Panembahan Wonokromo
Bab 004 — Hitungan di Ambang Fajar
bulan Safar 40 H / 661 M — Persiapan rahasia dan rencana besar yang disusun dalam senyap malam.
BAGIAN 1 — Sandi rahasia di balik aktivitas musim
Pertanyaan Maryam menggantung lama di dalam rumah. Tidak ada seorang pun yang segera mampu menjawabnya dengan ringan. Karena semua orang di ruangan itu mengenal gurun Hijaz: • panasnya yang membakar, • malamnya yang menggigit, • sumur-sumur yang berjauhan, • dan jalur panjang yang dapat membunuh manusia pelan-pelan bila mereka salah menghitung bekal. Harits akhirnya menghela napas berat. “Anak-anak bisa melewati gurun,” katanya perlahan. “Tetapi perjalanan seperti itu tidak boleh dilakukan tergesa.” Maryam mengangkat wajah sedikit. Harits melanjutkan: “Kafilah yang membawa keluarga harus bergerak berbeda dari kafilah dagang biasa.” Tangannya bergerak kecil seperti sedang menyusun jalur di udara. “Mereka perlu: • unta yang kuat, • pembawa air, • jalur sumur, • dan tempat beristirahat yang aman.”
Yahya mendengarkan dengan sangat serius sekarang. Tadi ia masih membayangkan perjalanan menuju Basrah seperti kisah petualangan para saudagar. Namun semakin malam, semakin ia memahami: perjalanan itu dapat menjadi perkara hidup dan mati. “Berapa lama dari Madinah ke Basrah?” tanya Rafi’ pelan. Harits memandang Abdullah sejenak sebelum menjawab. “Bila jalur aman dan cuaca baik...” katanya rendah, “beberapa pekan.” Ia berhenti sebentar. “Tetapi keluarga besar tidak dapat bergerak secepat pengendara ringan.” Abdullah menundukkan wajah perlahan. Dalam kepalanya kini mulai muncul hal-hal yang sebelumnya belum pernah benar-benar ia hitung: • berapa unta pengangkut air yang diperlukan, • berapa pekerja yang dapat dipercaya, • berapa dinar yang harus diubah menjadi dirham, • dan siapa saja keluarga yang mungkin ikut bersama mereka. Ia mulai memahami sesuatu yang pahit: hijrah bukan sekadar keberanian meninggalkan rumah. Hijrah membutuhkan: • perencanaan, • logam, • jalur, • manusia setia, • dan kemampuan bergerak sebelum keadaan menjadi terlambat.
Di luar rumah, angin malam kembali menyapu lorong Madinah. Dari kejauhan terdengar suara unta mendengus berat lalu diam lagi. Harits menoleh sedikit ke arah suara itu. “Kita juga harus memikirkan ternak mana yang dibawa dan mana yang ditinggalkan.” Kalimat itu terasa seperti pisau kecil di dada Iskandar. “Tidak semua?” tanyanya cepat. Harits menggeleng perlahan. “Perjalanan panjang membutuhkan unta kuat.” Ia memandang anak itu dengan tenang. “Kambing dan domba terlalu banyak akan memperlambat gerak.” Iskandar langsung terdiam. Anak itu membayangkan kandang selatan: • kambing-kambing muda, • unta tua yang sering ia beri makan, • dan padang kecil tempat ia biasa berlari bersama para penggembala. Untuk pertama kalinya, ia mulai memahami bahwa meninggalkan Madinah berarti juga meninggalkan banyak hal yang dicintainya.
Maryam memandang putranya dengan sorot lembut namun sedih. “Belum ada keputusan,” katanya pelan lagi. Namun bahkan sekarang, kalimat itu mulai terdengar semakin lemah. Karena pembicaraan mereka malam ini sudah terlalu jauh untuk disebut sekadar kemungkinan biasa. Rafi’ tiba-tiba memandang Abdullah lebih serius. “Kalau keluarga-keluarga Mekah mulai bergerak diam-diam...” katanya hati-hati, “apakah mungkin sebagian keluarga Madinah juga sudah melakukannya tanpa kita tahu?” Ruangan kembali sunyi. Abdullah perlahan mengangkat wajah. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia mulai memikirkan kemungkinan yang belum sempat masuk ke kepalanya sebelumnya: Mungkin mereka bukan rombongan pertama yang sedang bersiap meninggalkan Hijaz. Pikiran bahwa mungkin sudah ada keluarga-keluarga lain yang diam-diam bersiap meninggalkan Hijaz membuat suasana rumah Abdullah berubah semakin berat.
Kini pembicaraan mereka tidak lagi terasa seperti ketakutan beberapa orang saja. Tetapi seperti awal dari sesuatu yang lebih besar, lebih sunyi, dan bergerak perlahan di bawah permukaan kehidupan Madinah. Harits duduk lebih dekat ke lampu minyak sekarang. Bayangan tubuh besarnya bergerak panjang di dinding tanah rumah. “Kalau benar harus bergerak...” katanya pelan, “maka persiapan tidak bisa dilakukan mendadak.” Abdullah mengangguk kecil. “Air dan makanan,” gumamnya lirih. Harits langsung menyambung: “Dan hewan pengangkut.” Ia mengangkat jemarinya satu demi satu. “Unta air, unta barang, unta keluarga, serta hewan cadangan bila ada yang tumbang di padang.” Yahya mulai terlihat benar-benar tenggelam dalam pembicaraan itu sekarang. Ia membayangkan rombongan panjang bergerak di gurun: • anak-anak, • perempuan, • peti-peti, • kantung air, • dan unta-unta yang berjalan lambat menembus panas Hijaz. “Makanan seperti apa yang biasa dibawa untuk perjalanan sejauh itu?” tanyanya pelan. Harits memandangnya sesaat sebelum menjawab. “Gandum kering. Kurma.” Ia berhenti sebentar. “Dan daging yang diawetkan.”
Maryam langsung mengangkat wajah sedikit. Sebagai perempuan yang terbiasa mengurus rumah besar dan pekerja kandang, ia langsung memahami maksudnya. “Dendeng...” bisiknya pelan. Harits mengangguk. “Daging tipis yang dijemur beberapa hari.” Tangannya bergerak kecil memberi gambaran. “Lebih ringan dibawa dan tahan perjalanan panjang.” Iskandar tampak sedikit murung mendengar itu. Karena ia sadar: membuat persediaan seperti itu berarti beberapa ternak mereka harus disembelih. Abdullah sendiri kini mulai menghitung lebih jauh: • berapa banyak hewan yang mungkin harus dipotong, • berapa gandum yang dapat dibawa, • dan berapa lama perjalanan benar-benar akan berlangsung bila membawa keluarga besar. “Perjalanan bisa mencapai sebulan lebih bila jalur terganggu,” ujar Harits rendah. “Terutama bila kita harus menghindari beberapa jalan utama.”
Rafi’ langsung mengernyit. “Selama itu?” Harits menatapnya tenang. “Kafilah keluarga tidak bergerak seperti pasukan perang.” Ia melirik Fatimah kecil yang tertidur di sudut ruangan. “Anak-anak membuat perjalanan harus lebih lambat.” Maryam memandang putrinya cukup lama. Ia mulai membayangkan: • panas siang, • debu gurun, • kantung air yang semakin ringan, • dan Fatimah kecil yang mungkin menangis kelelahan di atas punggung unta. Bayangan itu membuat dadanya terasa sesak. “Kita juga harus memikirkan garam,” katanya pelan tiba-tiba. Semua mata menoleh kepadanya. Maryam melanjutkan lebih tenang sekarang: “Untuk mengawetkan daging.” Ia memandang Abdullah. “Dan untuk perjalanan panjang.” Harits mengangguk kecil penuh hormat. “Benar.” Abdullah memperhatikan istrinya diam-diam. Semakin malam, ia semakin menyadari: para perempuan di rumah-rumah Madinah mungkin mulai memikirkan hijrah dengan cara yang berbeda dari para lelaki. Para lelaki memikirkan: • jalur, • pengawasan, • dan politik. Sedangkan para perempuan mulai memikirkan: • air, • makanan, • anak-anak, • kain, • obat, • dan bagaimana membuat keluarga tetap hidup selama perjalanan panjang. Dan justru pikiran-pikiran itulah yang kelak menentukan apakah sebuah hijrah dapat bertahan atau hancur di tengah gurun.
Malam semakin larut di atas Madinah. Angin gurun kini terasa lebih dingin ketika masuk melalui celah-celah atap rumah Abdullah. Lampu minyak kecil di tengah ruangan mulai mengecil nyalanya karena minyak hampir habis, membuat bayangan manusia di dinding bergerak samar dan panjang. Namun tidak seorang pun di rumah itu benar-benar merasa mengantuk lagi. Pembicaraan mereka telah melangkah terlalu jauh malam ini. Bukan lagi tentang kemungkinan-kemungkinan samar, melainkan tentang: • bekal, • jalur, • ternak, • pengawetan makanan, • dan bagaimana membawa keluarga melintasi gurun menuju timur. Abdullah perlahan berdiri lalu berjalan menuju rak kayu dekat dinding timur rumah. Ia membuka salah satu peti kulit tebal dan mengeluarkan gulungan kain kecil yang diikat tali. Harits langsung mengenali benda itu. “Catatan ternak?” Abdullah mengangguk. Ia membuka gulungan tersebut perlahan di atas tikar. Di dalamnya terdapat catatan sederhana: • jumlah unta, • kambing, • domba, • jalur penggembalaan, • dan pembagian pekerja.
Yahya memperhatikan dengan mata penuh rasa ingin tahu. Selama ini ia hanya melihat keluarga Abdullah sebagai keluarga terpandang Madinah. Namun malam itu untuk pertama kalinya ia memahami: semua kekayaan itu dijaga dengan perhitungan dan kerja yang panjang. Abdullah menunjuk beberapa bagian catatan dengan jemarinya. “Unta tua tidak mungkin dibawa jauh.” Suaranya rendah seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri. “Tetapi unta air dan unta beban terbaik harus disiapkan.” Harits ikut mendekat. “Yang coklat dari jalur selatan masih kuat.” Ia menunjuk bagian lain. “Dan dua unta Oman itu lebih tahan perjalanan panjang.” Rafi’ memperhatikan keduanya berbicara seperti dua lelaki yang sudah lama hidup bersama padang dan perdagangan. “Berapa banyak keluarga yang bisa dibawa satu rombongan?” tanyanya. Harits berpikir sejenak. “Kalau terlalu besar, mudah terlihat.” Ia melirik Abdullah. “Tetapi kalau terlalu kecil, mudah dirampok.” Kesunyian kecil turun lagi.
Itulah kenyataan gurun: terlalu mencolok berbahaya, terlalu lemah juga berbahaya. Maryam bangkit perlahan lalu mengambil kantung kecil berisi kurma kering dari rak makanan. “Kurma Madinah cukup baik untuk perjalanan,” katanya sambil meletakkan kantung itu dekat gulungan catatan. “Tetapi gandum harus dijaga dari lembab.” Harits mengangguk setuju. “Dan kulit air harus dibuat baru.” Ia memandang Abdullah. “Beberapa milik kandang selatan mulai retak.” Abdullah mengusap dahinya perlahan. Semakin mereka berbicara, semakin jelas bahwa hijrah bukan sekadar keputusan hati. Ia adalah pekerjaan besar: • logam, • hewan, • air, • makanan, • pekerja, • pengawalan, • bahkan cuaca dan musim. “Musim panas akan menyulitkan,” ujar Harits lagi. “Tetapi musim dingin membawa angin buruk di beberapa jalur timur.” Yahya menghela napas kecil. “Aku tidak pernah membayangkan meninggalkan kota bisa serumit ini.” Abdullah tersenyum tipis kecil, namun wajahnya tetap lelah. “Karena manusia tidak hanya membawa tubuh mereka ketika pergi.” Matanya bergerak ke arah Fatimah dan Iskandar. “Mereka membawa seluruh hidup mereka.” Di luar rumah, suara azan jauh untuk shalat malam samar terdengar dari arah Madinah bagian utara. Lembut. Panjang. Dan menyentuh sunyi kota yang belum benar-benar tidur. Semua orang di ruangan itu diam mendengarkan. Dan untuk beberapa saat, tak seorang pun berbicara tentang Basrah, hijrah, atau pengawasan. Karena suara azan malam itu mengingatkan mereka pada sesuatu yang lebih dalam: bahwa Madinah masih kota Nabi, dan meninggalkannya akan menjadi luka yang tidak mudah sembuh.
Suara azan malam itu perlahan memudar bersama angin yang bergerak melewati lorong-lorong Madinah. Rumah Abdullah kembali tenggelam dalam kesunyian yang berbeda dari sebelumnya. Bukan kesunyian karena takut, melainkan kesunyian manusia-manusia yang sedang memikirkan sesuatu terlalu besar untuk segera diucapkan. Maryam perlahan merapikan kembali kantung kurma dan gulungan kain di dekat rak makanan. Tangannya bergerak pelan dan teratur, namun pikirannya jelas tidak benar-benar berada di ruangan itu. Ia sedang membayangkan: • perjalanan panjang, • kantung air yang digantung di pelana, • anak-anak tidur di atas unta, • dan gurun luas yang memisahkan mereka dari Madinah. Abdullah menggulung kembali catatan ternaknya perlahan. “Kalau benar kita harus bergerak,” katanya lirih tanpa mengangkat wajah, “maka sebagian besar persiapan harus dilakukan tanpa menarik perhatian pasar.” Harits langsung mengangguk. “Kalau terlalu banyak membeli garam atau gandum sekaligus, orang akan mulai bertanya.” “Begitu pula bila terlalu banyak unta dipindahkan,” sambung Maryam pelan.
Rafi’ memandang mereka satu per satu dengan perasaan aneh. Ia baru sadar: keluarga besar seperti Abdullah tidak mungkin menghilang begitu saja dari Madinah. Terlalu banyak manusia mengenal mereka. Penggembala mengenal ternak mereka. Pedagang mengenal jalur dagang mereka. Orang pasar mengenal pekerja mereka. Dan keluarga-keluarga pendukung Ali mengenal rumah Abdullah sebagai salah satu rumah Bani Hasyim yang masih terbuka bagi mereka. Artinya: setiap perubahan kecil dapat mengundang perhatian. “Mungkin sebagian barang harus dipindahkan lebih dahulu,” ujar Harits hati-hati. Abdullah mengangkat wajah. “Ke mana?” “Ke kandang luar kota.” Harits menunjuk samar ke arah selatan. “Atau ke rumah-rumah penggembala yang dipercaya.”
Maryam tampak berpikir keras sekarang. “Kain dan logam bisa disembunyikan,” katanya pelan. “Tetapi gandum dan kurma dalam jumlah besar lebih sulit.” Harits mengangguk. “Karena itu persiapan perjalanan biasanya dilakukan sedikit demi sedikit.” Yahya mulai memahami mengapa keluarga-keluarga Mekah memindahkan emas mereka diam-diam. Bukan hanya untuk menghindari pencuri, tetapi untuk menghindari perhatian. Abdullah bersandar kembali pada tiang kayu rumah sambil memandangi lampu minyak yang mulai mengecil. “Aku harus bertemu Syekh Umar lagi besok.” Rafi’ mengangkat wajah cepat. “Tentang Basrah?” “Tentang banyak hal.” Suara Abdullah terdengar lebih berat sekarang. “Kalau benar keluarga-keluarga mulai bergerak ke timur...” ia berhenti sejenak, “maka kita harus tahu siapa yang dapat dipercaya di jalur Irak.” Harits langsung menyambung: “Dan siapa yang sudah dibeli penguasa.” Kalimat itu membuat udara rumah kembali terasa dingin.
Karena pada zaman seperti itu, bahaya tidak selalu datang dalam bentuk pedang. Kadang ia datang dalam bentuk: • manusia yang menjual informasi, • penjaga sumur yang menerima logam, • atau kepala kafilah yang berbicara terlalu banyak di pasar. Maryam memeluk kedua tangannya sendiri perlahan. “Aku mulai merasa seluruh Hijaz sedang mendengar satu sama lain.” Tidak ada yang membantah. Karena itulah yang sedang terjadi. Kabar bergerak: • dari pasar ke padang, • dari penggembala ke saudagar, • dari Mekah ke Madinah, • lalu menuju jalur Irak dan timur. Dan di tengah semua itu, keluarga Abdullah perlahan mulai menyadari: mereka mungkin sedang berdiri di ambang perubahan terbesar dalam hidup mereka.
BAGIAN 2 — Jiwa rumah yang tidak kasat mata
Lampu minyak kecil di tengah rumah akhirnya mulai benar-benar melemah. Api kecilnya bergerak pendek dan kekuningan, membuat bayangan di dinding tampak semakin samar. Malam telah jauh berjalan melewati pertengahan, dan udara Madinah kini membawa dingin yang lebih tajam dibanding beberapa jam sebelumnya. Namun pembicaraan mereka masih belum selesai. Harits memandang gulungan catatan ternak di depan Abdullah sebelum berkata pelan: “Kalau persiapan harus dilakukan diam-diam...” ia berhenti sejenak, “maka kita perlu alasan yang masuk akal untuk memindahkan sebagian hewan.” Abdullah mengangguk kecil. Ia memahami maksud lelaki Badui itu. Keluarga seperti mereka tidak bisa tiba-tiba: • menjual ternak, • membeli garam, • memperbaiki pelana, • dan menyiapkan unta perjalanan, tanpa menimbulkan pertanyaan. Terlalu banyak mata mengenal kehidupan mereka.
“Musim dagang,” gumam Maryam perlahan. Semua mata menoleh kepadanya. Maryam duduk lebih tegak sekarang. Kelelahan masih tampak di wajahnya, tetapi pikirannya mulai bergerak setajam para lelaki di ruangan itu. “Kalau ada barang dipindahkan,” lanjutnya pelan, “maka biarkan manusia mengira itu bagian dari perdagangan musim.” Harits langsung mengangguk. “Itu lebih aman.” Rafi’ tampak mulai memahami arah pembicaraan mereka. “Jadi...” katanya hati-hati, “sebagian persiapan disembunyikan di balik aktivitas biasa?” “Ya,” jawab Abdullah rendah. Lalu ia memandang catatan ternaknya lagi. “Beberapa unta memang biasa bergerak ke jalur Najd untuk perdagangan kulit dan gandum.” Jemarinya mengetuk pelan gulungan catatan itu. “Kalau sebagian barang dipindahkan bersama mereka, orang tidak akan terlalu curiga.” Yahya merasakan bulu tengkuknya meremang sedikit.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ia melihat bagaimana keluarga-keluarga besar bertahan hidup pada zaman penuh fitnah: bukan dengan kekuatan pedang saja, tetapi dengan kesabaran, perhitungan, dan kemampuan menyembunyikan niat mereka di balik kegiatan sehari-hari. Harits kembali berkata: “Tetapi ada satu masalah lain.” Abdullah mengangkat wajah. “Pekerja.” Ruangan kembali diam. Karena itu memang perkara besar. Keluarga Abdullah memiliki: • penggembala, • penjaga kandang, • pekerja kulit, • dan beberapa pembantu perjalanan. Tidak semuanya dapat diberi tahu. Tetapi tidak semuanya juga dapat ditinggalkan begitu saja. “Aku tidak ingin menyeret orang-orang yang tidak siap,” ujar Abdullah lirih. Harits memandangnya dalam-dalam. “Tetapi sebagian dari mereka akan tetap ikut bila Tuan pergi.”
Maryam menoleh pelan. Ia tahu itu benar. Beberapa pekerja sudah terlalu lama hidup bersama keluarga mereka: • makan dari dapur yang sama, • menjaga ternak yang sama, • dan membesarkan anak-anak mereka di lingkungan yang sama. Hijrah keluarga besar seperti Abdullah tidak hanya menyentuh keluarga inti. Ia akan menyeret kehidupan banyak manusia lain bersamanya. Di sudut ruangan, Iskandar akhirnya mulai kalah melawan kantuk. Tubuhnya perlahan bersandar ke bahu ayahnya sambil matanya terpejam setengah. Abdullah otomatis mengusap kepala anak itu pelan. Gerakan sederhana seorang ayah. Namun malam itu terasa begitu berat. Karena semakin lama mereka berbicara, semakin jelas: setiap keputusan yang akan diambil nanti tidak hanya menentukan nasib satu rumah, tetapi nasib seluruh lingkaran manusia di sekitar mereka.
Iskandar akhirnya benar-benar tertidur bersandar di bahu Abdullah. Napas anak itu mulai teratur dan pelan, seolah tubuh mudanya akhirnya menyerah setelah sejak sore menahan terlalu banyak kegelisahan orang dewasa. Abdullah menatap wajah putranya beberapa saat. Lalu perlahan ia membetulkan posisi kain kecil di pundak anak itu agar tidak kedinginan. Maryam memperhatikan gerakan suaminya diam-diam. Di wajah Abdullah, ia mulai melihat sesuatu yang berbeda malam ini. Bukan sekadar kecemasan seorang lelaki terhadap keadaan kota. Tetapi: ketakutan seorang ayah. Harits akhirnya bersandar lebih santai ke dinding rumah sambil menghela napas panjang. “Kita juga harus memikirkan jalur air.” Abdullah mengangguk kecil. “Sumur-sumur.” Harits menunjuk perlahan ke arah timur seolah gurun berada tepat di balik dinding rumah mereka. “Beberapa sumur di jalur Najd tidak selalu penuh.” Ia memandang Abdullah serius. “Kalau musim panas datang lebih keras tahun ini, sebagian jalur bisa berubah berbahaya.” Yahya mendengarkan dengan wajah semakin tegang. Ia mulai memahami bahwa perjalanan menuju Basrah bukan hanya persoalan jarak. Tetapi: • air, • musim, • dan pengetahuan gurun. “Karena itu para penggembala lebih penting daripada banyak saudagar,” lanjut Harits rendah. “Mereka tahu sumur mana yang masih hidup.”
Rafi’ memandang lelaki Badui itu dengan hormat yang semakin besar sekarang. Malam ini ia menyadari: dunia perdagangan tidak berdiri sendiri. Ia bergantung pada: • penggembala, • penjaga jalur, • pembuat pelana, • pencari air, • dan manusia-manusia gurun yang jarang disebut dalam cerita besar. Maryam lalu berkata pelan: “Kalau perjalanan berlangsung lama...” ia berpikir sejenak, “anak-anak akan membutuhkan pakaian tambahan untuk malam.” Harits mengangguk. “Dan kain penutup debu.” Maryam mulai menghitung dalam pikirannya: • kain, • jarum, • benang, • obat sederhana, • minyak, • dan perlengkapan perempuan yang tidak pernah dipikirkan para lelaki ketika membicarakan hijrah. Abdullah memperhatikan istrinya diam-diam. Ia sadar: tanpa perempuan-perempuan seperti Maryam, rombongan sebesar apa pun bisa hancur di tengah perjalanan.
Di luar rumah, suara langkah unta terdengar samar melewati lorong kejauhan. Mungkin kafilah kecil yang datang terlambat dari jalur luar Madinah. Harits menoleh sedikit mendengarkan suara itu. “Perjalanan malam mulai lebih ramai akhir-akhir ini.” Abdullah mengangkat wajah. “Karena panas?” Harits menggeleng perlahan. “Karena manusia tidak ingin terlalu terlihat.” Kalimat itu kembali membuat ruangan sunyi. Kafilah malam. Perpindahan diam-diam. Jalur timur. Emas. Persiapan. Semua potongan itu kini mulai membentuk gambaran yang semakin jelas.
Madinah masih tampak hidup seperti biasa di siang hari. Namun di bawah permukaannya, manusia-manusia mulai bergerak perlahan: • menyimpan logam, • memindahkan barang, • mencari jalur, • dan menimbang siapa yang dapat dipercaya bila keadaan benar-benar pecah. Abdullah akhirnya berkata sangat pelan: “Kita mungkin sudah terlambat mulai memikirkan semua ini.” Tidak ada yang segera menjawabnya. Ucapan Abdullah itu menggantung lama di tengah ruangan. Lampu minyak kecil kini tinggal menyisakan nyala pendek yang bergerak lemah. Bayangan wajah mereka di dinding tanah tampak semakin kabur, seolah malam sendiri mulai menelan perlahan rumah kecil keluarga Bani Hasyim itu. “Belum terlambat,” kata Harits akhirnya. Suaranya rendah, tenang, dan mantap seperti manusia yang telah terlalu lama hidup bersama padang dan perubahan musim. Abdullah memandangnya diam. Harits melanjutkan: “Keluarga-keluarga besar memang mulai bergerak.” Ia mengusap janggut kasarnya perlahan. “Tetapi sebagian besar masih menyembunyikan niat mereka.” Sorot matanya mengeras sedikit. “Itu berarti mereka juga belum siap.”
Rafi’ mengangguk kecil. Masuk akal. Bila semua orang masih bergerak diam-diam, berarti belum ada jalur yang benar-benar aman. “Dan semakin banyak keluarga bergerak,” lanjut Harits, “semakin sulit penguasa mengawasi semuanya sekaligus.” Yahya yang sejak tadi diam mulai memahami sesuatu: kadang keselamatan bukan datang karena keadaan aman, tetapi karena terlalu banyak manusia bergerak bersamaan. Abdullah mengusap wajahnya perlahan. Pikirannya masih berjalan: • jalur Najd, • sumur-sumur, • penggembala, • keluarga Mekah, • Basrah, • dan kemungkinan pengawasan terhadap Bani Hasyim. “Aku harus mengetahui keadaan Kufah juga,” gumamnya pelan. Harits langsung mengangkat wajah. “Karena pendukung Ali?” Abdullah mengangguk kecil.
“Kalau jalur Irak mulai dipenuhi keluarga pendukung Ahlul Bait...” suaranya rendah, “maka keadaan di sana bisa berubah sangat cepat.” Maryam memandang suaminya hati-hati. Ia tahu Abdullah tidak sedang memikirkan perdagangan lagi sekarang. Ia sedang memikirkan: politik, keselamatan, dan masa depan keluarga mereka. “Syekh Umar mungkin mengetahui lebih banyak,” katanya pelan. “Ya.” Abdullah menatap lantai tanah beberapa saat sebelum melanjutkan: “Beliau pasti sudah mendengar pergerakan keluarga-keluarga dari Mekah.” Matanya perlahan mengeras. “Dan mungkin juga kabar dari Kufah.”
Di luar rumah, angin malam kembali bergerak lebih dingin. Dari kejauhan terdengar suara rantai unta beradu pelan disusul langkah kaki yang segera menghilang. Madinah masih terjaga. Namun kini kota itu terasa seperti manusia yang tidur dengan satu mata terbuka. Maryam bangkit perlahan lalu mengambil lampu minyak kecil lain dari rak dekat dinding. “Minyak hampir habis,” katanya lirih. Kalimat sederhana itu mendadak terasa aneh di telinga Abdullah. Karena malam ini, bahkan hal kecil seperti minyak lampu mulai terdengar seperti bagian dari perhitungan perjalanan. Berapa minyak yang dapat dibawa. Berapa kantung air. Berapa karung gandum. Berapa hewan yang harus dipotong untuk dibuat dendeng. Dan berapa banyak hidup yang harus mereka tinggalkan di belakang.
Fatimah kecil bergerak pelan dalam tidurnya lalu menggumam samar memanggil ibunya. Maryam segera mendekat dan mengusap rambut anak itu lembut sampai kembali tenang. Abdullah memperhatikan pemandangan itu tanpa bicara. Lalu perlahan ia berkata: “Besok...” suaranya sangat rendah, “aku ingin mulai melihat siapa saja yang benar-benar masih dapat dipercaya di sekitar kita.” Dan untuk pertama kalinya malam itu, kalimat Abdullah tidak lagi terdengar seperti kekhawatiran. Ia terdengar seperti awal sebuah langkah. Setelah Abdullah mengucapkan kalimat itu, tidak seorang pun langsung berbicara lagi. Mereka semua memahami: ketika seorang lelaki seperti Abdullah mulai menghitung siapa yang dapat dipercaya, berarti keadaan sudah bergerak jauh melampaui kegelisahan biasa.
Harits akhirnya berdiri perlahan. Tubuh besarnya membuat bayangan panjang bergerak di dinding rumah ketika ia mengambil tongkat pendek penggembalanya dekat pintu belakang. “Aku akan mulai memperhatikan jalur-jalur selatan lebih dekat,” katanya rendah. Abdullah mengangkat wajah. “Jangan terlalu terlihat.” Harits tersenyum tipis kecil. “Penggembala selalu terlihat biasa di mata kota.” Dan itulah kelebihan manusia-manusia padang: mereka bergerak di antara jalur, sumur, dan kafilah, tanpa terlalu diperhatikan oleh para penguasa kota. Harits melanjutkan: “Aku juga akan bicara kepada Sa’id lagi.” Sorot matanya sedikit menyempit. “Kalau keluarga Mekah mulai memindahkan logam ke timur, maka pasti ada jalur tertentu yang mulai dianggap aman.” Abdullah mengangguk kecil. Itu penting. Karena dalam perjalanan seperti itu, jalur lebih berharga daripada emas.
Yahya yang sejak tadi diam akhirnya bertanya pelan: “Apakah penguasa benar-benar akan mengejar keluarga-keluarga yang pergi?” Ruangan kembali tenang. Abdullah memandang pemuda itu cukup lama sebelum menjawab: “Tidak semua.” “Lalu siapa?” Abdullah bersandar perlahan ke tiang kayu rumah. “Mereka yang dianggap berbahaya.” Suaranya rendah dan berat. “Mereka yang punya pengaruh.” Matanya bergerak pelan ke arah lampu minyak. “Dan mereka yang tetap menjaga hubungan dengan keluarga Ali.” Rafi’ menelan ludah kecil. Kini semuanya semakin jelas. Bani Hasyim bukan sekadar keluarga terpandang. Mereka adalah: • simbol, • hubungan sejarah, • dan pusat loyalitas yang diperhatikan banyak mata.
Maryam kembali duduk perlahan dekat Abdullah. “Kalau begitu...” katanya sangat pelan, “semakin cepat keadaan memburuk, semakin sulit kita bergerak.” Abdullah tidak menjawab langsung. Karena itulah yang paling ditakutinya. Mereka masih memiliki: • rumah, • ternak, • pekerja, • logam, • dan jalur perdagangan. Tetapi semua itu bisa berubah menjadi beban bila keadaan pecah terlalu cepat.
Harits membuka pintu belakang sedikit. Udara malam yang lebih dingin langsung masuk ke dalam rumah membawa aroma jerami dan hewan ternak dari kandang belakang. “Aku akan tidur dekat kandang malam ini,” katanya. Maryam langsung mengangguk kecil penuh syukur. Kehadiran Harits selalu membuat rumah terasa lebih aman. Sebelum keluar, lelaki Badui itu berhenti sebentar lalu berkata tanpa menoleh: “Tuan Abdullah...” Abdullah mengangkat wajah. “Kalau benar perjalanan itu terjadi...” Harits memandang gelap halaman belakang, “maka lebih baik kita mulai bersiap sebelum manusia lain panik.” Lalu ia keluar perlahan ke halaman belakang. Suara langkah sandal kasarnya terdengar makin menjauh menuju kandang, disusul bunyi pagar kayu kecil dibuka pelan. Rumah kembali sunyi.
Kini hanya tersisa: • Abdullah, • Maryam, • Rafi’, • Yahya, • Fatimah yang tertidur, • dan Iskandar yang masih bersandar lelap di bahu ayahnya. Lampu minyak kecil terus mengecil. Dan malam di Madinah terasa semakin panjang. Untuk beberapa saat setelah Harits keluar menuju kandang, tidak ada seorang pun berbicara. Suara malam perlahan mengambil alih rumah: • dengusan unta dari belakang, • rantai kecil yang sesekali beradu, • dan desir angin yang bergerak melewati lorong-lorong Madinah. Abdullah masih duduk diam dengan Iskandar tertidur di bahunya. Lampu minyak kecil kini tinggal separuh nyala, membuat wajahnya tampak lebih tua dan letih dibanding biasanya. Rafi’ memperhatikan lelaki itu diam-diam. Selama ini Abdullah selalu terlihat: • tenang, • kokoh, • dan sulit diguncang. Namun malam ini, untuk pertama kalinya, Rafi’ melihat beratnya menjadi kepala keluarga besar pada zaman penuh fitnah. Bukan hanya memikirkan dirinya sendiri. Tetapi: • anak-anak, • istri, • pekerja, • ternak, • harta, • dan keselamatan manusia-manusia yang bergantung kepadanya.
Maryam akhirnya memecah kesunyian. “Rafi’... Yahya...” suaranya lembut namun lelah, “kalian sebaiknya beristirahat sebelum fajar.” Kedua pemuda itu saling berpandangan kecil. Mereka sebenarnya masih ingin tinggal lebih lama. Namun mereka juga tahu: malam sudah terlalu jauh. “Kami bisa membantu di kandang sebelum tidur,” ujar Rafi’ cepat. Abdullah menggeleng pelan. “Harits sudah cukup.” Ia memandang mereka berdua. “Besok kalian masih harus bergerak.” Yahya mengangguk kecil. Tetapi sebelum bangkit, ia bertanya pelan: “Apakah kita akan mulai memberitahu keluarga lain?” Pertanyaan itu membuat Abdullah kembali diam. Karena itulah persoalan berikutnya. Semakin banyak manusia tahu, semakin besar bahaya. Tetapi semakin lama menunggu, semakin sedikit waktu untuk bersiap. “Belum semuanya,” jawab Abdullah akhirnya. Ia memandang lantai tanah beberapa saat sebelum melanjutkan: “Pertama kita harus tahu siapa yang benar-benar siap menjaga mulut mereka.” Rafi’ dan Yahya langsung memahami maksudnya. Pada masa seperti ini, satu manusia yang salah bicara di pasar dapat menghancurkan seluruh persiapan.
Maryam perlahan mengambil Iskandar dari bahu Abdullah. Anak lelaki itu hanya bergerak sedikit dalam tidurnya sebelum kembali terlelap ketika ibunya membaringkannya dekat Fatimah. Abdullah memperhatikan kedua anaknya cukup lama. Dua anak kecil yang masih tidur tenang, sementara dunia di sekitar mereka perlahan berubah. “Aku akan menemui Syekh Umar setelah subuh,” katanya akhirnya. Rafi’ langsung mengangkat wajah. “Di rumah beliau?” “Ya.” Abdullah menarik napas panjang. “Aku ingin tahu: • siapa saja yang sudah mulai bergerak, • bagaimana keadaan Kufah, • dan apakah Basrah benar-benar masih memungkinkan.” Yahya menelan ludah kecil. Kini semua itu terdengar semakin nyata: bukan lagi pembicaraan malam, tetapi langkah-langkah yang mulai disusun satu demi satu.
Di luar rumah, suara langkah Harits terdengar kembali sebentar dari arah kandang, lalu menghilang lagi. Maryam menoleh ke arah pintu belakang sebelum berkata lirih: “Kalau Harits sudah mulai berjaga malam di kandang...” matanya kembali kepada Abdullah, “berarti rumah ini benar-benar mulai bersiap menghadapi sesuatu.” Abdullah tidak membantah. Karena dalam hatinya sendiri, ia mulai merasa: malam ini mungkin adalah awal dari berakhirnya kehidupan lama mereka di Madinah. Rafi’ dan Yahya akhirnya bangkit perlahan dari tempat duduk mereka. Keduanya tampak lebih tenang dibanding ketika pertama datang malam itu, tetapi justru karena itulah wajah mereka terlihat lebih dewasa sekarang. Mereka datang sebagai pemuda yang ingin mengetahui kabar. Namun malam telah membuat mereka ikut memikul sebagian beban orang-orang dewasa. Maryam berjalan menuju rak dekat pintu lalu mengambil dua kain luar yang lebih tebal. “Udara mulai dingin menjelang fajar,” katanya lembut sambil menyerahkan kain itu kepada mereka. “Terima kasih,” ujar Rafi’ hormat. Yahya ikut menunduk kecil.
Abdullah berdiri perlahan sekarang. Tubuhnya tampak lelah, tetapi sorot matanya tidak lagi seburam beberapa jam sebelumnya. Karena malam ini, setidaknya, kabut dalam pikirannya mulai memiliki bentuk. Ia mulai melihat: • bahaya, • jalur, • dan kemungkinan jalan keluar. “Kalian pulang lewat lorong barat,” katanya kepada Rafi’ dan Yahya. “Jangan melewati pasar malam.” Harits rupanya sudah menyampaikan banyak kabar lebih dari yang mereka sadari. Rafi’ mengangguk. “Karena pengawasan?” “Karena terlalu banyak manusia asing akhir-akhir ini,” jawab Abdullah rendah. Yahya mengerutkan dahi sedikit. “Musafir?” Abdullah memandangnya beberapa saat. “Sebagian.” Ia berhenti sebentar. “Sebagian lagi manusia yang mendengarkan terlalu banyak.” Kalimat itu membuat udara rumah kembali terasa dingin.
Pada zaman seperti itu, bahkan pasar dapat berubah menjadi tempat manusia menjual: • kabar, • nama, • dan kesetiaan. Maryam membuka pintu depan perlahan. Udara malam langsung menyentuh wajah mereka. Lorong Madinah tampak panjang dan redup di bawah cahaya beberapa lampu minyak yang tergantung di dinding rumah-rumah. Sebagian besar pintu sudah tertutup rapat sekarang. Namun di kejauhan masih terdengar: • langkah unta, • suara manusia berbicara pelan, • dan sesekali bunyi kayu roda kecil dari gerobak malam. Madinah belum benar-benar tidur.
Rafi’ berhenti sejenak di depan pintu sebelum berkata pelan kepada Abdullah: “Kalau engkau bertemu Syekh Umar besok...” ia tampak ragu sebentar, “dan bila memang ada persiapan yang harus dilakukan...” matanya mengeras sedikit, “aku ingin ikut membantu.” Yahya langsung mengangguk cepat. “Aku juga.” Abdullah memandang kedua pemuda itu cukup lama. Ia melihat: • keberanian, • ketulusan, • dan juga ketidaksiapan masa muda yang belum sepenuhnya memahami betapa berat jalan di depan mereka. Namun ia juga tahu: zaman seperti ini memaksa manusia dewasa lebih cepat. “Kita lihat besok,” jawabnya tenang. Rafi’ tampak ingin berkata lagi, tetapi akhirnya hanya menunduk hormat. “Semoga Allah menjaga rumah ini malam ini,” katanya pelan. Maryam menjawab lembut: “Dan menjaga langkah kalian menuju rumah.” Kedua pemuda itu lalu melangkah keluar ke lorong malam Madinah.
Suara sandal mereka perlahan menjauh, menyatu dengan dingin malam dan desir angin yang bergerak di antara rumah-rumah kota Nabi. Abdullah berdiri cukup lama di depan pintu memperhatikan mereka pergi. Lalu perlahan ia berkata sangat lirih, lebih seperti bicara kepada dirinya sendiri: “Mereka masih terlalu muda untuk semua ini...” Maryam mendengar lirih suara suaminya itu. Ia berdiri di samping pintu sambil memandangi bayangan Rafi’ dan Yahya yang semakin jauh di lorong Madinah. “Kita semua merasa terlalu muda ketika zaman berubah,” katanya pelan. Abdullah tidak segera menjawab. Angin malam bergerak melewati lorong membawa udara dingin dan bau samar debu gurun dari luar kota. Di kejauhan seekor anjing kembali menggonggong singkat sebelum semuanya tenggelam lagi dalam sunyi. Abdullah akhirnya menutup pintu rumah perlahan. Bunyi kayu pintu dan palang yang dipasang malam itu terdengar lebih berat dibanding biasanya. Seolah rumah itu sedang mengunci diri dari dunia luar.
Maryam berjalan kembali ke ruang tengah lalu mulai membereskan mangkuk-mangkuk air yang sejak tadi dibiarkan di dekat lampu minyak. Gerakannya tetap tenang, tetapi Abdullah mengenal istrinya terlalu baik untuk tidak melihat kelelahan yang mulai muncul di wajah perempuan itu. “Engkau belum tidur sejak maghrib,” katanya pelan. Maryam tersenyum kecil tanpa mengangkat wajah. “Begitu pula engkau.” Abdullah terkekeh lirih sebentar, lalu duduk perlahan dekat kedua anaknya yang tertidur. Fatimah kini tidur sambil memeluk lengan kakaknya. Sedangkan Iskandar tampak kelelahan setelah sepanjang malam berusaha tetap terjaga mendengarkan pembicaraan orang dewasa. Maryam akhirnya duduk di dekat Abdullah. Untuk beberapa saat mereka hanya diam memandangi anak-anak mereka. Suasana rumah perlahan berubah lebih tenang setelah Rafi’ dan Yahya pergi. Namun justru dalam ketenangan itulah, beban malam terasa semakin nyata. “Apakah engkau benar-benar percaya Basrah bisa menjadi tempat aman?” tanya Maryam akhirnya lirih. Abdullah mengusap wajahnya perlahan. “Aku tidak tahu apakah aman.” Ia memandang lampu minyak yang hampir padam. “Tetapi kota pelabuhan selalu memberi lebih banyak jalan daripada kota gurun.” Maryam mengangguk kecil. Ia memahami maksud itu.
Di Madinah, bila jalur darat tertutup, manusia terperangkap. Sedangkan di kota pelabuhan: laut membuka kemungkinan lain. “Dan Samir mengenal jalur itu,” ujar Maryam. “Ya.” Abdullah bersandar perlahan ke tiang kayu rumah. “Aku mulai mengerti mengapa Syekh Umar terus memikirkan timur.” Suaranya sangat rendah sekarang. “Bukan karena beliau ingin meninggalkan Madinah...” matanya bergerak ke arah luar rumah, “tetapi karena beliau mulai melihat apa yang akan terjadi pada Hijaz.” Angin malam kembali menyentuh atap rumah lembut. Dari arah belakang terdengar suara Harits batuk kecil dekat kandang, lalu suara unta bergerak pelan sesudahnya. Maryam memejamkan mata sesaat mendengar suara-suara akrab rumah mereka. Kandang. Ternak. Pekerja. Lorong Madinah. Rumah ini. Semua terasa begitu dekat dan nyata.
Dan justru karena itu, pikiran meninggalkannya terasa semakin menyakitkan. “Kalau suatu hari kita pergi...” suaranya hampir seperti bisikan, “aku takut anak-anak melupakan Madinah.” Abdullah menoleh kepadanya perlahan. Lalu untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum kecil dengan hangat yang sangat samar. “Tidak.” Maryam memandangnya diam. “Anak-anak Bani Hasyim boleh tumbuh jauh dari kota Nabi...” suara Abdullah tenang dan pelan, “tetapi mereka tidak boleh tumbuh jauh dari ingatan tentangnya.” Maryam memandang Abdullah lama setelah lelaki itu selesai berbicara. Lampu minyak kecil di ruang utama bergerak pelan tertiup angin malam, membuat cahaya hangat menari samar di wajah mereka. Untuk pertama kalinya sejak percakapan malam itu dimulai, ada sedikit ketenangan yang masuk ke dalam dada Maryam. Kecil. Sangat kecil. Tetapi cukup untuk membuat napasnya terasa lebih ringan. Karena ia tahu: Abdullah tidak sedang berbicara tentang kota semata. Ia sedang berbicara tentang: • akar, • kehormatan, • dan warisan keluarga mereka. Tentang bagaimana anak-anak Bani Hasyim harus tetap mengenal: • Madinah, • Rasulullah, • dan siapa diri mereka, bahkan bila suatu hari tumbuh jauh dari tanah Hijaz.
Maryam akhirnya tersenyum tipis kecil. Senyum yang lelah, namun hangat. “Iskandar akan terus bertanya tentang kota ini,” bisiknya lirih sambil memandang putra mereka yang tertidur. “Ia bahkan tidak pernah berhenti bertanya tentang sumur-sumur tua dan masjid.” Abdullah terkekeh kecil pelan. “Karena darah Bani Hasyim terlalu dekat dengan kisah-kisah.” Maryam menunduk kecil sambil tersenyum samar. Lalu pandangannya berpindah kepada Fatimah yang tidur memeluk kain kecil lusuhnya. “Fatimah berbeda,” katanya pelan. “Ia lebih mencintai rumah daripada kota.” Abdullah memandang putri kecilnya cukup lama. Anak itu tidur tenang, sama sekali belum mengetahui bahwa dunia di luar rumah mereka perlahan berubah. “Mungkin itu sebabnya perempuan lebih kuat menghadapi kehilangan,” ujar Abdullah rendah. Maryam mengangkat wajah sedikit. “Mengapa?” Abdullah bersandar perlahan pada tiang kayu rumah. “Karena bagi lelaki...” ia berhenti sejenak mencari kata-kata, “tempat sering menjadi bagian dari harga diri mereka.” Matanya bergerak ke arah: • kandang, • rak kain, • peti kayu, • dan dinding rumah mereka. “Sedangkan perempuan...” suaranya semakin lirih, “membawa rumah di dalam hati mereka.” Maryam diam. Kalimat itu masuk perlahan ke dalam dadanya.
Di luar rumah, desir angin malam kembali bergerak melewati lorong-lorong Madinah. Dari kejauhan terdengar suara unta mendengus pelan lalu kembali sunyi. Malam semakin larut. Namun untuk beberapa saat, rumah kecil keluarga Abdullah terasa kembali seperti rumah biasa: • tanpa pembicaraan jalur timur, • tanpa pengawasan, • tanpa ketakutan. Hanya: seorang suami, seorang istri, dan dua anak mereka yang tertidur damai di bawah cahaya lampu minyak kecil Madinah. Maryam perlahan menundukkan wajah. Jemarinya bergerak lembut merapikan kain kecil yang menutupi tubuh Fatimah agar anak itu tidak kedinginan. “Aku berharap malam seperti ini tidak cepat hilang,” bisiknya lirih. Abdullah memahami maksud itu tanpa perlu penjelasan panjang. Malam sederhana: • anak-anak tertidur, • rumah tenang, • kandang masih penuh ternak, • dan Madinah masih terasa seperti rumah. Hal-hal kecil yang selama ini terasa biasa, kini mulai tampak begitu berharga.
Abdullah memandang langit-langit rumah beberapa saat. Atap dari batang kurma dan anyaman itu sudah menemaninya bertahun-tahun: • musim panas, • musim dingin, • kelahiran anak-anak, • dan malam-malam panjang bersama Maryam. Rumah itu bukan rumah besar para pembesar Quraisy. Namun cukup hangat untuk menjadi tempat pulang. “Aku dulu berpikir...” suara Abdullah rendah dan tenang, “aku akan menua di kota ini.” Maryam mengangkat wajah perlahan. Abdullah tersenyum kecil, tetapi ada kesedihan samar di baliknya. “Mengurus kandang...” lanjutnya pelan. “Melihat Iskandar tumbuh dewasa.” Matanya bergerak kepada Fatimah. “Lalu suatu hari menikahkan putri kecil kita di Madinah.” Maryam memejamkan mata sesaat. Karena bayangan itu terasa begitu dekat, begitu sederhana, dan justru karena itu terasa menyakitkan.
Di luar rumah terdengar suara rantai kecil kandang bergesekan pelan disusul langkah Harits yang bergerak memeriksa halaman belakang. Suara-suara biasa. Tetapi malam ini, semuanya terdengar seperti sesuatu yang mungkin suatu hari hanya tinggal kenangan. Maryam akhirnya bertanya sangat pelan: “Apakah engkau menyesal tetap tinggal di Madinah setelah semuanya mulai berubah?” Abdullah langsung menggeleng kecil. “Tidak.” Jawabannya datang tanpa ragu. Maryam memandangnya diam. “Ini kota Rasulullah.” Suara Abdullah tenang namun penuh keyakinan. “Bila suatu hari aku benar-benar harus meninggalkannya...” ia menarik napas panjang perlahan, “aku ingin pergi setelah berusaha bertahan selama aku mampu.” Kesunyian turun lagi sesudah itu. Namun kali ini kesunyian mereka terasa lebih hangat. Karena di tengah segala ketakutan dan ketidakpastian, Maryam kembali melihat sesuatu yang selama ini membuatnya tetap kuat mendampingi Abdullah: • keteguhan, • kesetiaan, • dan cinta lelaki itu kepada keluarganya serta kepada kota Nabi.
Lampu minyak kecil mulai semakin pendek nyalanya. Maryam memperhatikan itu lalu berkata lirih: “Minyaknya hampir habis.” Abdullah tersenyum kecil. “Seperti malam kita.” Maryam terkekeh lirih sangat pelan agar tidak membangunkan anak-anak. Dan untuk pertama kalinya sejak pembicaraan tentang Basrah dimulai malam itu, suara tawa kecil kembali hidup di dalam rumah mereka. Tawa kecil itu segera tenggelam kembali ke dalam sunyi malam. Namun kehangatannya masih tertinggal di ruangan sederhana itu, seperti sisa cahaya lampu minyak yang belum sepenuhnya padam. Maryam memandang Abdullah beberapa saat sambil menggeleng pelan. “Bahkan dalam keadaan seperti ini engkau masih sempat bercanda.” Abdullah tersenyum tipis. “Kalau tidak...” ia melirik anak-anak mereka, “rumah ini akan berubah seperti ruang pengadilan.” Maryam kembali tersenyum kecil. Benar juga.
Sejak malam semakin larut, rumah mereka dipenuhi: • pembicaraan jalur, • pengawasan, • perpindahan emas, • dan kemungkinan meninggalkan Madinah. Seolah seluruh dunia luar perlahan masuk dan memenuhi ruang keluarga mereka. Padahal biasanya, malam-malam di rumah Abdullah jauh lebih sederhana. Kadang Iskandar memaksa ayahnya bercerita tentang jalur dagang lama. Kadang Fatimah tertidur sambil mendengarkan Maryam melantunkan syair kecil Hijaz. Dan kadang Abdullah sendiri tertidur lebih awal karena kelelahan setelah seharian di kandang. Malam ini terasa berbeda. Terlalu panjang. Terlalu berat. Dan terlalu penuh pikiran. Maryam akhirnya berdiri perlahan lalu mengambil kendi kecil dekat rak air. Ia menuangkan sedikit air ke dalam mangkuk tanah untuk Abdullah. “Minumlah.” Abdullah menerimanya sambil mengangguk kecil.
Air itu dingin dan segar, membawa sedikit rasa tenang di tenggorokannya yang sejak tadi kering oleh terlalu banyak berpikir. “Besok akan panjang,” ujar Maryam pelan. Abdullah memahami maksudnya. Pertemuan dengan Syekh Umar. Pembicaraan tentang Kufah. Tentang Basrah. Tentang keluarga-keluarga yang mulai bergerak. Dan mungkin: tentang keputusan-keputusan yang selama ini belum berani benar-benar mereka sentuh. “Aku ingin pergi sebelum kota ramai,” katanya rendah. Maryam mengangguk kecil. “Aku akan menyiapkan roti dan kurma sebelum subuh.” Abdullah memandang istrinya cukup lama. Ia sadar: bahkan tanpa diminta, Maryam sudah mulai menyesuaikan hidup mereka dengan kemungkinan-kemungkinan baru. Persiapan kecil. Kebiasaan kecil. Namun semuanya perlahan bergerak ke arah yang sama.
Di luar rumah, langkah Harits kembali terdengar pelan melewati halaman belakang. Lalu suara unta mendengus berat disusul bunyi ember air kecil digeser di dekat kandang. Harits rupanya benar-benar berjaga malam itu. Abdullah menundukkan wajah perlahan. Ia mulai memahami sesuatu yang pahit: bahkan rumah mereka sendiri kini tidak lagi terasa sepenuhnya aman tanpa penjagaan. Lampu minyak kecil akhirnya bergerak makin pendek. Maryam mendekat lalu memperkecil sumbunya agar api bertahan sampai menjelang subuh. Ruangan segera menjadi lebih redup. Dan dalam cahaya yang hampir padam itu, Abdullah tiba-tiba berkata sangat pelan: “Aku berharap anak-anak tertidur dengan mimpi yang indah malam ini.” Maryam menoleh kepadanya perlahan. Karena ia tahu: kalimat itu sebenarnya bukan tentang mimpi anak-anak mereka. Tetapi tentang harapan kecil seorang ayah, agar dunia tidak berubah terlalu cepat sebelum anak-anaknya siap menghadapinya. Maryam tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang kedua anak mereka cukup lama dalam cahaya lampu minyak yang semakin redup.
Fatimah kini tidur lebih tenang setelah tadi sempat bergerak kecil dalam tidurnya. Sedangkan Iskandar masih memeluk kain tipisnya sambil menghadap ke arah ayahnya, seolah bahkan dalam tidur pun anak itu merasa aman bila dekat Abdullah. “Anak-anak selalu bermimpi indah...” bisik Maryam akhirnya, “selama mereka masih merasa rumahnya utuh.” Kalimat itu masuk perlahan ke dada Abdullah. Rumahnya utuh. Betapa sederhana kalimat itu. Namun malam ini terasa begitu berat. Karena kini Abdullah mulai memahami: rumah bukan sekadar: • dinding, • atap, • atau kandang ternak. Rumah adalah: • rasa aman, • suara-suara yang akrab, • dan keyakinan bahwa esok hari masih dapat dijalani dengan tenang. Dan semua itu perlahan mulai retak di banyak rumah Madinah.
Di luar, angin malam bergerak lebih dingin sekarang. Pelepah kurma di halaman belakang bergesekan pelan satu sama lain, menghasilkan suara lembut yang panjang. Abdullah memandang lampu minyak beberapa saat sebelum berkata lirih: “Aku tidak takut kehilangan harta.” Maryam mengangkat wajah perlahan. “Aku juga tidak takut memulai lagi dari awal.” Suara Abdullah tetap rendah dan tenang. “Tetapi aku takut melihat anak-anak tumbuh dalam zaman yang membuat manusia saling mencurigai.” Maryam diam. Karena ia juga merasakan itu. Madinah yang dahulu terbuka perlahan berubah: • percakapan makin pelan, • pintu lebih cepat tertutup, • dan manusia mulai berhati-hati menyebut nama orang yang mereka hormati. Bahkan keluarga-keluarga mulai memindahkan emas mereka diam-diam seperti pencuri.
Padahal dahulu, Madinah adalah kota tempat manusia merasa aman menyimpan kepercayaan mereka. Maryam akhirnya berkata sangat pelan: “Apakah menurutmu keadaan akan benar-benar seburuk itu?” Abdullah tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang perlahan, lalu memandang ke arah pintu rumah yang kini tertutup rapat. “Aku tidak tahu.” Jawaban itu jujur. Dan justru karena itu terasa lebih berat. “Tetapi ketika keluarga-keluarga besar mulai memindahkan logam mereka secara diam-diam...” lanjutnya lirih, “biasanya mereka sedang melihat sesuatu yang belum dilihat orang lain.” Maryam menundukkan wajah pelan. Keluarga Mekah. Jalur timur. Pengawasan. Perjalanan malam. Dan pembicaraan tentang Basrah yang terus kembali sejak sore tadi.
Semua itu mulai terasa seperti arus besar yang perlahan menarik hidup mereka menuju arah yang belum mereka kenal. Lampu minyak kecil akhirnya bergerak sangat pendek. Maryam mendekat lalu menambahkan sedikit minyak terakhir ke dalamnya. Api kecil itu hidup sedikit lebih terang sekarang. Abdullah memperhatikan gerakan istrinya diam-diam. Lalu dengan suara sangat pelan ia berkata: “Terima kasih masih tetap tenang malam ini.” Maryam tersenyum samar tanpa memandangnya. “Kalau aku ikut panik...” bisiknya lirih, “siapa yang akan menjaga rumah ini tetap terasa seperti rumah?” Kalimat Maryam itu membuat Abdullah terdiam cukup lama.
Lampu minyak kecil kembali bergerak tenang di antara mereka, membiaskan cahaya lembut pada dinding tanah rumah yang sederhana namun hangat itu. “Siapa yang akan menjaga rumah ini tetap terasa seperti rumah...” Abdullah mengulang kalimat itu di dalam hatinya perlahan. Dan semakin ia memikirkannya, semakin ia sadar: selama ini Maryamlah yang menjaga semua itu. Bukan dengan pedang. Bukan dengan perdagangan. Tetapi dengan: • ketenangan, • kesabaran, • dan kemampuan membuat anak-anak tetap merasa aman bahkan ketika dunia luar mulai berubah. Abdullah tersenyum kecil penuh rasa syukur. “Kalau begitu...” katanya pelan, “aku harus memastikan rumah ini tidak kehilangan penjaganya.” Maryam meliriknya sebentar lalu terkekeh lirih kecil. “Aku bukan penjaga kandang seperti Harits.” “Tidak,” jawab Abdullah tenang. “Harits menjaga ternak.” Matanya lembut memandang istrinya. “Sedangkan engkau menjaga jiwa rumah ini.” Maryam langsung menundukkan wajah kecil menahan senyum malunya.
Malam yang panjang dan berat itu akhirnya memberi mereka sedikit ruang untuk bernapas. Di luar rumah, suara malam Madinah terus berjalan perlahan: • angin di pelepah kurma, • langkah samar Harits, • dan dengusan unta yang sesekali terdengar dari kandang belakang. Abdullah memejamkan mata sebentar menikmati semua suara itu. Suara-suara yang selama ini terasa biasa. Namun kini mulai terdengar seperti sesuatu yang harus diingat baik-baik. “Aku baru sadar...” katanya perlahan sambil membuka mata kembali, “selama ini aku terlalu sibuk memikirkan pasar dan ternak.” Maryam menatapnya diam. “Aku selalu berpikir tugasku hanya memastikan keluarga ini hidup cukup.” Abdullah tersenyum kecil pahit. “Tetapi ternyata menjaga keluarga tetap tenang jauh lebih sulit.” Maryam menggeleng pelan. “Tidak.” Suaranya lembut. “Engkau sudah melakukan keduanya.” Abdullah memandang istrinya cukup lama. Mungkin karena malam terlalu sunyi. Mungkin karena ketakutan membuat manusia lebih jujur. Namun malam itu, untuk pertama kalinya sejak sore, beban di dada Abdullah terasa sedikit berkurang.
Di sudut ruangan, Fatimah kecil tiba-tiba bergerak dalam tidurnya lalu menggumam pelan: “Ayah... jangan pergi jauh...” Maryam langsung menoleh cepat. Abdullah membeku sesaat. Anak kecil itu masih tertidur, matanya tetap terpejam, namun jemarinya menggenggam kain kecilnya lebih erat sekarang. Ruangan mendadak kembali sunyi. Sunyi yang kali ini terasa menusuk jauh lebih dalam daripada semua pembicaraan tentang: • jalur timur, • pengawasan, • ataupun perpindahan emas keluarga-keluarga Mekah. Karena kadang, satu bisikan kecil anak yang tertidur mampu mengguncang hati seorang ayah lebih kuat daripada seluruh kabar buruk dunia luar.
Abdullah perlahan bergerak mendekati Fatimah. Gerakannya sangat hati-hati agar tidak membangunkan anak kecil itu. Ia lalu duduk di samping putrinya dan mengusap rambut halus Fatimah lembut dengan jemari kasarnya yang terbiasa memegang tali unta dan pelana. “Ayah di sini,” bisiknya sangat pelan. Fatimah tidak membuka mata. Namun napasnya perlahan kembali tenang, dan genggaman kecil pada kain lusuhnya mulai mengendur sedikit. Maryam memperhatikan pemandangan itu diam-diam. Dadanya terasa hangat sekaligus nyeri. Karena malam ini, semua ketakutan mereka perlahan berubah bentuk: bukan lagi tentang perjalanan, atau Basrah, atau pengawasan. Tetapi tentang: bagaimana menjaga hati anak-anak mereka tetap utuh ketika dunia mulai berubah.
Abdullah masih duduk di dekat Fatimah beberapa saat. Lalu tanpa sadar matanya bergerak memandangi rumah kecil itu perlahan: • rak kain, • kendi air, • lampu minyak, • pelana tua di sudut ruangan, • dan bayangan tiang kayu yang membelah ruang utama. Begitu sederhana. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat semuanya terasa sangat berat untuk ditinggalkan. “Aku mulai mengerti sesuatu malam ini,” katanya lirih tanpa memandang Maryam. Maryam menunggu pelan. “Manusia mungkin mampu meninggalkan kota...” suara Abdullah rendah dan berat, “tetapi mereka tidak pernah benar-benar siap meninggalkan kehidupan kecil yang mereka bangun di dalamnya.” Maryam menundukkan wajah perlahan. Kalimat itu terasa begitu benar. Karena yang paling sulit ditinggalkan bukan: • pasar, • ataupun jalur perdagangan. Melainkan: • suara anak-anak di rumah, • rutinitas pagi, • bau roti, • langkah kaki di halaman, • dan semua hal kecil yang selama ini dianggap akan selalu ada.
Di luar rumah, angin malam mulai bergerak lebih pelan sekarang. Mungkin karena malam telah mendekati akhir. Atau mungkin karena Madinah sendiri mulai tenggelam lebih dalam ke dalam tidurnya. Maryam akhirnya berkata sangat lembut: “Kalau suatu hari kita benar-benar pergi...” matanya masih tertuju kepada Fatimah, “aku ingin anak-anak membawa sesuatu dari rumah ini.” Abdullah mengangkat wajah perlahan. Maryam tersenyum samar kecil. “Bukan logam.” Ia menggeleng pelan. “Bukan kain mahal.” Tangannya menyentuh tikar tempat anak-anak tidur. “Sesuatu yang membuat mereka tetap merasa punya rumah.” Abdullah terdiam cukup lama. Karena tiba-tiba ia sadar: bahkan dalam pembicaraan tentang hijrah, Maryam tetap memikirkan hati anak-anak mereka lebih dahulu dibanding harta apa pun. Dan mungkin memang seperti itulah perempuan menjaga keluarga tetap hidup: bukan hanya tubuhnya, tetapi juga kenangannya.
Lampu minyak kecil kembali bergerak pelan. Cahayanya kini sangat redup, namun masih cukup untuk menerangi wajah-wajah tenang anak-anak mereka yang tertidur di tengah malam Madinah. Abdullah perlahan mengangguk. “Kalau begitu...” suaranya rendah dan tenang, “Fatimah boleh membawa kain kecil itu.” Maryam menoleh lalu tersenyum samar melihat kain lusuh yang sejak tadi dipeluk putri mereka. “Yang itu?” Abdullah mengangguk kecil. “Ia tidak pernah tidur tanpa itu.” Maryam terkekeh lirih pelan. “Karena dulu engkau sendiri yang memberikannya saat ia sakit demam.” Abdullah tampak sedikit terkejut. “Aku bahkan hampir lupa.” “Perempuan jarang lupa hal seperti itu,” jawab Maryam lembut. Kesunyian hangat kembali turun di antara mereka.
Malam yang sejak tadi dipenuhi pembicaraan: • jalur timur, • pengawasan, • dan perpindahan emas, perlahan berubah menjadi malam tentang keluarga kecil mereka sendiri. Tentang: • anak-anak, • rumah, • dan kenangan-kenangan sederhana yang ternyata jauh lebih berharga daripada banyak logam. Abdullah lalu memandang Iskandar yang tidur dengan satu tangan masih menggenggam ujung kain ayahnya. “Sedangkan Iskandar...” ia tersenyum tipis kecil, “mungkin akan membawa separuh kandang kalau diizinkan.” Maryam menahan tawa kecil agar tidak membangunkan anak-anak. “Dan mungkin beberapa kambing juga.” “Beserta unta tuanya.” Keduanya akhirnya tertawa kecil pelan. Tawa yang sederhana. Namun terasa sangat manusiawi di tengah malam panjang penuh ketakutan itu.
Di luar rumah, Harits rupanya mendengar samar suara mereka. Karena sesaat kemudian terdengar suara lelaki Badui itu berdehem kecil dari arah kandang, seolah lega mendengar rumah masih memiliki sedikit kehidupan malam ini. Abdullah menghela napas perlahan. “Aku berharap Harits tetap bersama kita bila semua ini benar-benar terjadi.” Maryam memandangnya sebentar. “Ia akan ikut.” Jawabannya datang tanpa ragu. “Mengapa engkau begitu yakin?” Maryam menatap ke arah pintu belakang rumah. “Karena sebagian manusia tidak lagi tinggal karena upah.” Suaranya sangat pelan. “Mereka tinggal karena merasa sudah menjadi bagian keluarga.” Abdullah diam cukup lama setelah mendengar itu. Lalu perlahan ia menundukkan kepala kecil penuh rasa syukur.
Ia sadar: selama bertahun-tahun, tanpa benar-benar disadari, rumah mereka telah tumbuh lebih besar dari sekadar keluarga inti. Ada: • Harits, • para penggembala, • pekerja kandang, • dan manusia-manusia sederhana yang hidup bersama mereka bertahun-tahun. Dan bila suatu hari hijrah benar-benar terjadi, mereka semua mungkin akan ikut terseret ke dalam perubahan yang sama. Lampu minyak kecil kini mulai sangat redup. Maryam memperhatikannya lalu berkata lirih: “Sebentar lagi adzan subuh.” Abdullah mengangguk pelan. Malam panjang itu hampir berakhir. Namun keduanya tahu: fajar yang akan datang mungkin bukan membawa ketenangan, melainkan langkah pertama menuju perubahan besar dalam hidup mereka. Malam semakin mendekati akhir.
BAGIAN 3 — Suara mushaf meredam badai
Udara Madinah kini terasa lebih dingin, dan suara-suara kota perlahan semakin jarang terdengar. Lampu minyak kecil di rumah Abdullah tinggal memancarkan cahaya lembut yang hampir keemasan. Maryam memperhatikannya beberapa saat, lalu perlahan bangkit. Abdullah mengangkat wajah sedikit. “Engkau mau tidur?” Maryam menggeleng kecil. “Tidak.” Ia berjalan menuju rak kayu dekat dinding lalu mengambil kain pembungkus mushaf mereka dengan kedua tangan penuh hormat. Gerakannya tenang. Terbiasa. Dan dilakukan dengan adab yang telah hidup lama di rumah itu. Abdullah memandang istrinya diam-diam. Lalu tanpa banyak kata, ia ikut berdiri perlahan. Di rumah-rumah Bani Hasyim, ketika keresahan mulai memenuhi dada, manusia kembali kepada Qur'an sebelum kembali kepada dunia.
Maryam membuka kain pembungkus mushaf perlahan lalu meletakkannya di atas alas kecil dekat lampu minyak. Cahaya redup lampu memantul lembut pada lembaran tulisan yang telah berkali-kali dibaca di rumah itu: • saat lapang, • saat sedih, • saat anak-anak sakit, • dan saat hati manusia membutuhkan ketenangan. Abdullah duduk perlahan di dekat mushaf. Untuk beberapa saat ia hanya memandanginya diam. Lalu terdengar suara napasnya yang panjang dan pelan, seperti seorang lelaki yang akhirnya menurunkan sebagian berat dari dadanya. Di luar rumah, langkah Harits masih sesekali terdengar dekat kandang. Sedangkan di dalam rumah, Madinah terasa kembali jauh. Tidak ada: • jalur timur, • pengawasan, • ataupun perpindahan emas. Hanya: • seorang suami, • seorang istri, • mushaf, • dan malam panjang yang mereka isi dengan mencari ketenangan kepada Allah. Abdullah akhirnya mulai membaca dengan suara rendah. Pelan. Jernih. Dan penuh kehati-hatian. Suara tilawah itu segera memenuhi ruang kecil rumah mereka seperti air yang perlahan menenangkan tanah kering. Maryam duduk tidak jauh darinya sambil menundukkan kepala. Matanya perlahan memejam. Karena sejak lama ia mengetahui satu hal: selama suara Qur'an masih hidup di dalam rumah, maka rumah itu belum benar-benar kehilangan arah.
Di sudut ruangan, Fatimah bergerak kecil dalam tidurnya lalu kembali diam. Sedangkan Iskandar perlahan memeluk kain ayahnya lebih erat tanpa terbangun, seolah ketenangan tilawah itu ikut sampai ke dalam mimpi anak-anak mereka. Malam terus berjalan perlahan. Dan untuk pertama kalinya sejak pembicaraan tentang Basrah dimulai, ketakutan di rumah itu mulai mereda sedikit demi sedikit. Suara tilawah Abdullah terus mengalir pelan memenuhi rumah kecil itu. Tidak keras. Tidak terburu-buru. Melainkan tenang seperti manusia yang sedang menenangkan dirinya sendiri sebelum menenangkan orang lain. Maryam tetap duduk diam mendengarkan. Tangannya bergerak perlahan pada tasbih kayu kecil yang biasa ia simpan dekat mushaf. Butiran demi butiran berpindah lembut di jemarinya, sementara bibirnya bergerak pelan dalam dzikir yang hampir tidak terdengar. Di rumah-rumah Bani Hasyim, malam seperti ini bukan malam untuk tenggelam dalam kepanikan. Karena mereka diajarkan: ketika dunia mulai terasa sempit, maka hati harus lebih dekat kepada Allah daripada sebelumnya.
Angin malam kembali bergerak melewati atap rumah. Lampu minyak kecil bergoyang pelan, membuat bayangan Abdullah dan mushaf di depannya bergerak lembut di dinding tanah. Di luar kandang, Harits yang sedang duduk dekat pagar kayu samar-samar mendengar tilawah itu terbawa angin malam. Lelaki Badui itu perlahan menundukkan kepala. Lalu tanpa sadar bibir kasarnya ikut bergerak pelan mengucap tasbih. Karena selama bertahun-tahun hidup bersama keluarga Abdullah, ia mengetahui satu hal: rumah yang dipenuhi Qur'an selalu terasa berbeda. Lebih tenang. Lebih hidup. Dan lebih kuat menghadapi kesulitan.
Di dalam rumah, Abdullah akhirnya berhenti membaca sesaat. Kesunyian lembut turun beberapa detik. Lalu Maryam berkata sangat pelan: “Hatiku lebih tenang sekarang.” Abdullah menutup mushaf perlahan dengan kedua tangan penuh hormat. “Karena Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya,” jawabnya lirih. Maryam mengangguk kecil. Kalimat itu sederhana. Tetapi justru itulah yang selama ini menjaga mereka tetap kuat: keyakinan bahwa pertolongan Allah lebih besar daripada ketakutan manusia. Abdullah kemudian memandang kedua anak mereka yang masih tertidur damai. “Aku ingin Iskandar tumbuh mencintai Qur'an lebih daripada mencintai perdagangan.” Maryam tersenyum samar. “Dan Fatimah?” Abdullah memandang putri kecilnya cukup lama. “Aku ingin ia tumbuh menjadi perempuan yang membuat rumahnya selalu hidup dengan dzikir.” Maryam menundukkan wajah kecil penuh haru. Karena ia tahu: itulah warisan sebenarnya yang ingin Abdullah tinggalkan kepada anak-anak mereka. Bukan: • kandang, • logam, • ataupun jalur perdagangan. Melainkan: • iman, • adab, • Qur'an, • dan ketenangan hati ketika menghadapi dunia yang berubah.
Dari kejauhan, suara ayam pertama mulai terdengar samar memecah gelap malam Madinah. Fajar belum tiba. Namun malam perlahan mulai menyerahkan dirinya kepada waktu subuh. Suara ayam itu segera disusul suara lain dari kejauhan: langkah manusia pertama yang mulai bergerak menuju masjid sebelum subuh. Madinah perlahan mulai bangun. Namun rumah Abdullah masih tenggelam dalam ketenangan yang berbeda dari beberapa jam sebelumnya. Ketakutan belum hilang. Keresahan tentang: • Basrah, • jalur timur, • pengawasan, • dan kemungkinan hijrah, masih tetap ada. Tetapi kini hati mereka tidak lagi bergerak liar seperti awal malam.
Qur'an dan dzikir perlahan menenangkan gejolak yang sejak sore memenuhi rumah itu. Maryam masih memegang tasbih kayunya ketika berkata lirih: “Aku baru sadar...” matanya tertuju pada mushaf yang sudah tertutup rapi, “setiap kali hidup terasa berat, kita selalu kembali ke tempat yang sama.” Abdullah mengangguk kecil. “Karena manusia memang tidak diciptakan kuat menanggung semuanya sendirian.” Maryam memandangnya diam. Abdullah melanjutkan dengan suara rendah: “Harta bisa habis.” Tangannya menyentuh pelan penutup mushaf. “Kota bisa berubah.” Matanya bergerak kepada anak-anak mereka. “Tetapi selama Allah masih menjaga hati keluarga ini...” ia menarik napas perlahan, “kita belum benar-benar kehilangan apa pun.” Maryam menundukkan wajah pelan menahan haru. Kalimat-kalimat seperti itu yang selama ini membuatnya tetap kuat hidup bersama Abdullah: • keyakinannya, • ketenangannya, • dan caranya melihat dunia tidak hanya dengan mata perdagangan, tetapi juga dengan iman.
Di luar rumah, Harits kini duduk bersandar dekat kandang sambil memandang langit Madinah yang mulai berubah lebih pucat di ufuk timur. Lelaki Badui itu masih menggenggam tasbih sederhananya. Kadang bibirnya bergerak pelan dalam dzikir pendek yang ia pelajari bertahun-tahun dari keluarga Abdullah. Di padang, manusia belajar: air menjaga tubuh tetap hidup. Namun dzikir menjaga hati tetap bertahan. Abdullah akhirnya berdiri perlahan. Ia menutup mushaf dengan penuh hormat lalu membungkusnya kembali menggunakan kain penutupnya sebelum meletakkannya di rak kayu. Gerakannya hati-hati, seolah sedang meletakkan sesuatu yang lebih berharga daripada emas. Maryam memperhatikan itu sambil tersenyum samar kecil. Karena di rumah mereka, anak-anak tumbuh melihat satu hal sejak kecil: bahwa Qur'an selalu ditempatkan lebih tinggi daripada harta. Dan mungkin itulah sebabnya rumah itu tetap terasa hidup, bahkan ketika ketakutan mulai datang dari luar.
Tiba-tiba dari arah masjid terdengar samar suara manusia melantunkan panggilan pertama menjelang subuh. Belum azan. Masih suara lembut orang-orang yang mulai membangunkan kota untuk shalat malam terakhir dan persiapan subuh. Abdullah memandang ke arah luar rumah beberapa saat. Lalu ia berkata sangat pelan: “Hari baru dimulai...” Namun di dalam hatinya, ia tahu: hari itu mungkin akan membawa jawaban-jawaban yang selama ini belum berani ia hadapi sepenuhnya. Langit Madinah perlahan berubah warna. Hitam pekat malam mulai pecah menjadi biru gelap yang lembut di ufuk timur. Udara dingin menjelang subuh masuk perlahan melalui celah-celah rumah membawa aroma tanah dan embun tipis gurun. Abdullah berjalan menuju kendi air dekat dinding lalu menuangkan air ke telapak tangannya perlahan. Suara air yang jatuh ke mangkuk tanah terdengar jernih di tengah sunyi rumah. Maryam memahami gerakan itu tanpa perlu bertanya. Wudhu. Di rumah-rumah Bani Hasyim, malam tidak ditutup dengan kegelisahan, tetapi dengan ibadah.
Abdullah membasuh wajahnya perlahan. Air dingin subuh menyentuh kulitnya yang lelah setelah malam panjang penuh pikiran. Namun justru dingin itulah yang membuat dadanya terasa lebih ringan sekarang. Maryam ikut berdiri lalu menyiapkan air untuk dirinya sendiri. Gerakan mereka tenang. Terbiasa. Dan penuh ketertiban yang telah hidup bertahun-tahun di rumah itu. Di sudut ruangan, Fatimah masih tertidur damai. Sedangkan Iskandar bergerak kecil lalu kembali diam sambil memeluk kain ayahnya. Abdullah memandang putranya sesaat sambil tersenyum tipis. “Ia mulai tidur seperti penggembala kecil,” gumamnya pelan. Maryam tersenyum samar sambil membasuh tangannya. “Karena setiap sore ia lebih banyak berada di kandang daripada di rumah.” Abdullah terkekeh lirih kecil. Untuk beberapa saat, rumah itu kembali terasa seperti rumah biasa: • seorang ayah, • seorang ibu, • dan anak-anak yang tumbuh perlahan di kota Nabi.
Di luar, Harits mendengar suara air wudhu dari dalam rumah. Lelaki Badui itu segera berdiri pelan dari dekat kandang lalu berjalan menuju kendi luar untuk berwudhu juga. Karena selama hidup bersama keluarga Abdullah, ia terbiasa: ketika rumah mulai bersiap menyambut subuh, semua pekerjaan dunia ditinggalkan sejenak. Tak lama kemudian, suara azan subuh akhirnya menggema dari arah masjid. Panjang. Jernih. Dan memenuhi udara Madinah yang masih diselimuti sisa gelap malam. Semua percakapan tentang: • Basrah, • pengawasan, • perpindahan emas, • dan ketakutan, seakan mundur beberapa langkah ketika panggilan itu terdengar. Karena di kota Nabi, azan selalu mengingatkan manusia tentang sesuatu yang lebih besar daripada seluruh kegelisahan dunia. Abdullah berdiri diam mendengarkan sampai suara azan selesai. Lalu dengan suara sangat pelan ia berkata: “Apa pun yang akan datang...” matanya memandang ke arah timur yang mulai terang, “semoga Allah tidak mencabut ketenangan dari rumah ini.” Maryam menundukkan kepala kecil. “Aamiin.”
English Version Notice
English Translation Coming Soon
We deeply regret that this epic chapter is not yet available in English. We kindly ask for your patience. The English version will be published shortly.
Please stay tuned for our official updates on Facebook, Instagram, X, TikTok, and LinkedIn.