetap tenang seperti perempuan yang terbiasa mengurus rumah dalam keadaan sulit. “Minumlah dahulu,” katanya pelan. Bilal menerima kendi itu sambil tersenyum tipis. “Semoga Allah menjaga rumah ini tetap sejuk di tengah panas Madinah.” Hafsah tidak membalas dengan senyum besar. Ia hanya mengangguk kecil lalu melirik ke arah ruang dalam rumah. Di sana tampak beberapa perempuan dan anak-anak duduk lebih sunyi dari biasanya.
Lubna sedang membantu Salma binti Nafi’ melipat kain dan menyusun kantung kecil berisi kurma kering. Gadis kecil itu biasanya pendiam, tetapi pagi ini ia tampak lebih diam lagi. Sesekali matanya mengarah ke pintu depan rumah setiap kali mendengar suara langkah di luar. Di dekat tiang rumah, Zaynab kecil tertidur sambil memeluk kain ibunya. Sedangkan Amr duduk dekat jendela sempit sambil mengamati lorong luar dengan wajah serius yang terlalu tua untuk anak seusianya. “Anak-anak mulai mendengar terlalu banyak,” gumam Malik pelan ketika melihat mereka. “Tidak perlu mendengar pun mereka dapat merasakannya,” jawab Hafsah lirih.
Abdullah memperhatikan suasana rumah itu lama. Dan untuk pertama kalinya sejak malam tadi, ia benar-benar melihat bagaimana ketakutan mulai masuk ke dalam rumah-rumah keluarga Madinah: • bukan melalui pedang, • bukan melalui darah, • tetapi melalui wajah ibu-ibu yang mulai berjaga, • dan anak-anak yang mulai diam. Dari ruang tengah terdengar suara Syekh Umar berbicara pelan dengan seseorang. Ketika Abdullah dan yang lain masuk lebih dalam, mereka melihat dua lelaki asing duduk di dekat dinding rumah bersama Hilal bin Rasyid dan Samir bin Wahhab. Kedua lelaki itu tampak seperti musafir jauh. Jubah mereka dipenuhi debu perjalanan. Kulit wajah mereka menghitam oleh panas jalan Irak. Salah seorang memiliki bekas luka panjang di dekat pelipis kirinya, sedangkan yang lain terus memijat lututnya seperti baru turun dari perjalanan panjang tanpa banyak istirahat.
Samir bin Wahhab sendiri tampak jauh berbeda dari biasanya. Pedagang itu dikenal pandai membaca suasana pasar dan sering membawa tawa kecil dalam percakapan. Namun pagi ini wajahnya muram dan sorot matanya dipenuhi kegelisahan. Begitu melihat Abdullah datang, ia langsung berkata pelan: “Kalian akhirnya tiba.” Hilal bin Rasyid berdiri menyambut mereka. Tubuh lelaki ahli mata air itu besar dan kokoh seperti batang kurma tua. Telapak tangannya kasar oleh tanah dan batu, namun gerakannya tenang. “Duduklah,” ujarnya pendek. Abdullah duduk dekat Syekh Umar. Udara di ruangan terasa hangat oleh banyaknya manusia dan panas matahari yang mulai naik. Dari luar sesekali terdengar suara keledai lewat dan anak-anak kecil bermain jauh di lorong lain.
Namun di dalam rumah Hilal, tidak ada seorang pun yang benar-benar merasa tenang. Syekh Umar memandang Abdullah dan Bilal satu per satu sebelum akhirnya menunjuk kedua musafir di dekat dinding. “Mereka baru tiba dari jalur Irak menuju Basrah,” ujar beliau lirih. Ruangan langsung menjadi lebih sunyi. Lalu lelaki berbekas luka di pelipis itu perlahan mengangkat wajahnya dan berkata dengan suara serak oleh debu perjalanan: “Kufah tidak lagi aman bagi banyak orang.” Setelah lelaki itu berbicara, ruangan rumah Hilal bin Rasyid langsung tenggelam dalam diam yang berat. Bahkan suara anak-anak di ruang belakang pun seperti menjauh sesaat. Cahaya matahari siang masuk melalui celah atap rumah dan jatuh miring ke lantai tanah, memperlihatkan butiran debu kecil yang melayang perlahan di udara hangat.
Abdullah memperhatikan kedua musafir itu lebih saksama sekarang. Mereka tampak benar-benar letih. Kaki mereka penuh debu jalan. Tepi jubah mereka koyak di beberapa bagian akibat perjalanan panjang. Lelaki yang duduk di samping musafir berbekas luka bahkan masih memegang tongkat kayu dengan erat seperti tubuhnya belum percaya bahwa perjalanan mereka sudah berhenti untuk sementara. Hafsah binti Malik lalu datang membawa mangkuk air dingin dan roti gandum hangat. Aroma roti baru memenuhi ruangan sesaat, membawa sedikit rasa rumah di tengah pembicaraan yang semakin gelap. “Makanlah dahulu,” katanya pelan kepada para musafir.
Lelaki berbekas luka itu menerima mangkuk air dengan kedua tangan. Jemarinya tampak pecah-pecah dan kemerahan oleh panas gurun. “Semoga Allah membalas kebaikan rumah ini,” katanya lirih sebelum meneguk air panjang. Cara lelaki itu minum memperlihatkan betapa lama ia menahan haus. Lubna diam-diam memperhatikan dari ruang belakang sambil memegang kain lipatan di pangkuannya. Sedangkan Amr masih duduk dekat jendela kecil, mendengarkan setiap percakapan dengan wajah tegang. “Siapa nama kalian?” tanya Bilal akhirnya. Musafir berbekas luka itu menurunkan mangkuk perlahan. “Aku Khalid bin Mazin.” Ia menunjuk lelaki di sampingnya. “Dan ini sepupuku, Farhan.” Farhan mengangguk kecil tanpa banyak bicara. Matanya cekung oleh kurang tidur.
“Kalian datang langsung dari Kufah?” tanya Malik bin Atiyah. Khalid menggeleng pelan. “Tidak.” Ia mengusap wajahnya kasar. “Kami meninggalkan Kufah beberapa pekan lalu ketika keadaan mulai memburuk.” Tatapannya turun ke lantai tanah rumah Hilal. “Tetapi perjalanan menuju Basrah pun tidak lagi tenang.” Samir bin Wahhab menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil menghela napas panjang. Pedagang itu tampak terus memikirkan sesuatu sejak tadi. “Ceritakan kepada mereka,” ujarnya lirih kepada Khalid. Ruangan kembali sunyi. Di luar rumah terdengar suara angin siang menggoyang pelepah kurma. Panas mulai terasa menekan atap rumah.
Khalid akhirnya berbicara perlahan. “Banyak keluarga mulai meninggalkan Kufah diam-diam.” Suaranya berat dan serak. “Sebagian bergerak malam hari. Sebagian menyamar ikut kafilah dagang.” Bilal mengernyitkan dahi. “Karena takut?” Khalid tersenyum pahit kecil. “Karena manusia mulai saling melaporkan demi keselamatan mereka sendiri.” Kalimat itu membuat beberapa orang menundukkan wajah. Farhan yang sejak tadi diam akhirnya bersuara lirih. “Aku melihat seorang lelaki menyerahkan nama tetangganya sendiri hanya agar rumahnya tidak diperiksa.” Tidak ada yang menjawab. Sebab semua orang di ruangan itu memahami: ketika ketakutan tumbuh terlalu besar, persaudaraan manusia mulai retak sedikit demi sedikit.
Di ruang belakang, Zaynab kecil terbangun lalu mulai menangis pelan karena hawa panas siang. Salma binti Nafi’ segera menggendong anaknya sambil menenangkan dengan suara lirih. Suara lembut seorang ibu itu mengalir samar di tengah pembicaraan tentang kota-kota yang mulai dipenuhi ketakutan. Dan justru suara kecil itu membuat semuanya terasa semakin nyata. Ini bukan lagi sekadar urusan politik para pembesar. Fitnah itu mulai masuk ke rumah-rumah biasa: • ke tempat anak-anak tidur, • ke tempat perempuan memasak, • ke tempat keluarga menyimpan gandum dan air mereka. Di ruang belakang, Zaynab kecil terbangun lalu mulai menangis pelan karena hawa panas siang. Salma binti Nafi’ segera menggendong anaknya sambil menenangkan dengan suara lirih. Suara lembut seorang ibu itu mengalir samar di tengah pembicaraan tentang kota-kota yang mulai dipenuhi ketakutan. Dan justru suara kecil itu membuat semuanya terasa semakin nyata. Ini bukan lagi sekadar urusan politik para pembesar. Fitnah itu mulai masuk ke rumah-rumah biasa: • ke tempat anak-anak tidur, • ke tempat perempuan memasak, • ke tempat keluarga menyimpan gandum dan air mereka. Syekh Umar memandang Khalid lama sebelum bertanya pelan: “Bagaimana keadaan Hasan?” Ruangan langsung kembali sunyi sepenuhnya.
Khalid menarik napas panjang. Lalu dengan wajah letih ia menjawab: “Orang-orang masih berbaiat kepadanya...” ia berhenti sesaat, “tetapi hati manusia mulai dipenuhi keraguan dan rasa takut.” Setelah jawaban Khalid bin Mazin itu, tidak ada seorang pun yang segera berbicara. Udara siang di dalam rumah Hilal terasa semakin berat. Panas matahari mulai menekan atap pelepah kurma hingga aroma kering daun dan tanah bercampur di udara. Di luar rumah terdengar suara unta mengembuskan napas panjang ketika lewat di jalan kecil dekat kebun. Syekh Umar menundukkan kepala perlahan. Jemari beliau bergerak pelan pada tasbih kayu di tangannya. “Manusia memang mudah berubah ketika ketakutan mulai masuk ke dalam hati mereka,” gumam beliau lirih.
Bilal memandang Khalid tajam. “Apakah pendukung Muawiyah sudah masuk jauh ke Kufah?” Khalid mengangguk kecil. “Tidak semua membawa pedang.” Ia mengusap pelipisnya yang terluka. “Sebagian membawa janji keselamatan. Sebagian membawa emas. Dan sebagian lagi membawa ketakutan.” Samir bin Wahhab menghembuskan napas panjang sambil menyandarkan kepala ke dinding rumah. “Pasar selalu menjadi tempat pertama perubahan itu terasa,” katanya lirih. “Ketika saudagar mulai takut rugi, mereka akan mengikuti arah kekuasaan.” Malik bin Atiyah menoleh kepadanya. “Dan engkau melihat itu mulai terjadi?” Samir tidak langsung menjawab. Ia justru memandang ruang belakang rumah tempat Ruqayyah sedang membantu Hafsah membagikan roti kepada anak-anak. Yahya tampak berdiri dekat ibunya sambil mendengarkan percakapan orang dewasa dengan wajah tegang. “Aku melihat manusia mulai memilih diam,” jawab Samir akhirnya. “Dan diam yang terlalu panjang biasanya pertanda manusia sedang menunggu siapa yang akan menang.” Ruangan kembali hening.
Abdullah memperhatikan wajah-wajah di sekelilingnya satu demi satu: • Hilal yang tampak tenang namun sorot matanya berat, • Bilal yang mulai semakin muram, • Malik yang diam seperti batu namun rahangnya menegang, • dan Syekh Umar yang terlihat semakin tua sejak malam tadi. Di ruang belakang, Lubna perlahan menuangkan air ke kendi-kendi kecil untuk para tamu. Gerakannya hati-hati dan nyaris tanpa suara. Gadis itu sesekali melirik para lelaki di ruang depan, mencoba memahami percakapan yang terlalu besar bagi usianya. Sedangkan Amr kini duduk lebih dekat ke pintu ruang tengah. Anak itu berpura-pura membantu melipat kain, namun telinganya jelas mendengarkan setiap kata. “Apakah jalur menuju Basrah masih aman?” tanya Abdullah akhirnya kepada Khalid. Pertanyaan itu membuat beberapa orang langsung mengangkat wajah.
Khalid tampak berpikir sesaat sebelum menjawab. “Aman...” ia mengulang kata itu pelan seperti sedang menimbang maknanya sendiri. “Tidak ada jalan yang benar-benar aman sekarang.” Ia meneguk sedikit air sebelum melanjutkan. “Tetapi jalur selatan masih lebih tenang dibanding jalan besar menuju Syam.” “Perampok?” tanya Malik. Farhan yang sejak tadi diam menjawab pelan, “Sebagian.” Ia memandang lantai tanah. “Sebagian lagi kelompok bersenjata yang mengaku mencari orang-orang pemberontak.” Bilal mendecakkan lidah kecil. “Sekarang semua orang merasa berhak memburu manusia.” Dari luar rumah terdengar suara langkah cepat beberapa anak kecil berlari sambil tertawa. Sesaat kemudian suara mereka menghilang di ujung lorong. Kontras kecil itu membuat suasana rumah terasa semakin ganjil: dunia anak-anak masih bergerak, sementara dunia orang dewasa mulai dipenuhi bayang-bayang ketakutan.
Hafsah lalu duduk perlahan dekat tiang rumah sambil mengusap peluh di pelipisnya. “Aku mendengar beberapa keluarga mulai menjual barang-barang mereka diam-diam,” katanya lirih. “Untuk biaya perjalanan,” sambung Samir. “Atau untuk menyuap penjaga jalan,” tambah Khalid pahit. Ruangan kembali tenggelam dalam diam panjang. Dan untuk pertama kalinya sejak pembicaraan tentang hijrah muncul malam tadi, kata itu kini mulai berubah bentuk: bukan lagi sekadar kemungkinan jauh, melainkan sesuatu yang perlahan mulai mendekati kehidupan mereka satu demi satu. Panas siang terus menekan Madinah perlahan. Cahaya matahari jatuh tajam menimpa halaman kecil rumah Hilal bin Rasyid hingga bayangan tiang-tiang rumah memendek di atas tanah. Dari celah atap, garis-garis cahaya masuk ke ruang tengah seperti bilah-bilah tipis berwarna keemasan yang dipenuhi debu beterbangan. Tidak ada seorang pun yang tergesa melanjutkan pembicaraan.
Suasana rumah itu kini dipenuhi jenis diam yang berbeda: bukan diam karena tidak ada yang ingin dikatakan, melainkan diam karena terlalu banyak hal sedang dipikirkan setiap kepala. Di ruang belakang, Ruqayyah binti Harits sedang memotong roti-roti gandum kecil untuk anak-anak. Gerakannya pelan dan teratur seperti perempuan yang berusaha menjaga rumah tetap terasa biasa meski dunia di luar mulai berubah. Mariam kecil duduk di dekat ibunya sambil memainkan serabut pelepah kurma di lantai, sesekali mengangkat wajah bingung ketika mendengar nama Kufah atau Basrah disebut oleh orang-orang dewasa. Tidak jauh dari mereka, Salma binti Nafi’ sedang membasahi kain tipis lalu mengusap wajah Zaynab yang masih lemas karena udara panas. Lubna membantu mengganti kendi air sambil diam-diam mendengarkan pembicaraan para lelaki dari balik tiang rumah.
Rumah Hilal siang itu benar-benar terasa hidup. Bukan hidup karena kegembiraan, melainkan hidup karena manusia-manusia di dalamnya sedang sama-sama menahan kecemasan mereka masing-masing. Hilal sendiri duduk bersandar dekat dinding rumah dengan kedua tangan besar bertumpu di lututnya. Lelaki ahli mata air itu lebih banyak diam sejak tadi. Namun wajahnya memperlihatkan bahwa pikirannya terus bekerja. “Berapa lama perjalanan dari Kufah menuju Basrah yang kalian tempuh?” tanyanya akhirnya kepada Khalid. Khalid mengangkat wajah perlahan. “Bila jalan tenang, sekitar dua pekan lebih sedikit.” “Dan perjalanan kalian?” Khalid tersenyum pahit kecil. “Hampir sebulan.” Beberapa orang langsung mengangkat kepala.
Farhan mengusap lututnya pelan sebelum menjelaskan, “Kami beberapa kali harus mengubah jalur.” Suaranya berat oleh letih. “Ada kelompok bersenjata memeriksa musafir di beberapa persimpangan jalan.” “Mereka mencari siapa?” tanya Bilal. Farhan tertawa kecil tanpa kegembiraan. “Sekarang semua orang mencari musuh menurut versinya masing-masing.” Kalimat itu membuat Malik bin Atiyah menghembuskan napas perlahan. “Itulah awal kerusakan,” gumamnya lirih. Di luar rumah, suara ember jatuh terdengar keras dari lorong depan. Zaynab kecil langsung terkejut dan memeluk ibunya erat. Salma segera membelai rambut anaknya pelan sambil berbisik menenangkan. Gerakan kecil itu membuat Abdullah kembali teringat rumahnya sendiri. Maryam. Fatimah. Iskandar. Pikiran tentang mereka datang berkali-kali sejak pagi tadi seperti ombak kecil yang terus menghantam tepian hati.
Samir bin Wahhab lalu berdiri perlahan dan berjalan menuju jendela sempit rumah. Ia membuka sedikit penutup kainnya lalu mengamati lorong luar. “Pasar mulai lebih ramai,” katanya pelan. “Dan itu buruk.” Bilal mengerutkan dahi. “Mengapa buruk?” “Karena semakin ramai pasar,” jawab Samir tanpa menoleh, “semakin mudah wajah asing bercampur dengan manusia biasa.” Yahya yang berdiri dekat ayahnya ikut mengintip keluar. “Aku melihat dua lelaki tadi pagi berjalan melewati tempat kain-kain Yaman dijual,” katanya. “Mereka tidak membeli apa pun. Tetapi mereka memperhatikan manusia seperti sedang menghitung.” “Menghitung siapa dekat dengan siapa,” sambung Bilal. Rafi’ yang sejak tadi berjaga dekat pintu akhirnya masuk lebih dalam sambil membawa kabar air dari halaman belakang. “Ada beberapa lelaki asing berhenti dekat kebun kurma sebelah timur,” katanya lirih kepada Hilal. Hilal mengangkat wajah cepat. “Pedagang?” Rafi’ menggeleng. “Tidak membawa barang.” Ruangan kembali sunyi.
Bahkan anak-anak di ruang belakang ikut berhenti bergerak sesaat ketika melihat perubahan wajah orang-orang dewasa. Syekh Umar akhirnya mengangkat kepala perlahan. Wajah beliau tampak letih diterpa cahaya siang. “Lihatlah,” ujar beliau lirih, “bagaimana fitnah mulai mengubah sebuah kota.” Tatapan beliau bergerak pelan ke arah ruang belakang rumah: kepada ibu-ibu yang mulai menyimpan makanan, kepada anak-anak yang mulai diam, kepada pemuda-pemuda yang mulai berjaga, dan kepada lelaki-lelaki yang mulai berbicara dengan suara setengah berbisik di rumah mereka sendiri. “Kerusakan besar,” lanjut beliau sangat pelan, “selalu masuk sedikit demi sedikit sebelum manusia menyadari betapa jauh dunia mereka telah berubah.” Setelah ucapan Syekh Umar itu, rumah Hilal bin Rasyid kembali tenggelam dalam kesunyian yang panjang. Di luar, panas siang Madinah semakin terasa membakar. Angin yang masuk dari celah jendela tidak lagi sejuk, melainkan membawa hawa kering bercampur debu halus dari jalan-jalan kota.
Namun di dalam rumah itu, tidak seorang pun benar-benar memikirkan panas. Pikiran mereka telah dipenuhi oleh sesuatu yang lebih berat. Lubna perlahan berjalan membawa kendi air baru menuju ruang tengah. Gadis itu bergerak hati-hati agar air tidak tumpah. Ketika melewati para lelaki, ia sempat mendengar kata “Basrah” kembali disebut dengan suara pelan. Matanya langsung bergerak cepat kepada ayahnya sebelum ia kembali menunduk dan berjalan ke ruang belakang. Anak-anak mulai mendengar potongan-potongan dunia orang dewasa, meski belum sepenuhnya memahami maknanya.
Di dekat pintu, Rafi’ masih berjaga sambil sesekali melirik ke lorong luar melalui celah kayu. Tubuh pemuda itu tegap dan kuat akibat pekerjaan menggali tanah bersama ayahnya sejak kecil, namun wajahnya kini terlihat lebih keras dibanding beberapa musim sebelumnya. “Aku tidak menyukai suasana kota hari ini,” gumamnya pelan. Hilal memandang putranya sekilas. “Kota tidak berubah dalam satu hari.” “Tetapi manusia di dalamnya bisa berubah cepat,” jawab Rafi’. Tidak ada yang membantah. Sebab semua orang di rumah itu mulai melihat tanda-tandanya. Khalid bin Mazin lalu menggeser duduknya perlahan. Wajahnya tampak sedikit lebih segar setelah minum dan makan, tetapi matanya masih menyimpan kelelahan perjalanan panjang. “Aku melewati beberapa perkampungan kecil sebelum sampai ke Madinah,” katanya lirih. “Dan di banyak tempat...” ia berhenti sebentar seperti memilih kata yang tepat, “orang-orang mulai takut menyebut nama Ali terlalu keras.” Salma binti Nafi’ yang sedang menyusun kain dekat ruang belakang perlahan menghentikan tangannya. Begitu pula Ruqayyah. Bahkan anak-anak seperti Amr dan Yahya ikut mengangkat wajah. “Begitukah buruknya?” tanya Samir bin Wahhab pelan. Farhan tertawa kecil tanpa rasa senang. “Ketika manusia mulai takut kepada nama orang saleh...” ia mengusap janggutnya yang penuh debu, “itu tanda dunia sedang sakit.” Ruangan kembali hening.
Dari luar rumah terdengar suara pedagang kain melintas sambil menyerukan dagangannya dengan suara keras. Beberapa anak kecil berlari mengikuti suara itu sebelum dimarahi seorang perempuan dari lorong sebelah. Kehidupan Madinah terus berjalan berdampingan dengan kegelisahan yang tumbuh diam-diam. Syekh Umar lalu memandang Khalid lebih dalam. “Apakah engkau melihat keluarga-keluarga dari Kufah bergerak menuju timur?” Khalid mengangguk pelan. “Sebagian.” Ia menarik napas panjang. “Ada yang menuju Parsi. Ada yang berharap dapat bersembunyi di perkampungan dekat Basrah.” Matanya bergerak perlahan ke arah Abdullah dan Bilal. “Dan ada pula yang mulai berbicara tentang laut.” Kata terakhir itu membuat beberapa orang kembali diam.
Laut. Bagi banyak orang Hijaz, laut adalah dunia yang jauh dan asing: • dunia ombak, • badai, • pelabuhan, • dan manusia-manusia dari negeri yang belum pernah mereka lihat. Malik bin Atiyah mengusap lututnya perlahan. “Aku belum pernah melihat laut sepanjang hidupku.” “Aku pernah,” ujar Samir lirih sambil masih berdiri dekat jendela rumah. “Di pesisir Oman ketika ikut kafilah dagang beberapa musim lalu.” Beberapa kepala langsung menoleh kepadanya. Yahya bahkan melangkah sedikit lebih dekat kepada ayahnya. “Bagaimana bentuknya?” tanya Amr cepat sebelum sempat ditahan ibunya. Untuk pertama kalinya sejak tadi pagi, senyum kecil tipis muncul di wajah Samir.
“Seperti gurun,” katanya pelan, “tetapi bergerak dan hidup.” Anak-anak langsung diam mendengarkan. Bahkan Lubna yang berdiri dekat ruang belakang ikut mengangkat wajah perlahan. Samir memandang jauh ke luar jendela sempit rumah seperti sedang melihat kembali sesuatu dari masa lalu. “Airnya tidak berujung sejauh mata memandang,” lanjutnya lirih. “Dan suara ombaknya...” ia berhenti sebentar, “kadang terdengar seperti angin besar sedang berbicara kepada bumi.” Ruangan menjadi lebih sunyi lagi. Karena tanpa mereka sadari, untuk pertama kalinya, bayangan tentang dunia di luar Hijaz mulai benar-benar hidup di dalam rumah kecil Madinah itu. Anak-anak masih memandangi Samir bin Wahhab setelah lelaki itu selesai berbicara tentang laut. Bahkan beberapa orang dewasa ikut diam lebih lama dari sebelumnya. Untuk sesaat, rumah Hilal terasa seperti terlepas dari panas Madinah dan ketakutan yang mengelilingi kota. Pikiran mereka dibawa jauh menuju dunia asing yang belum pernah disentuh kaki sebagian besar manusia di ruangan itu.
Lubna berdiri sambil memegang kendi air di dekat dadanya. “Apakah laut lebih besar daripada padang pasir?” tanyanya lirih. Samir menoleh kepadanya lalu tersenyum kecil. “Padang pasir tetap diam,” jawabnya pelan. “Tetapi laut bergerak seperti makhluk hidup.” Amr langsung mendekat beberapa langkah. “Apakah benar ada kapal sebesar rumah?” Yahya terkekeh kecil untuk pertama kalinya sejak datang tadi pagi. “Ayah pernah berkata sebagian kapal membawa kurma, kain, kayu, bahkan unta kecil.” “Dan badai dapat memecah kapal seperti ranting kering,” sambung Samir sambil melirik anaknya. Senyum kecil di wajah anak-anak perlahan mereda lagi.
Di dekat ruang belakang, Hafsah memperhatikan percakapan itu dengan sorot mata dalam. Ia sedang menumbuk gandum di wadah batu bersama Ruqayyah, tetapi telinganya terus mengikuti pembicaraan para lelaki. “Aneh,” gumam Hafsah lirih kepada Ruqayyah. “Semalam kita masih membicarakan lorong-lorong Madinah... sekarang manusia mulai membicarakan lautan.” Ruqayyah menghentikan tumbukan tangannya perlahan. “Kadang takdir membawa manusia jauh sebelum mereka sempat bersiap.” Kata-kata itu membuat Hafsah terdiam.
Di ruang tengah, Khalid bin Mazin kembali mengusap pelipisnya yang terluka. Bekas luka itu tampak merah gelap di bawah cahaya siang. Abdullah memperhatikannya beberapa saat sebelum bertanya pelan, “Bagaimana engkau mendapat luka itu?” Khalid tertawa kecil tanpa kegembiraan. “Di dekat jalur selatan Kufah.” Ia menunduk sebentar seperti sedang mengingat sesuatu yang tidak ingin diingatnya. “Kami dihentikan sekelompok lelaki berkuda.” Jemarinya menyentuh luka di dekat pelipis. “Mereka meminta semua orang menyebut kepada siapa kesetiaan mereka diberikan.” Ruangan langsung kembali sunyi. Bahkan suara tumbukan gandum di ruang belakang ikut berhenti. “Dan bila seseorang tidak menjawab?” tanya Bilal pelan. Farhan menjawab lirih, “Mereka menganggap diam sebagai jawaban.”
Udara di dalam rumah terasa semakin berat. Rafi’ memalingkan wajah ke arah lorong luar sambil mengepalkan rahang. “Aku membenci masa seperti ini,” gumamnya. Hilal memandang putranya lama. “Masa sulit selalu memperlihatkan isi hati manusia.” “Dan isi hati banyak manusia ternyata buruk,” balas Rafi’ cepat. Hilal tidak membantah. Sebab ia sendiri mulai melihatnya: • tetangga yang mulai takut berbicara, • sahabat yang mulai menjaga jarak, • dan manusia yang rela menyerahkan nama orang lain demi keselamatan dirinya sendiri. Di luar rumah terdengar suara keledai meringkik keras disusul bentakan seorang pengarah kafilah. Angin panas membawa bau kulit samak dan debu pasar masuk melalui celah pintu. Syekh Umar perlahan mengangkat wajah. “Kalian harus memahami sesuatu,” ujar beliau pelan. Semua mata kembali tertuju kepada ulama tua itu. “Hijrah bukan hanya berpindah tempat.” Suara beliau rendah namun jelas. “Kadang hijrah berarti membawa ilmu, adab, dan keturunan agar tetap hidup ketika sebuah negeri mulai kehilangan ketenangannya.”
Abdullah merasakan kata-kata itu masuk perlahan ke dalam dadanya. Begitu pula yang lain. Sebab sedikit demi sedikit mereka mulai memahami: pembicaraan tentang perjalanan ke timur bukan lagi sekadar cerita musafir. Ia mulai berubah menjadi kemungkinan hidup yang nyata bagi keluarga-keluarga di rumah itu sendiri. Panas siang mulai bergerak perlahan menuju waktu tergelincir matahari. Cahaya yang masuk dari celah atap rumah Hilal berubah lebih lembut, meski udara tetap terasa kering dan menyesakkan. Di luar rumah, suara pasar Madinah masih terdengar hidup: • suara pedagang memanggil pembeli, • langkah unta di jalan berbatu, • bunyi kendi beradu, • dan sesekali tawa anak-anak kecil yang belum memahami kegelisahan orang dewasa. Namun di dalam rumah Hilal, waktu terasa bergerak lebih lambat. Manusia-manusia di ruangan itu sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada hari itu sendiri.
Samir bin Wahhab akhirnya kembali duduk setelah lama berdiri dekat jendela. Pedagang itu tampak lelah, tetapi matanya masih tajam seperti orang yang terbiasa membaca perubahan sebelum orang lain menyadarinya. “Jalur dagang mulai berubah sejak kabar wafatnya Ali menyebar,” katanya lirih sambil menerima mangkuk air dari Ruqayyah. “Beberapa saudagar dari Syam mulai merasa lebih berani.” Ia meneguk sedikit air lalu melanjutkan, “Dan sebagian saudagar Irak mulai menutup mulut mereka sendiri.” Bilal mengusap janggutnya perlahan. “Pasar selalu mengikuti arah angin kekuasaan.” “Karena pasar takut rugi,” jawab Samir. “Dan manusia takut lapar,” sambung Hafsah dari ruang belakang. Ucapan perempuan itu membuat beberapa orang menoleh kepadanya.
Hafsah sedang menyusun kantung-kantung gandum kecil ke dalam peti kayu rendah. Gerakannya tenang, namun kini semua orang mulai memahami bahwa yang ia lakukan bukan sekadar pekerjaan rumah biasa. Ia sedang bersiap. Salma memperhatikan sahabatnya itu beberapa saat sebelum berkata lirih, “Aku juga mulai menyimpan kurma kering lebih banyak dari biasanya.” “Untuk berjaga-jaga,” jawab Hafsah pendek. Kata “berjaga-jaga” terdengar sederhana. Namun semua orang di rumah itu tahu maknanya jauh lebih besar. Lubna lalu berjalan membawa lipatan kain kecil menuju ibunya. “Ibu...” katanya pelan, “apakah kita benar-benar akan pergi dari Madinah?” Ruangan langsung sunyi. Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut seorang anak.
Hafsah berhenti menyusun gandum. Ia memandang putrinya lama sebelum mengusap kepala gadis kecil itu perlahan. “Belum ada keputusan,” jawabnya lembut. “Tetapi semua orang terus membicarakan perjalanan,” sambung Lubna lirih. Hilal menundukkan wajah pelan. Sedangkan Abdullah diam-diam memperhatikan perubahan suasana itu: anak-anak kini mulai mendengar kata-kata seperti: • hijrah, • Basrah, • laut, • dan perjalanan. Dunia mereka perlahan mulai berubah bahkan sebelum mereka cukup besar untuk memahaminya.
Amr yang sejak tadi diam akhirnya bertanya cepat kepada Khalid, “Apakah benar ada negeri yang tanahnya hijau sepanjang mata memandang?” Khalid tersenyum tipis kecil. “Aku pernah melihat lembah-lembah dekat Parsi,” jawabnya pelan. “Ada sungai besar yang airnya mengalir tanpa perlu digali seperti di Hijaz.” Rafi’ langsung mengangkat wajah cepat. “Tanpa sumur?” Khalid mengangguk. Hilal terkekeh kecil untuk pertama kalinya sejak pagi. “Kalau begitu aku mungkin akan merasa asing di sana.” Beberapa orang tersenyum samar. Dan senyum kecil itu terasa sangat berharga di tengah hari yang penuh kecemasan. Namun senyum itu tidak bertahan lama.
Karena tiba-tiba terdengar suara langkah tergesa mendekati rumah dari arah lorong depan. Rafi’ langsung berdiri. Yahya spontan menoleh ke pintu. Suara langkah itu semakin dekat, cepat, dan berat seperti seseorang yang datang membawa kegelisahan besar. Lalu terdengar ketukan keras di pintu rumah Hilal. Tok! Tok! Tok! Anak-anak langsung terdiam. Hafsah refleks menarik Lubna lebih dekat ke sisinya. Sedangkan Malik bin Atiyah perlahan menggeser duduknya seperti siap berdiri sewaktu-waktu. Ketukan itu terdengar lagi. Lebih keras kali ini. Dan untuk beberapa detik yang terasa sangat panjang, tidak ada seorang pun di rumah Hilal yang bergerak. Ketukan keras itu kembali mengguncang pintu rumah. Tok! Tok! Tok!
Suara kayu bergetar pendek memenuhi ruangan. Zaynab kecil langsung memeluk ibunya erat. Mariam kecil berhenti memainkan serabut kurma di lantai lalu memandang orang-orang dewasa dengan mata membesar. Bahkan Amr yang sejak tadi berusaha tampak tenang kini berdiri perlahan mendekati Salma. Udara di dalam rumah seolah menegang. Tidak ada seorang pun yang langsung bergerak menuju pintu. Hanya suara napas manusia dan desir angin panas di luar rumah yang terdengar samar. Rafi’ melangkah satu tapak ke depan dengan rahang mengeras. Tubuh mudanya tampak siap menghadapi apa pun yang berdiri di balik pintu rumah itu. Namun Hilal segera mengangkat tangan memberi isyarat agar putranya berhenti. “Jangan terburu-buru,” ujarnya pelan.
Ketukan terdengar lagi. Tok! Tok! Kali ini disusul suara lelaki dari luar rumah. “Hilal! Bukalah!” Semua orang di ruangan saling memandang cepat. Bilal menyipitkan mata. “Aku mengenal suara itu...” Samir mengangguk kecil. “Abu Rashid.” Beberapa wajah sedikit melonggar, meski ketegangan belum benar-benar hilang. Hilal akhirnya bangkit perlahan lalu berjalan menuju pintu rumah. Langkahnya berat namun tenang. Telapak tangannya yang besar menggenggam palang kayu pintu sesaat sebelum membukanya sedikit. Cahaya siang langsung menyusup lebih terang ke dalam rumah.
Di depan pintu berdiri Abu Rashid, pedagang gandum dari lorong sebelah. Lelaki itu bertubuh pendek dan gemuk dengan janggut tipis yang kini dipenuhi peluh. Sorbannya tampak miring seperti dipasang tergesa-gesa. Nafasnya memburu keras. “Syukur kepada Allah...” gumamnya begitu melihat Hilal. “Aku mengira kalian belum membuka pintu.” Hilal memandangnya tajam. “Mengapa engkau mengetuk seperti pasukan perang?” Abu Rashid menoleh cepat ke belakang lorong sebelum menjawab dengan suara tertahan. “Karena mereka kembali memeriksa rumah-rumah.” Ruangan langsung membeku lagi. Hafsah tanpa sadar menggenggam bahu Lubna lebih erat. Bilal berdiri perlahan. “Di lorong mana?” “Dekat pasar kain.” Abu Rashid mengusap wajahnya kasar. “Tiga rumah sudah dimasuki sejak matahari mulai condong.”
Khalid bin Mazin langsung bertukar pandang dengan Farhan. Wajah kedua musafir itu memperlihatkan sesuatu yang mereka kenal baik: tanda-tanda keadaan mulai bergerak lebih cepat. “Apa alasan mereka?” tanya Malik. Abu Rashid tertawa pendek tanpa rasa senang. “Sekarang mereka tidak selalu membutuhkan alasan.” Kalimat itu jatuh seperti batu di tengah ruangan. Abdullah memperhatikan lelaki itu lebih saksama. Abu Rashid biasanya banyak bicara dan mudah tertawa di pasar. Namun siang ini matanya bergerak gelisah ke segala arah seperti hewan yang mencium bahaya di udara. “Siapa yang dibawa?” tanya Syekh Umar pelan. Abu Rashid menundukkan suara lebih rendah lagi. “Seorang penulis tua... dua pemuda...” ia menelan ludah, “dan seorang lelaki yang dahulu pernah terlihat bersama utusan Kufah.” Salman al-Katib yang duduk dekat dinding perlahan memejamkan mata. “Mereka mulai membersihkan nama satu demi satu,” gumamnya lirih.
Di luar rumah, suara angin panas menyapu lorong bersama debu siang. Seekor keledai melintas sambil menarik gerobak gandum kecil. Dua anak lelaki berlari di belakangnya sebelum suara ibu mereka memanggil keras dari kejauhan. Madinah masih tampak hidup. Tetapi kini kehidupan itu mulai bergerak di bawah bayang-bayang ketakutan yang makin nyata. Abu Rashid melangkah masuk lebih dalam lalu berkata lirih kepada Hilal: “Dan ada kabar lain...” Ia melirik cepat ke arah Syekh Umar dan para lelaki di ruangan itu. “Beberapa orang mulai berkata bahwa daftar nama baru sedang disusun malam ini.” Ucapan Abu Rashid tentang daftar nama baru itu membuat suasana rumah Hilal kembali berubah. Bila sebelumnya kegelisahan hanya terasa seperti bayang-bayang samar di udara, kini ia mulai memiliki bentuk yang lebih nyata. Daftar nama. Dua kata sederhana, namun cukup untuk membuat manusia sulit tidur pada malam hari.
Hilal perlahan menutup kembali pintu rumah hingga suara lorong luar meredup. Cahaya siang yang masuk melalui celah pintu ikut mengecil. Rumah itu kembali terasa seperti tempat perlindungan kecil di tengah kota yang perlahan berubah asing. Abu Rashid mengusap peluh di lehernya sambil duduk dekat dinding. Nafasnya masih belum benar-benar tenang. “Aku mendengar nama beberapa penuntut ilmu mulai disebut,” katanya lirih. “Dan beberapa saudagar yang pernah membantu utusan dari Kufah.” Samir bin Wahhab memandang lantai tanah rumah dengan wajah muram. “Pasar sudah tidak lagi sekadar tempat berdagang,” gumamnya. “Sekarang ia menjadi tempat manusia saling mengamati.” “Dan saling menjual,” sambung Bilal pahit.
Di ruang belakang, Hafsah menghentikan tangannya dari menyusun gandum. Ruqayyah dan Salma saling berpandangan pelan. Tidak ada seorang pun dari para perempuan itu yang menyela percakapan lelaki-lelaki di ruang depan, namun wajah mereka memperlihatkan bahwa setiap kata masuk dan tinggal di hati mereka. Lubna duduk dekat ibunya sambil memeluk lutut kecilnya sendiri. Sedangkan Zaynab kembali tertidur di pangkuan Salma akibat panas siang dan suasana panjang yang melelahkan. “Apakah nama Syekh Umar disebut juga?” tanya Malik bin Atiyah akhirnya. Abu Rashid menoleh cepat kepada ulama tua itu sebelum menjawab hati-hati. “Belum terang-terangan.” “Tetapi?” desak Bilal. Abu Rashid menelan ludah kecil. “Beberapa orang mulai bertanya siapa saja yang sering berkumpul bersama beliau.” Ruangan kembali sunyi.
Rafi’ perlahan mengepalkan tangan di dekat pintu rumah. Sedangkan Yahya memalingkan wajah ke arah jendela sempit, seolah tiba-tiba takut lorong di luar sedang mendengarkan mereka. Syekh Umar sendiri tetap tenang. Beliau hanya memejamkan mata beberapa saat sambil jemarinya bergerak pelan pada tasbih kayu. “Cepat atau lambat memang akan sampai,” ujar beliau lirih. “Wahai Syekh...” suara Hafsah terdengar dari ruang belakang. “Bila keadaan terus seperti ini...” Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan dengan nada lebih pelan, “apakah benar kita harus meninggalkan Madinah?” Semua mata perlahan bergerak kepada perempuan itu. Hafsah jarang berbicara dalam majelis para lelaki. Tetapi siang itu suaranya terdengar sangat manusiawi: bukan suara politik, bukan suara ilmu, melainkan suara seorang perempuan yang sedang memikirkan rumah dan anak-anaknya.
Hilal menundukkan wajah perlahan. Ruqayyah berhenti menyusun roti. Salma memeluk Zaynab lebih dekat. Dan untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang mampu segera menjawab pertanyaan itu. Sebab meninggalkan Madinah bukan perkara kecil. Di kota itu: • mereka dilahirkan, • mereka belajar, • mereka menikah, • mereka menguburkan orang tua, • dan mereka tumbuh di bawah bayang Masjid Nabi sejak kecil. Abdullah memandang cahaya siang yang masuk tipis dari celah atap rumah. Ia teringat lorong rumahnya sendiri. Teringat Maryam. Teringat Fatimah yang memeluk kakinya pagi tadi. Teringat Iskandar yang mulai bertanya tentang perang dan ketakutan. Lalu perlahan ia berkata: “Kadang manusia tidak meninggalkan tanah yang ia cintai karena ingin pergi...” suaranya rendah dan berat, “melainkan karena ingin menyelamatkan apa yang masih dapat diselamatkan.” Kesunyian turun lagi setelah itu.
Di luar rumah Hilal, angin siang bergerak membawa debu dan panas melintasi lorong-lorong Madinah. Dan di dalam rumah kecil itu, untuk pertama kalinya, gagasan meninggalkan kota Nabi mulai terasa benar-benar nyata di hati mereka masing-masing. Tidak ada seorang pun yang segera menyambung ucapan Abdullah. Kata-kata itu seperti jatuh perlahan ke dalam hati setiap manusia di rumah Hilal, lalu tinggal di sana bersama ketakutan yang sejak pagi terus tumbuh diam-diam. Meninggalkan Madinah. Bahkan memikirkannya saja terasa seperti merobek sesuatu dari dalam dada. Di luar rumah, matahari mulai condong sedikit ke arah barat. Cahaya siang yang tadinya tajam kini berubah lebih lembut dan panjang. Bayangan pohon kurma di halaman belakang rumah Hilal mulai merambat perlahan di tanah.
Ruqayyah kembali menumbuk gandum pelan-pelan, namun suara tumbukan batu itu kini terdengar lebih lambat dibanding sebelumnya. Salma duduk bersandar dekat tiang sambil membelai rambut Zaynab yang masih tertidur di pangkuannya. Hafsah sendiri memandang peti-peti kecil berisi gandum dan kurma yang tadi ia susun. Barang-barang itu tiba-tiba tidak lagi terlihat seperti persediaan rumah biasa. Melainkan seperti awal dari sebuah perjalanan panjang. “Aku tidak pernah membayangkan akan membicarakan hijrah dari Madinah,” gumam Hafsah lirih tanpa benar-benar ditujukan kepada siapa pun. Hilal memandang istrinya lama. Lelaki besar itu tampak ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya hanya menghela napas panjang.
“Dahulu manusia berhijrah menuju Madinah untuk mencari keselamatan iman,” ujar Syekh Umar perlahan. “Dan mungkin...” beliau berhenti sejenak, “akan datang masa ketika sebagian manusia harus pergi darinya agar keturunan mereka tetap selamat.” Kalimat itu membuat beberapa perempuan menundukkan wajah. Lubna memandang ayahnya diam-diam. Sedangkan Yahya kini duduk lebih dekat ke ruang tengah bersama Amr dan Rafi’. Ketiga pemuda itu tidak lagi terlihat seperti anak-anak yang hanya mendengar percakapan orang tua mereka. Ada sesuatu mulai tumbuh di mata mereka: kesadaran bahwa dunia sedang berubah, dan mereka akan ikut terseret di dalamnya. “Bila benar kita pergi...” Amr berkata pelan sambil memainkan ujung kain di tangannya, “apakah perjalanan sejauh itu tidak berbahaya?” Farhan terkekeh kecil dengan suara serak. “Perjalanan selalu berbahaya.” “Terutama bila membawa keluarga,” sambung Khalid.
Rafi’ mengangkat wajah cepat. “Apakah benar ada perompak di jalur menuju Basrah?” Samir menoleh kepadanya. “Ada.” Pedagang itu bersandar ke dinding rumah. “Bukan hanya di laut. Di gurun juga.” Ia mengusap janggutnya perlahan. “Ada kelompok yang menyerang kafilah kecil ketika keadaan politik mulai kacau.” “Dan pasukan resmi sering terlambat datang,” tambah Khalid pahit. Ruangan kembali sunyi. Anak-anak mulai mendengar bahwa dunia di luar Madinah tidak hanya dipenuhi pasar dan negeri hijau, tetapi juga: • gurun panjang, • perampok, • kelaparan, • dan manusia bersenjata. Di dekat jendela sempit, Bilal memandang langit siang yang mulai berubah warna pelan. “Aku masih ingat Madinah ketika Ali datang dahulu,” katanya lirih. “Lorong-lorong dipenuhi manusia yang ingin mendengar ilmu dan kabar.” Ia tersenyum pahit kecil. “Sekarang lorong-lorong dipenuhi manusia yang takut namanya disebut.”
Abu Rashid mengusap wajahnya pelan. “Pasar pun berubah.” Ia memandang lantai tanah. “Orang-orang mulai berbicara dengan suara setengah bisik. Bahkan ketika membeli gandum.” Hafsah bangkit perlahan lalu berjalan menuju ruang depan membawa mangkuk kecil berisi kurma. Ia meletakkannya di tengah ruangan satu per satu tanpa banyak bicara. Namun ketika melewati Syekh Umar, perempuan itu berhenti sesaat. “Wahai Syekh...” katanya lirih, “bila perjalanan itu benar-benar terjadi...” matanya bergerak sekilas kepada anak-anak di ruang belakang, “bagaimana kita menjaga mereka di jalan nanti?” Suara Hafsah kali ini tidak lagi sekadar cemas. Ia terdengar seperti seorang ibu yang mulai membayangkan: • panas gurun, • malam-malam perjalanan, • anak-anak yang sakit, • dan rumah yang ditinggalkan jauh di belakang mereka. Syekh Umar memandang perempuan itu lama. Lalu dengan suara sangat lembut beliau berkata: “Dengan saling menjaga.” Jawaban Syekh Umar itu terdengar sederhana. Namun justru kesederhanaannya membuat ruangan kembali diam lebih lama. Dengan saling menjaga. Bukan dengan benteng tinggi. Bukan dengan pasukan besar. Bukan dengan kekayaan. Melainkan manusia menjaga manusia lain.
Hafsah perlahan menundukkan kepala kecil lalu kembali duduk dekat ruang belakang. Jemarinya mengusap rambut Lubna pelan, seolah memastikan putrinya benar-benar masih berada di sisinya. Di luar rumah, suara angin sore mulai berubah lebih lembut dibanding panas siang tadi. Pelepah-pelepah kurma bergerak perlahan menimbulkan desir panjang yang samar terdengar sampai ke ruang tengah rumah Hilal. Samir bin Wahhab memandang ke arah halaman belakang rumah. “Kafilah besar lebih aman,” katanya lirih seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri. “Tetapi juga lebih mudah diperhatikan.” Bilal mengangguk pelan. “Sedangkan kelompok kecil mudah diserang perampok.” “Atau hilang di gurun,” sambung Farhan. Yahya menelan ludah kecil mendengar itu.
Rafi’ justru tampak semakin serius. Pemuda itu mulai membayangkan jalur-jalur panjang yang selama ini hanya ia dengar dari cerita para musafir: • gurun tanpa ujung, • malam dingin, • sumur-sumur terpencil, • dan kafilah yang bergerak di bawah cahaya bintang. “Berapa jauh Basrah dari sini?” tanya Amr perlahan. Khalid tersenyum tipis kecil. “Cukup jauh hingga engkau mulai merindukan setiap pohon kurma Madinah.” Beberapa orang tersenyum samar mendengar jawaban itu. Tetapi senyum tersebut cepat memudar lagi. Karena semakin lama mereka berbicara, semakin nyata perjalanan itu terasa.
Abdullah memandang lantai tanah rumah Hilal sambil tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia membayangkan Maryam berjalan di tengah gurun bersama Fatimah kecil. Membayangkan Iskandar membawa kendi air dalam perjalanan panjang. Membayangkan malam-malam dingin di perhentian kafilah. Dan untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari betapa beratnya keputusan meninggalkan Madinah bila benar-benar terjadi. “Aku punya paman di Gujarat,” katanya tiba-tiba. Beberapa kepala langsung menoleh kepadanya.
Samir mengangkat alis kecil. “Pamanmu yang berdagang kain?” Abdullah mengangguk. “Harun bin Salman.” Bilal tampak berpikir sesaat. “Aku pernah mendengar namanya dari beberapa saudagar laut.” “Ia sudah lama menetap di sana?” tanya Hilal. “Beberapa musim,” jawab Abdullah. “Awalnya hanya mengikuti jalur dagang.” Ia berhenti sebentar. “Tetapi katanya pelabuhan-pelabuhan di sana mulai ramai oleh manusia dari berbagai negeri.” Anak-anak kembali diam mendengarkan. Gujarat. Nama itu terdengar lebih jauh dan asing daripada Basrah. Seolah berada di tepi dunia lain.
“Apakah benar negeri itu hijau?” tanya Lubna lirih. Abdullah tersenyum tipis kecil. “Menurut surat pamanku...” ia memandang cahaya sore yang mulai masuk miring ke ruangan, “di sana hujan turun lebih sering daripada di Hijaz.” Rafi’ langsung terkekeh kecil. “Kalau begitu ayah pasti akan betah di sana.” Hilal akhirnya tersenyum samar untuk pertama kalinya hari itu. “Aku bahkan belum pernah hidup tanpa menggali sumur,” gumamnya. Tawa kecil pelan sempat muncul di beberapa wajah. Dan suara tawa kecil itu terasa begitu manusiawi di tengah hari yang dipenuhi ketakutan. Namun Syekh Umar tidak ikut tertawa. Beliau justru memandang Abdullah dengan sorot mata dalam. “Apakah pamanmu masih mengirim surat terakhir sebelum musim ini?” Abdullah mengangguk perlahan. “Dan apa yang ia tulis tentang Gujarat?” tanya Syekh Umar. Ruangan kembali sunyi.
Abdullah menarik napas pelan sebelum menjawab: “Ia berkata... di negeri-negeri timur, manusia masih lebih sibuk berdagang daripada saling memburu karena perbedaan politik.” Setelah Abdullah menyebut isi surat pamannya itu, suasana rumah Hilal berubah lagi menjadi sunyi yang panjang. Namun kali ini diam mereka berbeda dari sebelumnya. Tadi diam mereka dipenuhi ketakutan. Sekarang, di sela ketakutan itu, mulai muncul sesuatu yang lain: bayangan tentang kemungkinan hidup baru.
Angin sore bergerak lebih lembut melewati celah-celah rumah. Bau tanah hangat dan pelepah kurma bercampur dengan aroma roti gandum yang baru diangkat Ruqayyah dari tungku kecil di ruang belakang. Cahaya matahari kini mulai condong keemasan, menyentuh wajah-wajah manusia di rumah itu dengan warna yang tenang namun muram. “Negeri yang manusia-manusianya lebih sibuk berdagang daripada saling memburu...” gumam Samir bin Wahhab pelan. “Kedengarannya seperti cerita lama.” Bilal tersenyum tipis pahit. “Atau seperti Madinah dahulu.” Tidak ada yang membantah. Karena semua orang di ruangan itu masih mengingat bagaimana kota Nabi pernah dipenuhi manusia dari berbagai penjuru: • Yaman, • Syam, • Habasyah, • Persia, • dan kabilah-kabilah gurun, yang datang membawa ilmu, dagang, dan harapan. Kini kota yang sama mulai dipenuhi kecurigaan.
Farhan mengangkat wajah perlahan. “Aku pernah bertemu beberapa pelaut Gujarat di Basrah.” Beberapa kepala langsung menoleh kepadanya. “Bagaimana mereka?” tanya Yahya cepat. Farhan tersenyum samar kecil. “Berisik.” Ia terkekeh pelan untuk pertama kali sejak tiba di rumah Hilal. “Mereka tertawa keras dan berbicara dengan tangan mereka hampir sebanyak dengan mulut.” Anak-anak langsung memperhatikan lebih serius. “Mereka membawa rempah-rempah,” lanjut Farhan. “Kayu harum. Kain-kain halus. Dan makanan yang baunya memenuhi pelabuhan.” “Apakah mereka muslim?” tanya Amr. Farhan menggeleng. “Sebagian belum.” Ia memandang Syekh Umar sekilas. “Tetapi mereka menghormati para saudagar yang jujur.” Syekh Umar mengangguk perlahan. “Kejujuran sering membuka pintu yang tidak dapat dibuka pedang,” ujar beliau lirih.
Di ruang belakang, Salma memandang Hafsah pelan. Kedua perempuan itu saling memahami sesuatu tanpa perlu banyak bicara: bila perjalanan itu benar-benar terjadi, maka kehidupan mereka tidak akan pernah sama lagi. “Aku bahkan belum pernah keluar jauh dari Hijaz,” gumam Salma lirih sambil membelai rambut Zaynab. “Aku juga,” jawab Hafsah. Lubna yang duduk dekat mereka mengangkat wajah perlahan. “Apakah di Gujarat ada pohon kurma?” Pertanyaan polos itu membuat beberapa orang tersenyum tipis lagi. Abdullah memandang gadis kecil itu lalu menjawab lembut, “Entahlah.” Ia tersenyum samar. “Mungkin ada pohon-pohon lain yang belum pernah kita lihat.” Rafi’ memandang langit sore dari celah rumah dengan mata jauh. “Aneh...” gumamnya pelan. “Sejak kecil aku mengira dunia berakhir di balik gurun.” “Banyak manusia berpikir begitu,” jawab Samir. “Sampai perjalanan mengubah mereka.”
Di luar rumah, suara langkah kafilah kecil mulai terdengar melintas menuju arah pasar sore. Dentingan kecil lonceng unta bercampur dengan suara manusia tawar-menawar yang mulai ramai kembali menjelang matahari turun. Kehidupan Madinah masih terus bergerak. Tetapi kini rumah Hilal tidak lagi hanya dipenuhi pembicaraan tentang ketakutan dan penangkapan. Sedikit demi sedikit, rumah itu mulai dipenuhi bayangan tentang: • jalur-jalur dagang, • pelabuhan, • negeri asing, • dan kehidupan baru di timur.
Namun justru ketika suasana mulai sedikit melonggar, Abu Rashid yang sejak tadi diam mendadak berkata lirih: “Kalian boleh berbicara tentang Gujarat...” Ia memandang satu per satu wajah di ruangan itu. “Tetapi jangan lupa...” suaranya mengecil, “kalian mungkin belum sempat keluar dari Madinah ketika mereka mulai mengetuk rumah-rumah lagi malam nanti.” Ucapan Abu Rashid itu seperti menarik semua orang kembali ke kenyataan yang sedang mengurung Madinah. Bayangan tentang Gujarat, laut, dan negeri-negeri jauh di timur, perlahan memudar dari ruangan. Yang tersisa kembali: rumah-rumah yang diawasi, lorong-lorong yang dipenuhi bisik, dan kemungkinan pintu mereka sendiri diketuk pada malam hari.
Angin sore menyapu halaman rumah Hilal membawa debu tipis yang berputar rendah di dekat pintu. Cahaya matahari kini berubah lebih jingga dan panjang. Bayangan tubuh manusia membentang di lantai tanah rumah. Tidak ada yang langsung menjawab Abu Rashid. Karena semua orang tahu, lelaki pendek itu tidak sedang melebih-lebihkan keadaan. Rafi’ memandang pintu rumah cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan, “Kalau mereka benar-benar datang...” rahangnya menegang, “apakah kita hanya akan diam?” “Dan apa yang akan engkau lakukan?” tanya Hilal tenang. Pemuda itu tidak segera menjawab. Tangannya mengepal di atas lutut. “Aku tidak tahu,” gumamnya akhirnya. “Tetapi rasanya sulit hanya duduk menunggu.” Bilal mengangguk kecil. “Itulah yang dirasakan banyak pemuda sekarang.” “Dan banyak di antara mereka akhirnya mati sia-sia,” sambung Farhan lirih. Kesunyian kembali turun.
Rafi’ menunduk, namun jelas terlihat gejolak di matanya belum reda. Yahya yang duduk tidak jauh darinya juga tampak gelisah. Pemuda lincah itu sejak tadi terus memainkan tali kecil di jemarinya seperti pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. “Aku mendengar beberapa pemuda di pasar mulai berbicara tentang perlawanan,” katanya pelan. Samir langsung memandang anaknya tajam. “Dan engkau tidak ikut berbicara dengan mereka.” “Aku hanya mendengar.” “Mendengar pun kadang berbahaya sekarang.” Yahya menundukkan wajah. Di ruang belakang, para perempuan ikut mendengarkan percakapan itu dengan wajah cemas. Salma memeluk Zaynab lebih dekat. Sedangkan Hafsah memandang Rafi’ cukup lama sebelum akhirnya berkata lirih: “Keberanian seorang lelaki tidak selalu berada pada pedangnya.” Rafi’ mengangkat wajah perlahan kepada ibunya. “Kadang keberanian terbesar,” lanjut Hafsah lembut, “adalah menjaga keluarganya tetap hidup.” Ruangan kembali diam.
Ucapan perempuan itu masuk jauh lebih dalam daripada bentakan. Syekh Umar lalu mengangkat kepala perlahan. “Kita harus mulai berpikir bukan hanya tentang hari ini,” ujar beliau tenang. “Tetapi tentang musim-musim setelahnya.” Mata beliau bergerak pelan ke arah anak-anak di rumah itu. Amr. Lubna. Yahya. Rafi’. Zaynab kecil. Mariam kecil. Dan seolah masih melihat anak-anak lain yang tidak berada di rumah itu: Iskandar, Fatimah, Talhah, Sa’ad, dan generasi-generasi yang belum lahir.