Maryam wanita cemas menanti di dekat pintu terbuka di bawah temaram pelita malam.

Panembahan Wonokromo

Bab 003 — Di Bawah Langit Malam yang Berjaga

bulan Safar 40 H / 661 M — Ketika malam menuntut setiap rumah memilih takdirnya sendiri.

BAGIAN 1 — Keheningan saf yang menahan waktu

“Fitnah ini mungkin tidak berhenti dalam waktu dekat,” lanjut beliau lirih. “Bila ilmu, adab, dan keluarga-keluarga yang masih menjaga amanah ini hancur...” beliau berhenti sesaat, “maka siapa yang akan meneruskannya kelak?” Abdullah merasakan dadanya mengeras pelan. Kini pembicaraan itu tidak lagi sekadar tentang menyelamatkan diri. Melainkan tentang menjaga sesuatu agar tetap hidup melewati zaman yang sedang rusak. Di luar rumah, suara azan ashar mulai menggema dari kejauhan. Suara itu panjang dan tenang, mengalir melewati lorong-lorong Madinah yang mulai diselimuti cahaya sore. Semua orang di rumah Hilal perlahan terdiam mendengarkannya. Dan untuk beberapa saat, tidak ada lagi pembicaraan tentang: politik, penangkapan, atau perjalanan. Yang tersisa hanyalah suara panggilan shalat yang memenuhi kota Nabi, sebuah kota yang sedang berdiri di ambang perubahan besar.

Suara azan ashar terus menggema panjang di udara Madinah. Dari rumah-rumah sekitar mulai terdengar pintu dibuka, langkah sandal di lorong, dan suara kendi air dipindahkan untuk berwudhu. Cahaya sore yang jingga masuk semakin dalam ke ruang rumah Hilal, menyentuh wajah-wajah manusia yang sejak pagi duduk bersama dalam kegelisahan yang sama. Syekh Umar perlahan bangkit dari duduknya. Gerakan beliau lambat karena usia, namun tetap tegak dan tenang. Tasbih kayu di tangannya bergerak pelan ketika beliau berjalan menuju halaman kecil belakang rumah untuk berwudhu. Satu per satu para lelaki ikut berdiri. Bilal mengambil kendi air. Samir menggulung lengan jubahnya. Malik berjalan pelan sambil mengusap wajah letihnya. Sedangkan Khalid dan Farhan tampak seperti baru sadar betapa lelah tubuh mereka setelah perjalanan panjang.

Di ruang belakang, para perempuan juga mulai menyiapkan air. Lubna membantu ibunya menuang air ke bejana kecil. Amr membawa kendi tambahan dari sudut rumah. Yahya membantu membuka gulungan tikar untuk tempat shalat di ruang tengah. Rumah itu kini bergerak dengan kesibukan yang tenang dan akrab. Dan justru dalam kesibukan kecil seperti itulah, kehidupan terasa paling nyata. Abdullah membasuh wajahnya perlahan dengan air dingin. Debu dan panas siang sedikit menghilang dari kulitnya. Ketika ia mengangkat wajah, pandangannya jatuh ke langit sore Madinah yang terlihat dari celah halaman rumah. Langit itu masih sama seperti ketika ia kecil. Masih sama seperti ketika Ali berjalan di kota ini. Masih sama seperti ketika Rasulullah dahulu hidup di antara lorong-lorongnya. Namun manusia-manusia di bawah langit itu kini mulai berubah.

Di dekat tempat wudhu, Rafi’ berdiri sambil menuangkan air ke tangan ayahnya. “Ayah...” katanya pelan. Hilal mengangkat wajah. “Bila nanti benar-benar harus pergi...” Rafi’ tampak ragu melanjutkan. “Apakah kita akan membawa semua alat penggali sumur?” Hilal memandang putranya beberapa saat sebelum terkekeh kecil. “Engkau bahkan sudah berpikir sejauh itu?” Rafi’ tersenyum tipis malu. “Aku hanya berpikir...” ia menunduk sebentar, “aku tidak tahu hidup tanpa pekerjaan itu.” Hilal mengusap kepala putranya perlahan. “Selama masih ada tanah dan manusia membutuhkan air,” ujarnya lembut, “pekerjaan kita tidak akan hilang.” Tidak jauh dari mereka, Yahya sedang berbicara pelan dengan Amr. “Aku ingin melihat laut suatu hari nanti,” bisik Yahya. Amr memandangnya cepat. “Meskipun berbahaya?” Yahya mengangkat bahu kecil. “Bukankah semua yang jauh selalu berbahaya?” Amr terdiam memikirkan jawaban itu.

Di ruang belakang, Hafsah sedang membantu Salma merapikan kerudung Zaynab kecil yang baru bangun tidur. Anak itu masih mengucek mata sambil kebingungan melihat banyak manusia berkumpul di rumah mereka sejak pagi. “Ibu...” bisik Lubna pelan sambil membantu menyusun sajadah kecil. “Apakah Allah akan marah bila kita meninggalkan Madinah?” Tangan Hafsah langsung berhenti sesaat. Perempuan itu memandang putrinya lama sebelum menjawab lembut: “Tidak, wahai anakku.” Jemarinya membelai pipi Lubna perlahan. “Tanah menjadi mulia karena manusia beribadah kepada Allah di atasnya.” Ia tersenyum tipis sedih. “Dan Allah tetap ada di mana pun manusia berjalan.” Lubna mengangguk pelan, meski matanya masih menyimpan kebingungan kecil. Ketika semua telah selesai berwudhu, mereka mulai berdiri membentuk saf di ruang tengah rumah Hilal. Syekh Umar maju ke depan sebagai imam.

Dan di tengah kota Madinah yang mulai dipenuhi rasa takut dan bisik-bisik manusia, keluarga-keluarga kecil itu berdiri bersama dalam satu saf, mencari ketenangan yang semakin sulit mereka temukan di luar rumah-rumah mereka sendiri. Suara Syekh Umar membaca ayat-ayat Qur’an memenuhi ruang tengah rumah Hilal bin Rasyid dengan tenang dan dalam. Bacaan beliau tidak keras, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan terasa hening dan khusyuk. Bahkan suara pasar sore di kejauhan seolah menjauh sesaat ketika ayat demi ayat mengalir perlahan dari bibir ulama tua itu. Anak-anak yang tadi gelisah kini ikut diam. Amr berdiri tegak di saf belakang bersama Yahya dan Rafi’. Sedangkan Lubna berdiri di belakang ibunya sambil sesekali melirik cahaya jingga yang masuk melalui celah dinding rumah. Udara sore mulai sedikit lebih sejuk. Angin bergerak lembut membawa aroma tanah dan daun kurma dari halaman belakang.

Ketika mereka rukuk dan sujud bersama, rumah itu terasa seperti pulau kecil ketenangan di tengah Madinah yang mulai dipenuhi ketakutan dan kecurigaan. Namun bahkan di dalam sujudnya, Abdullah masih merasakan pikirannya terus bergerak: tentang Maryam di rumah, tentang Iskandar, tentang Fatimah, tentang jalan menuju Basrah, tentang daftar nama, dan tentang kemungkinan bahwa kehidupan mereka tidak akan pernah kembali seperti dahulu. Setelah salam terakhir diucapkan, ruangan tetap diam beberapa saat. Tidak seorang pun langsung berbicara. Sebagian masih menundukkan kepala. Sebagian lain memejamkan mata. Dan ada pula yang hanya memandang lantai tanah rumah dengan pikiran yang jauh.

Dari luar terdengar suara kambing-kambing mulai digiring pulang melewati lorong. Anak-anak kecil kembali bermain sambil tertawa dekat sumur umum. Seorang penjual roti menyerukan dagangannya dari arah pasar sore. Kehidupan berjalan seperti biasa. Tetapi semua orang di rumah itu tahu: sesuatu sedang berubah di balik semua kebiasaan tersebut. Syekh Umar akhirnya membuka mata perlahan lalu memandang manusia-manusia di hadapannya satu per satu. “Kalian lelah,” ujar beliau lembut. Tidak ada yang membantah. Bukan hanya tubuh mereka yang lelah, tetapi juga hati mereka. “Dan hati yang lelah,” lanjut beliau pelan, “mudah dikuasai rasa takut.” Bilal mengangkat wajah perlahan. “Lalu apa yang harus kami lakukan, wahai Syekh?” Syekh Umar diam sejenak sebelum menjawab.

“Jangan membuat keputusan ketika hati kalian sedang dipenuhi kepanikan.” Tatapan beliau bergerak kepada para pemuda di saf belakang. “Dan jangan pula membiarkan kemarahan menarik kalian menuju kebinasaan.” Rafi’ menunduk perlahan. Yahya menarik napas kecil. Sedangkan Abdullah memahami benar bahwa nasihat itu bukan hanya ditujukan kepada anak-anak muda, tetapi kepada semua orang di ruangan tersebut. Khalid bin Mazin lalu bersandar lebih nyaman ke dinding setelah shalat. Wajahnya tampak sedikit lebih tenang dibanding ketika pertama datang tadi siang. “Aku hampir lupa bagaimana rasanya shalat tanpa terus memikirkan pengejaran di jalan,” katanya lirih. Farhan tertawa kecil. “Tiga malam terakhir kita tidur sambil bergantian berjaga.” “Apakah benar seburuk itu?” tanya Samir. Khalid memandang cahaya sore yang mulai memerah di lantai rumah. “Di beberapa tempat,” jawabnya pelan, “manusia mulai takut menerima musafir.” “Karena takut dituduh membantu pelarian,” sambung Farhan. Kesunyian kembali turun.

Hafsah lalu membawa nampan kecil berisi roti hangat dan kurma untuk semua orang setelah shalat. Aroma roti baru memenuhi ruangan, membuat suasana sedikit lebih hidup. Fatamorgana ketenangan kecil itu terasa sangat berharga. Lubna membantu membagikan roti kepada para tamu dengan gerakan hati-hati. Sedangkan Mariam kecil akhirnya tertawa kecil ketika Yahya membuat wajah lucu untuk menenangkannya. Dan di tengah segala ketakutan tentang: politik, pengawasan, dan hijrah, kehidupan kecil keluarga-keluarga itu masih terus berjalan: • anak-anak masih tertawa, • perempuan masih menyiapkan makanan, • dan manusia masih duduk bersama menjelang maghrib di rumah-rumah mereka. Mungkin justru hal-hal kecil itulah yang sedang mereka coba selamatkan tanpa benar-benar mengatakannya dengan lantang.

Sore perlahan bergerak menuju maghrib. Cahaya jingga yang tadi memenuhi rumah Hilal mulai berubah kemerahan dan lebih redup. Bayangan manusia di lantai tanah memanjang perlahan mengikuti turunnya matahari di ufuk barat Madinah. Di luar rumah, udara mulai lebih sejuk. Angin bergerak lembut melewati kebun-kebun kurma dan membawa suara kehidupan kota yang perlahan berubah menjelang malam: • suara kambing dipanggil pulang, • anak-anak kecil yang mulai disuruh masuk rumah, • bunyi kayu pintu ditutup, • dan suara para pedagang sore yang mulai membereskan dagangan mereka. Rumah Hilal kini terasa lebih tenang dibanding siang tadi. Bukan karena ketakutan mereka hilang, melainkan karena tubuh manusia memang mulai lelah bila terlalu lama dicekam kegelisahan.

Hafsah menyalakan lampu minyak kecil satu demi satu ketika cahaya sore mulai menipis. Nyala api kekuningan perlahan hidup di sudut-sudut rumah dan membuat suasana berubah lebih hangat. Lubna membantu menggantung lampu dekat ruang tengah, sedangkan Amr dan Yahya membawa tikar tambahan untuk para musafir yang kemungkinan bermalam di rumah itu. “Kalian boleh memakai ruang dekat halaman belakang,” ujar Hilal kepada Khalid dan Farhan. “Udara malam lebih baik di sana.” “Semoga Allah membalas kebaikanmu,” jawab Khalid lirih. Wajah lelaki itu tampak benar-benar letih sekarang. Begitu pula Farhan yang beberapa kali mengusap matanya sendiri seperti berusaha melawan kantuk dan kelelahan panjang perjalanan. Samir bin Wahhab duduk dekat jendela sambil memperhatikan langit Madinah yang mulai berubah ungu tua. “Aku selalu menyukai waktu seperti ini,” gumamnya pelan. Bilal menoleh kepadanya. “Mengapa?” “Karena manusia berhenti sibuk sejenak.” Samir tersenyum tipis. “Dan kota terasa lebih jujur ketika matahari turun.”

Di ruang belakang, Ruqayyah mulai menyiapkan sup gandum hangat untuk makan malam sederhana mereka. Aroma rebusan bawang dan rempah ringan perlahan memenuhi rumah. Mariam kecil kini duduk di pangkuan ibunya sambil setengah mengantuk. Sedangkan Zaynab kembali tertidur dekat Salma setelah sepanjang hari terlalu banyak mendengar suara orang dewasa yang tegang. Abdullah memperhatikan semua itu diam-diam. Dan semakin lama ia duduk di rumah Hilal, semakin ia memahami: yang sedang mereka perjuangkan bukan sekadar keselamatan tubuh. Tetapi kehidupan kecil seperti inilah: • lampu minyak menjelang malam, • suara ibu menenangkan anak, • aroma makanan sederhana, • manusia duduk bersama tanpa rasa takut. Hal-hal yang tampak kecil, namun dapat hilang ketika sebuah negeri mulai rusak. “Ayah...” suara Rafi’ terdengar pelan dari dekat pintu rumah. Hilal mengangkat wajah. “Lorong mulai lebih sepi.” Hilal mengangguk kecil. “Manusia ingin cepat berada di dalam rumah malam ini.” “Aku juga melihat dua lelaki tadi masih berdiri dekat jalan menuju pasar.” Bilal langsung memperhatikan lebih serius. “Yang pagi tadi?” Rafi’ mengangguk. Suasana rumah sedikit menegang lagi.

Abu Rashid mengusap janggut tipisnya perlahan. “Aku berkata kepada kalian...” gumamnya lirih, “malam ini belum tentu tenang.” Syekh Umar memandang lampu minyak yang menyala kecil di depan beliau. “Ketakutan membuat manusia saling mengawasi,” ujar beliau pelan. “Dan penguasa yang takut akan terus mencari bayangan musuh di mana-mana.” Yahya duduk lebih dekat kepada ayahnya sekarang. Keberanian pemuda itu masih ada, tetapi wajahnya mulai memperlihatkan kegelisahan yang lebih nyata dibanding siang tadi. “Ayah...” bisiknya pelan kepada Samir, “bila mereka mulai mencari nama orang-orang...” ia menelan ludah kecil, “apakah pasar masih aman untuk kita?” Samir memandang anaknya lama sebelum menjawab. “Nak...” suaranya rendah dan tenang, “kadang manusia tetap harus berjalan ke pasar meski hatinya dipenuhi takut.” Ia mengusap pundak Yahya perlahan. “Karena hidup tidak berhenti hanya sebab dunia sedang kacau.” Di luar rumah, langit Madinah perlahan semakin gelap.

Dan bersama turunnya malam, bayangan tentang apa yang mungkin terjadi setelahnya kembali mulai tumbuh di hati mereka satu demi satu. Malam akhirnya turun penuh di atas Madinah. Langit berubah hitam kebiruan dengan bintang-bintang mulai muncul perlahan di sela angin gurun yang dingin. Dari kejauhan terdengar suara anjing-anjing penjaga menggonggong pendek dari arah kebun dan kandang ternak. Sesekali suara pintu rumah ditutup terdengar dari lorong-lorong sekitar, disusul langkah manusia yang mulai menghilang menuju rumah masing-masing. Kota Nabi perlahan tenggelam ke dalam malam. Namun malam itu tidak terasa damai. Rumah Hilal kini diterangi beberapa lampu minyak kecil yang menyala redup. Cahaya kekuningan bergerak pelan di dinding tanah, membuat bayangan manusia tampak panjang dan samar.

Di ruang belakang, Ruqayyah dan Hafsah selesai membagikan sup gandum hangat. Anak-anak mulai lebih tenang setelah makan. Mariam kecil tertidur sambil bersandar di pangkuan ibunya. Sedangkan Zaynab kini tidur pulas dekat Salma dengan napas kecil yang teratur. Lubna membantu membereskan mangkuk tanah satu per satu dengan gerakan pelan agar tidak membangunkan anak-anak lain. Abdullah memperhatikan semua itu cukup lama. Pemandangan sederhana seperti itu tiba-tiba terasa sangat rapuh di matanya. Seolah seluruh ketenangan kecil itu dapat pecah kapan saja oleh suara ketukan pintu atau langkah prajurit di lorong.

Di ruang depan, para lelaki kembali duduk melingkar lebih dekat karena udara malam mulai dingin. Samir menuangkan air hangat ke mangkuk-mangkuk kecil sementara Bilal duduk bersandar dekat tiang rumah sambil memandangi nyala lampu minyak. “Aku mulai merindukan malam-malam lama Madinah,” gumam Bilal lirih. “Malam seperti apa?” tanya Yahya pelan. Bilal tersenyum tipis kecil tanpa benar-benar bahagia. “Malam ketika manusia masih duduk di lorong tanpa takut mendengar langkah asing.” Kesunyian kecil turun lagi. Rafi’ yang duduk dekat pintu rumah masih sesekali mengintip keluar melalui celah kayu. “Aku belum pernah melihat Madinah secepat ini menutup diri,” katanya lirih. Hilal mengangguk perlahan. “Ketika manusia mulai takut, mereka lebih percaya dinding rumah daripada sesama manusia.”

Di sudut lain ruangan, Khalid dan Farhan tampak mulai lebih tenang setelah mandi dan makan sederhana. Namun mata mereka tetap menyimpan kewaspadaan khas manusia yang terlalu lama hidup dalam perjalanan penuh bahaya. “Aku pernah melihat kota seperti ini sebelumnya,” ujar Farhan tiba-tiba. Beberapa kepala menoleh kepadanya. “Di mana?” tanya Malik. “Dekat perbatasan Irak bagian utara.” Farhan memandang lampu minyak kecil di depannya. “Awalnya hanya bisik-bisik. Lalu rumah-rumah mulai diawasi. Setelah itu...” ia berhenti sesaat, “manusia mulai saling mencurigai bahkan kepada tetangga sendiri.” “Dan akhirnya?” tanya Abdullah pelan. Farhan menarik napas panjang. “Sebagian pergi.” Matanya tampak jauh mengingat sesuatu. “Sebagian hilang. Dan sebagian memilih berpura-pura tidak melihat apa pun.”

Lampu minyak kecil di tengah ruangan bergerak tertiup angin malam sesaat. Bayangan manusia di dinding ikut bergoyang perlahan. Syekh Umar yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya membuka suara. “Karena itulah,” ujar beliau lirih, “kita tidak boleh terlambat memahami zaman.” Semua mata kembali tertuju kepada beliau. “Orang yang terlalu lambat membaca kerusakan...” lanjut beliau tenang, “sering kali baru sadar ketika rumahnya sudah terbakar.” Yahya menelan ludah kecil. Sedangkan Abdullah mulai memahami bahwa Syekh Umar perlahan sedang membawa mereka menuju sesuatu: bukan sekadar percakapan tentang kemungkinan, melainkan persiapan menuju keputusan besar. Di luar rumah, angin malam Madinah bergerak semakin dingin.

Dan di kejauhan, entah dari lorong mana, terdengar samar suara langkah kuda melintas di atas jalan batu. Suara langkah kuda itu terdengar samar pada awalnya. Tok... tok... tok... Pelan. Berat. Teratur. Namun justru karena malam Madinah mulai sunyi, suara itu terasa lebih jelas daripada biasanya. Bunyi tapal kuda menghantam jalan batu memantul di antara lorong-lorong sempit kota seperti pertanda yang membuat hati manusia sulit tenang. Rafi’ langsung menoleh ke arah pintu. Yahya berhenti memainkan tali kecil di jemarinya. Bahkan Abu Rashid yang sejak tadi duduk bersandar dekat dinding perlahan meluruskan tubuhnya dengan wajah tegang. Langkah kuda itu terdengar semakin dekat. Lalu suara lelaki terdengar samar dari luar lorong. Tidak jelas apa yang mereka katakan. Hanya nada pendek dan berat seperti orang-orang yang sedang mencari sesuatu.

Di ruang belakang, Hafsah langsung memberi isyarat pelan kepada Lubna agar membawa anak-anak lebih menjauh dari ruang depan. Gadis kecil itu segera menggandeng Amr dan membantu Salma memindahkan Zaynab yang masih mengantuk ke dekat ruang belakang rumah. Gerakan mereka cepat namun tenang. Seolah tanpa perlu banyak bicara, semua orang dewasa di rumah itu telah memahami apa yang harus dilakukan bila keadaan memburuk. Bilal berdiri perlahan lalu berjalan mendekati celah pintu bersama Rafi’. “Jangan buka dulu,” bisiknya pelan. Rafi’ mengangguk kecil. Mereka mengintip melalui celah kayu rumah. Lorong Madinah tampak lebih gelap sekarang. Cahaya lampu minyak dari rumah-rumah sekitar hanya menerangi sedikit bagian jalan. Debu malam bergerak tipis diterpa angin. Tiga penunggang kuda terlihat lewat perlahan di ujung lorong. Mereka tidak memakai pakaian prajurit lengkap, tetapi cara mereka memperhatikan rumah-rumah membuat suasana terasa tidak tenang.

Salah seorang menunjuk ke arah lorong pasar sambil berbicara kepada yang lain. Lalu ketiganya bergerak lagi perlahan. Tok... tok... tok... Suara tapal kuda kembali menjauh sedikit demi sedikit. Namun tidak seorang pun di rumah Hilal langsung merasa lega. Karena kini mereka tahu: malam-malam Madinah mulai dipenuhi manusia berkuda yang bergerak mencari sesuatu. Bilal kembali duduk perlahan. “Bukan penduduk lorong sini,” gumamnya. Samir mengusap wajahnya kasar. “Aku melihat pakaian seperti itu dekat pasar kemarin.” “Orang Syam?” tanya Malik. Samir mengangguk kecil. Kesunyian kembali turun.

Di ruang belakang, Mariam kecil mulai menangis pelan karena terbangun oleh suara langkah kuda tadi. Ruqayyah segera menggendong anaknya sambil berbisik lembut menenangkan. “Sudah... sudah...” suaranya lirih seperti nyanyian kecil. “Tidak apa-apa.” Namun bahkan ketika mengatakan itu, matanya sendiri tampak belum benar-benar percaya. Abdullah memperhatikan perempuan-perempuan di rumah itu: • Hafsah yang terus berjaga diam-diam, • Salma yang memeluk Zaynab erat, • Ruqayyah yang menenangkan Mariam kecil, • dan Lubna yang mulai membantu tanpa disuruh. Perempuan-perempuan itu tidak mengangkat pedang. Tidak berbicara keras. Tidak duduk di majelis politik. Tetapi malam itu Abdullah mulai memahami: merekalah yang sebenarnya sedang menjaga agar rumah-rumah kecil mereka tidak runtuh oleh ketakutan.

Syekh Umar memandang ke arah pintu cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan: “Madinah sedang berubah menjadi kota yang berjaga bahkan ketika malam telah larut.” Farhan tersenyum pahit kecil. “Dan kota yang terlalu lama berjaga...” ia menatap nyala lampu minyak di tengah ruangan, “akhirnya akan kehabisan rasa tenang.” Lampu minyak itu kembali bergoyang kecil diterpa angin malam. Dan di dalam rumah Hilal, di tengah dingin malam Madinah, semua orang mulai merasakan bahwa waktu mereka mungkin tidak selama yang mereka harapkan. Malam terus bergerak semakin larut di atas Madinah. Angin gurun yang tadi hanya terasa sejuk kini mulai membawa dingin tipis yang merayap perlahan ke sela-sela rumah tanah. Dari kejauhan, suara langkah kuda yang sempat terdengar tadi telah lama menghilang, namun bayangnya masih tertinggal di kepala orang-orang dalam rumah Hilal bin Rasyid. Tidak ada seorang pun yang benar-benar santai lagi setelah itu.

Rafi’ tetap duduk dekat pintu rumah sambil sesekali memperhatikan lorong melalui celah kayu. Pemuda itu berusaha tampak tenang, tetapi jemarinya terus bergerak di atas lutut seperti pikirannya tidak berhenti bekerja. Di dekatnya, Yahya mulai membantu Samir membereskan kendi-kendi air dan mangkuk makan malam. Aktivitas kecil itu membuat suasana rumah sedikit lebih hidup dibanding kesunyian tegang beberapa saat sebelumnya. “Sisakan air lebih banyak malam ini,” ujar Hafsah dari ruang belakang. Samir mengangkat wajah. “Untuk berjaga-jaga?” Hafsah mengangguk kecil sambil melipat kain tidur anak-anak. Kini bahkan tindakan sederhana seperti menyimpan air mulai terasa seperti bagian dari persiapan menghadapi sesuatu yang belum diketahui.

Abdullah duduk bersandar dekat tiang rumah sambil memperhatikan lampu minyak kecil yang menyala di tengah ruangan. Api itu bergerak pelan diterpa angin malam yang masuk dari celah atap. Kadang membesar, kadang mengecil, tetapi tetap bertahan menyala. Entah mengapa malam itu nyala lampu kecil itu terasa seperti kehidupan mereka sendiri. Syekh Umar masih duduk tenang di tempatnya. Wajah beliau diterangi cahaya lampu minyak sehingga garis usia di wajahnya terlihat semakin dalam. “Wahai Syekh...” Bilal akhirnya membuka suara pelan. “Menurutmu, apakah keadaan ini masih dapat reda?” Ruangan kembali sunyi. Pertanyaan itu sebenarnya sudah lama menggantung di hati semua orang. Syekh Umar tidak langsung menjawab. Beliau justru memandang keluar ke arah langit malam yang tampak melalui celah halaman belakang rumah. Bintang-bintang Hijaz terlihat terang malam itu, bertaburan di langit gelap tanpa awan. “Setiap fitnah,” ujar beliau perlahan, “selalu bermula dari manusia yang merasa paling benar lalu mulai kehilangan kasih kepada sesamanya.” Bilal menundukkan wajah. Farhan memejamkan mata sejenak. Sedangkan Abdullah merasakan kalimat itu masuk jauh ke dalam pikirannya. “Dan bila kasih telah hilang,” lanjut Syekh Umar lirih, “maka darah menjadi murah.” Lampu minyak kecil kembali bergoyang pelan. Tidak ada yang menyela. Karena semua orang memahami bahwa kata-kata itu bukan sekadar nasihat malam, melainkan kenyataan yang sedang tumbuh di berbagai kota umat Islam.

Di ruang belakang, Lubna mulai menidurkan Mariam kecil bersama Ruqayyah. Gadis itu mengusap rambut anak kecil tersebut perlahan sambil melantunkan humming lembut tanpa kata. Sedangkan Salma sedang menjahit robekan kecil pada kain perjalanan lama milik Qasim bin Thauban yang tadi dibawa Amr dari rumah mereka. Abdullah memperhatikan kain itu cukup lama. Kain perjalanan. Barang yang sebelumnya hanya dianggap perlengkapan biasa, kini mulai muncul kembali satu demi satu dari dalam rumah-rumah Madinah. Seolah banyak keluarga diam-diam mulai memikirkan hal yang sama, meski belum berani mengucapkannya keras-keras.

“Aku mendengar beberapa keluarga dari arah selatan kota mulai mengirim anak-anak mereka lebih dahulu ke kerabat di luar Madinah,” ujar Abu Rashid pelan sambil menatap lantai. Hafsah langsung mengangkat wajah cepat. Ruqayyah berhenti mengusap rambut Mariam. Bahkan Yahya ikut menoleh perlahan. “Anak-anak?” tanya Salma lirih. Abu Rashid mengangguk kecil. “Karena mereka takut keadaan memburuk terlalu cepat.” Kesunyian yang turun setelah itu terasa jauh lebih berat dibanding sebelumnya. Dan malam di rumah Hilal tiba-tiba terasa semakin panjang. Kesunyian setelah ucapan Abu Rashid itu bertahan lama sekali. Bahkan suara angin malam yang menyelinap melalui celah atap rumah terdengar lebih jelas daripada napas manusia di ruangan tersebut. Lampu minyak kecil di tengah rumah bergerak pelan, memantulkan cahaya kekuningan ke wajah-wajah yang kini dipenuhi pikiran masing-masing.

Mengirim anak-anak lebih dahulu. Gagasan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada pembicaraan tentang perjalanan atau hijrah sebelumnya. Karena untuk pertama kalinya, perpisahan mulai terasa nyata. Hafsah perlahan memandang Lubna yang sedang duduk dekat Mariam kecil. Gadis itu mulai mengantuk namun masih berusaha membantu Ruqayyah merapikan kain tidur. Sedangkan Salma tanpa sadar memeluk Zaynab lebih erat di pangkuannya. “Bagaimana seorang ibu dapat membiarkan anaknya pergi sendirian?” bisiknya lirih hampir kepada dirinya sendiri. Tidak ada yang segera menjawab. Karena bahkan para lelaki di ruangan itu tidak memiliki jawaban yang mudah.

Samir menundukkan wajah sambil mengusap janggutnya perlahan. Yahya yang duduk di dekat ayahnya diam-diam melirik wajah sang ayah seperti ingin memastikan sesuatu. “Mereka tidak benar-benar membiarkan anaknya sendirian,” ujar Farhan akhirnya dengan suara rendah. “Biasanya ikut bersama kerabat atau kafilah terpercaya.” “Tetapi tetap saja...” Ruqayyah menghentikan kalimatnya sendiri. Matanya turun kepada Mariam kecil yang tertidur di pangkuannya. “Anak tetap anak.” Abdullah merasakan dadanya mengeras pelan. Ia membayangkan Fatimah kecil berjalan jauh meninggalkan Madinah tanpa dirinya. Membayangkan Iskandar harus tidur di tengah gurun bersama rombongan asing. Membayangkan Maryam menangis diam-diam melepas mereka. Bayangan itu terasa terlalu berat bahkan untuk dipikirkan.

Di dekat pintu rumah, Rafi’ memandang lorong luar cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan: “Aku tidak ingin meninggalkan Madinah seperti pencuri malam.” Hilal mengangkat wajah kepada putranya. “Lalu bagaimana engkau ingin pergi?” Rafi’ tampak kesulitan menjawab. “Aku tidak tahu...” gumamnya akhirnya. “Hanya saja...” rahangnya mengeras, “kota ini rumah kita.” Syekh Umar memandang pemuda itu dengan tenang. “Dan rumah,” ujar beliau lembut, “kadang tetap kita cintai meski ia tidak lagi mampu melindungi penghuninya.” Rafi’ terdiam. Kalimat itu terasa berat, tetapi benar. Di luar rumah, seekor anjing kembali menggonggong dari kejauhan. Tidak lama kemudian terdengar suara manusia lewat di lorong sambil berbicara pelan, lalu langkah mereka menghilang menuju arah pasar malam. Madinah belum tidur sepenuhnya. Tetapi kota itu kini tidur dengan gelisah.

Bilal menyandarkan tubuh ke tiang rumah sambil memandangi lampu minyak kecil. “Aku mulai bertanya-tanya,” katanya lirih, “berapa banyak rumah malam ini yang sedang membicarakan hal yang sama seperti kita.” “Lebih banyak daripada yang kita kira,” jawab Abu Rashid. Khalid mengangguk kecil. “Ketika manusia mulai menyembunyikan gandum, memperbaiki kantung perjalanan, dan berbicara pelan saat malam...” ia memandang wajah-wajah di ruangan itu, “biasanya sebuah kota sedang bersiap menghadapi sesuatu.” “Atau meninggalkannya,” sambung Malik bin Atiyah lirih. Lampu minyak kembali bergerak kecil diterpa angin malam.

Di ruang belakang, Lubna akhirnya tertidur bersandar di bahu Hafsah. Amr masih setengah terjaga sambil memandangi para lelaki dewasa berbicara. Yahya duduk diam memikirkan laut yang belum pernah ia lihat. Sedangkan Rafi’ masih terus mendengar setiap suara kecil dari lorong luar. Dan di tengah malam Madinah yang dingin, rumah Hilal perlahan berubah: bukan lagi sekadar rumah keluarga biasa, melainkan tempat manusia-manusia mulai memikirkan masa depan yang mungkin akan membawa mereka jauh meninggalkan tanah kelahiran mereka sendiri. Malam semakin dalam. Dingin gurun mulai benar-benar turun ke lorong-lorong Madinah. Angin berembus pelan melewati celah-celah rumah tanah sambil membawa aroma debu, daun kurma kering, dan sisa asap tungku dari rumah-rumah sekitar. Dari kejauhan terdengar suara unta mendengus berat di kandang-kandang pinggir kota, disusul gonggongan anjing penjaga yang sesekali memecah sunyi malam.

Rumah Hilal kini jauh lebih tenang dibanding beberapa saat sebelumnya. Anak-anak mulai tertidur satu demi satu. Mariam kecil sudah benar-benar lelap di pangkuan Ruqayyah dengan napas kecil teratur. Zaynab tertidur sambil memeluk kain ibunya. Sedangkan Lubna yang tadi berusaha tetap membantu akhirnya tertidur bersandar di sisi Hafsah, jemari kecilnya masih menggenggam ujung kain yang belum selesai dilipat. Pemandangan itu membuat ruangan terasa lebih lembut. Namun justru ketika anak-anak tidur, kegelisahan orang-orang dewasa terasa semakin jelas. Karena tidak ada lagi yang perlu mereka sembunyikan dari wajah anak-anak. Hafsah perlahan membelai rambut putrinya sambil memandangi lampu minyak di depan ruangan. Wajah perempuan itu tampak letih. Sejak pagi ia terus bergerak: • menyiapkan air, • menyusun gandum, • menenangkan anak-anak, • mendengarkan percakapan para lelaki, • dan diam-diam memikirkan kemungkinan yang belum pernah ingin ia bayangkan sepanjang hidupnya. “Aku masih sulit percaya semua ini terjadi begitu cepat,” gumamnya lirih. Ruqayyah mengangkat wajah perlahan. “Kadang badai memang datang sebelum manusia selesai membaca tanda-tandanya.” Salma yang duduk dekat tiang rumah memandang kegelapan di halaman belakang. “Aku terus teringat rumah kami,” katanya pelan. “Rak kitab Qasim... tikar lama tempat Amr belajar menulis...” ia tersenyum tipis sedih, “aku bahkan belum sempat memperbaiki kendi yang retak dekat dapur.” Ucapan sederhana itu membuat Abdullah merasakan sesuatu menusuk pelan di dadanya. Begitulah manusia mencintai rumah: bukan hanya karena dinding dan atapnya, tetapi karena kenangan kecil yang hidup di dalamnya.

Di ruang depan, para lelaki masih duduk melingkar lebih dekat karena udara malam semakin dingin. Samir menambahkan sedikit minyak ke lampu agar nyalanya tidak padam terlalu cepat. “Aku pernah melihat pelabuhan Oman beberapa musim lalu,” katanya tiba-tiba sambil memperhatikan api kecil itu. Yahya langsung mengangkat wajah meski matanya mulai berat oleh kantuk. “Apakah besar?” tanyanya pelan. Samir tersenyum kecil mengingat sesuatu. “Besar.” Ia mengangguk pelan. “Kapal-kapal berdiri di laut seperti rumah-rumah kayu yang mengapung.” Tangannya bergerak kecil menggambarkan bentuk layar. “Dan manusia dari berbagai negeri berjalan di pelabuhan dengan bahasa yang berbeda-beda.” Amr ikut mendekat sedikit. “Apakah engkau takut ketika pertama melihat laut?” Samir terkekeh lirih. “Sangat takut.” Ia memandang anak-anak muda itu satu per satu. “Karena manusia Hijaz terbiasa melihat tanah tetap di bawah kaki mereka.” Senyumnya mengecil. “Sedangkan laut membuatmu sadar betapa kecilnya dirimu.” Farhan mengangguk pelan menyetujui. “Dan laut tidak peduli siapa penguasamu,” gumamnya. Bilal memandangnya. “Apa maksudmu?” Farhan menyandarkan tubuh ke dinding rumah.

“Di laut...” ia berkata perlahan, “manusia tidak terlalu bertanya engkau pendukung siapa.” Matanya bergerak ke arah lampu minyak kecil. “Mereka lebih peduli apakah kapalmu bocor atau tidak.” Beberapa orang tersenyum tipis kecil mendengar itu. Namun Syekh Umar tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Beliau memandangi wajah-wajah muda di ruangan tersebut: Rafi’, Yahya, Amr, dan bayangan Iskandar yang tidak berada di rumah itu malam ini. Generasi yang mungkin suatu hari akan tumbuh jauh dari Madinah. “Wahai Syekh...” Abdullah akhirnya membuka suara pelan. “Apakah menurutmu... keadaan akan memaksa kita benar-benar pergi?” Ruangan kembali sunyi. Bahkan angin malam yang tadi terdengar lembut kini terasa seperti ikut menunggu jawaban. Syekh Umar tidak segera menjawab. Beliau memejamkan mata beberapa saat seolah sedang mendengar sesuatu yang jauh di dalam pikirannya sendiri. Lalu perlahan beliau berkata: “Aku belum tahu kapan.” Suara beliau sangat tenang. “Tetapi aku mulai merasa...” beliau membuka mata dan memandang mereka satu per satu, “Allah sedang membuka jalan ke timur sebelum pintu-pintu di sini benar-benar tertutup.”

Setelah Syekh Umar mengucapkan kalimat itu, tidak ada seorang pun yang segera berbicara lagi. Kata-kata beliau menggantung lama di dalam rumah Hilal seperti angin malam yang tidak terlihat namun terasa dinginnya. Allah sedang membuka jalan ke timur. Lampu minyak kecil di tengah ruangan terus menyala pelan. Api kecilnya memantulkan cahaya kekuningan ke wajah-wajah letih yang sejak pagi dipenuhi pembicaraan tentang ketakutan, perjalanan, dan masa depan yang belum jelas. Abdullah perlahan menundukkan wajah. Dan saat itulah ia tiba-tiba sadar: malam sudah sangat larut. Ia mengangkat kepala perlahan ke arah langit yang tampak dari celah halaman belakang rumah Hilal. Bintang-bintang sudah tinggi di atas Madinah. Udara semakin dingin. Bahkan suara pasar malam pun kini hampir menghilang sepenuhnya. Dadanya langsung terasa berat. Maryam. Ia teringat wajah istrinya pagi tadi: cara Maryam membetulkan sorbannya, suara lirihnya meminta agar ia jangan pulang terlalu malam, dan Fatimah kecil yang memeluk kakinya sebelum ia pergi. Ia telah berjanji akan pulang sebelum senja.

Namun kini malam telah jauh melewati senja. Abdullah mengusap wajahnya perlahan. Rasa bersalah kecil mulai tumbuh di dadanya. Bilal yang duduk tidak jauh darinya tampak menyadari perubahan wajah itu. “Engkau memikirkan rumahmu,” katanya pelan. Abdullah mengangguk kecil. “Maryam pasti mulai cemas.” Kesunyian kecil turun lagi. Karena semua lelaki di ruangan itu memahami: malam-malam seperti ini membuat setiap keluarga mudah dilanda kekhawatiran. Hafsah yang mendengar percakapan itu mengangkat wajah dari ruang belakang. “Sejak matahari tenggelam,” katanya lirih, “para perempuan mulai menghitung suara langkah di luar rumah.” Ruqayyah mengangguk pelan menyetujui. “Dan setiap langkah yang tidak dikenal membuat hati mereka terjaga lebih lama.”

Abdullah memandang nyala lampu minyak di depannya cukup lama sebelum akhirnya berdiri perlahan. “Aku harus pulang.” Rafi’ langsung mengangkat wajah cepat. “Aku bisa menemanimu sampai lorong selatan.” “Tidak perlu,” jawab Abdullah lembut. Namun Hilal segera berkata pelan, “Biarkan ia ikut.” Lelaki besar itu memandang putranya dengan sorot mata tenang namun tegas. “Malam bukan lagi waktu yang baik untuk berjalan sendiri.” Tidak ada yang membantah. Sebab semua orang di rumah itu mulai memahami: Madinah telah berubah bahkan dalam perkara-perkara kecil seperti perjalanan pulang menuju rumah sendiri.

Rafi’ segera bangkit mengambil kain luarnya. Yahya yang masih setengah mengantuk ikut berdiri spontan. “Aku ikut juga.” Samir langsung mengerutkan dahi. “Untuk apa?” Yahya tampak ragu sesaat sebelum menjawab, “Aku hanya...” ia melirik Abdullah dan Rafi’, “aku tidak ingin mereka berjalan sendirian.” Samir memandang anaknya lama. Lalu akhirnya ia menghela napas kecil. “Jangan jauh-jauh dari Abdullah.” Yahya langsung mengangguk cepat. Di ruang belakang, Hafsah berjalan mengambil lampu minyak kecil tambahan lalu menyerahkannya kepada Rafi’. “Jaga nyalanya dari angin,” katanya pelan. Lubna yang baru setengah terbangun memandang mereka dengan mata mengantuk. “Apakah Paman Abdullah pulang sekarang?” tanyanya lirih. Abdullah tersenyum tipis kecil. “Ya.” Ia mengusap kepala gadis kecil itu lembut. “Karena ada orang-orang yang menunggu di rumah.” Pintu rumah Hilal dibuka perlahan agar tidak menimbulkan suara terlalu keras ke lorong malam. Angin dingin segera menyusup masuk bersama bau debu dan tanah kering Madinah. Lampu minyak kecil di tangan Rafi’ bergoyang pelan tertiup angin, membuat cahaya kekuningannya menari di dinding lorong sempit.

BAGIAN 2 — Langkah kaki dan lampu minyak yang menanti

Malam benar-benar telah larut sekarang. Sebagian besar rumah di sekitar lorong sudah gelap. Hanya beberapa lampu kecil masih menyala redup di balik celah pintu atau jendela sempit. Sesekali terdengar batuk lelaki tua dari rumah jauh, suara bayi menangis pelan, atau bunyi rantai kandang unta bergesekan tertiup angin malam. Madinah tampak tenang. Namun ketenangan itu terasa seperti permukaan air yang menyembunyikan arus gelap di bawahnya. Abdullah berjalan di depan bersama Rafi’. Yahya menyusul di belakang sambil sesekali menoleh ke arah lorong-lorong lain dengan mata waspada. Langkah sandal mereka terdengar lirih di atas jalan tanah berbatu. “Aneh...” gumam Yahya pelan. “Biasanya masih ada manusia duduk dekat sumur sampai larut.” “Sekarang manusia lebih suka berada di balik pintu,” jawab Rafi’ tanpa menoleh. Lampu minyak kecil menerangi wajah pemuda itu dari bawah, membuat sorot matanya terlihat lebih dewasa malam itu.

Mereka melewati rumah Qasim bin Thauban yang masih tertutup rapat. Tidak ada cahaya terlihat dari dalam rumah penulis itu. Abdullah memperlambat langkah sesaat ketika melewati rumah tersebut. Ia teringat rak-rak kitab, lembaran catatan, dan suara Amr membaca tulisan bersama ayahnya pada malam-malam biasa sebelum semua kegelisahan ini datang. “Apakah menurutmu mereka sudah tidur?” tanya Yahya pelan. “Atau sedang berjaga dalam diam,” jawab Abdullah lirih. Angin malam kembali berembus membawa suara samar dari arah pasar jauh di utara kota. Entah suara manusia berbicara atau hanya gema langkah yang dipantulkan lorong. Rafi’ mengangkat lampu sedikit lebih tinggi ketika mereka memasuki lorong yang lebih sempit. Dinding-dinding rumah di kanan kiri tampak gelap dan rapat. Kain-kain penutup pintu bergerak kecil tertiup angin. Di salah satu sudut lorong, seekor kucing kurus melompat cepat melewati tumpukan kendi kosong sebelum menghilang ke balik bayangan. “Aku tidak menyukai malam seperti ini,” gumam Yahya. “Karena terlalu sunyi?” tanya Abdullah. Yahya menggeleng kecil. “Karena sunyinya terasa sedang mendengarkan.” Abdullah menoleh sekilas kepada pemuda itu. Kalimat tersebut terdengar aneh, tetapi justru sangat tepat menggambarkan suasana Madinah malam itu.

Mereka terus berjalan beberapa lorong lagi hingga akhirnya mulai mendekati kawasan rumah Abdullah. Di kejauhan tampak satu lampu minyak kecil masih menyala dari balik celah pintu rumahnya. Langkah Abdullah melambat. Dadanya terasa semakin berat. Maryam belum tidur. Lampu itu jelas sengaja dibiarkan menyala menunggu kepulangannya. Rafi’ ikut melihat cahaya tersebut lalu berkata pelan: “Ibumu dulu juga selalu menunggu ayah pulang dengan lampu seperti itu.” Abdullah memandang cahaya kecil di rumahnya cukup lama tanpa bicara. Sebuah lampu kecil sederhana, namun malam itu terasa lebih hangat daripada seluruh pembicaraan tentang Gujarat, laut, dan negeri-negeri jauh.

Karena di sanalah rumahnya berada. Dan di balik pintu itu, ada manusia-manusia yang sejak senja menunggu suara langkahnya kembali pulang. Abdullah berhenti beberapa langkah dari pintu rumahnya sendiri. Lampu minyak kecil yang menyala dari balik celah pintu bergerak pelan tertiup angin malam. Cahayanya hangat dan redup, berbeda dengan dingin lorong Madinah yang terasa semakin sunyi menjelang tengah malam. Untuk beberapa saat Abdullah hanya berdiri diam memandang cahaya kecil itu. Rumah sederhana dari tanah dan kayu itu tidak besar. Tidak megah. Atapnya bahkan mulai perlu diperbaiki di beberapa bagian. Namun malam itu rumah tersebut terasa seperti sesuatu yang sangat rapuh sekaligus sangat berharga. Di sanalah: • Maryam menunggunya, • Fatimah tidur, • Iskandar tumbuh, • dan kehidupan kecil mereka berjalan dari hari ke hari. Rafi’ memperhatikan Abdullah diam-diam sebelum berkata pelan: “Ia pasti belum tidur.” Abdullah mengangguk kecil. Yahya yang berdiri sedikit di belakang ikut memandangi rumah itu dengan wajah tenang. Lampu minyak kecil di lorong membuat bayangan mereka bertiga memanjang di tanah.

Dari kejauhan terdengar suara angin malam menyapu pelepah kurma. Desirnya panjang dan lembut. Seolah seluruh Madinah sedang menarik napas pelan dalam gelap. Abdullah akhirnya melangkah mendekati pintu lalu mengetuknya perlahan. Tok... tok... Tidak lama kemudian terdengar langkah kaki tergesa dari dalam rumah. Lalu pintu dibuka cepat. Maryam berdiri di sana. Perempuan itu masih mengenakan pakaian rumah sederhana berwarna coklat pucat. Kerudungnya tampak sedikit longgar seperti dipakai terlalu lama menunggu. Wajahnya terlihat lelah, tetapi begitu melihat Abdullah, napasnya langsung terlepas panjang seperti beban besar baru saja turun dari dadanya. “Alhamdulillah...” bisiknya lirih. Tidak ada kemarahan dalam suara itu. Hanya kelegaan.

Dan justru itulah yang membuat dada Abdullah terasa semakin berat. “Maaf...” katanya pelan. “Aku terlalu lama.” Maryam memandang wajah suaminya beberapa saat. Matanya memperhatikan debu di pakaian Abdullah, wajah letihnya, dan sorot mata yang tampak lebih berat dibanding pagi tadi. “Masuklah dahulu,” ujarnya lembut. Baru setelah itu Maryam menyadari ada Rafi’ dan Yahya berdiri di belakang Abdullah. “Kalian juga masuk.” Ia membuka pintu sedikit lebih lebar. “Malam terlalu dingin untuk berdiri di luar.” Rafi’ menunduk hormat kecil. “Kami hanya mengantar Abdullah sampai rumah.” “Dan memastikan tidak ada masalah di lorong,” tambah Yahya cepat. Maryam memandang lorong gelap di belakang mereka sesaat sebelum kembali menatap kedua pemuda itu. “Kalau begitu masuklah sebentar. Setidaknya minumlah air hangat sebelum kembali.” Nada suaranya lembut, tetapi Abdullah dapat merasakan sesuatu di baliknya: para perempuan Madinah kini mulai takut membiarkan manusia berjalan malam sendirian. Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah.

Udara di dalam terasa hangat dibanding lorong luar. Aroma minyak lampu, gandum, dan kain rumah bercampur lembut di udara. Rumah Abdullah lebih kecil dibanding rumah Hilal, namun terasa rapi dan hidup. Di salah satu sudut ruangan, Fatimah kecil tertidur pulas di atas tikar tipis sambil memeluk kain kecil lusuh kesayangannya. Sedangkan Iskandar ternyata masih terjaga. Anak lelaki itu duduk dekat lampu minyak dengan mata berat menahan kantuk. Begitu melihat Abdullah masuk, ia langsung berdiri cepat. “Ayah!” suaranya tertahan agar tidak membangunkan Fatimah. Abdullah tersenyum tipis kecil lalu mengusap kepala anak itu pelan. “Mengapa belum tidur?” Iskandar menunduk sesaat sebelum menjawab jujur: “Aku ingin memastikan Ayah benar-benar pulang.” Jawaban Iskandar itu membuat ruangan kecil rumah Abdullah mendadak terasa lebih sunyi.

Lampu minyak di dekat dinding bergerak kecil tertiup angin malam yang masuk dari celah atap. Cahayanya jatuh lembut di wajah anak lelaki itu: mata yang masih terlalu muda, namun mulai mengenal rasa takut kehilangan. Abdullah memandang putranya cukup lama tanpa segera bicara. Lalu perlahan ia menarik Iskandar mendekat dan memeluk bahunya singkat. “Ayah hanya terlambat,” katanya pelan. Iskandar mengangguk kecil, tetapi Abdullah dapat merasakan tubuh anak itu masih sedikit tegang.

Di luar rumah, suara angin malam kembali menyapu lorong dengan desir panjang melewati celah-celah rumah Madinah. Jauh di kejauhan seekor anjing menggonggong singkat sebelum semuanya kembali tenggelam dalam sunyi. Maryam menutup pintu rumah perlahan lalu memasang palang kayu dengan gerakan yang sudah lebih cepat dan terbiasa dibanding sebelumnya. Abdullah memperhatikan itu diam-diam. Dulu Maryam tidak pernah terburu-buru menutup pintu rumah pada malam hari. Sekarang bahkan gerakan tangannya sudah berubah. Perubahan kecil. Namun cukup untuk menunjukkan bagaimana rasa aman perlahan mulai hilang dari kehidupan mereka. “Duduklah,” ujar Maryam lembut kepada Rafi’ dan Yahya sambil mengambil kendi air hangat dekat tungku kecil.

Kedua pemuda itu duduk agak canggung. Rumah Abdullah terasa lebih tenang dan pribadi dibanding rumah Hilal yang ramai sejak siang tadi. Yahya diam-diam memperhatikan ruangan rumah itu: • rak kayu kecil tempat gulungan kain, • kendi air dekat dinding, • pisau dapur yang digantung rapi, • dan sandal-sandal kecil Fatimah dekat tikar tidur. Rumah sederhana, tetapi terasa hangat. Dan malam itu Yahya mulai memahami mengapa orang-orang dewasa begitu takut kehilangan rumah mereka. Maryam menuangkan air hangat ke mangkuk kecil satu per satu. Jemarinya tampak sedikit gemetar karena lelah dan cemas yang ditahan sejak senja. “Apakah keadaan di luar semakin buruk?” tanyanya akhirnya pelan tanpa memandang langsung kepada Abdullah. Ruangan kembali diam beberapa saat.

Rafi’ menunduk. Yahya mengusap jemarinya sendiri. Sedangkan Abdullah menarik napas panjang sebelum menjawab. “Belum meledak,” katanya lirih. “Tetapi ketakutan mulai masuk ke mana-mana.” Maryam berhenti menuang air sesaat. “Aku mendengar langkah kuda beberapa kali malam ini,” katanya pelan. “Fatimah sempat terbangun dan menangis.” Abdullah memandang putrinya yang tertidur di sudut ruangan. Wajah kecil itu tampak damai dalam tidur. Tidak mengetahui bahwa dunia orang-orang dewasa sedang berubah di sekelilingnya. “Apakah mereka memeriksa rumah-rumah lagi?” tanya Maryam. “Belum sampai lorong sini,” jawab Abdullah. Maryam mengangguk pelan, tetapi wajahnya belum benar-benar tenang. Iskandar kembali duduk dekat ayahnya sekarang. Anak itu berusaha tampak lebih besar dari usianya. “Aku tadi menjaga pintu,” katanya lirih. Maryam langsung menoleh kepadanya. “Engkau seharusnya tidur.” “Aku tidak bisa tidur.”

BAGIAN 3 — Hitungan rahasia di balik palang pintu

Kalimat sederhana itu membuat Abdullah merasakan sesuatu mengeras pelan di dadanya. Anak-anak Madinah mulai kehilangan tidur mereka karena ketakutan orang dewasa. Rafi’ memandangi Iskandar beberapa saat sebelum tersenyum tipis kecil. “Engkau lebih berani daripada banyak lelaki di pasar.” Iskandar langsung menegakkan duduknya sedikit. Namun Abdullah mengusap kepala anak itu pelan sambil berkata lembut: “Keberanian bukan berarti tidak takut.” Ia memandang wajah putranya dalam-dalam. “Kadang orang paling berani justru orang yang tetap menjaga keluarganya meski hatinya dipenuhi takut.” Rumah Abdullah perlahan kembali tenang setelah percakapan tentang keadaan Madinah mereda sejenak. Lampu-lampu minyak kecil masih menyala di beberapa sudut ruangan, memantulkan cahaya lembut ke dinding tanah yang rapi dan tiang-tiang kayu penyangga atap rumah. Bila diperhatikan lebih saksama, rumah itu jelas bukan rumah keluarga biasa. Di dekat dinding bagian timur berdiri rak kayu yang tersusun baik berisi gulungan kain dagang, beberapa kotak kulit kecil, dan timbangan logam yang biasa dipakai menghitung dirham serta dinar. Di sisi lain terdapat peti-peti kayu kuat dengan ukiran sederhana khas Hijaz, sebagian tertutup kain tebal agar tidak terkena debu malam. Dekat halaman belakang, samar terdengar suara kambing dan domba bergerak di kandang kecil keluarga Abdullah. Sesekali terdengar bunyi rantai besi ringan atau gesekan kayu pagar kandang tertiup angin malam. Rumah itu hidup. Mapan. Dan dibangun dari kerja bertahun-tahun.

Maryam meletakkan mangkuk air hangat di depan Abdullah lalu duduk perlahan di dekat tiang rumah. Wajahnya masih tampak letih karena menahan cemas sejak senja, tetapi kini matanya mulai sedikit lebih tenang setelah Abdullah benar-benar berada di rumah. “Aku hampir mengirim Harits mencarimu,” katanya lirih. Abdullah mengangkat wajah. “Harits masih di kandang?” Maryam mengangguk kecil. “Ia baru selesai memeriksa unta-unta muda sebelum isya.” Ia memandang ke arah halaman belakang. “Aku memintanya tetap tinggal malam ini.” Rafi’ diam-diam memperhatikan itu. Harits adalah salah satu pekerja lama keluarga Abdullah. Seorang lelaki Badui bertubuh tinggi gelap yang sudah bertahun-tahun membantu mengurus ternak dan jalur penggembalaan keluarga mereka di pinggir Madinah.

Yahya yang duduk dekat Iskandar ikut mendengar percakapan itu dengan lebih serius sekarang. Malam ini ia mulai melihat sisi lain Abdullah yang selama ini tidak terlalu ia pikirkan: bukan hanya sebagai sahabat ayahnya, tetapi sebagai kepala keluarga besar yang memikul: • rumah, • pekerja, • ternak, • perdagangan, • dan keselamatan banyak manusia. “Apakah benar keadaan pasar mulai memburuk?” tanya Maryam pelan. Abdullah mengusap wajahnya sebentar sebelum menjawab. “Belum kacau.” Ia memandang lampu minyak di depan mereka. “Tetapi beberapa saudagar mulai menahan barang.” Maryam langsung memahami maksudnya. “Mereka takut jalur dagang terganggu.” Abdullah mengangguk.

“Dan sebagian mulai menyimpan dinar.” Ia berhenti sesaat. “Bila manusia mulai takut kepada masa depan, emas bergerak lebih cepat daripada unta.” Samir pasti akan setuju dengan kalimat itu, pikir Yahya dalam hati. Iskandar yang sejak tadi diam akhirnya bertanya pelan: “Ayah...” ia ragu-ragu sebentar, “apakah kita benar-benar akan pergi dari Madinah?” Ruangan kembali sunyi. Maryam memandang suaminya perlahan. Rafi’ ikut menahan napas kecil. Bahkan Yahya yang biasanya cepat bicara kini hanya diam memperhatikan wajah Abdullah. Pertanyaan itu akhirnya benar-benar masuk ke dalam rumah Abdullah sendiri. Bukan lagi sekadar pembicaraan di rumah Hilal. Bukan lagi kemungkinan jauh. Tetapi mulai menjadi pertanyaan keluarga mereka sendiri. Abdullah tidak segera menjawab.

Ia memandang: • rak-rak kayu rumahnya, • lampu minyak kecil, • kain-kain dagang, • suara ternak di belakang rumah, • Fatimah kecil yang tidur, • dan Maryam yang duduk tenang menunggu jawabannya. Semua itu adalah kehidupan yang dibangunnya selama bertahun-tahun di Madinah. Lalu perlahan ia berkata: “Aku belum tahu.” Suaranya rendah dan berat. “Tetapi untuk pertama kalinya dalam hidupku...” ia menatap Iskandar dalam-dalam, “aku mulai memikirkan bagaimana membawa keluarga kita tetap hidup bila kota ini benar-benar berubah.” Setelah Abdullah mengucapkan kalimat itu, rumah kembali tenggelam dalam diam yang panjang. Dari halaman belakang terdengar suara unta muda menggesekkan tubuhnya ke pagar kandang kayu, disusul bunyi rantai kecil beradu pelan. Angin malam bergerak melewati celah atap sambil membawa aroma jerami, tanah dingin, dan hewan ternak yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan keluarga Abdullah. Iskandar menundukkan wajah perlahan. Anak lelaki itu belum sepenuhnya memahami persoalan politik yang sedang mengguncang Madinah. Namun ia cukup besar untuk memahami satu hal: orang-orang dewasa mulai takut terhadap masa depan. Maryam memandang suaminya cukup lama tanpa bicara. Perempuan itu mengenal Abdullah sejak muda. Ia mengenal keras kepalanya, ketenangannya, dan kecintaannya kepada Madinah.

Karena itu, mendengar Abdullah mulai mempertimbangkan meninggalkan kota Nabi terasa jauh lebih berat daripada semua kabar yang beredar di pasar. “Aku tidak pernah membayangkan akan mendengar kata-kata itu darimu,” bisiknya lirih. Abdullah tersenyum tipis kecil, namun senyum itu cepat menghilang. “Aku juga tidak pernah membayangkannya.” Lampu minyak kecil kembali bergerak pelan diterpa angin malam. Rafi’ duduk lebih tenang sekarang sambil memandangi rak-rak rumah Abdullah. Di salah satu sudut terlihat pelana-pelana unta berkualitas baik tergantung rapi. Dekatnya terdapat gulungan tali perjalanan, kantung kulit air, dan peti kecil tempat alat hitung dagang.

Barang-barang itu kini mulai terlihat berbeda di matanya. Bukan sekadar perlengkapan rumah, melainkan sesuatu yang suatu hari mungkin harus dibawa menempuh perjalanan panjang. “Berapa banyak ternak yang masih berada di padang selatan?” tanya Rafi’ pelan. Abdullah menoleh kepadanya sedikit terkejut. “Sekitar empat puluh kambing dan belasan unta.” Ia mengusap janggutnya perlahan. “Sebagian sedang berada dekat sumur Wadi Quba bersama para penggembala.” Yahya mengangkat wajah cepat. “Kalau keadaan memburuk...” ia berhenti sebentar, “apakah semua itu bisa dibawa pergi?” Pertanyaan itu terasa berat. Karena untuk pertama kalinya mereka mulai berbicara bukan hanya tentang kemungkinan hijrah, tetapi tentang: • aset, • ternak, • pekerja, • dan kehidupan yang harus dipindahkan. Abdullah menarik napas panjang. “Tidak mudah.” Matanya bergerak ke arah halaman belakang. “Ternak bukan sekadar barang.” Ia berkata pelan seperti sedang berpikir keras. “Mereka butuh jalur air, padang rumput, penjaga, dan perjalanan yang aman.”

Maryam memandang suaminya semakin dalam sekarang. Ia mulai memahami: pikiran Abdullah ternyata sudah melangkah lebih jauh daripada yang ia kira. Bukan sekadar rasa takut. Tetapi mulai menghitung kemungkinan hidup di tempat lain. “Dan belum lagi para pekerja,” sambung Abdullah lirih. “Harits... keluarga penggembala di selatan... para penjaga kandang...” Ia menggeleng pelan. “Aku tidak bisa begitu saja meninggalkan mereka.” Yahya diam-diam terkesan mendengar itu. Banyak saudagar kaya di pasar memandang pekerja hanya sebagai alat. Namun Abdullah berbicara tentang mereka seperti bagian dari tanggung jawab keluarga.

pembicaraan tentang perjalanan ke timur bukan lagi sekadar cerita musafir
Basrah. Kota pelabuhan di ujung timur. Pintu menuju laut. Dan mungkin..... permulaan jalan yang akan membawa mereka jauh meninggalkan Hijaz.

Di luar rumah, suara langkah sandal terdengar samar melintas di lorong, lalu menghilang lagi dalam malam. Madinah belum benar-benar tidur. Dan kota itu terasa seperti manusia yang sedang sakit: terbaring tenang di luar, tetapi gelisah di dalam. Maryam akhirnya berkata pelan: “Bila benar harus pergi...” ia memandang wajah Abdullah hati-hati, “ke mana?” Ruangan kembali diam. Pertanyaan itu terasa jauh lebih nyata dibanding semua pembicaraan sebelumnya. Abdullah memandang nyala lampu minyak kecil di depan mereka sebelum menjawab perlahan: “Mungkin Basrah terlebih dahulu.” Nama itu jatuh pelan di tengah rumah mereka. Basrah. Kota pelabuhan di ujung timur. Pintu menuju laut. Dan mungkin... permulaan jalan yang akan membawa mereka jauh meninggalkan Hijaz. Nama Basrah masih menggantung pelan di dalam rumah Abdullah setelah ia mengucapkannya. Lampu minyak kecil terus menyala tenang di tengah ruangan, sementara angin malam dari halaman belakang membawa suara ternak yang sesekali bergerak di kandang. Basrah.

Bagi sebagian manusia Hijaz, nama itu terdengar jauh seperti batas dunia lain. Namun bagi para saudagar dan musafir, Basrah adalah gerbang besar menuju timur. Maryam memandang wajah suaminya lama. “Aku pernah mendengar nama itu dari para saudagar kain,” katanya pelan. “Mereka berkata pelabuhannya dipenuhi kapal.” Abdullah mengangguk kecil. “Dan manusia dari berbagai negeri.” Rafi’ yang duduk dekat pintu tampak lebih hidup sekarang. Ketegangan lorong malam tadi perlahan bercampur dengan rasa ingin tahu seorang pemuda yang belum pernah melihat dunia di luar Hijaz. “Apakah benar kapal di sana sebesar rumah?” tanyanya. Yahya langsung menyahut cepat sebelum Abdullah sempat menjawab. “Samir berkata begitu.” Abdullah tersenyum tipis kecil. “Sebagian memang sangat besar.” Ia memandang kedua pemuda itu. “Ada kapal yang membawa kuda, kayu, kain, minyak, bahkan ratusan kantung rempah.” Mata Yahya langsung membesar sedikit. “Dan mereka berlayar sampai Gujarat?” “Sebagian lebih jauh lagi.” Kesunyian kecil turun sesaat.

Malam itu, untuk pertama kalinya, rumah Abdullah mulai dipenuhi bayangan dunia luas di luar Madinah: • pelabuhan, • layar kapal, • lautan gelap, • dan kota-kota asing di timur. Namun berbeda dengan anak-anak muda itu, Maryam justru memikirkan hal lain. “Bila benar pergi ke Basrah...” suaranya lembut namun hati-hati, “bagaimana dengan ternak? Kebun kecil di selatan? Gudang kulit?” Matanya bergerak ke arah peti-peti rumah mereka. “Dan simpanan keluarga?” Pertanyaan itu segera mengembalikan suasana rumah kepada kenyataan yang lebih berat. Karena hijrah bagi keluarga seperti mereka bukan sekadar berjalan meninggalkan kota. Tetapi memindahkan: • harta, • pekerja, • hubungan dagang, • dan seluruh kehidupan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Abdullah mengusap janggutnya perlahan. “Sebagian ternak mungkin harus dijual,” katanya lirih. Iskandar langsung mengangkat wajah cepat. “Dijual?” Abdullah mengangguk pelan. “Kita tidak mungkin membawa semuanya menempuh perjalanan sejauh itu.” Iskandar tampak murung mendengar itu. Anak lelaki itu mengenal sebagian unta keluarga mereka satu per satu. Ia bahkan sering memberi nama sendiri pada beberapa kambing muda di kandang selatan. Maryam memperhatikan perubahan wajah putranya lalu berkata lembut: “Belum ada keputusan apa pun.” Tetapi bahkan ketika mengatakannya, ia sendiri mulai memahami: pikiran tentang pergi telah masuk terlalu jauh ke dalam rumah mereka malam ini.

Di luar rumah, desir angin kembali terdengar melewati lorong Madinah. Lampu kecil di dekat pintu bergerak pelan. Dari arah jauh samar terdengar suara manusia bercakap singkat lalu menghilang lagi dalam malam. Rafi’ menoleh ke arah suara itu sebelum kembali berkata pelan: “Apakah semua keluarga akan pergi bersama?” Abdullah tidak langsung menjawab. Ia memandang nyala lampu minyak beberapa saat seperti sedang menimbang sesuatu yang sangat berat. “Aku belum tahu.” Suaranya rendah dan pelan. “Tetapi bila benar perjalanan itu terjadi...” ia mengangkat wajah kepada Rafi’ dan Yahya, “kita tidak dapat bergerak seperti kafilah dagang biasa.” Yahya mengernyit kecil. “Karena pengawasan?” “Karena banyak mata mulai memperhatikan keluarga-keluarga yang dekat kepada Ali.” Ruangan kembali sunyi.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Basrah tidak lagi terdengar seperti nama kota jauh dalam cerita para saudagar. Ia mulai berubah menjadi kemungkinan jalan hidup mereka sendiri. Lampu minyak kecil di rumah Abdullah terus menyala lirih ketika malam bergerak semakin dalam. Api kecilnya kini lebih tenang dibanding sebelumnya, seolah rumah itu sendiri mulai tenggelam ke dalam kelelahan panjang setelah seharian dipenuhi kegelisahan dan pembicaraan berat. Namun pikiran manusia di dalamnya justru semakin sulit beristirahat. Maryam bangkit perlahan menuju rak kayu dekat dinding lalu mengambil kain penutup kendi air. Gerakannya lembut dan teratur seperti perempuan yang sepanjang hidup terbiasa menjaga rumah tetap tenang meski dunia di luar berubah kacau. Abdullah memperhatikan istrinya diam-diam. Maryam bukan perempuan yang banyak bicara di depan orang lain. Namun Abdullah tahu: ketika perempuan itu mulai diam terlalu lama, berarti pikirannya sedang bekerja keras. “Engkau mulai benar-benar memikirkannya,” kata Maryam akhirnya tanpa menoleh. Abdullah memahami maksudnya. Basrah. Hijrah. Timur. Ia menarik napas panjang perlahan.

“Aku belum mengambil keputusan,” jawabnya lirih. Maryam menoleh sekarang. Cahaya lampu minyak membuat wajah perempuan itu tampak lebih lembut namun juga lebih lelah. “Tetapi engkau mulai menghitung.” Ruangan kembali sunyi. Dan justru karena Maryam mengenalnya sangat baik, Abdullah tidak bisa mengelak. Ya. Ia memang mulai menghitung. Bukan menghitung untung dagang. Bukan menghitung harga unta. Melainkan menghitung: • berapa banyak keluarga yang dapat dibawa, • jalur mana yang paling aman, • siapa yang dapat dipercaya, • dan berapa lama Madinah masih dapat menjadi tempat tinggal mereka.

Rafi’ dan Yahya saling berpandangan kecil namun tidak menyela. Kedua pemuda itu mulai merasa mereka sedang mendengar sesuatu yang lebih besar daripada percakapan biasa orang dewasa. Iskandar sendiri duduk lebih dekat kepada ayahnya sekarang. Matanya mulai berat oleh kantuk, tetapi ia masih berusaha mendengarkan semuanya. “Ayah...” katanya lirih, “apakah Basrah lebih besar daripada Madinah?” Abdullah tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu. “Dengan cara yang berbeda.” “Bagaimana maksudnya?” Abdullah bersandar perlahan ke tiang kayu rumah. “Madinah besar karena ilmu dan manusia-manusia yang pernah hidup di dalamnya.” Matanya bergerak pelan ke arah luar rumah seolah sedang melihat kota itu dari kejauhan. “Sedangkan Basrah...” ia berhenti sesaat, “besar karena perdagangan, pelabuhan, dan jalur menuju dunia luar.”

Yahya langsung membayangkan kapal-kapal besar lagi dalam kepalanya. Sedangkan Rafi’ justru memikirkan sesuatu yang lain: betapa jauhnya dunia ternyata melampaui padang-padang Hijaz yang selama ini ia kenal. Maryam kembali duduk pelan dekat Abdullah. “Aku takut anak-anak tumbuh jauh dari Madinah,” katanya sangat lirih. Kalimat itu membuat udara ruangan terasa lebih berat. Karena itulah ketakutan terbesar banyak keluarga malam itu. Bukan hanya kehilangan rumah. Tetapi kehilangan: • kota Nabi, • lorong-lorong yang mereka kenal, • masjid tempat mereka belajar, • makam keluarga, • dan tanah tempat mereka dibesarkan. Abdullah memandang Fatimah kecil yang masih tertidur pulas. “Aku juga takut,” jawabnya jujur. Kejujuran itu membuat Maryam perlahan menundukkan wajah. Karena kadang ketakutan terasa lebih ringan ketika akhirnya diucapkan.

Di luar rumah, suara langkah manusia kembali terdengar samar melewati lorong. Kali ini lebih cepat daripada sebelumnya. Disusul suara pintu rumah ditutup tergesa di kejauhan. Rafi’ spontan menoleh ke arah pintu. Yahya ikut diam mendengarkan. Namun suara itu segera menghilang lagi ditelan malam. Madinah benar-benar telah berubah. Bahkan suara langkah manusia di malam hari kini mampu membuat jantung orang-orang berdetak lebih keras daripada biasanya. Suara langkah di lorong tadi akhirnya benar-benar menghilang. Namun ketegangan kecil yang ditinggalkannya masih terasa di dalam rumah Abdullah beberapa saat setelahnya. Rafi’ tetap memperhatikan pintu rumah dengan tubuh sedikit condong ke depan seperti pemuda yang siap berdiri sewaktu-waktu bila sesuatu terjadi di luar. Maryam memandangnya sekilas lalu tersenyum tipis kecil. “Engkau mengingatkanku kepada Abdullah ketika masih muda,” katanya pelan. Rafi’ tampak sedikit salah tingkah mendengar itu. Sedangkan Abdullah terkekeh lirih untuk pertama kalinya malam itu. “Aku lebih keras kepala daripada dia.” “Dan lebih sering membuat masalah,” sambung Maryam cepat. Yahya langsung tertawa kecil tertahan. Bahkan Iskandar ikut tersenyum meski matanya sudah berat menahan kantuk. Suasana rumah sedikit melonggar.

Untuk sesaat mereka kembali terasa seperti keluarga dan sahabat yang sedang duduk bersama pada malam biasa, bukan manusia-manusia yang sedang memikirkan kemungkinan meninggalkan kota kelahiran mereka. “Apakah Ayah dulu suka berkelahi?” tanya Iskandar cepat sebelum kantuknya benar-benar menang. Maryam langsung memandang Abdullah dengan senyum tipis yang penuh arti. “Tanyakan itu kepada paman-paman di pasar unta.” Rafi’ tertawa kecil sekarang. Abdullah menggeleng sambil mengusap wajahnya. “Aku hanya terlalu sering membela orang lain.” “Dan terlalu mudah marah ketika melihat ketidakadilan,” sambung Maryam. Lampu minyak kecil bergoyang pelan sementara tawa kecil mereka perlahan mereda lagi menjadi kehangatan yang tenang.

Di luar rumah, malam Madinah tetap dingin dan sunyi. Namun di dalam rumah itu, kehidupan masih bernapas: • anak yang bertanya kepada ayahnya, • istri yang mengenang masa muda suaminya, • sahabat muda yang tertawa kecil, • dan manusia-manusia yang berusaha mempertahankan kewajaran hidup di tengah ketakutan zaman. Maryam lalu bangkit menuju rak kayu bagian timur rumah. Ia membuka salah satu peti kecil dari kulit tebal lalu memeriksa isinya sebentar. Cahaya lampu minyak memantulkan kilau lembut dari beberapa keping dirham perak dan dua dinar emas yang tersimpan rapi di dalam kantung kecil. Yahya memperhatikannya diam-diam. Tidak banyak keluarga di Madinah yang menyimpan emas di rumah mereka. Maryam menutup kembali peti itu lalu berkata pelan kepada Abdullah: “Aku mulai memindahkan sebagian simpanan dari ruang depan sejak dua malam lalu.” Abdullah mengangkat wajah cepat. “Mengapa tidak memberitahuku?” Maryam tersenyum tipis kecil namun matanya tampak lelah. “Karena aku tidak ingin menambah beban pikiranmu sebelum waktunya.” Kesunyian kecil turun lagi.

Abdullah memandang istrinya cukup lama. Dan malam itu ia menyadari sesuatu: sementara para lelaki sibuk berbicara tentang politik, jalur dagang, dan kemungkinan hijrah, para perempuan ternyata diam-diam sudah mulai bersiap lebih dahulu. “Ibu takut rumah kita dirampok?” tanya Iskandar lirih. Maryam berjalan mendekat lalu mengusap rambut anaknya lembut. “Ibu hanya berjaga-jaga.” Namun Iskandar cukup besar untuk memahami bahwa kata “berjaga-jaga” kini mulai sering terdengar di Madinah. Berjaga-jaga terhadap: • pengawasan, • penangkapan, • pencurian, • pengkhianatan, • dan masa depan yang semakin sulit ditebak.

Dari halaman belakang tiba-tiba terdengar suara langkah berat mendekat ke arah rumah disusul bunyi pagar kayu kecil dibuka pelan. Rafi’ langsung berdiri. Yahya ikut menoleh cepat. Sedangkan Abdullah segera mengenali suara langkah itu. “Harits,” gumamnya pelan. Suara langkah berat itu semakin dekat dari arah halaman belakang rumah. Bunyi pasir dan kerikil kecil bergesekan di bawah sandal terdengar jelas di tengah sunyi malam Madinah. Sesekali terdengar dengusan unta dari kandang ketika seseorang melewati pagar kayu di dekatnya. Rafi’ tetap berdiri waspada. Namun Abdullah sudah mengenali irama langkah itu bahkan sebelum bayangan lelaki tersebut muncul di pintu belakang rumah. Harits bin Rumaithah. Lelaki Badui tinggi besar yang selama bertahun-tahun menjadi tangan kanan Abdullah dalam mengurus ternak dan jalur penggembalaan keluarga mereka.

Pintu belakang terbuka pelan. Harits masuk sambil membawa bau angin padang, debu kandang, dan hewan ternak yang menempel kuat pada pakaiannya. Tubuhnya besar dan keras seperti batang pohon gurun. Janggut hitam kasarnya tampak dipenuhi debu halus, sedangkan kain penutup kepalanya sedikit longgar seperti baru selesai bekerja berat. Begitu melihat masih banyak orang terjaga di ruang tengah, Harits langsung menundukkan kepala hormat. “Maaf bila mengganggu malam kalian.” “Masuklah,” jawab Abdullah tenang. Harits melangkah masuk lalu meletakkan tongkat pendek penggembalanya dekat pintu. Matanya bergerak cepat memperhatikan ruangan: • Maryam, • Iskandar, • Rafi’, • Yahya, • dan wajah Abdullah yang tampak lebih berat daripada biasanya. Lelaki itu cukup lama hidup bersama keluarga Abdullah untuk memahami suasana tanpa perlu banyak penjelasan. “Aku memeriksa kandang selatan,” katanya pelan. “Dua unta muda tampak gelisah sejak sore.” Abdullah mengangguk kecil. “Karena suara kuda di lorong?” tanya Maryam. Harits mengusap janggutnya perlahan. “Mungkin.” Ia melirik ke arah luar rumah sesaat. “Atau karena hewan-hewan memang lebih cepat merasakan kegelisahan manusia.” Kalimat itu membuat ruangan kembali diam.

Yahya memperhatikan Harits dengan penuh rasa ingin tahu. Lelaki Badui itu berbeda dengan saudagar-saudagar pasar Madinah: lebih kasar, lebih sunyi, dan matanya seperti selalu memerhatikan cakrawala yang jauh. “Apakah padang selatan masih aman?” tanya Abdullah akhirnya. Harits tidak langsung menjawab. Ia duduk perlahan dekat pintu sambil menerima mangkuk air dari Maryam. Jemarinya kasar dan penuh bekas luka lama akibat tali, kayu, dan perjalanan padang. “Masih,” jawabnya pelan setelah meneguk air. “Tetapi para penggembala mulai banyak bicara.” “Tentang apa?” tanya Rafi’. “Tentang kelompok bersenjata yang mulai bergerak di jalur luar kota.” Harits memandang Abdullah. “Dan tentang beberapa keluarga yang diam-diam menjual ternak mereka lebih cepat dari biasanya.” Lampu minyak kecil di ruangan terasa mendadak lebih redup setelah ucapan itu. Karena kini kabar tentang kegelisahan tidak lagi hanya datang dari pasar dan lorong Madinah. Bahkan para penggembala di padang pun mulai merasakannya.

“Kelompok bersenjata dari mana?” tanya Abdullah. Harits menggeleng kecil. “Belum jelas.” Ia mengusap wajahnya kasar. “Sebagian mungkin hanya perampok gurun yang mulai memanfaatkan keadaan.” Sorot matanya mengeras sedikit. “Tetapi ada juga yang membawa nama penguasa untuk memeriksa jalur.” Maryam tanpa sadar memeluk kedua tangannya sendiri. Rafi’ kembali duduk perlahan sekarang, namun wajahnya semakin serius. “Kalau begitu perjalanan menuju Basrah tidak akan mudah,” gumam Yahya lirih. Harits menoleh kepadanya cepat. “Basrah?” Ruangan kembali sunyi sesaat. Abdullah akhirnya berkata pelan: “Belum keputusan.” Ia memandang Harits dalam-dalam. “Baru kemungkinan.”

Harits tidak segera menjawab. Lelaki Badui itu justru memandang nyala lampu minyak cukup lama sebelum berkata dengan suara rendah: “Kalau suatu hari Tuan benar-benar pergi...” ia berhenti sesaat, “maka padang-padang di selatan Madinah akan terasa berbeda.” Ucapan Harits itu membuat ruangan kembali tenggelam dalam diam yang lebih dalam daripada sebelumnya. Lampu minyak kecil di tengah rumah bergerak pelan tertiup angin malam. Cahayanya memantulkan garis-garis keras di wajah Harits yang dipenuhi debu padang dan kelelahan kerja. Lelaki Badui itu tidak mengatakan kalimatnya dengan suara sedih. Tidak pula dengan ratapan. Tetapi justru karena diucapkan sederhana, kata-katanya terasa lebih berat. Karena Harits bukan sekadar pekerja upahan biasa. Ia telah bersama keluarga Abdullah bertahun-tahun: • menjaga jalur penggembalaan, • membantu musim kelahiran ternak, • mengawal perdagangan kecil, • bahkan beberapa kali ikut membawa zakat ternak menuju Madinah.

Ia mengenal unta-unta Abdullah satu per satu. Mengenal sumur-sumur kecil di selatan. Mengenal padang rumput musiman. Dan mengenal keluarga ini bukan hanya sebagai majikan, tetapi sebagai manusia-manusia yang telah menjadi bagian hidupnya. Abdullah memandang Harits lama sebelum akhirnya berkata pelan: “Aku belum ingin meninggalkan Madinah.” Harits mengangguk kecil. “Aku tahu.” Di luar rumah, desir angin malam kembali menyapu pelepah kurma. Suaranya panjang dan lembut seperti napas gurun yang tidak pernah benar-benar tidur. Maryam duduk lebih dekat kepada Fatimah kecil sekarang sambil menarik kain tipis menutupi tubuh anak itu agar tidak kedinginan. Wajah perempuan itu tampak semakin tenang setelah Harits datang. Karena kehadiran lelaki Badui itu selalu membawa rasa aman tersendiri bagi rumah mereka.

Iskandar sendiri memperhatikan Harits dengan mata penuh kagum seperti biasa. Sejak kecil ia sering mengikuti lelaki itu ke kandang: • melihat unta diberi minum, • mendengar cerita jalur padang, • dan belajar membaca jejak hewan di tanah. “Apakah benar ada kelompok perampok dekat jalur timur?” tanya Iskandar pelan. Maryam langsung mengerutkan dahi kecil. “Engkau tidak perlu mendengar semua itu malam-malam.” Namun Harits justru menjawab tenang: “Selalu ada perampok di gurun.” Ia memandang anak itu. “Tetapi sekarang mereka lebih berani.” “Karena keadaan kota?” tanya Rafi’. Harits mengangguk pelan. “Ketika para penguasa sibuk berebut kekuasaan...” ia mengusap janggut kasarnya, “manusia-manusia buruk mulai merasa gurun menjadi milik mereka.” Yahya diam-diam merinding mendengar itu.

Tadi malam perjalanan menuju Basrah masih terasa seperti kisah jauh tentang kapal dan pelabuhan. Kini perlahan perjalanan itu mulai memperlihatkan wajah lainnya: • gurun, • perampok, • pengawasan, • dan jalur-jalur yang tidak lagi aman. Abdullah bersandar perlahan ke tiang kayu rumah sambil memandangi lampu minyak. “Aku mulai merasa...” katanya lirih, “bahkan bila kita tetap tinggal, keadaan tidak akan kembali seperti dahulu.” Tidak ada yang membantah. Karena semua orang di ruangan itu mulai merasakan hal yang sama. Dulu: • rumah-rumah Madinah terbuka lebih lama, • manusia duduk santai di lorong malam, • penggembala keluar masuk kota tanpa curiga, • dan para saudagar berbicara keras di pasar tanpa takut didengar. Sekarang: setiap langkah, setiap percakapan, bahkan setiap ketukan pintu, membuat manusia berjaga. Harits meminum sisa airnya perlahan sebelum berkata lagi: “Tadi sore aku bertemu Sa’id al-Kinani di padang selatan.” Abdullah langsung mengangkat wajah. Sa’id al-Kinani adalah kepala salah satu kelompok penggembala yang sering membantu menjaga jalur ternak keluarga-keluarga Madinah di luar kota. “Apa katanya?” tanya Abdullah. Harits meletakkan mangkuk air kosong di lantai tanah. “Ia berkata...” lelaki Badui itu berhenti sesaat sebelum melanjutkan, “beberapa keluarga dari arah Mekah mulai memindahkan emas mereka diam-diam ke jalur timur.”

Ucapan Harits tentang keluarga-keluarga Mekah yang diam-diam memindahkan emas mereka ke jalur timur membuat Abdullah tidak segera berbicara lagi. Ia duduk diam bersandar pada tiang kayu rumah sambil memandangi nyala lampu minyak yang bergerak kecil di tengah ruangan. Namun pikirannya jelas sedang berjalan jauh. Maryam mengenal wajah itu. Wajah Abdullah ketika sedang mulai menghitung banyak kemungkinan sekaligus dalam kepalanya. “Keluarga mana?” tanya Abdullah akhirnya pelan. Harits mengangkat wajah. “Sa’id tidak menyebut semuanya.” Ia mengusap janggut kasarnya perlahan. “Tetapi ada nama Bani Makhzum disebut beberapa kali di padang.”

Rafi’ langsung mengangkat wajah cepat. Bahkan Yahya yang belum terlalu memahami politik perdagangan Hijaz pun tahu: Bani Makhzum bukan keluarga kecil. Mereka memiliki: • jalur dagang, • simpanan logam, • unta, • dan hubungan luas hingga Syam serta Irak. “Kalau mereka mulai memindahkan emas...” gumam Abdullah lirih, “berarti mereka tidak percaya Hijaz akan tenang.” Harits mengangguk kecil. “Dan mereka melakukannya diam-diam.” Kesunyian kembali turun. Karena semua orang di ruangan itu memahami: keluarga besar tidak pernah bergerak diam-diam tanpa sebab besar.

Maryam memandang peti kayu kecil dekat rak kain. Di dalamnya tersimpan sebagian dirham dan dinar keluarga mereka. Bukan jumlah sebesar saudagar Mekah, tetapi cukup besar untuk menarik perhatian manusia yang salah. “Kalau jalur timur mulai diawasi...” katanya perlahan, “maka orang-orang yang membawa logam akan menjadi sasaran.” Abdullah mengangguk pelan. “Karena itu mereka memindahkannya sedikit demi sedikit.” Harits memandang Abdullah lebih serius sekarang. “Sa’id juga berkata...” ia berhenti sebentar, “beberapa keluarga mulai memakai penggembala dan kafilah kecil untuk membawa simpanan mereka.” “Bukan saudagar resmi?” tanya Rafi’. “Tidak.” Harits menggeleng. “Kafilah besar terlalu mudah diperhatikan.” Abdullah menutup matanya sesaat. Kini semuanya mulai tersusun jelas: • pengawasan, • jalur timur, • perpindahan emas, • dan keluarga-keluarga besar yang mulai bergerak tanpa suara. Ini bukan lagi ketakutan liar manusia pasar.

Ini mulai menjadi: gerakan diam-diam para keluarga berpengaruh Hijaz. Yahya memandang Abdullah hati-hati sebelum bertanya: “Kalau suatu hari kita harus bergerak...” ia menelan ludah kecil, “apakah kita juga akan memakai jalur kecil seperti itu?” Abdullah membuka mata perlahan. “Aku belum tahu.” Lalu ia memandang Harits. “Tetapi kalau benar jalur-jalur mulai diawasi...” suaranya rendah dan berat, “maka kita tidak bisa bergerak sebagai keluarga besar Bani Hasyim secara terang-terangan.” Kalimat itu membuat udara rumah terasa lebih dingin.

Karena untuk pertama kalinya malam itu, Abdullah mengakui sesuatu yang sejak tadi belum benar-benar diucapkan: Nama keluarga mereka sendiri dapat menjadi bahaya. Iskandar memandang ayahnya bingung. “Karena kita dekat dengan keluarga Amirul Mukminin Ali?” tanyanya polos. Maryam langsung menoleh cepat kepada anaknya. Rafi’ ikut menahan napas kecil. Namun Abdullah tidak memarahi putranya. Ia hanya memandang lampu minyak di tengah rumah cukup lama sebelum menjawab lirih: “Kadang dalam zaman seperti ini...” suaranya pelan namun sangat berat, “kesetiaan dapat membuat manusia diburu lebih cepat daripada pencuri.” Kalimat Abdullah itu membuat rumah kembali sunyi.

Bahkan desir angin malam di luar lorong Madinah terasa lebih jelas sesudahnya. Lampu minyak kecil di tengah ruangan terus menyala tenang, namun wajah-wajah di sekelilingnya tampak semakin berat. Iskandar menundukkan kepala perlahan. Anak itu belum sepenuhnya memahami kerumitan dunia orang dewasa, tetapi ia dapat merasakan bahwa nama Ali bin Abu Thalib kini bukan lagi sekadar nama yang disebut dengan cinta dan penghormatan. Nama itu mulai membawa bahaya. Maryam menarik napas panjang pelan. “Aku membenci zaman seperti ini,” bisiknya lirih. “Zaman ketika manusia mulai takut menyebut orang-orang yang mereka cintai.” Tidak ada yang langsung menjawab. Karena semua orang di rumah itu merasakan hal yang sama. Dulu: menyebut Ali berarti menyebut: • keberanian, • ilmu, • keluarga Rasulullah, • dan kehormatan. Sekarang, di banyak tempat, nama itu mulai disebut lebih pelan.

Harits memandang pintu belakang rumah sesaat sebelum berkata rendah: “Padang lebih jujur daripada kota.” Rafi’ menoleh kepadanya. “Apa maksudmu?” Harits mengusap janggutnya perlahan. “Di padang, manusia masih berkata terus terang siapa yang mereka hormati.” Sorot matanya mengeras sedikit. “Tetapi di kota...” ia melirik lorong luar, “orang mulai belajar menyembunyikan isi hati mereka.” Yahya diam-diam merinding mendengar itu. Madinah yang selama ini ia kenal perlahan terasa asing: • manusia berbicara lebih pelan, • pintu rumah lebih cepat ditutup, • dan nama-nama tertentu mulai diucapkan dengan hati-hati.

Abdullah memandang Harits dalam-dalam. “Apakah Sa’id melihat pengawasan dekat jalur Najd?” Harits mengangguk kecil. “Belum besar.” Ia duduk sedikit lebih dekat sekarang. “Tetapi sudah ada orang-orang yang bertanya tentang kafilah dari Madinah.” “Tentang apa?” “Tentang keluarga mana yang bergerak.” Harits berhenti sebentar. “Dan siapa yang membawa logam.” Maryam langsung memejamkan mata sesaat. Kini semuanya semakin jelas. Bukan hanya kota yang mulai diawasi. Tetapi: • jalur, • kafilah, • dan perpindahan harta. Abdullah menunduk memikirkan sesuatu.

Sebagai keluarga Bani Hasyim, mereka tidak mungkin bergerak tanpa menarik perhatian. Ternak mereka dikenal. Pekerja mereka dikenal. Jalur perdagangan mereka dikenal. Bahkan sebagian penguasa pasar mengetahui: keluarga Abdullah memiliki hubungan baik dengan banyak keluarga pendukung Ali di Madinah. “Kalau begitu...” gumam Rafi’ perlahan, “semakin lama kita menunggu, semakin sulit bergerak.” Kalimat itu membuat semua orang kembali diam. Karena itulah kenyataan yang perlahan mulai berdiri di depan mereka. Abdullah belum ingin meninggalkan Madinah. Tetapi waktu mungkin tidak akan memberi mereka pilihan terlalu lama.

Di sudut ruangan, Fatimah kecil bergerak pelan dalam tidurnya lalu kembali diam sambil memeluk kain kecil lusuhnya. Maryam memandang putrinya cukup lama. Lalu dengan suara sangat pelan ia bertanya: “Bila benar harus pergi...” matanya masih tertuju kepada Fatimah, “apakah anak-anak sanggup menempuh gurun sejauh itu?” Tidak seorang pun segera menjawab. Karena kini pembicaraan mereka tidak lagi tentang kemungkinan politik, melainkan tentang: • panas gurun, • perjalanan panjang, • perampok, • kekurangan air, • dan anak-anak kecil yang harus dibawa meninggalkan rumah mereka sendiri.

English Version Notice

English Translation Coming Soon

We deeply regret that this epic chapter is not yet available in English. We kindly ask for your patience. The English version will be published shortly.

Please stay tuned for our official updates on Facebook, Instagram, X, TikTok, and LinkedIn.

← Bab Sebelumnya Bab Berikutnya →